The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Ending: Dibalik Kebahagian Orang Lain, Ada Seseorang Yang Merasakan Kesedihan



Ibu Elizabeth kembali datang dan menghampiri Angel. Melihat pria yang asing baginya, membuat wanita paruh baya tersebut mengernyitkan dahinya heran.


Angel yang mengerti arti tatapan ibunya, segera memperkenalkannya dengan Dave.


"Ibu, ini Dave temanku. Dan Dave, ini adalah Ibuku."


Dave tersenyum sambil menganggukkan kepalanya singkat, seolah sedang menyapa Ibu Elizabeth. Ibu Elizabeth pun membalas senyuman itu. Lalu diliriknya sang cucu yang begitu tenang dalam gendongan Dave.


"Aneh sekali. Dia begitu tenang dalam gendonganmu, tapi dia selalu menangis dalam gendongan daddy-nya," gumam Ibu Elizabeth, tapi masih dapat di dengar oleh orang-orang di sekitarnya.


Damian berdecak. Dave Clayton kembali merebut perhatian dan mendapatkan dukungan dari ibu mertuanya, dan Damian tidak suka itu. Apalagi Dave tampak menampilkan senyum percaya dirinya di hadapan istri dan juga ibunya.


"Kau memiliki aura seorang ayah. Apakah kau sudah menikah dan memiliki anak?" tambah Ibu Elizabeth. Seketika Dave terdiam. Bahkan raut wajahnya langsung berubah, begitupun dengan senyumannya yang menghilang begitu saja.


"Dave belum menikah, Ibu," sahut Angel tidak enak hati. Dia lalu meminta maaf kepada pria itu melalui tatapannya. Dave tersenyum seperti biasa, seolah tidak mempermasalahkan apa yang orang lain katakan.


"Karena aku belum menikah, bisakah kau mencarikanku wanita?"


Ibu Elizabeth tertawa kecil, " Kau ingin wanita seperti apa?"


"Seperti Angel." Spontan saja Angel, Damian beserta ibunya terkejut sekaligus terdiam.


Melihat keterkejutan mereka, membuat Dave tertawa.


"Jangan salah paham! Maksudku, aku ingin wanita seperti Angel, yang bisa mencintai suaminya dengan tulus."


Damian yang semula mengepalkan tangannya, seketika melonggar. Jika saja Si Clayton itu tidak meralat ucapannya, mungkin sebuah bogeman sudah mendarat di wajah pria tersebut.


Ibu Elizabeth berOh ria, "Wanita seperti itu banyak, Nak."


"Tidak, Bu. Wanita seperti itu justru langka." Dave tersenyum sendu, sebelum akhirnya tatapannya kembali pada Baby Naura.


...* * * ...


Damian pergi untuk mengantarkan Ibu Elizabeth ke Bandara. Mereka pergi terburu-buru, karena baru saja mendapatkan telpon dari Hazel jika istrinya akan segera melahirkan. Kini tinggallah Angel bersama Dave, dan juga kedua buah hatinya.


Sebelum Damian pergi, ia meminta kepada Dave untuk menjaga istri dan anaknya. Bila sampai terjadi sesuatu, maka Dave akan menanggung akibatnya.


Baby twins sudah tertidur di kamar bayi yang telah di siapkan oleh daddy-nya dari jauh hari. Angel lalu mengajak Dave untuk duduk di kursi panjang yang ada di halaman belakang.


Sudah hampir sepuluh menit lamanya mereka duduk disitu, tapi belum juga kunjung bicara. Hingga akhirnya, Angel merasa bosan dengan keterdiaman ini.


"Bagaimana? Apakah kau sudah menemukan Sherly?"


Dave tersenyum kecut, kemudian menggeleng lemah.


"Entah mengapa, aku merasakan bahwa dia sengaja bersembunyi dariku."


Helaan nafas keluar dari mulut Angel. Dia merasa prihatin kepada temannya ini.


"Jangan putus asa. Aku yakin, suatu hari nanti kau pasti bisa menemukannya."


Hanya anggukan pelan yang dapat Dave lakukan. Tubuhnya terasa letih, begitupun dengan pikirannya saat ini.


...* * * ...


5 tahun berlalu....


Damian menekuk wajahnya. Dirinya begitu cemburu melihat kedekatan putrinya dengan Dave. Siapa sebenarnya daddy-nya Naura, Aku atau pria itu?


James yang saat ini sedang berkunjung ke mansion Damian, seketika tertawa geli melihat ekpresinya.


