
James, Vika dan Angel tidak percaya jika pekerjaan mereka akan berakhir seperti ini. Setelah kehilangan satu rekan akibat tewasnya dalam kecelakan, lalu di susul dengan kepergian kedua rekannya yang lain yaitu Sherly dan Roby. Dan sekarang, Mr. Robert mengumumkan untuk membubarkan atau memberhentikan grup detective mereka.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" ujar Angel sambil tersenyum sendu.
"Mungkin aku akan melanjutkan cita-citaku," jawab James.
"Oh ya? Memangnya apa cita-citamu itu?"
"Menjadi seorang pilot, itulah yang kuinginkan dari dulu. Namun entah mengapa, aku justru menjadi seorang detective." James terkekeh.
"Lalu, bagaimana denganmu, Vika?" Angel beralih kepada Vika yang sedari tadi hanya sibuk menyantap makanannya.
"Aku tidak tahu," jawab Vika dengan mulut penuh.
"Ehh? Bukankah kau ingin membuka usaha toko roti?" timpal James dengan kerutan di dahi.
Wanita itu langsung menunjukkan cengirannya, "Aku lupa."
James dan Angel menggeleng-gelengkan kepalanya. Vika masih saja seperti dulu, yaitu pelupa dan menggemaskan.
"Bagaimana denganmu?" Sekarang gantian James yang bertanya. Angel hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Karena sejujurnya, dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Apakah kau tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan cita-citamu?"
Angel kembali menggeleng, "Aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang menjadi cita-citaku. Yang kuinginkan sekarang, hanya bisa hidup tenang, nyaman dan aman. Itu sudah lebih dari cukup."
"Apa itu tidak akan membuatmu bosan, Angel?" tanya Vika.
"Mungkin. Tapi aku bisa mengerjakan sesuatu, seperti berolahraga atau semacamnya." Vika mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti. Wanita itu tidak kembali bertanya, Angel pun memutuskan untuk bertanya balik padanya.
"By the way, apakah kalian resmi menjadi sepasang kekasih?"
James yang saat itu sedang menikmati tehnya, langsung menyembur keluar karena terkejut. Dan tanpa sengaja, teh yang keluar dari mulutnya itu mengenai wajah Vika yang duduk di sampingnya.
"Jamesss..." Vika memekik kesal. Dengan panik James mengambil tisue dan membersihkan wajahnya, begitupun dengan Angel yang membantu dirinya.
...* * * ...
Sambil melangkah pulang, tak henti-hentinya Angel tertawa kecil saat mengingat kejadian di cafe tadi. Vika sangat marah kepada James, bahkan dia meninggalkan pria itu begitu saja.
Walaupun pertanyaannya tadi belum sempat di jawab oleh keduanya, namun Angel dapat menebak bahwa mereka memiliki hubungan yang spesial. Yang tadinya hanya sebagai rekan kerja, tapi sekarang sudah menjadi sepasang kekasih.
Beruntungnya Vika yang mendapatkan pria seperti James. Angel sangat yakin bahwa James bukanlah seperti pria yang kebanyakan dia temui. Dimana pria-pria yang dia temui itu selalu menggoda wanita lain, meskipun mereka sendiri sudah memiliki kekasih.
Langkah kaki Angel perlahan berhenti ketika melihat rumahnya yang begitu sunyi dari luar. Biasanya Hazel suka duduk di teras depan sambil memainkan gitarnya. Namun malam ini, terasa berbeda.
Saat Angel sudah membuka pintunya, ternyata di dalam rumahnya tersebut begitu gelap dan hening. Angel pun segera meraba dinding untuk menghidupkan lampu. Ketika lampunya sudah menyala, dia justru mendapatkan sebuah kejutan yang terduga.
Disana, Damian beserta ibu dan adiknya sedang berdiri sambil tersenyum kearahnya. Perlahan ibunya mendekat sembari membawa kue di tangannya yang membentuk angka 23.
Sekarang Angel ingat, bahwa hari ini merupakan hari ulang tahunnya. Tapi Angel tidak mengingatnya, karena pada tahun sebelumnya tidak ada yang memberikan kejutan ataupun ucapan selamat untuknya, jadi untuk apa dia menghiraukan hari jadinya.
Angel tersenyum, kemudian dia memejamkan matanya untuk berdoa. Setelah itu dia membuka kembali matanya dan segera meniup lilin tersebut. Semua yang ada disana tersenyum bahagia. Tak ketinggalan Hazel yang mengucapkan selamat sambil memberikan sebuah kado, lalu di susul oleh Damian.
