
"Waktu kita untuk melihat wisata tinggal hari ini," ujar Damian di sela sarapannya.
"Apakah tidak bisa di tambah lagi?"
Damian menggeleng, dan itu membuat Angel menjadi cemberut. Dia pun melanjutkan untuk menyantap sarapannya tanpa gairah.
Dua jam kemudian....
Tibalah mereka di Saint Malo, pantai yang memiliki dua warna air yang berbeda dengan jembatan atau jalan sebagai pemisah.
Damian menggenggam tangan Angel sambil berjalan melewati jembatan itu, dengan angin sepoi-sepoi yang meniupi rambut mereka.
"Kau pernah kesini?" tanya Angel.
"Hemm.."
"Dengan siapa?"
"Orangtuaku saat masih kecil."
Angel meringis merasa bersalah karena membuka kembali kenangan masa lalu Damian.
"Maaf.."
"Its okey." Damian tersenyum, dan Angel membalas senyuman itu dengan tipis.
"Ayo kesana!!!" tunjuk Damian pada sebuah pantai, yang saat ini sedang ramai dipenuhi oleh wisatawan.
Mereka bermain air. Ah ralat, maksudnya hanya Angel yang memainkannya. Sedangkan Damian memilih untuk menjauh karena wanita itu dengan jahilnya mencipratkan air ke wajah beserta tubuhnya.
"Damian, sini!!" teriak Angel sambil melambaikan tangannya.
Damian menggelengkan kepalanya pelan, Angel pun mendengus. Dia lalu melangkah untuk menghampiri pria tersebut, kemudian menarik tangannya agar mengikutinya.
"Angel, aku sedang tidak ingin bermain air." Kata-kata yang Damian ucapkan, membuat Angel langsung menghentikan langkahnya. Wanita itu kemudian berbalik sambil menatap Damian sebal.
"Kenapa memangnya?"
"Aku tidak membawa baju ganti."
"Alasan," timpal Angel sambil mencebikkan bibirnya.
"Aku benar-benar malas untuk bermain air sekarang, Angel." Wajah Damian terlihat memelas.
"Kenapa? Kau takut berubah menjadi Mermaid jika terkena air laut." Ucapan Angel sontak membuat para penghuni pantai menatapnya heran.
Melihat mereka yang menjadi sorotan, membuat Damian menjadi mendengus kesal. Dirinya lalu menarik tangan Angel dan membawanya ke bibir pantai. Angel terkikik geli saat melihat wajah Damian yang di tekuk, namun masih menemainya bermain air.
...* * *...
Dan siangnya, mereka sudah berganti di tempat wisata yang lain, yaitu Verdon George, tebing dengan panaroma paling indah di Eropa.
"Kenapa kau ini suka sekali bermain air?" ujar Damian sambil menatap malas kearah wanitanya.
"Memangnya kenapa? Aku 'kan suka mandi, tidak seperti dirimu yang malas mandi."
Damian memandangnya kesal, dirinya kemudian memilih untuk mendaratkan bokongnya di bebatuan sambil memperhatikan wanita itu bermain air untuk kesekian kalinya. Dan Angel? Jangan ditanya. Wanita tersebut sudah masuk ke dalam air sejak tadi. Entah apa yang di carinya, mungkin Mr. Crab beserta kawan-kawannya.
Dan tanpa sepengetahuan Angel, Damian tengah memotretnya diam-diam. Setelah itu, dia menjadikan foto tersebut sebagai wallpaper di ponselnya.
"Setelah ini kita akan pulang!!" ujar Damian yang membuat Angel langsung menatapnya.
"Aku masih ingin menjelajahi wisata lain, Damian." Wajah Angel berubah menjadi cemberut.
"Ini sudah sore."
"Biasanya juga pulang larut malam. Tiga wisata lagi, okey?" tawar Angel.
"Tidak."
"Okey, dua wisata lagi?"
"Tidak."
Angel menatap Damian kesal. Sementara yang ditatap, justru sibuk dengan ponselnya.
"Baiklah, kalau begitu satu wisata saja." Dan pada akhirnya, Angel memasrahkan diri.
"Setuju. Tapi aku yang akan memilih wisatanya," balas Damian sambil memasukkan ponselnya ke saku.
"Terserah." Angel kembali bermain air lagi. Dirinya begitu kesal dengan Damian, dan tiba-tiba saja sebuah ide jahil muncul di otaknya untuk membalas pria itu.
Angel tersenyum miring, senyum yang tak pernah lagi muncul di bibirnya sejak bertemu dengan Damian. Dengan langkah pelan, dia lalu mendekati pria tersebut yang sedang berdiri di tempatnya duduk tadi sambil melihat ke sekeliling tebing. Angel menaiki batu itu dengan sangat pelan dan hati-hati, takut jika Damian menyadarinya.
Saat dirinya sudah berdiri, Angel pun berniat untuk mendorong pria itu. Namun Damian memiringkan tubuhnya sehingga Angel tidak menggapainya dan akan jatuh dari batu tersebut jika saja sebuah tangan tidak menahannya.
Angel tidak merasakan apapun. Dia lalu segera membuka matanya, dan dilihatnya Damian yang sedang menatapnya datar sambil menahan sebelah tangannya.
"Kau ingin menjahiliku, heh?"
Damian pun tersenyum miring, kemudian menarik tangan wanita itu agar berdiri seperti semula.
"Aku melihat bayanganmu dari permukaan air."
