The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Pertemuan Tak Disengaja



Hari berganti minggu, dan minggu telah berganti dengan bulan. Tak terasa sudah 5 bulan berlalu. Hari ini, hari yang di tunggu-tunggu oleh Hazel sejak lama, yaitu hari kelulusannya.


Di hari wisudanya ini, Hazel di temani oleh Jessica dan juga ibunya. Sebenarnya Angel ingin datang dan ikut serta, namun tak di izinkan oleh suaminya. Sebab, perut Angel sudah sangat membesar layaknya wanita yang hamil dengan usia 8 bulan, padahal usia kandungannya baru 6 bulan.


Itu di sebabkan karena Angel tengah mengandung anak kembar. Oleh sebab itu, Damian tidak mengizinkan istrinya untuk melakukan perjalanan jauh.


Senyum kebahagian terpancar di wajah Hazel. Akhirnya, gelar sarjana tersemat padanya. Dia lalu mengajak Ibu dan istrinya untuk foto bersama.


Fyi, Hazel dan Jessica telah menikah sejak 3 bulan yang lalu. Bertepatan dengan hari ulang tahun Hazel.


Sebelum berfoto, Hazel melepaskan topinya kemudian memakaikannya ke kepala Jessica. Jessica bergeming sejenak, sebelum akhirnya tersenyum kearah suaminya.


Jessica tidak menyangka bila kehidupannya setelah menikah dengan Hazel akan berubah. Tidak ada kesedihan dan pertengkaran di antara mereka. Sebisa mungkin Hazel membuat kehidupan rumah tangganya di penuhi dengan warna kebahagiaan.


Dan sebelum mereka menikah, Hazel sudah mulai bekerja di perusahaan Damian namun melalui online. Karena dirinya punya kesibukan mengenai tugas akhirnya, belum lagi kondisi Jessica yang sempat memburuk karena dalam trimester pertama.


Ibu Elizabeth yang memperhatikan itu diam-diam, segera menyingkir. Dia kemudian meminta Hazel dan Jessica untuk semakin merapatkan tubuhnya, karena dirinya akan mengambil gambar keduanya.


Hazel yang tidak menyianyiakan kesempatan itu, langsung merangkul pinggang istrinya. Refleks, Jessica menatapnya, sedangkan yang di tatap justru melihat kearah kamera sambil tersenyum lebar.


Crekkk!!


Pengambilan gambar yang mulus. Hazel lalu melihat hasilnya, kemudian tersenyum puas.


"Ibu, tolong kirim foto itu kepadaku nanti."


Ibu Elizabeth hanya mengancungkan jempolnya sambil tersenyum. Kemudian mereka kembali mengambil gambar untuk mengabadikan momen ini.


Hingga, matahari sudah naik keatas dan membuat semua orang disana memutuskan untuk pulang, termasuk Hazel dan keluarganya. Tapi sebelum itu, mereka akan mampir ke restaurant untuk makan siang terlebih dahulu.


Sembari menunggu pesanannya datang, Hazel tak henti-hentinya menyentuh perut sang istri sambil mengajak anaknya berbicara. Saat merasakan bahwa anaknya membalas ucapannya dengan tendangan kecil, membuat Hazel langsung tertawa senang.


Jessica tersenyum melihatnya.


'Tuhan, aku hanya memiliki satu permintaan. Buatlah suamiku selalu tersenyum seperti ini.'


...* * * ...


Melihat wajah kesal istrinya yang tak kunjung surut akibat tidak di izinkan datang ke acara kelulusan Hazel, membuat Damian berinisiatif untuk mengajaknya keluar. Entah itu hanya jalan-jalan atau membeli sesuatu.


Tidak tahu harus menuju kemana, Damian memutuskan untuk ke mall saja. Angel masih menekuk wajahnya, namun tak urung untuk mengikuti langkah kaki suaminya.


Setibanya di dalam, tak ada satupun yang menarik perhatian Angel. Wanita itu lalu ingin keluar dari sana. Namun saat dirinya berbalik, tanpa sengaja justru menabrak seseorang. Hampir saja Angel terjatuh, jika pria yang di tabraknya tidak segera menahan tubuhnya.


"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja," ujar Angel sambil menunduk untuk merapihkan pakaiannya.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" Damian terlihat cemas, kemudian dia lekas menatap tajam pria yang menabrak istrinya. Sedetik kemudian dia terkejut saat mengenali pria tersebut.


"Angel?" Merasa tidak asing dengan suara itu, Angel pun langsung mengangkat kepalanya. Sama halnya dengan Damian tadi, dirinya di buat terkejut setelah melihat wajah pria itu.


"Dave..." sebut Angel. Damian menggeram tidak suka dengan kehadiran dari pria itu. Tapi Dave tidak perduli, justru dirinya menatap perut Angel yang membesar. Di detik berikutnya dia tersenyum.


"Wahh, sebentar lagi aku akan memiliki keponakan," ujar Dave senang sambil menyentuh perut Angel. Namun dengan cepat Damian menepisnya.


