
Jessica dapat melihat, pria itu di penuhi dengan banyak luka lebam. Di tangan kiri Hazel terpasang infus, dan hidungnya di beri alat bantu pernafasan. Tak kuasa Jessica menahan air matanya saat melihat pria yang di cintainya begitu menyedihkan seperti ini.
Dia lalu membelai kepala Hazel sejenak, sebelum akhirnya dia mendaratkan bokongnya di kursi samping pasien. Dengan gerakan pelan, Jessica menggenggam jemari Hazel.
"Maafkan aku. Semua yang terjadi padamu saat ini di karenakan olehku. Andai saja aku tidak memberitahumu tentang pernikahanku, mungkin kau tidak akan datang dan ini semua tidak akan terjadi.. Hikss..." Tangan yang di genggamnya tersebut diarahkan ke bibirnya. Di kecupnya pelan nan lembut, seolah pemilik tangan itu sangatlah berharga.
"Aku mohon... Bertahanlah, Hazel. Hanya kau yang dapat mengerti diriku. Tidak terbayangkan olehku jika aku harus sampai kehilanganmu. Mungkin saat itu juga, aku akan ikut menyusulmu."
Jessica menyembunyikan wajahnya di tangan pria itu sambil terisak. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengusap kepalanya secara perlahan. Sontak saja dia langsung mengangkat kepalanya untuk melihat sang pemilik tangan tersebut.
Terlihat Hazel telah membuka matanya sempurna, bahkan dia menunjukkan senyuman manisnya kepada kekasihnya itu. Bagaikan tak percaya, Jessica hanya diam membeku.
Gemas dengan reaksi wanitanya, Hazel lalu iseng menarik tangan Jessica hingga wanita itu terjatuh di atas dadanya. Sadar bahwa ini bukanlah sebuah khayalan, Jessica segera memeluk Hazel dan kembali menangis.
Hazel terkekeh, "Kenapa kau jadi cengeng seperti bayi, heh?"
"Ini semua karenamu," jawab Jessica dengan suara yang terbenam.
Hazel tersenyum, dia lalu menciumi puncak kepala Jessica sambil mengelus punggungnya.
"Maafkan aku yang membuatmu khawatir."
Wanita itu tidak menjawab. Sepertinya dia sedang menikmati saat-saat kebersamaannya dengan Hazel. Jessica takut jika mereka akan kembali di pisahkan seperti kemarin. Entahlah, mengingatnya membuat ketakutan Jessica kian bertambah.
Hazel... Pria itu sebenarnya sudah sadarkan diri sejak kepergian Angel. Namun dia sepakat untuk mengerjai kakaknya itu dengan bantuan Damian. Tapi, semuanya di luar dugaan. Mereka tidak menyangka jika Angel akan membawa Jessica bersamanya. Oleh sebab itu, rencana mereka gagal total.
"Mengapa kau bisa bersama dengan Angel? Dan bagaimana dengan pernikahanmu?"
Butuh waktu beberapa detik sebelum Jessica menjawabnya, wanita itu justru sibuk mencium aroma dari Hazel.
"Angel datang tepat waktu. Sebelum janji suci di ucapkan, Angel membatalkannya kemudian membawaku pergi dari sana."
Hazel mengangguk mengerti. Kakaknya itu begitu perduli dengannya dan juga perasaannya. Namun dirinya dulu justru sering menyakitinya.
Terjadilah keheningan di ruangan itu. Sekali lagi Hazel mencium kening kekasihnya dengan penuh kerinduan. Baru saja kemarin mereka di pisahkan, tapi sekarang dirinya begitu merindukan Jessica hingga membuatnya tidak berdaya jika mereka harus kembali di pisahkan.
Hazel masih tidak percaya bahwa wanitanya sedang ada di dekapannya dan tidak jadi menikah. Sekarang dirinya sadar, bahwa kekuatan cinta mereka sangatlah besar. Sebesar apapun masalah dan rintangan yang mereka hadapi, pada akhirnya mereka akan kembali bersatu.
...* * * ...
"Aku senang melihatmu sudah sadar dan... bersama dengan wanita yang kau cintai." Angel melirik Jessica. Yang di lirik justru menundukkan kepalanya malu.
"Terima kasih," ujar Hazel tulus.
"Untuk?"
"Semuanya. Dan maaf karena aku selalu menyusahkanmu."
Angel menghembuskan nafasnya. Dia lalu menghampiri adiknya itu, kemudian mengacak rambutnya.
