The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Suprise For You



Hari-hari telah berlalu. Jessica nampaknya sudah membaik. Terlihat dari wanita itu yang mulai tersenyum dan tertawa bersama dengan Hazel.


Dan selama itu juga, tidak ada lagi masalah di antara mereka. Tapi kita tidak tahu bagaimana dengan nanti, besok maupun seterusnya.


Hari ini, bertepatan dengan hari terakhir mereka di Pulau Dewata Bali. Oleh sebab itu, mereka mengunjungi beberapa tempat wisata sebelum kembali pulang. Untuk Damian dan Angel, mereka hanya akan menghabiskan waktu sebentar di New York, kemudian sepasang suami istri itu akan tinggal dan menetap di Sisilia.


Dalam rencana kepulangan besok, tak lupa mereka mengajak Jessica untuk ikut bersama. Karena tak ada apapun yang tersisa disini, selain kenangannya bersama kedua orangtuanya.


Keempat manusia tersebut, memilih tempat wisata yang berbeda. Hazel dan Jessica, yang lebih memilih ke wisata kuliner. Sedangkan Angel dan Damian, mereka memutuskan untuk pergi ke tempat-tempat terkemuka, seperti; Pantai Pandawa, Pura Tanah Lot, Pulau Nusa Lembongan dan masih banyak lagi.


Hingga tiba pada malam hari, Damian masih mengajaknya untuk keluar. Bahkan suaminya itu meminta dirinya untuk mengenakan gaun. Angel mengira bahwa Damian akan mengajaknya untuk pergi ke pesta. Namun mengapa matanya justru di tutup seperti ini?


"Damian, kita akan kemana sebenarnya?" Angel melangkah hati-hati dengan di tuntun oleh suaminya.


"Aku memiliki kejutan untukmu."


"Bukankah kita akan ke pesta?"


"Siapa yang mengatakan itu?" Angel mendengus, lalu memilih untuk diam.


Tiba-tiba Damian memintanya untuk berhenti. Pria itu kemudian segera menyingkirkan tangannya yang menutupi mata istrinya.


Perlahan, kedua mata Angel terbuka. Matanya menyipit karena merasakan silau. Namun sedetik kemudian, matanya membulat dan mulutnya menganga tidak percaya. Dengan perasaan haru bercampur bahagia, dia pun memeluk Damian erat. Suaminya tersebut membuat sebuah kejutan yang sangat istimewa untuknya.


"Kau yang menyiapkan semua ini?"


Damian mengangguk dengan senyumannya, "Kau menyukainya?"


"Sangat. Terima kasih."


Melihat rona bahagia di wajah istrinya, membuat dada Damian terasa hangat. Dia lalu menepuk tangannya beberapa kali. Tak berselang lama, puluhan kembang api meluncur ke atas dan menghiasi langit malam.


Mata Angel menatap kagum pada pemandangan yang begitu menakjubkan tersebut. Disaat dirinya masih terfokus pada kembang api di atasnya, tiba-tiba Damian memberikan sebuket mawar merah kepadanya. Entah darimana suaminya itu mendapatkan bunga tersebut, Angel tidak perduli.


Damian merangkul pinggang istrinya, kemudian membawanya untuk menelusuri setiap jalan yang terdapat lilin menyala di sekitar mereka. Ketika mereka tiba di meja untuk dinner malam ini, Damian segera menarik kursi lalu mempersilahkan istrinya untuk duduk.


"Terima kasih.." Angel mendaratkan bokongnya. Damian berpindah posisi dan mengambil tempat duduk di hadapan istrinya itu.


Mata Angel mengamati dekorasi yang ada. Mulai dari lilin-lilin, bunga yang di dekor sedemikian rupa. Dan jangan lupakan lampu kerlap-kerlip yang menghiasi area tempat makan mereka.


"Kau selalu bersamaku seharian ini. Tapi bagaimana bisa kau menyiapkan semuanya dengan begitu cepat dan sempurna?"


Damian tersenyum, "Jika ada uang, maka semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Right?"


"Kau benar. Uang di atas segalanya."


"Tidak. Cintalah yang berada di paling atas."


Alis Angel terangkat sebelah. Dia lalu mengendikkan bahunya acuh. Entah itu Uang atau Cinta, Angel tidak perduli. Yang mana mendatangkan kebahagiaan, maka itulah yang terpenting baginya.


