
"Seperti apa wajah Damian Wilson itu?" ujar Angel tiba-tiba. Karena pada saat meeting tadi, Mr. Robert membahas tentang Damian Wilson.
"Mengapa kau ingin tahu?" tanya Calvin, lalu pria itu meneguk sampanye-nya.
"Tidak ada, hanya saja semua orang takut padanya. Apa wajahnya begitu mengerikan?"
Calvin tertawa diikuti oleh Dave.
"Bukan wajahnya yang mengerikan tapi sifatnya. Aku pernah melihat Damian Wilson," sahut Dave.
"Benarkah? Kapan dan dimana?" Kini kekasihnya Sherly yang bertanya.
"Entahlah aku sudah lupa. Tapi yang kuingat, usianya mungkin sudah memasuki kepala tiga."
"Seperti apa memangnya dia? Mengapa kita harus berhati-hati seperti yang dikatakan Mr. Robert tadi?" tanya Angel kembali.
Dave menerawang ke depan seperti sedang mengingat tampang dari Damian Wilson.
"Dia sangat berbahaya. Tatapannya yang dingin dan tajam seperti elang. Wajahnya yang tidak berbentuk--"
"Tunggu, tunggu. Apa dia berwajah datar?" potong Sherly.
"Tentu saja tidak. Dia masih memiliki mulut, hidung, mata dan--"
"Diamlah. Aku tidak bertanya padamu!" sungut Sherly yang memotong ucapan Calvin yang tak berguna itu.
Calvin terkikik geli, "Lanjutkan Dave."
"Sampai dimana tadi?"
"Wajahnya yang tidak berbentuk," jawab Roby yang sedari tadi diam.
"Ahh, iya. Setahuku wajahnya tampan tapi tak setampan wajahku," lanjut Dave sambil membenarkan kerah jasnya dengan gaya sok cool.
Calvin berdecih mendengar ucapan pria itu, sedangkan Angel dan Roby justru menatapnya datar.
"Lalu?" Angel kembali bertanya tanpa memperdulikan Dave yang sibuk memperbaiki penampilannya.
Bukannya menjawab, Dave malah tertawa. "Kenapa kau ingin tahu sekali, Angel? Apa kau menyukai Damian Wilson itu hah?"
"Aku hanya ingin tahu bagaimana dirinya agar aku tahu apa yang harus kulakukan kedepannya."
"Ya.. ya, pintar sekali kau mengelak," cibir Dave. Pria itu kemudian melanjutkan ceritanya.
"Dan yang paling penting dari itu semua adalah... Damian tidak tersentuh dan dia memiliki kekuasaan dimana-mana."
Calvin bertepuk tangan kagum, "Cerita anda luar biasa Mr. Dave. Sampai-sampai aku mengantuk mendengarnya."
"Kurang ajar," timpal Dave sambil melemparkan bantal sofa ke Calvin yang dengan cepat ditangkap pria tersebut.
"Kau pikir aku sedang menceritakan dongeng untukmu, hah?" sambung Dave. Namun tak di tanggapi oleh Calvin. Pria itu justru merenggangkan badannya sambil sesekali menguap.
Roby dan Sherly tertawa melihat itu. Sedangkan Angel menahan tawanya dengan menolehkan kepalanya kesamping.
Calvin yang mengetahui itu, langsung menarik dagu Angel agar menghadap padanya.
"Jika kau ingin tertawa, tertawalah. Jangan ditahan!" katanya dengan diiringi senyum manis dibibirnya.
Seketika Angel memasang wajah datarnya kemudian menepis tangan Calvin di dagunya.
"Sudah berani menyentuhku heh?" tukas Angel sambil melipat kedua tangannya di dada.
Dave dan yang lain jadi tertawa.
"Sudahlah, Calv. Berhenti mengganggu Angel."
"Aku tidak mengganggunya," balas Calvin santai sambil meneguk sisa sampanye-nya di gelas.
Angel lalu berdiri dari duduknya karena harus pergi ke suatu tempat.
"Kau mau kemana?" tanya Calvin.
"Bukan urusanmu." Tanpa mendengar balasan dari Calvin, Angel lebih dulu pergi meninggalkan ruangan itu.
