The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Ana's Death



Di dalam mobil, Angel terdiam dan termenung. Hatinya merasa risau dan terus memikirkan Ana. Entahlah, tidak biasanya dia seperti ini.


Dia lalu melirik kearah pria yang sedang mengemudi di sampingnya. Pria itu tampak tenang, seolah-olah tidak ada yang terjadi pada mereka.


"Turunkan aku disini. Aku akan pulang menaiki taksi saja," ujar Angel datar. Tapi Damian tidak menghiraukannya, dan terus menjalankan mobilnya.


"Damian, apa kau tidak dengar?" Karena sudah terlanjur kesal, Angel lalu ingin mengambil alih stir kemudi. Namun sebelum dirinya menyentuh stir itu, tangannya sudah lebih dulu di tangkap oleh Damian.


"Diam, dan duduk saja di kursimu!!"


"Baiklah. Jika kau ingin mengantarku, bawa aku pada rekan-rekanku." Dan seperti tadi, Damian tidak menjawabnya dan hanya fokus mengemudi.


Tak berselang lama, mereka tiba di rumah sakit. Angel yang melihatnya, menjadi bingung. Dia lalu hendak bertanya, namun Damian sudah lebih dulu keluar kemudian membukakan pintu mobil untuknya.


"Damian, kenapa kita kesini?"


Damian masih bungkam. Pria itu kemudian menarik tangan Angel agar mengikuti langkahnya.


"Mr. Wilson, ada apa kau kemari? Apakah kau terluka?" tanya seorang dokter, yang sepertinya sudah sangat mengenal Damian.


"Bukan aku, tapi dia." Damian melirik Angel, yang diliriknya justru terlihat tidak mengerti. Pasalnya, Angel tidak merasakan apapun pada tubuhnya.


"Oh, baiklah. Kalau begitu, masuk kesini." Dokter itupun menuntun Damian dan Angel agar masuk keruangannya.


"Nona, silahkan kau duduk sini. Aku akan memeriksa lukamu dulu," tambahnya sambil menunjuk sebuah ranjang di ruangan tersebut.


"Luka? Aku tidak terluka, Dok!"


Dokter itu tersenyum, kemudian melirik lengannya. Angel pun mengikuti arah mata dokter tersebut, dan benar saja jika lengannya sedang terluka.


"Lalu itu apa?" tanya Dokter, Angel pun terdiam.


Tanpa mengatakan apapun, Dokter itu lalu mengobati lengan Angel yang terluka. Sepertinya luka tersebut berasal saat dirinya akan jatuh ke jurang, mungkin lengannya tidak sengaja terkena batu yang cukup tajam, namun Angel tidak menyadarinya.


"Selesai!" ujar Dokter itu sambil memotong perban. "Syukurlah lukamu tidak terlalu dalam, jadi tidak perlu untuk di jahit."


"Terima kasih," gumam Angel, dan Dokter tersebut mengangguk ramah.


...* * * ...


Setelah dari rumah sakit, Damian mengantarkannya ke apartement. Dan kini hanya dirinya sendiri yang berada di tempat tersebut.


Lagi-lagi Angel termenung di dalam kamarnya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dirinya alami. Semua itu bagaikan mimpi untuknya. Bahkan, Angel tidak mengetahui apapun tentang Ana. Dan bisa-bisanya wanita itu hadir lalu membuat masalah.


Angel menghela nafasnya panjang, namun sedetik kemudian dia teringat pada teman-temannya. Sontak, wanita tersebut langsung menghubungi James dan mengatakan jika dirinya sudah berada di apartement.


Berselang 30 menit lamanya, Calvin masuk lebih dulu ke apartement lalu mencari keberadaan Angel.


"Angel, dimana kau?" teriak pria itu yang suaranya memenuhi seisi apartement.


"Tidak usah berteriak seperti itu, Calv." Angel muncul dari kamarnya. Seketika Calvin berlari kearahnya kemudian memeluknya erat.


"Aku benar-benar mengkhawirkanmu." Calvin lalu melepaskan pelukannya, kemudian dia menatap lengan Angel yang di perban.


"Apakah ini sakit?" tambahnya sambil menyentuh lengan yang di perban itu secara pelan.


Angel menggeleng, "Aku baik-baik saja. Dan untuk luka ini, bahkan aku sendiri tidak menyadarinya."


"Angel.." panggil Vika sambil berjalan menghampirinya. Wanita itupun memeluk Angel sama seperti Calvin tadi.


"Kami benar-benar mengkhawatirkanmu. Bahkan kami mencarimu kesana-kesini, tapi tidak kunjung ketemu. Namun sekarang kau sudah ada disini, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi."


Angel mengangguk singkat sembari tersenyum tipis, "Terima kasih karena sudah berusaha mencari dan mengkhawatirkanku."


"Bagaimana bisa kau kembali dan lolos dari wanita itu?" Kini James yang membuka suaranya. Kedua rekan yang lainnya pun ikut menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Ayo kita duduk dulu." Vika menggiring mereka untuk duduk di sofa. Karena sepertinya, cerita yang akan Angel berikan cukup panjang. Setelah semuanya duduk, Angel justru masih diam dan belum menjelaskannya.


"Oh ayolah, Angel. Katakan kepada kami!! Kami benar-benar ingin tahu," desak Calvin.


"Sebenarnya... sebenarnya Damian yang membantuku."