Hazel tersenyum, kemudian mengangguk. Jessica yang berdiri agak jauh, segera mendekat kearah Angel dan berdiri di hadapannya.
"Maafkan aku. Aku benar-benar menyesali atas apa yang kulakukan dan kukatakan padamu waktu itu. Aku...." Jessica tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya, karena isakannya sudah lebih dulu keluar.
Hanya senyuman tulus yang Angel berikan. Wanita itu kemudian memeluk Jessica. Perlahan, dia kembali mendapatkan apa yang hilang di masa lalunya, yaitu cinta dari orang-orang terdekatnya.
...* * * ...
Hazel masih harus di rawat intensif. Oleh sebab itu, Jessica menawarkan diri untuk menjaganya selama di rumah sakit. Sedangkan kedua sejoli yang baru menikah, Jessica meminta mereka untuk menghabiskan waktu berdua saja sambil menikmati wisata yang ada.
Angel dan Damian memulai pagi hari mereka dengan mengunjungi Pantai Kuta. Banyak turis asing di pantai itu sama seperti mereka. Sambil bergandengan tangan, mereka menikmati semilir angin yang menyejukkan.
"Sekarang aku tahu apa tujuanmu untuk menyusul Hazel kesini." Damian berdehem sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya.
"Seharusnya kau memberitahuku, mungkin aku bisa membantumu."
Angel menggeleng, "Jika kau sudah ikut campur, aku tidak yakin jika semuanya akan baik-baik saja."
Ucapan istrinya bagaikan sebuah sindiran. Namun Damian tidak tersinggung, dirinya justru terkekeh.
"Sepertinya kau sudah tahu apa yang akan terjadi jika aku ikut campur dalam masalah Hazel."
"Yupss. Dan aku yakin, akan ada korban jiwa yang akan kau buat nantinya."
Kembali Damian terkekeh. Dia kemudian merangkul bahu istrinya dan kembali melanjutkan langkah kaki mereka. Baru sejenak melangkah, mereka justru di hadang oleh seorang pria.
Pria di hadapan mereka tampak menyedihkan dengan penampilan yang tidak terurus dan wajahnya yang kusut. Damian yang tidak mengenalinya, menganggap pria tersebut adalah mengemis. Saat dirinya hendak mengambil uang di saku, pergerakannya justru di hentikan oleh Angel.
"Apa yang kau inginkan?" tukas Angel tajam. Menyadari bahwa istrinya mengenal pria di hadapannya ini, membuat Damian bertanya-tanya.
"Sayang, siapa dia?" Angel malah mengabaikannya dan sibuk menatap tajam pria itu.
Pria lusuh tersebut mengangkat kedua tangannya, kemudian menangkupkannya di dada.
"Aku minta maaf atas apa yang kulakukan. Sekarang aku menyadari semuanya, segala kesalahanku. Kumohon izinkan aku bertemu dengan Jessica untuk terakhir kali. Setelah itu aku tidak akan muncul lagi di hadapannya, maupun di hadapanmu."
Angel menimang-nimang permintaan David. Namun melihat betapa menyedihkannya pria tua tersebut, membuat dirinya merasa iba. Alhasil, Angel mengangguk lalu membawanya untuk ke rumah sakit, tempat Jessica berada saat ini.
Setibanya di ruangan rawat inap Hazel, Jessica yang belum menyadari kedatangan ayahnya, masih terlihat biasa. Tapi setelah Angel menggeser tubuhnya, Jessica langsung terpaku dan mematung di tempat.
David tahu bahwa putrinya tidak mengharapkan kehadirannya, namun dia tidak memperdulikan itu. Hal yang harus dia lakukan sekarang adalah meminta maaf dan menyadari semua kesalahannya.
Dengan langkahnya perlahan, David menghampiri putrinya tersebut. Dalam mata Jessica, dirinya dapat melihat kesedihan bercampur kecewa yang tertuju padanya. Seharusnya sebagai seorang ayah, dirinya mampu memberikan rasa aman, damai dan bahagia dalam keluarganya. Namun apa yang telah dia lakukan ini, sangatlah tidak bermoral.
"Maafkan Ayah yang selalu menyakitimu," lirih David sambil membelai kepala putrinya.
Jessica yang memiliki hati selembut sutra, jadi terenyuh. Dia lalu memeluk ayahnya dan menangis untuk kesekian kalinya. Seburuk apapun pria ini, dia tetaplah ayahnya. Walaupun sakitnya luka yang ayahnya torehkan, dirinya tetap tidak bisa untuk membenci pria yang selalu di panggilnya dengan sebutan Ayah.