The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Selesainya Misi Mereka



Ana memberanikan diri untuk menyentuh tangan Damian yang sedang berpegangan pada pagar pembatas balkon.


"Damian, aku tahu jika saat ini kau sedang merasa sedih dan kecewa. Oleh sebab itu, aku akan membalaskan perbuatan Angel yang telah membuatmu menjadi seperti ini."


Seketika Damian menatap wanita itu tajam. Dia lalu menepis tangan Ana, kemudian mencekal lengannya kasar.


"Jika kau berani menyentuh dia barang sedikitpun, aku tidak akan berpikir dua kali untuk melenyapkanmu."


Ana mundur beberapa langkah saat Damian mendorongnya. Di matanya kini terdapat kekecewaan yang mendalam kepada Damian.


"Apakah sebegitu besarnya cintamu kepadanya? Hingga tidak ada lagi ruang di hatimu untukku?"


Melihat keterdiaman dari Damian, membuat Ana tersenyum sinis.


"Oke. Aku tahu sekarang. Bahwa sebesar apapun perjuanganku untuk mendapatkanmu, maka akhirnya akan sia-sia."


Mata Ana sudah berkaca-kaca sekarang. Namun dengan cepat dia menyekanya, karena dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya pada siapapun, termasuk Damian. Dia kemudian berlalu dari sana bersamaan dengan hatinya yang hancur.


'Kau yang memaksaku, Damian. Jadi jangan salahkan aku dengan apa yang akan terjadi!'


...* * * ...


Saat ini, Angel bersama ketiga rekannya yang lain sedang mengadakan keberhasilan mereka dengan makan-makan di cafe. Mereka bersorak bahagia dengan apa yang terjadi semalam.


"Kau memang luar biasa, Angel. Bahkan tanpa bantuan dari kami, kau bisa mengalahkan mereka dengan sendiri walaupun jumlah mereka sangatlah banyak," puji Calvin dengan tatapannya yang kagum.


Angel tersenyum tipis, "Terima kasih. Tapi aku tidak mengalahkannya sendiri, ada Vika yang membantuku."


Calvin melirik Vika sejenak, kemudian kembali menatapnya.


"Tapi tetap saja, kau yang luar biasa."


Vika hanya bisa diam sambil menyantap makanannya. James yang tahu tentang apa yang wanita itu rasakan, mengulurkan tangannya kemudian mengelus tangan Vika yang berada di atas meja. Sontak saja Vika menatap James, dan dilihatnya jika pria tersebut sedang tersenyum kearahnya.


"Bagaimana jika kita menghubungi Dave?" ujar Calvin sembari mengambil ponselnya di saku jaket. Dan tanpa menunggu persetujuan yang lain, dia lalu menghubungi Dave begitu saja.


"Untuk apa kau bertanya kepada kami? Jika pada akhirnya kau akan menghubunginya tanpa menunggu jawaban dari kami." Angel menggelengkan kepalanya, namun Calvin justru menunjukkan cengirannya.


Tak sampai satu menit, Dave sudah menjawab panggilan dari Calvin.


"Apa kabar, Brother?" tanya Calvin sok akrab. Dan tanpa dirinya ketahui, bahwa saat ini Dave sedang memasang wajah datarnya.


"Tidak usah berbasa-basi. Katakan saja to the point."


Calvin terkekeh, "Oh ayolah, Dave. Apa kau tidak mau bertanya tentang kabarku lebih dulu?"


"Jika kau menelponku hanya untuk bertanya tentang kabar, sebaiknya kututup saja. Aku masih banyak pekerjaan. Dan meladenimu hanya akan membuang-buang waktuku saja!"


Calvin berdecak sebal, "Baiklah-baiklah. Aku menelponmu karena ingin mengabarkan sesuatu. Damian Wilson, atau Mafia berengsek itu sudah kami ketahui tentang identitas maupun keberadaannya. Bahkan, semalam kami sudah membakar habis gudang yang menjadi tempat mafia itu menyimpan barang-barang ilegalnya."


"Benarkah itu?" Dave seperti tidak percaya.


"Aku tahu kau akan mengatakan itu." Calvin lalu memberikan ponselnya kepada James. Karena percuma dirinya berbicara panjang lebar, Dave memang tidak mudah percaya dengan apa yang dikatakan olehnya.


"Hallo, Dave? Ini aku, James."


"James, benarkah apa yang di katakan oleh pria bermulut besar itu?" Mendengar Dave yang mengatai Calvin seperti itu, membuat James menahan tawanya.


"Calvin mengatakan yang sebenarnya, Dave."


Terdengar suara Dave yang sedang tertawa.


"Baiklah, Dave." James pun menutup telponnya. Dia lalu mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.