Hening... baik Vika, James maupun Calvin tidak ingin membuka suaranya. Dan melihat ketiga rekannya yang diam saja, Angel pun menambahkan ucapannya.


"Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba disana. Namun jika dirinya tidak datang, mungkin aku tidak akan berada di hadapan kalian sekarang ini."


"Aku yakin itu bukan sebuah kebetulan. Pria itu pasti mengikutimu," tukas Calvin, yang lainpun mengangguk setuju.


James menatap Angel lekat. Wanita tersebut tampak bimbang dan juga risau, dan dirinya menyadari itu. Karena James tahu jika Damian menyukai Angel, begitupun sebaliknya. Untuk saat ini Angel memang sedang menjauhi Damian, karena wanita itu merasa kecewa sebab di bohongi. Tapi James yakin, cepat atau lambat, Angel pasti akan kembali bertemu dengan Mafia tersebut.


"Angel, kuharap kau tidak melupakan apa yang baru saja terjadi. Dan juga, apa yang telah Mafia itu lakukan kepadamu. Jangan sampai kau membuat kesalahan yang sama, seperti yang lalu-lalu." Calvin memperingati Angel dengan wajah datarnya. Sepertinya pria itu sangat membenci Damian.


...* * * ...


Melihat Angel yang sedang melamun, Vika pun melangkahkan kakinya kearah wanita tersebut. Dia lalu menyentuh pelan bahu Angel, dan itu membuat sang pemiliknya tersentak dan lekas menatapnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Akhir-akhir ini aku sering melihatmu melamun, apakah ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" ujar Vika sembari mengambil posisi duduk di samping wanita itu.


Angel hanya melihatnya sekilas, kemudian matanya kembali menatap ke depan.


"Tidak ada."


"Benarkah? Tapi aku merasa bahwa kau menyembunyikan sesuatu dari kami."


"Tidak, Vika. Tidak ada yang kusembunyikan darimu maupun yang lain." Angel menghela nafasnya lelah. Dan keduanya pun jadi terdiam.


Tak sampai lima menit, Vika berdehem singkat kemudian kembali membuka suaranya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Silahkan," jawab Angel tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.


"Apakah kau sedang menyukai seseorang?"


Angel bergeming, sedetik kemudian dia menolehkan wajahnya kearah Vika.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


Tiba-tiba, Vika tertawa renyah.


"Tidak. Aku hanya bertanya."


Melihat kepolosan Vika, membuat Angel mengulas senyumnya.


"Kau benar. Aku sedang menyukai seseorang."


Mata Vika seketika membulat tidak percaya.


"Benarkah? Siapa dia? James atau Calvin?"


"Ehh?" Wajah Angel berubah menjadi bingung. "Kenapa kau justru bertanya tentang James atau Calvin?"


"Ah, tidak. Aku hanya iseng saja." Vika menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lalu, siapa pria yang kau sukai itu?"


Angel tersenyum, "Kau mengenalnya."


"Siapa yang kau maksud? Pria yang kukenal banyak. Ada James, Calvin, Roby, Dave... oh aku tahu, apa jangan-jangan pria yang kau sukai adalah Mr. Robert?"


Tukk...


Angel menjitak dahi wanita itu cukup kuat.


"Kenapa aku harus memilih pria yang sudah beristiri? Sementara banyak di luar sana pria lajang yang menyukaiku."


Vika mengusap dahinya sambil memasang wajah tidak percaya. Sedetik kemudian wanita itu tertawa lebar.


"Kau benar. Sudahlah, ayo kita kembali berkemas dan bersiap-siap untuk berangkat."


Angel hanya mengangguk. Mereka pun kembali berkemas dan menyiapkan barang-barang mereka. Jangan sampai ada yang tertinggal barang satupun.


Sementara di satu sisi, terdapat seorang pria yang sedang menangisi putrinya, dia tak lain adalah Martin Franciosa. Awalnya dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mario tentang putrinya, namun saat dia melihatnya sendiri, barulah dirinya percaya bahwa jasad yang terbujur kaku di depannya merupakan putrinya.


"Oh putriku, kenapa kau meninggalkan Daddymu ini sendiri?" Martin terisak dengan penuh pilu.


"Sudahlah, Martin. Ikhlaskan dia!" ujar seorang pria yang menemaninya, tak lain adalah suami dari adiknya.


Martin mengangkat kepalanya, pria paruh baya itu lalu mencengkram kerah baju adik iparnya tersebut.


"Bagaimana bisa aku mengikhlaskannya, huh?"


Gregory Robinson hanya bisa menatap kakak iparnya dengan iba. Dia lalu mengusap pelan bahu Martin. Dan Martin pun melepaskan cengkeramannya, namun di matanya terdapat sorot kebencian yang begitu besar.


"Ini semua karena Damian. Aku akan membalasnya." Martin kemudian hendak melangkah keluar, tapi segera di tahan oleh Gregory.


"Sabarlah! Ini bukan waktu yang tepat untuk membalasnya."


"Lalu kapan, huh?" bentak Martin.


"Tunggu putraku sudah besar. Maka dia yang akan membalas semua ini." Akhirnya Martin menyerah. Dia lalu menatap kearah seorang anak kecil yang sedari tadi mengintip di balik dinding.


Martin tahu bahwa anak dari Gregory masih kecil dan baru berusia lima tahun. Namun dirinya yakin, bahwa suatu hari nanti, keponakannya itu akan membalaskan semua rasa sakit dan juga air matanya yang terbuang saat ini.