Sontak saja Angel langsung melihat kebawahnya. Dan benar saja, bahwa bayangannya dan bersama Damian nampak dengan jelas disana.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Kenapa juga aku harus memberitahumu?" Damian lalu memasukkan kedua tangannya ke saku. Setelah itu dia berjalan santai untuk kembali menuju ke mobilnya.
Sementara untuk Angel, wanita itu terlihat sedang memandangi bayangannya sendiri di permukaan air. Sedetik kemudian dia meringis ngeri saat membayangkan bagaimana jika Damian tidak menangkap dan menahan tangannya tadi. Mungkin kepalanya sudah bocor sekarang akibat terhantam oleh batu yang di pijakinya ini.
"Hei..." Damian berteriak dari kejauhan. Seketika Angel langsung membalikkan badannya dan menatap pria itu.
"Cepatlah!! Apa kau ingin tinggal dan menginap disana?"
Angel mencebikkan bibirnya, "Menyebalkan sekali pria itu."
Dengan rasa kesal yang ada dalam dirinya, Angel menyusul pria tersebut sembari menghentak-hentakkan kakinya. Namun Angel tidak menemukan ekpresi marah atau kesal dari wajah Damian. Bahkan pria itu terlihat tenang kemudian menggapai tangannya untuk berjalan bersama.
...* * *...
Sore harinya dengan matahari yang hampir tergelincir ke barat, Damian menepati janjinya untuk mengajak Angel ke wisata yang akan menjadi terakhir bagi mereka disini.
Namun sebelum kesana, Angel berganti pakaian terlebih dulu. Dan itu menjadi kedua kalinya dia mengganti pakaiannya setelah bermain air di Saint Malo.
Place Des Voges, adalah alun-alun tertua di Paris yang terkenal dengan pohon-pohon yang di pangkas rapi dan bangunan bata merah yang mengelilingnya.
Melihat tidak ada yang menarik, membuat Angel menghela nafasnya bosan.
"Apa yang menarik dari tempat ini?"
"Itulah dirimu. Yang ada di pikiranmu itu hanyalah tempat wisata yang terdapat airnya."
Seketika Angel menatap Damian takjub.
"Darimana kau tahu? Apakah kau seorang cenayang?"
Damian meliriknya sejenak, kemudian kembali menatap bangunan-bangunan di hadapannya.
"Just feeling."
Mulut wanita itu langsung membentuk huruf O. "Kupikir kau tahu semuanya."
"Setelah ini kita pulang!!" seru Damian tanpa mengindahkan ucapan Angel barusan.
Mata Angel mendelik kearahnya, "Kau ini pria macam apa? Mengajakku jalan-jalan lalu pulang. Kau bahkan tidak mengajakku untuk makan."
Seketika Damian menepuk jidatnya.
'Bagaimana bisa aku lupa soal makan?'
"Ini semua gara-gara dirimu yang terlalu sibuk bermain air, hingga membuatku lupa akan segalanya," bela Damian.
"Apa urusannya denganku yang bermain air?" tanya Angel bingung.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya." Damian mengibaskan tangannya acuh. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan menyuruh Mario untuk datang menjemput mereka.
Tak sampai 5 menit, pria yang lebih tua daripada Damian itu datang. Mario lalu turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk tuannya. Angel yang merasakan kepanasan, segera masuk ke dalam mobil lebih dulu.
"Kenapa kau tidak mengingatkanku untuk makan siang?" Damian menatap Mario tajam. Dan itu membuat orang kepercayaannya tersebut menjadi bingung.
'Kenapa tuan justru marah kepadaku perihal makan!!??'
"Saya pikir Anda dan Nona sudah makan saat di Saint Malo atau Verdon George, Tuan," jawab Mario sopan.
Angel yang melihat dan mendengar percakapan kedua pria diluar mobil tersebut, hanya bisa memutar bola matanya jengah.
"Jika tidak ada yang disalahkan, pasti imbasnya kepada Mario."
"Kau pikir dengan menyalahkan orang lain, bisa membuatmu merasa kenyang?" sindir Angel sambil mengeluarkan kepalanya dari luar jendela. Bukannya menyadari kesalahannya, Damian justru menatap Angel tajam. Namun itu tidak akan membuat wanita tersebut menjadi takut akibat dari tatapannya itu.
Dan pada akhirnya, Damian menghembuskan nafasnya pasrah.
"Lain kali, ingatkan aku untuk makan."
"Eugh.. baik, Tuan." Damian lalu masuk kedalam mobil, dan akhirnya Mario dapat bernafas lega. Dia pun segera bergegas masuk ke kursi kemudi, sebelum tuannya kembali marah lagi.
"Besok, apakah kita akan pulang?" tanya Angel.
"Siapa bilang? Sebenarnya, tujuanku kesini karena untuk menghadiri sebuah pesta dari salah satu kolegaku."
Angel tersenyum sinis, "Ternyata kau masih ingin pergi ke pesta, heh? Setelah kejadian beberapa waktu lalu."
"Semua itu tidak akan terjadi jika kau tidak membuat ulah. Oleh sebab itu, saat di pesta nanti kau jangan jauh-jauh dariku. Mengerti??"
Wanita itu tidak menjawabnya dan justru memalingkan wajahnya dari Damian. Melihatnya, membuat Damian memejamkan matanya sejenak.
"Apa kau mengerti, Sayang?" bisiknya tepat di telinga Angel. Sontak saja Angel langsung menjauhkan tubuhnya dengan raut wajahnya yang nampak terkejut.