
Entahlah, semakin lama sikap Dave semakin acuh padanya. Bahkan untuk mengajaknya berbicara, sangat sulit bagi Sherly. Wanita itu merasa sedih atas perubahan sikap sang kekasih, padahal saat ini dirinya sedang ingin menghabiskan waktu bersama.
Melihat Sherly yang sedang duduk diam sambil melamun, Roby pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri wanita tersebut.
"Kenapa kau tidak memberitahunya saja tentang kondisimu saat ini?"
Secara perlahan, Sherly menolehkan kepalanya dan menatap pria yang baru saja bertanya.
"Aku takut dia tidak akan menerimanya."
"Apa maksudmu? Bukankah kalian saling mencintai? Dave pasti akan sangat bahagia saat mendengar bahwa kau sedang mengandung anaknya."
Sherly tersenyum sendu, "Sayangnya, kau salah, Roby. Dave tidak akan pernah menginginkan janin ini. Karena setiap kami berhubungan, Dave tidak pernah lupa untuk menggunakan pengaman. Dan saat dirinya sedang tidak memiliki benda itu, maka dia menyuruhku untuk meminum obat. Tapi kejadian satu bulan yang lalu, tepatnya saat dia datang ke apartementku pada larut malam, ketika itu Dave sedang mengalami mabuk yang parah. Sehingga dia lupa untuk menggunakan pengamannya, begitupun dengan diriku yang lupa untuk meminum obat."
"Sherly..." Tiba-tiba Roby menggenggam tangannya, sontak saja wanita itu langsung menatap kearah pria tersebut.
"Bagaimana jika kita pergi darisini? Aku akan membantumu untuk merawat anakmu hingga dia dewasa."
Ungkapan Roby membuat Sherly terkejut. Bahkan secara refleks, Sherly melepaskan tangannya yang di genggam oleh Roby.
"Tidak, Roby. Aku tidak mungkin pergi."
"Kenapa? Apa karena Dave? Apakah Dave akan menerima anak itu?"
Keterdiaman Sherly membuat Roby menghela nafasnya. Dia lalu berdiri, kemudian mengulurkan sebelah tangannya.
"Ayo masuk. Diluar dingin."
Sherly tersenyum tipis, kemudian dia menerima uluran tangan dari Roby. Mereka berdua pun masuk bersama kedalam markas, dan itu menjadi sorotan dari yang lain.
"Kalian darimana?" tanya Dave, namun matanya masih terfokus pada laptopnya.
Kedua tangan Roby terkepal, ingin sekali rasanya dia memukul wajah pria yang tidak bertanggung jawab itu. Dan bisa-bisanya pria tersebut merupakan pemimpin dari mereka.
Disana ada Angel. Wanita itu tampak melirik kedua tangan Roby, kemudian tatapannya beralih ke wajahnya yang saat ini menunjukkan bahwa pria tersebut sedang menahan emosi.
'Apa yang terjadi? Apakah Roby mencoba untuk merebut Sherly dari Dave? Tapi itu tidak mungkin, Roby bukanlah pria seperti itu.'
"Apa kalian tidak dengar? Aku bertanya, kalian darimana?" Kali ini Dave mengalihkan pandangannya, bahkan tatapannya begitu tajam yang terarah kepada Roby dan juga Sherly.
"Apa kalian tidak dengar, hah?" bentak Dave, dan itu membuat yang lain jadi terkejut.
"Kau tidak perlu berbicara dengan nada tinggi seperti itu! Biar kujawab, aku dan Sherly baru saja duduk di taman depan. Lalu, kau mau apa?" jawab Roby datar.
Dave tersenyum miring, "Apa kau ingin mengkhianatiku?"
"Aku bukanlah pria seperti itu. Lagipula, kekasih dari Sherly terlalu sibuk dengan dunia kerjanya, sampai-sampai tidak memiliki waktu untuk di habiskan bersama."
Tangan Dave terkepal, dia lalu menghampiri Roby dan hendak memberinya sebuah pelajaran. Namun dengan cepat Angel menghalangi jalannya, dan berdiri di antara kedua pria itu.
"Tidak bisakah jika kalian berbicara baik-baik? Apakah harus seperti ini menyelesaikan masalah?"
