The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Berawal Dari Bulu di Rahang



Akhirnya mereka tiba di bandara. Dan langsung saja Damian menggandeng tangan Angel untuk memasuki pesawat pribadinya. Seperti biasa, mereka akan duduk berhadapan dan di pasangkan seatbelt oleh pramugari disana.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Angel setelah pramugarinya pergi.


"Liburan."


"Liburan?" Angel mengulangi ucapannya, dan dibalas dengan anggukan oleh Damian.


'Oh, jadi karena ini para pelayan tadi mengemasi pakaianku.' Angel membatin.


"Liburan kemana?"


"Rahasia," jawab Damian sambil tersenyum misterius.


"Oh ayolah, beritahu saja."


"Jika aku beritahu, bukan rahasia lagi namanya."


Angel menatap Damian sebal, "Terserah kau saja."


Damian terkekeh melihat Angel yang marah karena di buatnya.


'Kemarin kau yang membuatku kesal, sekarang gantian aku yang akan membuatmu kesal,' batin Damian tersenyum jahat.


Cukup lama mereka berada di pesawat, dan tak ada yang bisa Angel lakukan selain duduk dan melihat kearah jendela. Dia benar-benar merasa bosan. Sedangkan Damian justru sibuk berkutat dengan berkas-berkasnya.


'Dia bilang ingin liburan, tapi masih saja sibuk bekerja,' Angel menggerutu dalam hati sembari menatap Damian dengan wajah cemberutnya.


Merasa ada yang memperhatikan, Damian lekas mendongak. Dilihatnya saat ini bahwa wajah Angel begitu kusut.


"Apa kau tidak senang jika kita liburan?"


"Tidak usah perdulikan aku. Fokus saja pada berkas-berkasmu itu," jawab Angel dengan ketus.


Bukannya merasa tersinggung atau marah, Damian justru tertawa. Sepertinya wanita itu cemburu jika dirinya lebih memperhatikan berkas-berkasnya ketimbang wanitanya.


Akhirnya Damian memanggil Mario dan mengatakan untuk menyelesaikan sisa berkasnya yang belum sempat dia lihat. Setelah itu, Damian mengambil posisi di samping Angel. Wanita itu tampak cuek bahkan menoleh saja padanya, tidak.


"Kau marah, hmm?" Damian berujar lembut sambil menyentuh tangannya perlahan. Namun Angel segera menepis tangannya itu, kemudian bergeser agar sedikit menjauh dari Damian. Tapi bukan Damian namanya jika pergi begitu saja.


"Maafkan aku..." Damian berusaha menyentuh tangan Angel kembali. Dan syukurlah kali ini Angel tidak menolaknya.


"Pergilah!!" usir wanita itu yang tatapannya masih mengarah kearah luar. Bukannya pergi, Damian malah menatap Angel lekat. Kemudian dia meletakkan kepalanya di bahu wanita tersebut.


"Damian, kepalamu itu berat," gerutu Angel sambil berusaha mengangkat kepala Damian dari bahunya. Namun tidak ada pergeseran sama sekali. Damian lalu mengambil kesempatan dengan memeluk tubuh Angel dari samping. Seketika, itu membuat Angel terdiam karena tubuhnya sulit untuk di gerakkan.


"Kenapa kau itu begitu galak? Mengapa tidak seperti wanita yang kebanyakkan kutemui? Kau itu tidak ada manisnya sama sekali," adu Damian layaknya anak kecil. Dan Angel hanya bisa diam dan mendengarkan. Jika dirinya bergerak, maka percuma. Karena Damian memeluknya begitu erat seolah takut jika Angel kabur.


"Aku begitu bingung, mengapa diriku yang tampan ini bisa jatuh cinta pada wanita sepertimu?" lanjut Damian dengan suara menggemaskan.


"Memangnya aku seperti apa?"


Damian terdiam sejenak seolah-olah sedang berpikir.


"Kau itu dingin, datar, cuek, suka marah-marah tidak jelas, tapi ada keistimewaan sendiri padamu bagiku."


"Oh ya? Apa itu?"


"Entahlah, aku tidak tahu. Sulit bagiku untuk mendeskripsikannya." Angel mengangguk-anggukan kepalanya seakan-akan mengerti.


"Kau itu bagaikan air. Dapat dilihat, namun sangat sulit untuk di genggam." Kata-kata yang Damian lontarkan, membuat Angel langsung menatapnya heran.


"Sejak kapan seorang Damian pandai berkata-kata seperti itu?"


Damian mengangkat bahunya acuh, "Mungkin semenjak tinggal bersamamu."


"Kau tahu? Kau itu seperti pelangi, memberiku begitu banyak warna hingga membuatku lupa dengan kehidupanku yang kelabu."


Angel bergidik geli mendengar ucapan Damian. Karena yang dia tahu, Damian sangatlah dingin dan super arogan. Tapi sekarang, mengapa bisa menjadi seorang budak cinta seperti ini?


"Bisakah kau berhenti berbicara seperti itu? Lama-lama kau membuatku mual."


Sontak saja Damian langsung melepaskan pelukannya dan mengangkat kepalanya, lalu memandang wanita itu datar. Dia sudah merangkai kata-kata seperti itu agar membuat Angel tersipu, namun kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


"Apa? Aku mengatakan yang sebenarnya!!" seru Angel karena Damian terus menatapnya seperti itu.


