
"Terima kasih," bisik Damian.
"Untuk apa?"
Terpancar senyum kebahagian di wajah pria itu. Tangannya lalu terulur untuk menyentuh perut istrinya.
"Untuk kehadirannya."
Sesaat Angel terdiam dan mencerna maksud dari ucapan Damian. Sedetik kemudian dia langsung menutup mulutnya tidak percaya.
'A-aku hamil?' batinnya.
Dengan gerakan cepat Angel menyentuh perutnya yang masih datar. Dirinya tidak percaya jika kini terdapat kehidupan di dalam perutnya tersebut.
"Tadi, kau sempat mengalami kontrkasi, sehingga membuatmu tidak sadarkan diri. Dokter juga mengatakan bahwa kandunganmu lemah saat ini. Oleh sebab itu, kau di anjurkan untuk tidak terlalu banyak pikiran dan perbanyaklah istirahat," jelas Damian.
Sayangnya, Angel tidak mendengarkannya. Wanita itu sangat bahagia dengan kehamilannya, sehingga dia tidak dapat untuk mengekpresikannya selain hanya diam.
'Seorang anak adalah anugerah dan titipan dari Tuhan. Maka dari itu, aku berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hati.' Angel tersenyum sambil mengusap perutnya tiada henti.
...* * * ...
Sehabis kembali dari rumah sakit, semua pelayan dan pengawal di mansionnya, Damian kumpulkan di halaman. Dia ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.
"Dengarkan aku! Aku ingin pengawasan di mansion ini di perketat. Aku tidak ingin ada kesalahan apapun yang bisa membuat istriku dan juga calon anakku terluka. Dan perhatikan pula lantai di mansion ini. Jika ada air atau sesuatu yang membahayakan, segera singkirkan itu. Jangan sampai istriku terjatuh nantinya. Jika itu sampai terjadi, maka kalian harus bersiap untuk menerima akibatnya. Kalian paham?"
"Ya, Tuan.." jawab mereka dengan lantang dan bersamaan.
Angel menatap jengah suaminya itu yang terlalu berlebihan. Bahkan Damian memutuskan untuk tidak ke kantor hari ini, dengan alasan ingin menjaga dirinya selama 24 jam.
Setelah di izinkan kembali oleh Damian untuk ke tugas masing-masing, semua orang disana pun langsung membubarkan diri. Mereka juga ikut bahagia atas kehamilan Angel, namun kehamilan Nyonya mereka ini, membuat mereka harus jauh lebih waspada. Damian terlihat protectiv, jika sampai terjadi sesuatu pada istrinya walaupun hanya hal kecil, entahlah... Apa yang akan tuannya itu lakukan kepada mereka.
Damian yang melihat istrinya akan pergi, segera mengejarnya kemudian menggapai tangannya. Angel melirik sebal pada tangan Damian yang menggengam tangannya erat.
"Lepaskan!"
"Tidak."
Angel menarik nafasnya dalam, " Lepaskan, Damian. Aku hanya ingin ke kamar, bukan menyebrang jalanan."
Pria itu tidak mendengarkan ucapan istrinya. Tanpa mengatakan sesuatu, Damian membawa Angel ke kamar untuk beristirahat. Jika sikap Damian sudah begini, Angel bisa apa selain menghela nafasnya pasrah dan mengikuti kemauan suaminya itu.
Damian membantu istrinya untuk berbaring. Angel yang di perlakukan seperti itu, merasa seperti orang yang tengah sakit. Namun jika dia membantah, akan membuat Damian kembali marah dan mengabaikannya.
Setelah istrinya beristirahat, Damian lalu mengambil tabletnya dan mulai mengerjakan beberapa urusan kantornya. Angel tidak bisa memejamkan matanya, karena dirinya memang tidak merasakan kantuk saat ini.
Tiba-tiba dia teringat dengan ibunya, sontak saja Angel langsung bangkit dan duduk. Damian yang berada di sampingnya langsung menoleh dan menatapnya tajam, seolah memintanya untuk kembali berbaring.
Angel memasang wajah memelas, "Aku ingin menelpon Ibu sebentar saja."
Istrinya benar. Mereka belum menyampaikan kabar bahagia ini kepada Ibu Elizabeth. Akhirnya Damian mengizinkannya, dengan syarat tidak boleh lebih dari 20 menit.
Angel tersenyum bahagia, dia lalu segera mengambil ponselnya dan berjalan kearah balkon. Tak membutuhkan waktu lama, suara wanita yang di rindukannya terdengar.
"Hallo, Ibu. Bagaimana dengan kabarmu?"
"Ibu baik. Bagaimana denganmu dan Damian?"
