The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Kembalinya Si Ana



Dari dalam mobil, Angel dan Vika dapat melihat bahwa Calvin bersama James sedang terlibat perkelahian dengan para anak buah Damian yang sedang berjaga.


Namun hanya dalam kurun waktu yang sebentar, kedua pria itu berhasil mengalahkan mereka kemudian segera masuk ke dalam. Dan saat berada di dalam, James dan Calvin tidak kunjung keluar. Itu membuat Angel menjadi cemas begitupun dengan Vika.


"Apakah aku harus turun dan membantu mereka?" tanya Angel. Dan wanita di sampingnya itu langsung menggeleng.


"Tidak, Angel. Ingat apa yang James katakan tadi."


"Tapi, Vika. Mereka tidak kunjung keluar. Aku takut telah terjadi sesuatu kepada mereka."


"Tetap positive thinking. Aku yakin mereka dalam keadaan baik-baik saja sekarang."


Akhirnya Angel membuang nafasnya pasrah. Tak berselang lama, anak buah dari Damian datang dengan menggunakan dua mobil.


"Tidak, Vika. Aku tidak bisa berdiam diri disini." Angel lalu mengambil kedua pistolnya, kemudian menyelipkan beberapa pistol lagi di pinggangnya.


Tanpa mendengarkan ucapan dari Vika, Angel langsung keluar lalu menembaki satu-persatu pria yang ingin masuk ke dalam gudang tersebut. Dan terjadilah aksi adu tembak diantara mereka.


Melihat anak buah Damian yang banyak jumlahnya, membuat Vika tidak bisa berdiam diri dan membiarkan Angel menanganinya sendiri. Langsung saja Vika mengambil kedua pistolnya kemudian ikut bergabung bersama Angel.


Dor! Dor! Dor!


Suara tembakan demi tembakan memenuhi area tersebut. Tapi untunglah daerah itu tidak ada satu rumah pun yang di buat disana, dan hanya hutan-hutan yang mengelilingi mereka.


"Sial!!" umpat Vika saat menyadari bahwa pelurunya habis. Wanita itu lalu bersembunyi di balik batu besar. Tiba-tiba ada yang melemparnya dengan sebuah pistol, dan ternyata itu dari Angel.


Angel menganggukkan kepalanya seolah memberi isyarat. Vika pun membalas anggukkan itu, kemudian mereka berdua kembali menembaki satu-persatu pria tersebut.


Dor!!


Hampir saja sebuah peluru mengenai Vika, tapi untung saja Angel segera menarik tubuhnya. Bahkan jantungnya kini berdetak sangat kencang. Karena dirinya belum pernah turun langsung dan berhadapan dengan para komplotan penjahat seperti Angel.


Angel meloncat, berlari, bersembunyi untuk melindungi dirinya. Kini semua anak buah Damian terbujur penuh darah di tanah. Melihat hal itu, membuat Angel bernafas lega. Dia lalu menyadari jika Vika tidak ada bersamanya.


"Dimana dia?" Mata Angel menjelajahi setiap sudut, namun keberadaan wanita itu tidak dia temukan.


"Angel.." Tiba-tiba Calvin dan James muncul dari arah belakangnya.


"Woahh, kemampuanmu masih sama seperti dulu." Calvin berdecak kagum saat melihat begitu banyak anak buah Damian yang sudah terkapar.


"Apakah kalian melihat Vika?" tanya Angel, seketika Calvin dan James saling berpandangan.


"Tidak!!" balas mereka serempak.


Tin... tinn...


Tiba-tiba sebuah mobil muncul di depan mereka. Itu tak lain adalah Vika yang mengendarainya. Dengan wajah tanpa dosanya, dia menyengir kearah Angel.


"Maafkan aku. Aku takut saat berhadapan dengan mereka, apalagi aku tadi sempat akan tertembak. Oleh sebab itu, aku kembali ke mobil lebih dulu."


Angel hanya bisa menghela nafasnya, kemudian segera masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh yang lain.


"Apakah kita akan pergi begitu saja?" tanya Vika.


"Tidak. Aku sudah meletakkan beberapa peledak di dalam. Jadi kita harus segera pergi dari sini." James menekan tombol yang menjadi penghubung dari peledak yang di pasangnya di dalam. Setelah itu, dia segera menancap gasnya dan meninggalkan tempat tersebut.


Bum!! Bum!! Bum!!


Bunyi ledakan terdengar dimana-mana setelah kepergian mereka. Melihat itu semua, membuat mereka tersenyum puas. Akhirnya setelah sekian lama, misi mereka berhasil.


Karena biasanya, Vika hanya di tempatkan di markas dan hanya akan mengawasi pergerakkan dari lawan mereka dengan menggunakan komputer yang terhubung dengan kamera tersembunyi dari drone.