Damian lalu berdiri dan hendak meninggalkan wanita tersebut. Namun belum juga melangkah, jasnya justru di tarik oleh Angel dari belakang.


"Kau marah?" tanya Angel sambil memperhatikan wajah Damian. Tapi pria itu bersikap sok cool dan lebih memilih untuk memalingkan wajahnya.


'Mengapa wanita ini tidak ada romantisnya sama sekali? Biasanya jika kekasihnya pergi, mereka akan mencegahnya dengan menahan lengannya. Tapi tidak dengan wanita satu ini, dia malah menahanku dengan menarik jasku.' Damian bergumam dalam hati sambil melirik ujung jasnya yang di tarik oleh Angel.


Dirinya masih diam dan ingin melihat bagaimana cara Angel untuk membujuknya agar tidak marah lagi.


Damian melongo dibuatnya. Dia pikir, Angel akan bersikap manis dan romantis layaknya pasangan lain. Tapi, lagi-lagi kenyataannya tidak sesuai dengan ekspetasi. Bukannya membujuk dirinya, Angel justru membiarkannya pergi dengan masih dalam keadaan marah.


"Kau akan membiarkanku pergi?" tanya Damian, dan Angel mengangguk.


"Kau tidak berniat ingin membujukku, begitu?"


"Oh, Damian. Aku bukanlah wanita yang pandai dalam merangkai kata. Bahkan aku bukanlah wanita yang romantis, yang tahu bagaimana caranya membujuk seseorang yang sedang marah!"


Damian memasang wajah masam, kemudian memutuskan untuk duduk kembali di samping Angel. Melihatnya, membuat Angel terkikik geli.


'Kau pikir aku akan membujukmu? Tidak semudah itu, Boy.'


Angel memandangi wajah Damian. Tiba-tiba matanya menyipit, kemudian dengan beraninya dia menyentuh rahang Damian. "Mengapa banyak sekali bulu disini?"


"Itu wajar, karena aku seorang pria," ketus Damian tanpa menatap lawan bicaranya.


"Tapi...pria-pria di korea tidak ada bulunya." Penuturan dari Angel membuat Damian langsung terdiam sembari berpikir.


"Apa kau tidak pernah mencukurnya?" tambah wanita itu karena tak kunjung mendapatkan balasan dari Damian.


"Tentu saja aku mencukurnya. Jika tidak kucukur, bisa-bisa jambangku sepanjang rambutmu," sewot Damian sambil menarik ujung rambut Angel.


"Benar juga. Tapi, tidak usah sampai menarik rambutku." Angel membalasnya dengan menarik rambut pria itu juga.


"Heyy, kau menarik rambutku kencang sekali."


"Kau duluan yang melakukannya. Aku hanya membalasnya."


"Tapi tidak perlu sekencang itu."


"Mangkanya jangan menarik rambutku."


Damian berdecak, kemudian merapihkan rambutnya. Sementara Angel tampak sedang memegangi ujung rambutnya yang di tarik oleh Damian tadi.


"Kau membuat rambutku rusak," gerutu Angel.


Damian memutar bola matanya jengah, "Jangan memulai!"


"Memulai apa maksudmu?" sungut Angel sambil menatap Damian galak. Karena tidak ingin berdebat dan bertengkar, Damian pun memilih untuk diam saja.


"Ini semua berawal dari bulu di rahangmu itu!" tunjuk Angel.


"Jambang, Angel." Damian meralat ucapan wanita itu.


"Terserahlah, aku tidak perduli. Ingin jambang atau bulu, bagiku sama saja. Dan jika aku menjadi dirimu, aku akan mencukur habis bulu di rahangmu itu."


Damian menghembuskan nafasnya lelah. Mengapa jadi jambangnya yang di salahkan?


"Sebenarnya apa masalahmu dengan jambangku ini?"


"Tidak ada sih. Hanya saja itu merusak penglihatanku."


"Kalau begitu jangan melihat kearahku."


"Bagaimana bisa aku tidak melihat kearahmu? Kau saja selalu berada di hadapanku."


"Tidak. Buktinya aku tidak berada di hadapanmu saat ini, justru aku sedang ada di sampingmu."


Angel menggeram kesal, "Dasar pria absurd."


"Se-absurd apapun diriku, masih absurd-lah dirimu."


"Damian, kau benar-benar..." Angel mengepalkan tangannya di wajah Damian, seolah-oleh ingin sekali memukul pria itu.


"Ada apa? Apakah kau tidak jadi untuk memukul wajahku?" Damian menaikkan alisnya.


Angel menampilkan senyum paksanya, "Oh tidak. Aku hanya tidak ingin mengotori tanganku dengan menyentuhmu."


"Benarkah? Kalau begitu...bagaimana jika aku yang memukulmu?"


"Jangan coba-coba! Karena aku akan membalasmu dengan rasa yang jauh lebih menyakitkan."


Damian tertawa, dia lalu menarik Angel agar bersandar pada dada bidangnya. Namun wanita itu menolak dan hendak menarik tubuhnya. Tapi Damian tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Diamlah! Atau aku akan memberhentikanmu di halte berikutnya."


Angel membeo, "Halte? Kau pikir ini bus?"


Pria itu kembali tertawa, "Syukurlah. Ternyata otakmu masih baik-baik saja."


Angel mendengus, lalu dirinya memilih untuk diam. Begitupun Damian, pria itu menikmati masa-masa kebersamaannya dengan Angel.