The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Berbagi Sandwich



Damian dan Angel telah kembali ke mansion pada malam hari. Angel langsung menuju ke kamarnya, sedangkan Damian berbicara dengan Mario di ruang kerjanya.


"Ada apa?" tanya Damian ketika sudah duduk di kursinya. Mario mendekati tuannya itu lalu memberikan sebuah undangan. Damian mengambil undangan tersebut dan membaca pengirimnya.


"Robinson.."


"Iya, Tuan. Itu undangan dari Mr. Robinson di Perancis."


Damian melemparkan undangan itu ke atas meja tanpa minat.


"Aku tidak tertarik."


Damian masih mengingat kejadian saat dirinya terakhir kali datang ke sebuah pesta bersama dengan Angel yang berakhir dengan kekacauan. Bahkan Beyonce sudah tiada sekarang akibat kemurkaannya.


"Tapi, Tuan, pesta itu mengadakan sebuah tema dansa. Saya pikir, Anda bisa mengajak nona Angel kesana sekaligus untuk liburan," usul Mario.


"Memangnya kapan pesta tersebut di adakan?"


"5 hari lagi, Tuan."


Damian tampak berpikir sejenak, namun sedetik kemudian dia mengangguk setuju.


"Aku rasa itu bukanlah ide yang buruk."


Mario tersenyum mendengar jawaban dari tuannya.


"Baiklah, kosongkan jadwalku selama sepekan. Aku ingin berangkat kesana besok dan kau urus semuanya." Damian lalu berdiri dari duduknya. Setelah itu, dia memutuskan kembali ke kamarnya untuk istirahat, karena besok dia akan berjalan jauh.


Di kamarnya, Damian tersenyum sembari membayangkan kegiatannya hari ini bersama dengan Angel. Walapun Damian agak kecewa karena Angel belum memiliki keinginan untuk menceritakan siapa dirinya sebenarnya.


Sementara di tempat Angel berada, dirinya tampak terkejut saat mendapati bahwa tamu bulanannya sudah datang.


"Apa ini yang menyebabkan aku jadi sensitive terhadap Damian tadi?"


"Ahh, sudahlah. Aku tidak peduli. Lebih baik aku istirahat dan memikirkan apa yang akan kulakukan besok." Daripada berpikir berlarut-larut, lebih baik Angel membaringkan tubuhnya di kasur.


Angel mengira bahwa besok Damian akan kembali ke rutinitasnya yaitu bekerja. Jadi, Angel pikir besok dirinya akan kembali menjadi bosan.


...* * *...


Pukul 5.30 AM


Angel yang masih di alam mimpinya, tiba-tiba mendengar suara riuh yang membuatnya terpaksa harus membuka matanya. Ketika matanya sudah terbuka sempurna, dirinya terkejut saat mendapati bahwa begitu banyak pelayan di kamarnya itu.


"Apa yang kalian lakukan disini?" Angel memekik dengan wajahnya yang masih menunjukkan keterkejutannya.


"Maaf, Nona. Tuan memerintahkan kami untuk mengemasi pakaian Anda," ujar salah satu pelayan yang mewakili yang lain.


Angel terdiam dengan dahinya yang mengkerut heran.


'Mengemasi pakaianku? Untuk apa? Apa Damian sudah tidak menginginkan aku berada disini lagi?'


"Daripada berpikir yang tidak-tidak, lebih baik aku bertanya langsung padanya." Angel kemudian bangkit dan segera menuju ke kamar Damian.


Wanita itu mengetuk pintu kamar Damian. Tak lama, muncullah sang pemilik kamar dengan rambutnya yang masih dalam keadaan basah.


"Tumben sekali kau sudah bangun dan mandi lebih awal."


"Ckk, mengapa kau belum siap-siap?" Damian tidak menghiraukan perkataannya. Justru dia meminta Angel agar segera kembali ke kamarnya dan bersiap.


"Memangnya kita akan pergi kemana sepagi ini?" tanya Angel heran.


Damian tidak menjawabnya, pria itu malah menghela nafasnya. Dia lalu membalikkan tubuh Angel kemudian mendorong wanita tersebut agar kembali ke kamarnya.


"Cepatlah. Aku tidak suka menunggu," ujar Damian datar. Setelah itu dia meninggalkan Angel sendiri di depan pintu kamar wanita itu.


"Kemana sebenarnya dia akan membawaku?" Karena terlalu memikirkannya, membuat Angel menjadi sedikit pusing. Dirinya lalu kembali masuk ke kamarnya, kemudian dia memutuskan untuk berendam air hangat sejenak agar pusing di kepalanya sedikit membaik.


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 6.37 AM, namun Angel belum kunjung menampakkam dirinya. Dan sedari tadi Damian berdecak kesal sambil terus memperhatikan jam di pergelangan tangannya.


"Apa yang sebenarnya dia lakukan di kamarnya hingga selama ini?" Untuk kesekian kalinya Damian menggerutu dengan diiringi decakkannya.


Mario yang melihat tuannya sedang kesal, memilih untuk diam. Daripada nanti ujung-ujungnya dia yang kena sembur.