"Siapa yang kau sebut dengan keponakan?"


"Tentu saja anak yang ada di perut Angel."


"Jangan mengada-ada. Anakku bukanlah keponakanmu."


"Damian..." Angel merasa tidak enak hati kepada Dave. Tapi Dave tidak pernah marah, justru dia selalu menunjukkan senyum ramahnya.


"Kalau aku tidak di perbolehkan menganggapnya sebagai keponakanku, bagaimana jika aku menganggapnya sebagai anakku?"


"Sudah cukup! Tidak bisakah jika kalian berdamai?" Mendadak Angel menjadi kesal dengan kelakuan kedua pria di dekatnya ini.


"Bukan aku yang mulai, tapi suamimu," sahut Dave santai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


Damian tidak menimpalinya. Namun, tangannya terkepal pertanda bahwa dirinya sedang marah.


"Lebih baik kita mencari tempat duduk, agar lebih leluasa untuk mengobrol." Putus Angel akhirnya. Karena orang-orang di sekitarnya, mulai menatap penuh tanya kearah mereka.


Tempat yang mereka pilih adalah café. Namun masih berada di dalam mall yang tadi.


"Apa yang kau lakukan disini? Dan sejak kapan kau berada di kota ini?" tanya Angel sambil menatap Dave intens.


Dave belum menjawabnya, dia menyeruput minumannya sejenak, kemudian membalas tatapan dari Angel.


"Hampir seminggu lamanya aku disini. Kebetulan daddyku membangun sebuah properti di Italia, tepatnya di Sisilia. Oleh sebab itu, aku beralasan datang kesini dengan embel-embel ingin melihat perkembangan properti yang daddyku bangun sampai selesai. Padahal, itu bukanlah tujuan utamaku."


"Oh ya? Sebenarnya apa tujuanmu datang kesini?" Wajah Angel di liputi dengan penasaran, hingga mengabaikan suaminya yang sedari tadi menghembuskan nafasnya jengah.


Dave tersenyum kecut, "Aku datang kesini dengan tujuan tertentu. Aku mendengar kabar dari salah satu anak buahku, bahwa Sherly berada di negara ini."


"Benarkah?" Angel tidak bisa menutupi keterkejutannya. Selama ini dia tinggal di negara ini, namun tak tahu jika Sherly tinggal di negara yang sama dengan dirinya.


"Benar. Dan aku tidak menyangka bisa bertemu dengan kalian," lanjut Dave dengan kekehannya.


"Kami memang tinggal di kota ini," timpal Angel.


"Woah, kebetulan sekali." Dave berujar antusias. Bila seperti ini, dirinya bisa terus menggoda Damian hingga membuat pria itu merasa jengkel.


Angel hanya tertawa kecil menanggapinya. Tatapan Dave lalu terfokus pada perut Angel yang kian membesar.


"Berapa usia kehamilanmu?"


"Baru memasuki usia enam bulan."


"Benarkah? Tapi mengapa sebesar itu?"


Angel mengulas senyumnya, "Karena anak yang kukandung kembar."


"Wow.. Sangat menakjubkan. Apa jenis kelaminnya?"


"Pria dan wanita."


"Luar biasa. Kau mendapatkan anak lelaki dan perempuan secara bersamaan."


Obrolan mereka terhenti, saat menyadari bahwa bukan hanya mereka di meja itu. Seketika Angel merasa bersalah karena telah mengabaikan suaminya. Tangannya lalu terulur untuk menyentuh tangan Damian di atas meja.


Sadar akan kekesalan Damian, Angel lalu segera berpamitan kepada Dave.


"Sepertinya kami harus pergi. Mungkin lain kali kita bisa bertemu dan menghabiskan banyak waktu untuk berbicara."


Dave tersenyum, kemudian dia mengangguk. Dia tahu jika Angel tidak bisa sebebas dulu.


Disaat Angel dan Damian akan melangkah pergi, Dave justru mencegahnya. Dia lalu menyodorkan ponselnya kepada Angel dan meminta wanita itu untuk menulis nomor ponselnya.


Angel tak kunjung meraih ponsel tersebut. Dirinya justru menatap suaminya seolah meminta izin.


"Berikan saja." Setelah Damian berkata seperti itu, barulah Angel meraih ponsel milik Dave dan mengetikkan nomor ponselnya.


Angel dan Damian kemudian berlalu dari hadapan Dave, setelah Angel mengembalikan ponsel pria tersebut.


Dave berbalik untuk menatap punggung kedua pasangan itu. Senyum kecil lalu menghiasi bibirnya, "Sepertinya takdir sengaja mempertemukan kita. Tapi tidak masalah, aku menyukai itu. Mungkin dengan cara seperti ini, aku bisa melupakannya. Ku anggap kau sebagai hiburanku, Damian. Dan mari kita lihat, apa yang akan di rencanakan oleh takdir selanjutnya."