The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Paris ~ Sungai Siené



"Damian.." Angel menusuk-nusuk pipi Damian. Setelah dirinya makan tadi, Angel langsung berpindah dan mengambil posisi duduk di samping pria itu. Namun yang dipanggil hanya diam saja, menoleh pun tidak.


"Kau masih marah?" bisiknya tepat di telinga Damian. Tapi begitulah Damian, sok jual mahal.


Merasa diabaikan, Angel lalu memilih untuk menyandarkan kepalanya di bahu Damian. Dan itu membuat si empunya langsung menatap kearahnya.


"Aku pinjam bahumu sebentar." Angel bergumam sambil menguap.


Damian benar-benar bingung dengan sikap wanita satu ini. Bukannya minta maaf, dia justru meletakkan kepalanya di bahuku. Apakah sulit bagi seorang wanita untuk melontarkan kata maaf? pikir Damian.


"Kau ingin tidur lagi, heh?" tanya Damian saat melihat Angel memejamkan matanya.


"Hmm, lagi pula aku harus melakukan apa? Keluar pun tidak boleh."


Damian menghela nafasnya, "Setidaknya, lakukanlah sesuatu yang bermanfaat."


"Tidak ada."


Pria itu mendengus kesal. Dia lalu menarik bahunya menjauh, sehingga membuat kepala Angel terjatuh di pangkuannya.


"Apa yang kau lakukan?" pekik Angel kaget. Wanita tersebut kemudian hendak bangun, tapi dirinya justru di tahan oleh Damian.


"Diamlah!! Dan temani aku menyelesaikan laporan ini. Setelah itu kita keluar."


Seketika wajah Angel berubah menjadi antusias, "Benarkah?"


Damian hanya membalasnya dengan deheman. Dan sekarang dirinya sudah kembali melanjutkan kegiatannya.


Waktu terus berlalu, tapi pekerjaan Damian tak kunjung selesai. Hingga tak terasa sudah dua jam lamanya pria itu mengecek email dari sekretarisnya.


Damian merenggangkan badannya sambil mengangkat kedua tangannya. Lalu tatapannya tertuju pada wanita yang sedang tertidur pulas di pangkuannya.


"The girl sleeping." Pria itu tersenyum tipis, kemudian menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Angel.


"Kau terlihat begitu polos saat sedang tidur. Tapi jika dalam keadaan sadar, kau selalu saja membuatku kesal."


Mendengar sebuah suara, membuat Angel menggeliat dan mulai membuka matanya secara perlahan. Hal pertama yang nampak di matanya adalah wajah tampan Damian yang kini sedang memandangnya.


"Aku dimana?" tanya Angel setengah sadar.


"Kau masih berada di atas bumi."


Angel cemberut mendengar jawaban dari Damian yang menurutnya sangat menyebalkan. Dia kemudian bangun sembari merapihkan rambutnya.


"Kau baru saja bangun, lalu tidur lagi. Apakah kau tidak bosan?"


Angel menggelengkan kepalanya, "Kau tahu? Kenapa orang lebih memilih banyak tidur di bandingkan menjalani kehidupannya yang asli?"


Kini gantian Damian yang menggelengkan kepalanya.


"Karena mimpi jauh lebih indah dari pada sebuah kenyataan." Setelah mengatakan hal bijak tersebut, Angel langsung bangkit dan pergi menuju ke kamarnya untuk mencuci muka.


Seusai merasakan wajahnya yang kembali fresh, Angel melangkah keluar dari kamar mandi. Dan dirinya hampir terjungkal ke belakang saat melihat Damian yang berdiri di depan pintunya itu. Tapi dengan segera dia mengubah ekpresinya seperti biasa.


"Memangnya apa mimpimu?" tanya Damian penasaran.


"Kenapa kau ingin tahu?"


"Aku hanya ingin memastikan, apakah aku ada di dalam mimpimu itu?"


Angel tersenyum sinis, "Mengapa kau ini percaya diri sekali?"


Damian mengendikkan bahunya acuh, kemudian merebahkan tubuhnya di kasur Angel dengan kedua lengannya sebagai bantal. Keduanya pun saling diam dengan pikiran masing-masing. Namun, Angel sepertinya mengingat sesuatu.


"Damian," panggilnya yang hanya di balas dengan deheman oleh pria itu.


"Bukankah kau akan mengajakku keluar?"


"Sudah tidak berlaku lagi. Lagi pula kau tidak menemaniku, kau justru malah tertidur."


Angel menatapnya tajam. '*J*elas-jelas aku menemaninya. Karena bosan mangkanya aku tertidur.'


"Lagi pula, apa kau tidak lihat? Matahari sudah hampir tenggelam!!" tambah Damian, dan seketika Angel melihat keluar jendela. Dan benar saja dengan apa yang pria itu katakan. Namun dirinya tidak akan menyerah dan masih membujuk Damian untuk keluar.