"Apa yang Si Sombong itu katakan?" tanya Calvin dengan nada ketus.


"Dave bilang, kita harus segera kembali. Karena kemungkinan bisa terjadi sesuatu jika kita terlalu lama berada disini."


"Kau benar, James. Aku juga sudah tidak sabar untuk pulang lalu menceritakan semuanya kepada Sherly," sahut Vika. Sementara Angel, hanya menjadi pendengar diantara mereka. Lagipula, dirinya tidak tahu harus mengatakan apa.


"Waah, waah... sepertinya kalian sedang mengadakan pesta, huh?" Tiba-tiba Ana datang dan menghampiri mereka.


"Lebih baik kau pergi dari sini. Melihat wajahmu, membuatku mual," usir Calvin di barengi dengan sindiran.


Ana mengepalkan kedua tangannya, "Aku datang kesini bukan untuk bertemu ataupun berbicara denganmu. Tapi aku kesini, untuk wanita itu."


Angel yang merasa di tunjuk, segera menatap wanita itu dengan dahinya yang mengernyit.


"Untukku? Apa kita memiliki urusan? Kurasa tidak."


"Sepertinya kau melupakan sesuatu. Kau masih memiliki urusan denganku karena Damian."


"Tapi sayangnya, aku tidak ingin membahas pria itu lagi. Jika kau menginginkannya, kau bisa mengambilnya." Ucapan Angel benar-benar menohok. Ana lalu mengeluarkan pistolnya dari dalam tas, kemudian dia mengacungkannya kepada Angel.


Sontak saja perbuatan Ana itu mengundang perhatian. Apalagi rekan-rekan Angel langsung berdiri ketika melihat wanita itu yang mengacungkan pistolnya.


"Apa yang kau lakukan? Tidak sadarkah kau jika ini di tempat umum?" pekik Vika sambil menatap wanita itu tajam.


Sayangnya, Ana terlihat acuh dan hanya memfokuskan tatapannya kepada Angel. Begitupun Angel, dia membalas tatapan wanita tersebut dengan matanya yang tajam.


"Ikut denganku!!" desis Ana.


"Bagaimana jika aku menolak?"


Ana tersenyum miring, "Mungkin kau tidak perduli dengan keselamatanmu. Tapi bagaimana, jika aku menembak anak kecil itu."


Refleks, mereka berempat melihat kearah anak kecil yang sedang makan berdua bersama ibunya. Posisi mereka tidak jauh dari anak kecil tersebut, dan bisa Angel pastikan bahwa tembakan Ana bisa tepat pada sasaran, bahkan pelurunya bisa menembus tubuh dari anak kecil itu.


"Jangan kaitkan anak kecil itu di antara kita. Jika kau ingin melukai seseorang, maka lakukanlah kepadaku!" Angel tidak bisa membiarkan Ana melukai orang lain, apalagi orang yang akan Ana lukai itu tidak tahu apapun tentang apa yang terjadi di antara mereka.


"See!!! Maka dari itu, kau turuti ucapanku jika kau tidak mau melihat anak itu mati di depan matamu."


Angel membuang nafasnya kasar, "Baiklah. Aku akan ikut bersamamu."


"Angel.." pekik Calvin, Vika dan James bersamaan. Mereka tidak bisa percaya kepada Ana, dan firasat mereka mengatakan bahwa Ana akan melukai Angel.


"Tenanglah! Aku akan baik-baik saja." Angel menampilkan senyumnya, namun itu tidak membuat ketiga rekannya bisa bernafas dengan lega.


'Baik-baik saja? Kau salah, Angel! Kau tidak akan baik-baik saja setelah ini.' Ana tersenyum sinis.


"Cepatlah!!"


Dengan sangat terpaksa, Angel mengikuti langkah dari wanita tersebut untuk menyelamatkan orang-orang di sekitarnya. Dia tidak ingin jika Ana sampai melukai orang lain karena dirinya.


Namun ketiga rekannya tidak akan tinggal diam begitu saja. Setelah Ana pergi bersama Angel dengan mengendarai mobilnya, Calvin yang diikuti dengan yang lainnya segera menyusul.


Mereka mengejar mobil Ana. Tapi sayangnya, ketika mereka hendak melewati jalan yang memiliki empat arah, tiba-tiba saja lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Seketika Calvin mengerem secara mendadak, kemudian memukul stir kemudi.


"Kenapa harus sekarang?" geramnya. Apalagi kini mobil Ana sudah tidak terlihat lagi.


"Bagaimana ini?" Vika yang duduk di bagian belakang, terlihat cemas. Begitupun dengan James yang duduk di samping Calvin. Namun dirinya tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Terlebih lagi otaknya mendadak menjadi buntu.