Angel merasa penasaran dengan kado dari Damian. Dia lalu membukanya tepat di hadapan pria itu. Ternyata di dalamnya berisi sebuah cincin dengan secarik kertas yang bertuliskan, Will U Marry Me?
Matanya langsung menatap kepada Damian. Angel dapat melihat tatapan penuh harap dari pria itu. Dia kemudian beralih kepada ibunya, dan ibunya tersebut menganggukkan kepalanya seolah setuju.
Di dalam kebimbangannya, Angel justru teringat dengan yang di katakan oleh James dan Vika. Kedua temannya itu memiliki cita-cita, sedangkan dirinya?
"Jangan membuat kami menunggu seperti ini, Angel."
Angel tersentak dan kembali menatap Damian. Dirinya masih ragu untuk menerima Damian atas apa yang terjadi. Oleh sebab itu, Angel putuskan untuk tidak menjawabnya sekarang.
"Beri aku waktu." Setelah mengatakan hal tersebut, Angel langsung pergi ke kamarnya. Melihat sikap Angel yang tampak acuh seperti itu, membuat ibu Elizabeth merasa tidak enak kepada Damian.
"Damian, kuharap kau tidak tersinggung dengan sikapnya itu."
Damian menggeleng sambil menunjukkan senyumnya.
"Tidak masalah, Ibu. Mungkin saat ini Angel sedang lelah dan ingin istirahat. Sebaiknya, kita biarkan dia merasa lebih baik untuk sekarang."
Ibu Elizabeth mengangguk. Jujur saja sebenarnya jika Damian kecewa. Namun apa boleh buat? Sepertinya, akibat kebohongannya yang dia lakukan waktu itu, membuat Angel jadi sulit untuk mempercayainya lagi.
Tapi... Damian berbohong agar hubungan mereka tetap harmonis. Jika saja Damian mengatakannya dari awal, Angel pasti akan langsung menolak untuk tinggal bersamanya. Dan bukan hanya itu! Damian dapat menebak bahwa Angel bisa saja menghabisinya saat di pertemuan pertama mereka setelah tidak lama berjumpa.
Melihat betapa acuhnya Angel padanya, membuat Damian berpikir bahwa wanita itu sepertinya tidak menginginkan kehadirannya. Damian lalu memutuskan untuk pulang ke apartementnya karena malam sudah larut. Sebenarnya Ibu Elizabeth menyuruhnya untuk menginap, namun di tolak oleh Damian. Dirinya tidak ingin membuat Angel merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.
Sembari menunggu kedatangan Mario, Damian memiliih untuk duduk di teras dengan di temani oleh Hazel. Sedangkan ibu Elizabeth sudah berada di kamarnya untuk istirahat. Karena wanita paruh baya tersebut tidak tahan dengan cuaca malam yang dingin. Oleh sebab itu, dia berpamitan untuk beristirahat lebih dulu, dan meminta Hazel untuk menemaninya sampai Mario datang.
"Aku tidak pernah melihatmu bersama wanita. Apakah kau tidak memiliki seorang kekasih?" Pertanyaan yang Damian lontarkan, membuat pergerakan tangan Hazel yang hendak memetik gitar jadi terhenti.
Tadinya Hazel ingin bernyanyi sambil memainkan gitarnya seperti biasa, namun setelah mendapatkan pertanyaan dari Damian, membuat suasana hatinya menjadi berubah.
"Tidak usah di jawab. Karena aku sudah tahu dengan jawabannya," sambung Damian.
Seketika Hazel menatap pria tersebut, "Benarkah? Memangnya apa yang ada di pikiranmu?"
"Kau adalah seorang Sad Boy. Kau pasti di tinggalkan oleh kekasihmu."
"Da-darimana kau tahu?" Hazel benar-benar terkejut. Apakah Damian mengetahuinya dari Angel?
'Padahal aku tadi hanya menebak.' Baru saja Damian hendak mengatakan apa yang dia gumamkan di dalam hatinya, tapi sayangnya Mario sudah datang.
"Sepertinya, lain kali lagi kita berbicara. Aku pulang dulu."
"Heyy.. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku!" teriak Hazel, namun Damian sudah memasuki mobilnya dan mulai meninggalkan rumah tersebut.
"Apakah dia seorang cenayang?" Hazel bergumam sambil melihat mobil Damian yang menjauh. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya. Hazel lalu segera masuk ke dalam rumah, karena semakin larut, maka udara diluar semakin dingin.