"Bukankah wisata akan jauh lebih indah bila di malam hari?" Angel tersenyum kikuk sambil menatap Damian kembali.


"Damian, ayo keluar," rengek Angel sambil menarik-narik baju Damian layaknya anak kecil.


Melihat Angel yang tidak pernah bertingkah seperti itu, membuat Damian menahan senyumnya dan membiarkan wanita tersebut terus merengek padanya. Dan akhirnya Angel lelah merengek. Dia pun memasang wajah cemberutnya kemudian meninggalkan Damian sendiri.


Selepas kepergian Angel, Damian tertawa kecil. Dia memejamkan matanya sejenak, namun seketika dia langsung terbangun saat mengingat Angel yang entah pergi kemana.


Di ruang santai tidak ada. Di bagian dapur apalagi. Damian pun berdecak, kemudian melangkahkan kakinya menuju keluar. Dan dilihatnya bahwa Angel sedang berada disana sembari mengajak Mario mengobrol. Dan dari tempatnya berpijak, Damian dapat mendengar dengan jelas bahwa wanita itu mengajak Mario untuk keluar.


"Ayolah, Mario. Aku bosan disini," bujuk Angel.


"Maaf, Nona. Tuan akan marah jika kita pergi tanpa izinnya."


"Bagus, Mario." Damian datang dari arah belakang Angel sambil menepuk kedua tangannya.


Lantas, Angel segera berbalik dan menatap pria itu tajam.


"Ya sudah, kalau begitu aku akan pergi sendiri."


"Memangnya kau tahu dimana tempatnya?" sinis Damian yang membuat Angel tertawa.


"Kita ini hidup di zaman modern. Bukan zamannya kerajaan yang belum memiliki teknologi sama sekali." Wanita itu lalu pergi dari hadapan Damian untuk mencari taksi. Namun baru satu langkah, tangannya justru di tarik kemudian tubuhnya terangkat begitu saja.


Angel berteriak minta di turunkan, tapi seperti biasa Damian akan menulikan pendengarannya. Dan Mario dengan sigap membuka pintu mobil saat tuannya memberi kode melalui tatapan. Setelah itu, Damian ikut masuk dan tak lupa meminta Mario untuk mengunci pintunya.


"Sepertinya, semua darahku mengalir ke otak." Angel bergumam kecil sambil memegangi kepalanya. Damian yang mendengarnya jadi terkekeh.


"Jalan!!" Mario mengangguk dan segera menjalankan mobil tersebut.


Melihat Angel yang diam saja sambil memegangi kepalanya, membuat Damian prihatin lalu mengelus kening wanita itu. Namun tangannya tersebut justru di tepis oleh Angel.


Sontak saja Damian jadi tertawa.


"Marah heh?"


Angel masih diam sambil memijat pelipisnya. Dan itu membuat Damian menganggukkan kepalanya singkat.


"Mario, kita putar balik saja ke apartement. Angel sepertinya sedang tidak sehat."


Wajah Angel langsung berubah menjadi pias.


"Aku baik-baik saja, Damian. Mario, tetap lanjutkan perjalanannya." Wanita itu menampilkan senyum paksanya. Dan Damian jadi tersenyum geli di buatnya.


"Lain kali, jika aku bertanya kau harus menjawabnya!!" Terdengar seperti perintah memang. Namun apalah daya Angel?


"Hmm.." Angel memilih untuk memalingkan wajahnya dan melihat keluar jendela, dari pada melihat wajah Damian yang menyebalkan.


...* * *...



"Luar biasa," ujar Angel sambil menatap takjub jembatan di depannya.


"Ciih, lebay!!" cibir Damian, dia lalu berjalan mendahului Angel untuk melewati jembatan itu. Angel memandang Damian kesal sambil memperagakan hendak meninjunya di udara. Lalu dia sedikit berlari untuk menyusul pria tersebut.


"Ini namanya tempat apa?" tanya Angel yang sudah menyeimbangi langkah kaki Damian.


"Sungai Siené." Damian menjawabnya singkat sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


Angel hanya berOh ria sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Tiba-tiba matanya tak sengaja menangkap sesuatu.


"Damian.."


Pekikkan Angel sontak membuat Damian menghentikan langkahnya lalu menatap wanita itu dengan khawatir.


"Ada apa?"


"Aku ingin naik itu." Angel menunjuk sebuah kapal layar yang ada di bawah mereka. Dan Damian mengikuti arah tunjuknya, kemudian tatapannya kembali kepada Angel dengan ekpresi datar.


"Tidak." Hanya satu kata itu yang Damian ucapkan. Lalu pria tersebut kembali melanjutkan langkahnya.


Saat dirinya sudah berada di ujung jembatan, dia pun menoleh kesamping, namun tak mendapati Angel disana. Sontak saja Damian menjadi panik, dia lalu menoleh ke belakang. Seketika Damian menepuk dahinya pelan ketika melihat Angel yang masih berdiri di tempatnya tadi sambil memandangi kapal layar yang di tunjuknya.