
Setelah sekian lama menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya mereka tiba di kediaman Ibu Elizabeth. Melihat kedatangan anak serta menantunya, membuat wanita paruh baya tersebut bersorak senang.
Ibu Elizabeth memeluk kedua anak dan menantunya secara bergantian. Setelah itu tatapannya beralih kepada seorang wanita yang sedari tadi hanya diam sembari mengamatinya.
Angel sudah menceritakan semua yang terjadi disana kepadanya melalui telpon. Dirinya ikut sedih sekaligus prihatin dengan apa yang menimpa Jessica. Ibu Elizabeth lalu menghampirinya kemudian memeluk wanita itu.
"Aku turut berduka atas kepergian ayahmu. Tapi kau tidak perlu khawatir, kau masih memiliki aku dan yang lainnya."
Seketika Jessica menangis, kemudian dia menyembunyikan wajahnya di dada Ibu Elizabeth. Dengan penuh perhatian, Ibu Elizabeth mengelus rambutnya dan membiarkan wanita itu mengeluarkan segala kepedihan di dalam hatinya.
Mereka yang menyaksikan itu, hanya bisa tersenyum. Ibunya benar. Bahwa Jessica tidak sendiri, masih ada dirinya dan Hazel yang akan dengan setia menemaninya. Kapanpun Jessica ingin di temani untuk bicara, Angel akan seberusaha mungkin untuk datang.
...* * * ...
Satu keluarga itu kini makan malam bersama. Makanan yang di hidangkan pun, sangatlah istimewa. Anggap saja itu sebagai penyambutan dari kepulangan anak-anaknya.
Awalnya, semuanya tampak biasa-biasa saja. Sebelum akhirnya Ibu Elizabeth membuka suaranya di tengah acara makan malam mereka.
"Bagaimana dengan kuliahmu?"
Semuanya kompak menghentikan acara makan mereka. Sebenarnya, pertanyaan dari Ibu Elizabeth tertuju untuk siapa.
"Ibu, kau bertanya kepada siapa?" tanya Hazel bingung.
Ibunya itu memutar bola matanya malas, "Tentu saja pada Jessica. Untuk apa aku bertanya kepadamu, jelas-jelas aku sudah mengetahuinya."
Sembari mengaduk makanannya yang tersisa, Jessica menundukkan kepalanya.
"Aku sudah berhenti kuliah sejak dua tahun yang lalu, Ibu. Saat itu, ibuku meninggal dan ekonomi keluarga memburuk. Ayah tidak mampu membayar uang kuliahku, sehingga dia memintaku untuk berhenti saja dari pendidikanku itu."
"Kenapa ayahmu tega melakukan itu?" Angel tidak habis pikir. Ayah macam apa yang meminta anaknya untuk menghentikan pendidikannya. Andai saja dia berusaha dan bangkit, mungkin semuanya akan kembali membaik.
Jessica tersenyum menanggapinya, "Tidak masalah untukku. Aku bahkan tidak perduli lagi dengan pendidikanku sejak Ibu tiada."
Ibu Elizabeth membuang nafasnya kasar. Dia merasa bersalah karena mengingatkan Jessica pada luka lamanya.
Tidak ada lagi yang berbincang hingga mereka menyelesaikan kegiatan makannya. Hazel lalu menggunakan waktu ini, karena pada detik ini, anggota keluarganya sedang berkumpul.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Katakan saja. Tidak ada yang melarangmu." Kali ini Damian yang menimpalinya, setelah cukup lama hanya sebagai pendengar.
Hazel berdehem singkat, dan menyiapkan keberaniannya.
"Aku.. Aku ingin menikahi Jessica."
Ting!
Tidak sengaja gelas yang sedang di tangan Jessica menabrak piring. Dirinya terkejut bukan main. Pasalnya, Hazel tidak membicarakannya lebih dulu kepada dirinya.
"Apa kau sedang main-main?" tukas Angel.
Hazel menggeleng, "Aku serius dengan ucapanku."
Mereka semua tahu bahwa niat Hazel baik. Tapi, pria itu masih dalam pendidikannya. Bahkan, dia belum bekerja sama sekali.
"Apakah kau sudah memikirkan dahulu sebelum mengatakannya?"
Ibu Elizabeth mengulas senyumnya. Dia lalu menyentuh tangan putranya yang ada di atas meja.
"Ibu tahu kau mencintainya. Tapi, kau belum bekerja. Lalu apa yang bisa kau berikan kepadanya? Jika hanya bermodalkan cinta, apakah kau yakin bisa menghidupinya dan memenuhi segala kebutuhannya? Tentu tidak, bukan? Oleh sebab itu, kau fokuslah dulu pada pendidikanmu. Setelah itu, kau bisa mencari pekerjaan kemudian menikahinya."