"Sama sepertimu." Angel kemudian mengumpulkan keberaniannya. Rasanya dia gugup sekali hanya karena ingin memberitahu hal ini.
"Ibu, aku hamil."
Kata-kata itu akhirnya keluar dari mulutnya, namun tak ada sahutan dari lawan bicaranya.
"Ibu, kau masih disana."
Angel ikut tertawa ringan, dia lalu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
"Aku sangat bahagia, Ibu. Hingga aku tidak bisa mengekpresikan kebahagianku."
Disana, Ibu Elizabeth tersenyum. "Aku tidak menyangka akan mendapatkan dua cucu sekaligus."
Angel bergeming. 'Dua cucu sekaligus? Apa maksud Ibu?'
"Kau mungkin akan terkejut dengan kabar yang akan Ibu sampaikan." Ibu Elizabeth membuang nafasnya sejak.
"Jessica hamil saat ini. Usia kandungannya mungkin sama seperti dirimu."
Seketika mulut Angel terbungkam. Dirinya kehabisan kata-kata untuk di sampaikan. Dia tahu jika Hazel dan Jessica sering bersama, namun dirinya tidak menyangka jika wanita itu bisa mengandung dalam waktu yang dekat.
Merasa tidak ada lagi yang ingin di sampaikan, Ibu Elizabeth pun menyudahi obrolan mereka. Karena dia harus menemui salah satu pelanggannya.
Sampai panggilannya terputus, Angel masih terdiam. Dari suara Ibunya, Angel dapat menebak bahwa wanita paruh baya itu terdengar kecewa. Walaupun tidak bisa di pungkiri jika dirinya memang menginginkan seorang cucu.
Hidup mereka memang terbilang cukup bebas. Tapi bukan berarti Ibu Elizabeth membiarkan anak-anaknya bergaul dengan orang-orang yang salah. Sebisa mungkin dirinya ingin mengajarkan norma yang berlaku dalam keluarganya.
Tapi jika sudah begini, mau bagaimana lagi? Ibarat kata pepatah, Nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin 'bukan jika dirinya meminta Jessica untuk melenyapkan anak yang tidak bersalah tersebut.
Kembali ke Angel. Dengan pikirannya yang tertuju pada kondisi keluarganya yang jauh disana, membuat dirinya hampir saja menabrak meja jika saja tidak ada yang menarik lengannya.
"Apa kau sengaja ingin mencelakakan dirimu, hah?" Intonasi suara Damian meninggi, sehingga membuat Angel tersentak.
Di detik berikutnya, dia langsung mendesah panjang kemudian mengusap wajahnya kasar. Dia lalu menyentuh kedua bahu istrinya dan menatap wajah cantik itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau hampir mencelakai dirimu sendiri?"
Suara Damian kembali lembut dan pelan. Tidak tahu karena apa, tiba-tiba mata Angel jadi berkaca-kaca. Dia kemudian segera memeluk suaminya dan terisak di dekapan Damian.
"Ada apa, Sayang? Apa Ibu menyampaikan sesuatu yang membuatmu sedih?"
Angel menggeleng, "Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba jadi ingin menangis."
Damian terkekeh, kemudian segera memberi jarak di antara mereka. Di hapusnya air mata itu dengan lembut.
"Kau sangat menggemaskan. Aku semakin mencintaimu."
Angel mengulum senyumnya. Dia lalu kembali memeluk Damian untuk menyembunyikan rona merah pada wajahnya.
"Damian," panggilnya sesaat.
"Hmm?" Damian menatapnya dengan dahi mengkerut.
"Jessica hamil." Angel mengira bahwa suaminya itu akan terkejut sama seperti dirinya tadi, namun dugaannya itu salah. Damian tampak biasa saja, seolah itu adalah suatu hal yang wajar.
"Kau tidak terkejut dengan ucapanku?" tanya Angel heran.
Damian menggeleng, "Untuk apa aku terkejut? Lagipula Jessica adalah wanita, wajar saja jika dia bisa hamil."
Dengusan sebal keluar dari hidung Angel.
"Harusnya dia hamil setelah menikah."
Damian tersenyum simpul, tangannya yang besar lalu menangkup wajah istrinya agar menatap dirinya.
"Ketahuilah, Sayang. Kita hidup di negara yang bebas. Hal seperti itu sangatlah wajar jika terjadi. Maka dari itu aku tidak akan terkejut jika mendengar wanita yang hamil di luar pernikahan. Bukankah banyak di negara ini maupun di negara kelahiranmu sepasang wanita dan pria yang tidak memiliki ikatan pernikahan, namun tinggal dalam satu atap bahkan sudah memiliki anak!!??"
Suaminya itu benar. Hal tersebut sangatlah wajar terjadi, mengingat mereka tinggal di negara yang bebas akan ****.