"Dasar egois!" cibir Roby sambil memandangi kepergian Dave. Dia lalu menatap Sherly yang seperti tengah menahan air matanya, Roby pun menarik tangan wanita itu untuk mengajaknya duduk di sofa.
"Vika, tolong ambilkan air untuknya," pinta Roby, Vika mengangguk singkat dan segera menuju ke pantry.
"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu tampak pucat, Sher. Apakah sebaiknya jika kami membawamu kerumah sakit?" tanya Angel.
Dengan cepat Sherly menggeleng, "Aku baik-baik saja. Mungkin, aku hanya lelah dan... banyak pikiran."
Vika kembali dengan membawa segelas air, lalu dia berikan kepada Sherly. Sherly kemudian meminum air tersebut dengan di bantu oleh Roby.
"Apa sudah lebih baik?" ujar Roby yang terlihat cemas.
Sherly mengangguk, "Terima kasih."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sikap Dave seperti itu?" Vika bertanya sambil mendaratkan bokongnya pada karpet di bawah.
Hampir lima menit mereka menunggu jawaban, namun kedua lawan jenis tersebut hanya terdiam. Hingga akhirnya, Roby yang membuka suaranya.
"Tidak ada. Hanya saja, sepertinya Dave cemburu dengan kedekatan kami." Roby mengakhiri ucapan dengan kekehan kecil. Mungkin yang lain percaya, namun tidak bagi Angel. Sedari tadi wanita itu terus menatap Roby dengan pandangan iba.
Vika mengangguk, "Kau benar, Roby. Dave sepertinya cemburu melihat kalian berdua. Tapi, ini bukanlah kesalahan kalian, andai saja Dave tidak sibuk dan dapat meluangkan waktunya untuk Sherly, mungkin pertengkaran kalian tidak akan terjadi."
Roby tertawa renyah, "Aku akan ke dapur dulu untuk mengambil minuman."
Semuanya mengangguk. Angel lalu mengatakan pada mereka bahwa dirinya ingin ke kamar mandi. Namun nyatanya, dia ingin menemui Roby di dapur. Dilihatnya bahwa pria itu sedang mencuci tangannya sambil termenung.
"Sandiwara apa yang baru saja kau lakukan?"
Roby tersenyum pilu, "Sandiwara? Aku tidak melakukannya, Angel. Aku hanya melindungi wanita yang kucintai. Apakah tindakanku salah?"
Angel tersenyum, kemudian menggeleng.
"Kau tidak salah, tapi Davelah yang salah. Sikap Dave akhir-akhir ini berubah, dan aku memperhatikannya. Bahkan, dia seperti tidak perduli lagi terhadap kekasihnya."
"Kau benar! Oleh sebab itu, aku ingin berada di samping Sherly untuk menghiburnya. Sekaligus memberikan bahuku agar dirinya bisa bersandar dan tidak akan pernah merasakan kesepian."
"Kau luar biasa, Roby!" Angel menepuk-nepuk bahu Roby dengan bangga. Dia kemudian kembali kedepan lebih dulu. Tak berselang lama, Roby menyusulnya dengan membawa nampan yang berisi minuman kaleng.
"Terima kasih," ujar Vika sembari mengambil satu kaleng. Roby hanya mengangguk, dia lalu menawarkan kepada yang lainnya.
Saat James dan Angel akan mengambilnya, tak sengaja tangan mereka justru mengambil minuman yang sama. Mereka pun saling bersitatap untuk waktu yang singkat, hingga akhirnya sebuah deheman mengalihkan perhatian mereka.
Vika yang melihatnya, jadi tersenyum canggung. Sementara James, dirinya tidak merasakan apapun saat bertatapan atau bersentuhan dengan Angel. Dulu, saat tangannya menyentuh tangan Angel, atau dirinya yang bersitatap dengan wanita itu, James dapat merasakan bahwa ada yang berdesir di hatinya. Tapi sekarang tidak lagi. Karena sepertinya, posisi Angel di hatinya sudah ada yang menggantikan.
James lalu melirik Vika yang kini memasang wajah masamnya, sedetik kemudian senyum simpul terukur di bibirnya. Pria itu lalu dengan gemasnya mengacak-acak rambut Vika, yang membuat sang pemiliknya menjadi cemberut.
Roby, Sherly, maupun Angel yang menyaksikan itu, hanya bisa tersenyum dan sesekali tertawa melihat tingkah James dan Vika yang saling mengacak rambut.