Makanan mereka datang. Damian sudah mempersiapkan segalanya, termasuk makanan yang akan mereka santap pada malam hari ini. Secara bergantian, pelayan meletakkan berbagai macam aneka makanan seafood, di awali dengan Kepiting, Gurita, Kerang, Ikan dan Udang.


Angel meneguk ludahnya kasar. Sepertinya pilihan Damian tepat, istrinya itu memang menyukai makanan yang berasal dari laut. Setelah para pelayan tadi pergi, mereka mulai menikmati makanannya dalam diam dan tenang.


Angel kira, kejutan Damian telah selesai. Ternyata dugaannya salah. Terlihat beberapa orang pria yang datang sembari memainkan alat musik biola dengan sangat merdunya.


Dirinya begitu fokus menatap dan mendengar alat musik yang di gesek itu, sampai tak sadar bahwa suaminya telah berdiri dan mengulurkan tangan kearahnya.


"Ayo berdansa denganku."


Angel tersenyum jahil, "Bolehkah jika aku menolaknya?"


"Sayangnya, aku tidak menerima penolakan."


Wanita itu tertawa, lalu menerima uluran tangan dari suaminya. Mereka berdansa di pantai dengan di iringi musik dari biola dan di temani oleh rembulan bersama angin yang berderu.


Tatapan mereka terkunci satu sama lain. Hingga, Angel menundukkan kepalanya sejenak kemudian kembali menatap suaminya.


"Eugh... Bagaimana menurutmu tentang anak?" Angel mengeluarkan apa yang ada di pikirannya. Dan itu di sambut santai oleh Damian


"Kenapa kau ingin membahas perihal anak?"


Angel berdehem pelan, "Tidak ada. Aku hanya ingin bertanya. Kau ingin memiliki anak lelaki atau wanita?"


"Apapun jenis kelaminnya, aku tidak perduli. Yang penting anakku kelak dalam kondisi yang baik."


Angel mengangguk mengerti. "Kau tidak akan membeda-bedakan mereka, bukan?"


"Tidak akan. Mereka darah dagingku, mana mungkin aku membedakannya."


Apa yang kini menjadi pertanyaan di pikirannya, sudah terjawab. Dia percaya pada Damian. Suaminya itu tidak akan mungkin membeda-bedakan anak mereka nantinya.


Membahas perihal anak, membuat Angel seketika mereka bersalah. Dirinya telah membohongi Damian, bahkan suaminya itu harus menahannya selama semingguan ini.


Angel menundukan pandangannya, "Maafkan aku. Sebenarnya, tamu bulananku sudah selesai sejak dua hari yang lalu."


Spontan pergerakkan tubuh mereka terhenti. Angel dapat merasakan bahwa suaminya terdiam, tapi dirinya tidak berani untuk sekedar melirik wajah Damian. Angel pikir bahwa suaminya marah. Dia pun semakin menundukkan kepalanya dalam.


"Maafkan aku, Damian." Mata Angel berkaca-kaca. Bahkan jantungnya berdegup kencang dan merasa was-was dengan apa yang akan suaminya lakukan.


Namun siapa yang menduga? Di detik berikutnya, Damian justru tersenyum sumringah.


"Kau.. Tidak berbohong 'kan, Sayang?"


Angel langsung menggeleng. Untuk apa dirinya berbohong? Jika pada akhirnya akan tercipta keributan di antara mereka.


Damian bersorak senang, layaknya baru mendapatkan sebuah undian. Dia lalu menggendong tubuh istrinya kemudian melangkahkan kakinya pelan.


"Kita akan kemana?" tanya Angel sambil mengamati perubahan raut wajah pada suaminya.


"Ke hotel."


Blusshh~


Pipi Angel bersemu merah. Otaknya sudah mengembara entah kemana. Dirinya bukanlah wanita yang polos, hingga tidak tahu apa yang sepasang wanita dan pria lakukan di tempat semacam itu.


Tak ingin terlihat gugup, Angel pun menyembunyikan wajahnya di leher Damian. Namun suaminya itu justru menyadarinya.


"Tenang saja, Sayang. Aku akan bermain sepelan dan selembut mungkin," bisik Damian untuk menenangkan istrinya.


Tanpa memperdulikan tempat itu lagi, pria tersebut segera membawa istrinya untuk pergi. Karena baginya, tidak ada yang lebih penting selain membuat Junior-Junior Wilson.