Mereka bertiga hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Vika yang tanpa henti. Kini semua barang ilegal yang menjadi bisnis Damian ikut terbakar bersama dengan peledak yang di pasang oleh James.


...* * * ...


"Tuan," panggil Mario. Dirinya baru saja melaporkan apa yang terjadi dari gudang yang menjadi tempat penyimpanan senjata dan barang ilegal milik mereka.


Awalnya Mario mengira tuannya akan merah besar, namun dugaannya salah. Tuannya itu justru hanya diam dengan pandangan kosong kedepan.


'Oh, Tuhan. Apa yang harus kulakukan untuk menyadarkannya?' batin Mario menjadi bingung sekaligus khawatir akan kondisi tuannya yang semakin memburuk.


Tiba-tiba saja, seorang wanita tanpa di undang memasuki kamar tersebut. Dengan lenggak-lenggoknya dia menghampiri Damian kemudian berdiri di samping pria itu.


Wajah Mario nampak terkejut saat melihat wanita itu yang datang kemari. Wanita yang di kabarkan hilang satu minggu yang lalu, bahkan Mario sendiri ikut mencarinya sampai menyelam ke laut.


"Kau... bagaimana bisa?"


"Kau terkejut, Mario?" Wanita itu terkekeh, kemudian tatapannya kembali kepada Damian. Dengan santainya, dia merangkul bahu Damian. Sontak saja Damian langsung menatapnya. Dirinya pun ikut terkejut seperti Mario tadi.


"A-Ana.. bagaimana bisa kau..." Sebelum Damian menyelesaikan kata-katanya, Ana sudah lebih dulu menaruh jari telunjukkan di bibir pria itu.


"Hushh... lupakan tentang itu, Damian. Sekarang yang terpenting adalah aku sudah ada disini."


Melihat tidak ada yang berubah dari Ana, membuat Damian menepis jari wanita tersebut dari bibirnya.


"Aku pikir setelah kejadian satu minggu yang lalu, membuatmu berubah. Namun prakiraku salah. Kau tidak akan bisa berubah dan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya."


"Damian, mengapa kau selalu memojokkanku seperti itu?" gerutu Ana dengan nada manja.


Tak ingin bertemu dan memiliki urusan lagi dengan wanita itu, Damian pun melepaskan rangkulan dari Ana. Dia lalu segera bangkit berdiri dan menatap wanita itu datar.


"Sebaiknya kau pergi. Aku benar-benar lelah menghadapimu."


"Tapi, Damian. Kedatanganku kesini karena ingin mengajakmu untuk bekerja sama. Aku dengar, baru saja para detective itu menghancurkan dan membakar gudangmu. Oleh sebab itu, aku ingin membantumu untuk membalas perbuatan mereka."


"Tidak perlu. Biarlah itu menjadi urusanku," sahut Damian sambil berjalan menuju balkon. Tapi Ana tidak menyerah dan justru mengikuti langkah Damian.


"Harusnya kau berterima kasih kepadaku. Karena aku tidak marah sama sekali kepadamu tentang kejadian itu."


Damian tersenyum sinis, "Bukankah itu kemauanmu sendiri? Kau bahkan memaksaku untuk terjun bersamamu."


Skakmat... Ucapan Damian benar-benar memojokkannya dan membuatnya kehabisan kata-kata untuk membalas. Mengingat kejadian itu, membuat Ana termenung dan mengingat semuanya.


Flashback On


Setelah dirinya terjun dan masuk kedalam air, buru-buru Ana berenang ke tepian. Dia lalu mendongakkan kepalanya keatas saat menyadari bahwa Damian tidak mencari dan berusaha memanggilnya. Itu semua membuat Ana kecewa dan segera berjalan menyusuri pantai.


Tak sengaja matanya menangkap para nelayan yang sedang mencari ikan. Seketika Ana meminta bantuan kepada mereka untuk meminjam ponselnya. Orang yang pertama dia hubungi adalah anak buah kepercayaannya, untung saja dirinya masih mengingat nomor itu.


Tak berselang lama, anak buahnya datang untuk menjemput dirinya. Ana pun segera masuk kedalam mobil tersebut dan menuju pulang. Dan kebetulan sekali waktu itu Mario baru datang setelah kepergiaannya.


Jadinya Ana tidak tahu jika Damian beserta anak buahnya berusaha mencari keberadaannya. Dan selama seminggu ini, Ana sengaja tidak menampakkan dirinya untuk membuat sebuah kejutan kepada Damian. Dia kira Damian akan terkejut dan langsung memeluknya, namun itu semua hanyalah angan-angannya saja.


Flasback end