Jessica tertunduk mendengarnya. Ibu Elizabeth benar! Jika hanya bermodalkan cinta, maka semuanya hanyalah angan semata.
Kasihan melihat Hazel yang membungkam, membuat Damian memberikan sebuah usulan.
"Tidak masalah. Kau bisa mengambil salah satu cabang perusahaanku yang ada disini."
Hazel tersenyum, "Terima kasih atas bantuanmu. Tapi aku dan Jessica tidak akan tinggal disini setelah menikah."
"Apa maksudmu? Kemana kalian akan pergi?" Secara bergulir, orang-orang di meja itu membuka suaranya. Kini, Angel yang bertanya dengan penuh keingintahuan.
"Aku dan Jessica akan tinggal di Indonesia setelah kami menikah. Karena semuanya sedang ada disini, maka sebab itu aku mengatakannya sekarang." Tatapan Hazel lalu berpindah kearah ibunya. Di genggamnya erat kedua tangan yang mulai keriput itu.
"Maafkan aku, Ibu. Tapi inilah keputusan yang kuambil. Bukan karena aku tidak menyayangimu, hanya saja aku ingin belajar mandiri sekaligus menjauh darimu agar aku selalu merindukan wanita tua ini." Pria itu mencium kedua tangan ibunya dengan penuh kasih sayang.
Jika saja Ibu Elizabeth di beri dua pilihan, mungkin dirinya akan menolak ucapan anaknya yang lebih mirip dengan sebuah permintaan. Namun bila Hazel sudah bertekad demikian, tiada gunanya dia melarang.
Sedangkan Jessica sendiri, kembali di buat terkejut dengan penuturan Hazel. Dirinya tidak menyangka jika ucapannya yang di pesawat tempo lalu, justru Hazel menyetujuinya. Bahkan kini kekasihnya itu sedang membahasnya bersama anggota keluarganya.
"Jika itu memang sudah keinginanmu, Ibu tidak akan mempermasalahkannya atau sampai melarangnya. Hanya saja, Ibu memiliki sebuah permintaan, yaitu selesaikan dahulu pendidikanmu, barulah setelah itu kau menikahinya dan tinggal di tempat yang kau inginkan."
Hazel mengangguk setuju. "Masa pendidikanku tinggal satu semester. Dan selama itu, aku akan menghabiskan waktu bersama Ibu dan menuruti semua yang Ibu inginkan."
Ibu Elizabeth mengangguk sambil tersenyum. Jika dirinya menolak keinginan Hazel, mungkin dia tidak bisa untuk melihat senyuman kebahagian di wajah putranya.
"Oh iya, aku lupa satu hal. Tolong Ibu ajak Jessica bersama ke butik. Ajarkan yang dia tidak mengerti. Anggap saja Jessica sedang belajar. Mungkin suatu hari nanti, dia ingin memiliki butik sendiri," tambah Hazel sambil melirik kekasihnya.
Melihat betapa besar cinta putranya terhadap Jessica, membuat Ibu Elizabeth sadar bahwa kebahagian Hazel terdapat pada wanita itu.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Mendadak Angel menjadi penasaran akan alasan Hazel dan Jessica yang ingin tinggal di Indonesia.
"Tanyakan saja!" balas Hazel santai.
"Apa alasan kalian yang ingin tinggal di Indonesia?"
Hazel melirik Jessica sejenak, sebelum akhirnya pandangannya kembali kepada Angel.
"Sederhana. Aku ingin menikmati kehidupan di tempat istriku di lahirkan."
Memang tidak masuk akal jawaban dari Hazel. Namun jika dirinya mengatakan bahwa itu adalah keinginan Jessica, bisa jadi Angel maupun ibunya berpikir buruk tentang Jessica. Mungkin mereka akan berpikir bahwa Jessica ingin memisahkan Hazel bersama ibunya.
Angel menyipitkan matanya tidak percaya. Dia ingin kembali bertanya, tapi suaminya sudah lebih dulu menyela.
"Aku memiliki cabang di Indonesia, tapi bukan di Bali. Kalau tidak salah, nama kotanya adalah Bekasi."
"Ooh.. Itu sudah beda Pulau, Damian," timpal Jessica.
"Memang benar. Tapi tidak masalah, bukan? Kalian bisa tinggal disana, dan memulai semuanya. Atau... Kalian ingin tinggal di Bali?"
Jessica menggeleng sambil tersenyum, "Tidak. Dimanapun, asalkan Indonesia."
Dan semuanya akan di mulai disana. Kehidupan Hazel dan Jessica, serta cerita tentang anaknya.