Suara ketukan high heels yang beradu dengan lantai, membuat semua pandangan tertuju pada bunyi tersebut. Terlihat Angel yang sedang menuruni tangga dengan santainya.


Melihat Angel yang begitu lama menuruni tangga itu, membuat Damian menjadi jengkel. Pria itu lalu segera menghampiri wanita tersebut.


"Mengapa kau ini lama sekali? Apa yang sebenarnya kau lakukan di kamarmu?"


Angel membalas tatapan pria di hadapannya ini dengan datar. Karena malas meladeninya, dia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun saat dirinya hendak membalikkan badan, tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh Damian.


"Kau mau kemana?"


"Ke kamar. Aku sedang tidak ingin berdebat dan mendengar ocehanmu itu." Angel lalu melepaskan cekalan tangan Damian di tangannya. Kemudian, dia kembali berniat hendak ke kamarnya. Namun belum juga melangkah, tiba-tiba tubuhnya terangkat yang membuat Angel memekik kaget.


"Damian, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!!" Angel memukul punggung Damian, tapi tak dihiraukan oleh pria itu.


Damian seperti tuli, dia bahkan tidak mengeluarkan suaranya. Pria tersebut lalu membawa Angel yang berada di bahunya menuju ke mobil. Makian dan teriakkan yang Angel berikan padanya, hanya Damian balas dengan deheman.


Setibanya di mobil, Damian pun menurunkan wanita itu. Namun Angel berniat keluar, Damian lalu mendorong keningnya agar dia kembali masuk ke dalam.


"Diam dan duduk manis disana." Damian memasang wajah galak dengan diiringi tatapan tajamnya. Angel mendengkus, dan memilih untuk menurutinya.


Setelah memastikan semuanya siap, Damian lalu masuk ke dalam mobil. Dia dapat melihat Angel yang sedang kesal sembari melipat kedua lengannya di dada. Tak lama, Mario ikut menyusul dan duduk di bagian kemudi.


"Tuan..." Mario memberikan sebuah box kepada Damian. Damian menerimanya, kemudian melemparkan box itu kepangkuan Angel.


"Makanlah."


Angel hanya diam sambil memandangi box yang berada di pangkuannya itu. Lalu tatapannya beralih pada pria yang melempar box tersebut.


"Apa ini?"


"Lihat sendiri!!" jawab Damian yang fokus melihat jalanan yang lumayan ramai.


Angel membukanya, dan ternyata itu adalah kotak makan yang berisi sarapan untuk dirinya.


"Kau ingin makan sendiri atau aku yang akan menyuapimu?" tanya Damian yang gemas karena Angel tak kunjung memakan sarapannya itu.


"Lalu, dimana milikmu?"


"Aku sudah sarapan."


"Benarkah?"


"Hmm...sekarang makanlah. Aku tidak mau kau kurang gizi."


Angel berdecih. Tidak ingin melihatku kurang gizi, atau tidak ingin melihatku kurus dan datar?


Wanita itu dengan perlahan menyentuh sandwich yang berada di dalam kotak tersebut. Dirinya lalu melihat-lihat bagian isi sandwich itu, kemudian dia menyingkirkan bawang bombay, karena memang dirinya tidak menyukai bawang yang berbentuk besar itu.


Melihat Angel yang begitu lama memakan sarapannya, lama-lama membuat Damian gemas sekaligus jengkel.


'Kau membuatku tidak memiliki piihan lain.'


Tiba-tiba saja dagu Angel di cengkeram oleh Damian dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain berusaha menyuapi Angel.


"Buka mulutmu!!" perintah Damian.


Dengan perlahan Angel membuka mulutnya. Dan sandwich itupun mulai masuk ke dalam mulut Angel.


"Anak pintar.." Damian menepuk-nepuk kepala Angel layaknya seorang ayah pada anaknya.


"Ayo makan lagi!!" tambah Damian sambil berusaha menyuapi Angel kembali.


"Aku bisa makan sendiri," sahut Angel dengan wajah masamnya. Dia tidak suka jika di perlakukan layaknya anak kecil.


"Baiklah, jika itu mau-mu." Damian memberikan sisa sandwichnya kepada Angel. Kemudian dia kembali fokus menatap hiruk pikuk jalanan kota.


Sembari menyantap sarapannya, Angel mencuri pandang kearah Damian. Tiba-tiba dia menyodorkan sisa sandwichnya ke mulut Damian. Dan sontak itu membuat Damian lekas menatapnya.


"Aku tahu kau belum sarapan. Makanlah!" Bukan Angel sok tahu, tapi memang dia tahu jika Damian belum sarapan. Karena sedari tadi pria itu sibuk menyiapkan keberangkatan mereka yang entah akan kemana ini.


Damian tersenyum, kemudian menggigit sandwich tersebut. Begitupun dengan Angel, wanita itu tampak tenang sembari memakan sandwichnya bersama dengan Damian. Jadilah mereka berdua berbagi sarapan walaupun hanya dengan satu sandwich.