"Wajah seperti itu tidak cocok untukmu."


Damian mendengus sebal. Dia lalu berdehem singkat, namun tak mengalihkan pandangannya dari putri kecilnya.


"Menurutmu, apa yang Dave lakukan sehingga membuat putriku tidak bisa terlepas darinya?"


James mengendikkan bahunya, "Mana aku tahu. Tanya saja langsung padanya."


Tatapan sinis, langsung Damian lemparkan pada pria di sampingnya ini. Jawaban dari James sama sekali tidak membantu.


Padahal sekarang terdapat Sierra, anak dari James, yang sedang berada di mansionnya. Tapi Naura justru lebih memilih untuk bermain dengan Dave. Jadinya, Sierra hanya bermain dengan Noah, walaupun pria kecil itu tampak tidak menyukai kehadiran dari Sierra.


Beberapa menit kemudian, Naura terlihat berlari kearahnya. Tentu saja Damian senang dan segera merentangkan kedua tangannya untuk menyambut putrinya. Sayangnya, Naura justru melewatinya begitu saja.


"Pufftt.." James menahan tawanya. Sedangkan di ujung sana, Dave menunjukkan senyuman miringnya kepada Damian.


Damian yang tidak bisa untuk menahan gejolak amarahnya, segera berjalan menghampiri Dave dan langsung menarik kerah bajunya.


"Sepertinya, aku terlalu baik kepadamu."


"Terlalu baik?" Dave tertawa renyah, "Bukan kau yang baik kepadaku, melainkan istrimu."


James mencium bau-bau perselisihan disana. Dan dirinya dapat menebak bahwa sebentar lagi akan ada perkelahian. Benar saja! Damian sudah mengangkat kepalan tangannya untuk memberikan bogeman mentah kepada Dave, tapi sebuah suara segera menghentikan gerakkannya.


"Daddy..." Itu suara Naura, putrinya. Langsung saja Damian menurunkan tangannya, kemudian melepaskan cengkeramannya pada kerah baju milik Dave.


Damian berdehem pelan, setelah itu dia berbalik dan menampilkan senyum paksanya kearah Naura.


"Ada apa, Sayang?"


"Mommy panggil Daddy."


"Kenapa Mommymu memanggil Daddy?" Naura kecil menggeleng polos.


Akhirnya Damian tersenyum. Tangannya lalu terulur untuk mengajak anaknya menemui Mommy-nya. Tapi Naura justru menjauh dan menggeleng menolak.


Damian mematung sejenak. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut dan menuju area belakang rumahnya. Dimana, sang istri sedang menjaga putranya yang sedang bermain bersama anak James.


Damian membuang nafasnya panjang, lalu berjalan mendekati istrinya.


"Sayang, kau memanggilku?"


Refleks, Angel menoleh. Dia tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tadi sih, iya. Sekarang tidak lagi."


Pria itu mengangguk pelan. Lantas, dia mengambil posisi duduk di samping istrinya. Angel memperhatikan wajah Damian, sepertinya ada yang tidak beres.


"Apakah baru saja terjadi sesuatu?" Baru saja Damian hendak membuka mulutnya, tapi ada seseorang yang lebih dulu menjawab pertanyaan dari Angel.


"Suamimu berkelahi dengan Dave." Sontak, Angel dan Vika menatap kearah Damian bersamaan.


"Benarkah itu?" tanya Vika penasaran.


"Dia yang memulainya," jawab Damian acuh. Pria tersebut kemudian berdiri, " Aku lelah. Aku akan beristirahat di kamar."


Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Damian sudah pergi begitu saja. Angel hanya bisa memandangi kepergian suaminya yang kian menjauh. Dirinya sudah sering mengingatkan Damian untuk tidak bertengkar dengan Dave, tapi suaminya itu seperti tidak perduli.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan, yang membuat perhatiannya berpindah. Dilihatnya bahwa Sierra yang menangis dan sedang di tenangkan oleh ibunya. Angel pun segera mendekat kesana.


Sierra yang masih menangis, menunjuk kearah Noah.


"Dia mendorongku."


Tapi Noah tampak tidak perduli. Pria kecil itu justru sibuk bermain dengan mobilannya. Angel mengusap kepala Sierra sejenak, sebelum akhirnya tatapannya beralih kepada putra kecilnya.


"Noah, minta maaf sekarang kepada Sierra."