Roby pun menatap Calvin dengan senyum mengejek. Dan Calvin yang tahu arti dari senyumannya itu langsung mendengus sebal.
"Diamlah," tukasnya.
"Mengapa aku harus diam? Aku tidak menangis!" timpal Roby dengan wajah menyebalkannya.
Rasanya Calvin ingin memukul wajahnya itu, jika dia tidak ingat bahwa Roby merupakan teman atau rekannya. Dan karena tidak ingin terlalu lama disana, Calvin pun ikut enyah dari ruangan itu seperti yang lainnya.
...* * *...
Saat ini James dan Vika berada di sebuah tepi danau. James sengaja kesana untuk menjernihkan pikirannya yang terasa kaku.
Ada apa denganku? Mengapa aku tidak senang jika Angel berdekatan dengan Calvin? batin James berbicara.
Vika pun sama dengan apa yang batin James katakan.
"Jangan sampai aku menyukai Catty itu!" gumamnya pelan.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya James, padahal pria itu dapat mendengar dengan jelas gumaman dari wanita di sampingnya ini, namun dia berpura-pura seolah tidak mendengarnya.
Vika menjadi gelagapan, "Ah tidak." ujarnya sambil tersenyum kikuk.
Setelah itu, terjadi keheningan di antara mereka. Dan itu membuat Vika merasa canggung dan gusar, apalagi dia adalah wanita yang tergolong tidak dapat diam dan banyak bicara.
Vika berdehem sejenak, kemudian menolehkan kepalanya kesamping.
"James?"
"Hmm," timpal pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari danau di hadapannya.
Wanita itu bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi, apa yang ada di pikirannya, langsung dia lontarkan.
"Apa kau menyukai Angel?"
James yang semula melihat ke danau, langsung mengalihkan tatapannya kepada wanita yang berdiri disampingnya kini.
Vika tertawa kikuk sembari menggaruk dahinya yang tidak gatal. Kemudian tangannya beralih menepuk pundak James pelan.
"Hanya bertanya."
James tak menanggapinya. Matanya kini tertuju pada tangan Vika yang masih berada dibahunya. Seakan tersadar, Vika segera menurunkannya.
Pria itu lalu mencondongkan wajahnya ke Vika dengan tatapan menyelidik,
"Jangan-jangan ...."
Refleks, Vika langsung menjauhkan kepalanya dari James dan menatap risih pada pria itu
"Jangan-jangan apa?"
"Jangan-jangan... kau menyukaiku," tukas James cepat.
Mata Vika langsung membulat mendengarnya. Wanita itupun melipat kedua tangannya di dada.
"Percaya diri sekali kau."
James mengendikkan bahunya acuh, kemudian menegakkan tubuhnya kembali. "Aku hanya menebak. Jika kau tidak menyukaiku, berarti kau menyukai Calvin bukan?"
"Ka-kau gila," pekik Vika dengan suara tergagap.
"Apa? Nyatanya memang begitu."
"Sudahlah aku ingin pulang," putus Vika.
"Pulanglah. Tidak ada yang melarangmu."
Karena kekesalannya sudah sangat besar terhadap pria itu, Vika pun menarik dasinya hingga membuat tubuh James mencondong ke arahnya.
"Vi-Vika, a-aku tercekik," ujar James terbata-bata sambil memegangi dasinya yang di tarik oleh wanita tersebut.
Vika lalu melepaskannya dengan senyum puas terpancar dari bibirnya.
"Antar aku pulang sekarang atau aku akan mencekikmu kembali."
Dan tanpa menunggu balasan dari pria itu, Vika kemudian meninggalkan James dan masuk ke dalam mobil duluan.
"Aku menyesal mengajakmu," gerutu James kesal sambil menendang rumput yang tak bersalah.
"Jamesss, cepatlah!" teriak Vika dari dalam mobil.
James pun segera masuk kedalam mobilnya dan bergegas pergi dari situ sebelum Vika kembali mencekiknya.
...* * *...
Seminggu kemudian....
"Veronica, kau dipanggil oleh manager!" ujar salah satu pegawai yang bekerja ditempat yang sama dengan Veronica.
