
Setibanya dirumah, Ibunya langsung mendudukkan diri di sofa dengan pandangan kosong. Melihat hal itu, Angel pun segera menghampirinya kemudian mengambil posisi di samping ibunya.
"Ibu, jangan bersedih lagi." Angel merengek bak anak kecil sembari memeluk manja lengan si Ibu.
Ibunya terkejut ketika tiba-tiba Angel memeluknya. Sudah lama sekali Angel tidak merengek dan berbicara manja pada dirinya setelah dua tahun ini.
"Ibu tidak apa-apa, Nak." Ibu Elizabeth mengelus kepala Angel dengan sayang.
"Ayo senyum," pinta Angel dengan wajah cemberutnya. Sang ibu pun tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat itu.
"Nah kan, Ibuku jadi cantik kalau tersenyum seperti itu." Angel lalu mencium pipi Ibunya sambil membalas senyuman dari wanita paruh baya tersebut.
Dan dari arah dapur, Hazel yang menyaksikan itu jadi ikut tersenyum. Setidaknya, ibunya sudah lebih baik sekarang.
"Lupakan, okey? Kita mulai semuanya dari awal," sambung Angel yang membuat Ibunya mengangguk pelan.
"Jangan tinggalkan Ibu lagi ya?" Ibu Elizabeth menatap Angel dengan penuh harap. Dan yang di tatap justru terdiam dengan seribu bahasa.
"Ada apa, Nak?"
Angel menggelengkan kepalanya cepat sambil tersenyum simpul.
"Lalu... bagaimana jika aku menikah nanti? Apakah aku akan tetap tinggal bersama ibu? Bukankah harusnya dengan suamiku?"
Ibu Elizabeth terkejut mendengarnya, apalagi Hazel yang sedari tadi memperhatikan keduanya dari jauh, memilih untuk mendekat.
"Kau mau menikah?" Kini Hazel yang bertanya.
"Aku tidak tahu," jawab Angel acuh.
"Kenapa kau berbicara seperti itu, Sayang? Jika kau memang sudah memiliki pria idamanmu, bawa saja kemari dan kenalkan pada Ibu."
'Sayangnya, dia belum tentu pria yang baik, Ibu. Aku takut menjalin hubungan dengan seorang pria untuk saat ini.'
"Angel??" Panggilan ibunya membuat dirinya tersentak dan lekas tersadar dari renungannya.
Angel menatap wanita yang begitu di cintainya itu dengan senyum lembut.
"Untuk saat ini, aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, Ibu. Aku hanya ingin fokus pada pekerjaanku saja."
"Memangnya apa pekerjaanmu?" timpal Hazel dengan dahi yang mengkerut.
"Anak kecil tidak perlu tahu." Angel terkekeh karena berhasil membuat adiknya itu kesal.
"Sepertinya putri Ibu sudah dewasa ya?" ujar Ibunya dengan tawa kecilnya.
"Tentu saja, mana mungkin aku akan selamanya kecil." Angel cemberut, dan itu membuat Hazel membalasnya dengan tawa mengejek.
Ibu Elizabeth menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya itu. Kemudian tatapannya beralih pada putrinya. Wanita paruh baya tersebut memegang kedua pipi Angel sambil menatapnya lekat.
"Kau akan selalu menjadi putri kecilnya Ibu. Dan akan seperti itu untuk selamanya. Walaupun nantinya kau sudah menikah dan memiliki banyak anak."
Angel tidak sadar jika air matanya menetes karena terharu. Dia lalu segera memeluk ibunya sembari menyeka air matanya pelan. Hazel yang tidak ingin di abaikan, lekas ikut nimbrung dan memeluk kedua wanita tersebut.
"Maaf," lirih Hazel saat matanya bertemu dengan mata milik Angel.
Angel mengangguk pelan sambil tersenyum manis. Lalu tangannya terangkat untuk mengacak gemas rambut adiknya itu.
...* * *...
"Apa kau masih memiliki hubungan dengan Jessica?" tanya Angel yang kini duduk berdua dengan Hazel diteras depan rumah, setelah mereka makan siang bersama.
Hazel menghembuskan nafasnya kasar, kemudian melihat kearah lantai di bawahnya, "Tidak lagi."
Angel bingung ketika menyadari perubahan raut di wajah adiknya.
"Kenapa? Kau memutuskan hubungan dengannya?"
"Tidak, tapi dia yang memutuskanku."
"Benarkah? Tapi mengapa?"
"Aku bermain gila dengan wanita lain dibelakangnya. Dan dia mengetahui itu lalu segera memutuskanku saat itu juga," jelas Hazel yang terlihat sedih.
Angel hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar keterangan dari adiknya ini.
"Kau masih mencintainya?"
Hazel mengangkat kepalanya, lalu menatap Angel sendu.
"Aku bukan masih mencintainya. Tapi aku baru sadar jika aku mencintainya setelah kami berpisah."
"Kau tahu? Sebenarnya, aku menjadikannya kekasih karena ingin memanfaatkannya. Namun semakin lama, aku semakin terbuai oleh permainanku sendiri. Dan berakhirlah dengan cinta yang rumit seperti ini." Hazel menambahkan dengan tatapannya yang memandang lurus kedepan.
Hazel tertawa pilu, "Jangankan mengejarnya, bahkan saat ini dia sudah pindah ke Indonesia bersama kedua orangtuanya."
Angel hanya bisa menatap adiknya kasihan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk adiknya ini. Karena sebenarnya, Angel buta soal percintaan. Lalu apa yang bisa dia sampaikan pada orang yang baru saja mengalami patah hati ini?