"Kenapa aku harus minta maaf padanya? Bukankah dia dulu yang menggangguku?" timpal Noah dengan tatapan polosnya.


Sang Ibu bergeming. Tidak mendapatkan jawaban dari Mommy-nya, Noah pun memilih untuk masuk kedalam sambil membawa mainannya.


"Sudahlah, Angel. Tidak apa-apa," ujar Vika sambil tersenyum maklum. "Lagipula, mereka masih anak-anak."


"Vika benar. Ini juga bisa jadi karena Noah merasa terganggu. Oleh sebab itu, dia mendorong Sierra," timpal James.


"Tapi Vika, James... Aku merasa tidak enak kepada kalian."


"It's okey. Kami tidak mempermasalahkannya. Aku yakin, cepat atau lambat mereka bisa menjadi dekat."


...* * * ...


Jessica tersenyum melihat anaknya yang begitu senang bermain dengan ayahnya. Kedua prianya itu sedang asyik bermain basket bersama di halaman rumah.


Marvello Richie, Si kecil yang menggemaskan dan ceria. Dia adalah kesayangan dari kedua orangtuanya. Awalnya, nama putra mereka bukanlah Marvello, melainkan Nicholas Richie. Tapi karena selalu menangis, oleh sebab itu namanya di ganti. Marvell lahir selang 2 hari dari sepupu kembarnya.


Kini mereka sudah tinggal di Indonesia, tepatnya di Kota Bekasi. Hazel bahkan sudah aktif dalam menjalankan bisnis Damian, kurang lebih 5 tahun terakhir ini.


Si kecil mendadak lari kearah ibunya sambil tertawa. Dengan sigap Jessica menangkap tubuh mungil itu.


"Capek, hmm?" Marvell kecil mengangguk polos.


"Kalau begitu, ayo kita membuat jus buah," tambah Jessica. Marvell pun langsung bersorak kegirangan.


"Hanya dia yang di ajak? Papanya tidak?" Hazel cemberut sambil menggendong bola basket di lengannya.


"Papanya tidak usah," canda Jessica sambil tertawa. Dia lalu membawa putranya untuk segera masuk. Hazel yang masih cemberut, hanya mengikutinya dari belakang.


Sementara di tempat lain...


Seorang anak kecil menatap sendu gundukkan tanah di hadapannya. Disanalah ibunya berbaring dengan tenang. Walaupun dia tidak pernah melihat wajah ibunya secara langsung, tapi dia tetap menyayanginya dan selalu mengirimnya sebuah doa.


Di sampingnya, terdapat seorang pria dewasa yang menjadi satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang. Bocah kecil itu memanggilnya dengan sebutan Paman Roger.


"Moms, hari ini aku sudah mulai sekolah. Paman Roger yang mengantarku." Anak kecil itu kemudian berjongkok dan menyentuh nisan ibunya.


"Mommy tahu, aku selalu melihat bintang-bintang di langit. Paman Roger bilang, di antara bintang itu terdapat Mommy yang sedang memperhatikanku."


Pria bernama Roger tersebut menundukkan kepalanya dalam. Dia tidak kuasa untuk menahan air matanya.


"Aku sangat merindukanmu, Mommy," tambah bocah itu sambil memeluk nisan ibunya.


Roger segera menghapus air matanya, kemudian ikut berjongkok di samping anak kecil tersebut yang sudah dia besarkan layaknya anaknya sendiri.


"Leon, ayo kita pulang."


"Leon masih ingin disini, Paman."


"Tapi ini sudah siang, Nak. Dan Leon belum makan. Leon ingin membuat Mommy bersedih, hmm?"


Leon langsung mengelengkan kepalanya, "Leon tidak mau membuat Mommy bersedih."


"Maka dari itu, Leon harus pulang bersama Paman. Lalu kita makan siang bersama, oke?"


Akhirnya, Leon menyetujui ucapan dari Pamannya. Roger lalu membawa anak kecil tersebut kedalam gendongannya. Sebelum dia melangkahkan kakinya, Roger menatap gundukan tanah itu lebih dulu. Dimana, wanita yang di cintainya di kuburkan disana.


'Kau mungkin sudah tiada, tapi cintaku tidak akan pernah sirna. Aku berjanji padamu, selama aku hidup, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada putramu. Bagiku, putramu adalah putraku juga,' batin pria itu.


"Paman, ayo." Roger tersenyum sambil mengangguk. Dia pun melangkahkan kakinya untuk pergi dari area pemakaman itu.


...~ TAMAT ~...