"Kenapa manager memanggilku?" gumam Veronica bingung.
"Sudahlah, lebih baik kau temui dahulu." Grace menimpalinya tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer di depannya.
Veronica pun bergegas keruangan sang manager sambil berpikir apa yang akan terjadi. Manager yang dimaksud bukan Manager Keuangan yaitu Henry, melainkan Manager HRD. Biasanya Manager itu memanggil karyawannya karena melakukan suatu masalah.
Veronica mengetuk pintu lebih dulu, kemudian melenggang masuk setelah mendapat izin dari dalam.
"Apakah Bapak memanggil saya?" ujarnya sopan.
Manager tersebut tidak menjawab pertanyaan dari wanita itu. Pria tersebut justru melemparkan beberapa foto kepada Veronica. Dimana didalam foto tersebut terdapat gambar seseorang yang hendak mencuri uang dibrankas perusahaan tapi tidak terjadi karena ada sebuah alarm yang berbunyi.
"Saya tidak mengerti, Pak." Veronica terlihat bingung. Apa kaitannya dengan foto-foto tersebut?
"Kau masih ingin mengelak, hah?" bentak manager itu dengan memukul meja.
Manager itu lalu segera memanggil Henry dan juga Grace melalui teleponnya untuk masuk kedalam ruangannya.
Tak berselang lama, Henry dan Grace pun masuk secara bersama. Manager yang diketahui namanya Albert tersebut mengeluarkan sebuah kalung, kemudian dia menanyakan pemilik kalung itu kepada keduanya dan tentu saja mereka menjawab milik Veronica.
Tentu saja Henry tahu jika kalung itu milik Veronica, karena dia pernah melihatnya ketika makan bersama dengan Veronica di kantin saat satu minggu yang lalu. Dan Grace pasti tahu, karena wanita itu selalu berada didekat Veronica.
"Ba-bagaimana bisa kalung saya ada di Anda, Pak?" Veronica meneguk ludahnya dengan susah payah, lalu dia menyentuh lehernya dengan perlahan. Ternyata benar, jika kalungnya sudah tidak berada disana.
Albert tersenyum miring, "Kau tidak tahu atau kau pura-pura tidak tahu? Apa sebenarnya tujuanmu bekerja disini?"
"Sa-saya benar-benar tidak tahu mengapa kalung tersebut bisa berada ditangan Anda."
Albert menatapnya datar, lalu tatapannya berpindah kepada Henry.
"Siapkan surat pemecatan untuknya. Dan buat dia tidak diterima diperusahaan manapun."
Henry hanya mengangguk tanpa membantah. Karena menurutnya, Veronica benar-benar keterlaluan.
Veronica terkejut dengan matanya yang terbelalak, "Pak, sa-saya dipecat?"
"Tentu saja. Harusnya kau berterima kasih karena aku tidak membawa masalah ini ke jalur hukum," jawab Albert santai.
"Tapi Pak, didalam foto itu bukan saya.
Bahkan saya tidak tahu apapun mengenai ini!" protes Veronica sambil mengelap air matanya yang mulai berjatuhan.
Dan apa tadi yang diucapkan oleh Albert kepada Henry, 'Buat dia tidak diterima diperusahaan manapun'. Berarti tidak akan ada lagi yang menerimanya atau sekarang dia akan menjadi pengangguran untuk selamanya.
Veronica menggelengkan kepalanya saat membayangkan bagaimana nasibnya nanti.
Dia memohon pada Albert tapi tak dihiraukan oleh pria tersebut. Albert kini menyuruh Henry untuk membawa Veronica keluar dari ruangannya.
Henry hanya mengangguk, kemudian dia menarik tangan Veronica secara paksa agar wanita tersebut segera keluar.
"Aku tidak menyangka kau melakukan ini," kata Henry dengan wajah kecewa, setelah mereka keluar dari ruangan Albert.
"Henry, kumohon... percaya padaku!" Kini Veronica sudah terisak karena dirinya harus keluar dari perusahaan ini tanpa melakukan kesalahan apapun.
Henry tidak menghiraukannya, pria itu memilih untuk meninggalkan Veronica begitu saja. Karena ada yang harus dia urus.