Bahkan dia tidak tahu, apakah dia punya cinta atau tidak pada pria? Memikirkannya, membuat kepala Angel terasa berdenyut.
"Jangan pernah kau sia-siakan seseorang yang mencintai dan memperhatikanmu secara tulus. Jika kau tidak mau menyesal sama sepertiku." Hazel berpesan sambil tersenyum getir. Kemudian pria itu melangkahkan kakinya untuk kembali masuk kedalam rumah dan meninggalkan Angel yang merenungi ucapannya barusan.
...* * *...
"Oh ya, Nak. Bagaimana kabar Jessica? Mengapa dia tidak pernah mampir kemari lagi?" tanya Ibu Elizabeth disela makan malamnya.
Hazel yang mendengar itu, seketika terkejut dan menjadi tersedak. Angel pun segera mengambilkan minum untuknya, lalu menepuk-nepuk punggung pria itu agar sedikit membaik.
Wajar saja jika ibunya menanyai tentang Jessica. Karena biasanya, wanita itu datang seminggu sekali kerumah tersebut. Namun sudah dua minggu ini Jessica tidak pernah datang lagi, apalagi saat pemakaman Veronica siang tadi.
"Ibu, jangan membahas dia lagi. Hazel tidak memiliki hubungan dengannya lagi dan jangan buat Hazel bersedih karena mengingatnya kembali," ujar Angel hati-hati sambil melirik Hazel yang duduk di sampingnya.
Ibu Elizabeth menghela nafasnya pelan, kemudian mengulas senyumnya saat melihat putranya hanya diam dengan kepalanya yang tertunduk.
"Tidak apa-apa, Nak. Jika dia jodohmu, maka dia akan kembali."
Hazel mendongak dan menatap sendu Ibunya. Kemudian pria tersebut berpamitan ingin kekamarnya terlebih dahulu, karena selera makannya tiba-tiba hilang saat membahas tentang Jessica. Angel dan ibunya hanya bisa diam melihat kepergian dari Hazel.
"Ibu, jangan membahas tentang Jessica lagi ya saat didepan Hazel. Itu bisa menyakitinya," pinta Angel yang dibalas dengan anggukan oleh ibunya.
Kedua wanita itupun kembali melanjutkan kegiataan makan mereka. Namun tak lama, tiba-tiba terdengar suara pintu utama yang di ketuk. Untuk sejenak, Angel dan ibunya saling berpandangan. Kemudian Angel segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu tersebut.
Clekkk~
Pintu terbuka, dan menampilkan seorang pria dengan setelan jas rapi berdiri di depannya sembari memegang sebuket bunga.
Awalnya Angel kira jika itu Damian, namun saat bunga yang berada di wajah pria itu di turunkan, ternyata itu adalah Mario, asistennya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Angel sambil melihat kesana kemari, mungkin terdapat Damian yang tak jauh disana.
Baru saja Mario hendak menjawabnya, ibu Elizabeth tiba-tiba muncul dari arah belakang Angel.
"Maaf, anda siapa?"
Sontak saja Angel langsung menatap sang pemilik suara tersebut.
"Ibu..."
Ibu Elizabeth tampak memperhatikan Mario dari atas ke bawah, kemudian tatapannya naik lagi ke atas.
"Apakah dia kekasihmu?" tanya Ibu Elizabeth yang kini sudah kembali menatap putrinya. Terlihat dari wajah wanita paruh baya tersebut yang tampak tidak suka dengan Mario.
"Bukan!!" jawab Angel tegas.
"Maaf, Nyonya. Saya bukan kekasih dari anak Anda. Lebih tepatnya, saya asisten dari kekasih Nona Angel."
Mata Angel langsung melotot kearah Mario. Namun pria tersebut tampak acuh dan mengabaikan tatapan dari wanita itu.
"Benarkah? Lalu... dimana tuanmu itu?" Mata Ibu Elizabeth terlihat sedang mencari keberadaan pria yang lainnya, namun dia tidak menemukan siapapun di sekitaran situ.
"Tuan Damian sedang ada urusan, Nyonya. Dan hanya bisa menyampaikan bela sungkawa melalui Saya sembari mengirimkan bunga ini untuk Nona Angel." Mario menyerahkan bunga yang sedari tadi di pegang olehnya kepada Angel.
Dan Angel menerima bunga tersebut dengan ekpresi datar dengan tatapannya yang tajam. Seolah siap untuk menerkam Mario saat itu juga.
Ibu Elizabeth melirik Angel sejenak, kemudian mengalihkan padangannya kepada Mario.
"Apakah besok malam tuanmu juga ada kesibukan?"
Dahi Mario tampak berkerut.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Memangnya ada apa?"
"Jika malam besok tuanmu tidak sibuk, aku ingin mengundangnya untuk makan malam bersama disini."
"Ibu..." Angel memasang wajah masamnya, namun sang ibu pura-pura tidak melihatnya.
"Baik, Nyonya. Akan segera saya sampaikan." Mario lalu berpamitan, kemudian segera meninggalkan tempat tersebut.
Sedangkan Angel, wanita itu kembali ke ruang makan dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal. Dan ibu Elizbeth tertawa melihatnya.
"Ternyata putri Ibu diam-diam sudah memiliki kekasih." Wanita itu terkekeh,
"Ibu kira, pria tadi adalah kekasihmu. Ternyata hanya asistennya. Ibu sempat berpikir bahwa pria tadi adalah sugar daddymu."
"Ibu..." rengek Angel sebal. Dia lalu memutuskan untuk kembali ke kamarnya sembari mulutnya yang tiada henti menggerutu.