
Angel meletakkan kepalanya di bahu James.
"Apa kau marah dan membenciku?"
"Mana mungkin aku melakukan itu? Lagipula, aku tidak ada alasan untuk marah apalagi sampai membenci dirimu."
"Terima kasih," bisik Angel.
"Apakah selama kau berada disana dia sering menyakitimu?" Nada bicara James terlihat cemas.
Angel menggeleng, "Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Tapi aku tidak tahu apa arti dari kebaikkannya itu."
"Syukurlah. Setidaknya dia tidak menyakitimu."
'Kau salah, James. Justru dia sangat menyakitiku, hingga membuatku merasa sulit untuk bernafas,' balas Angel dalam hati.
Angel lalu menatap wajah James, sedetik kemudian dia menegakkan kembali tubuhnya lalu menangkup wajah pria itu.
"James, siapa yang melakukan ini kepadamu? Apakah dia?"
James mengangguk sambil tersenyum. "Sudahlah, Angel. Lagipula lukaku sudah lebih baik sekarang."
'Kau benar-benar keterlaluan, Damian,' batin Angel bergejolak marah.
"Tunggu sebentar." Angel lalu berdiri, kemudian melangkah kearah nakasnya untuk mengambil kotak obat. Setelah itu dia kembali duduk di samping James.
Dengan hati-hati Angel memberikan salep pada sudut bibir dan pelipis pria itu yang tampak membiru. Melihat perhatian dari Angel, membuat jantung James berdetak lebih cepat. Padahal dirinya ingin membuang jauh-jauh perasaannya terhadap wanita itu, namun kedekatan mereka membuat hati James kembali terbuka untuk Angel.
Dan tanpa mereka berdua sadari, terdapat sepasang mata yang memperhatikan keduanya dari celah pintu. Orang itu tak lain adalah Calvin. Pria itu melihat dan mendengar apa yang terjadi di dalam, dan itu membuat dadanya merasa sesak.
Begitupun dengan Calvin, dia tidak menyadari jika terdapat Vika yang memperhatikannya sejak tadi dari arah dapur. Mata wanita itu berkaca-kaca, apalagi saat melihat Calvin yang mengepalkan tangannya seperti seorang kekasih yang sedang cemburu.
"Kau terlalu melihat kedepan, Calv. Hingga kau tidak menyadari jika ada seseorang di belakangmu, yang mencintaimu dengan tulus," lirih Vika dengan tatapan terluka. Dia lalu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya.
...* * * ...
Keesokkan paginya, Angel beserta yang lain dikejutkan dengan kedatangan Damian bersama dengan para pengawalnya. Bahkan para pengawal Damian tidak terhitung jumlahnya.
Secara bersamaan, Calvin dan Vika mengambil posisi di depan James dan Angel. Namun Damian tidak memperdulikan James lagi, sekarang yang dia inginkan adalah Angel kembali kepadanya.
Kemarin, saat dirinya mendengar bahwa Angel pergi sambil menangis, dengan cepat Damian mencarinya. Setelah tahu dimana keberadaan wanita itu, Damian datang untuk mengajaknya pulang. Namun matanya justru tak sengaja melihat Angel sedang memeluk James. Dan Damian yakin, bahwa James telah menceritakan semuanya kepada Angel.
Oleh karena itu, Damian memutuskan untuk menemui wanitanya besok, dan membiarkan Angel pergi bersama pria itu. Walaupun Damian tidak rela dan ingin menghajar habis-habisan pada pria yang membawa Angelnya pergi.
Damian menatap Angel lekat, namun Angel justru memalingkan wajahnya dan enggan untuk menatap pria itu.
"My Angel..." Damian lalu hendak mendekati wanita tersebut, namun Calvin menghadang jalannya.
"Jangan coba-coba untuk mendekatinya lagi!! Karena untuk menatap wajahmu saja, Angel tidak ingin." Calvin menatap Damian tajam, dan di balas dengan tatapan dingin oleh pria itu.
Tanpa memperdulikan ucapan dari Calvin, Damian pun tetap ingin melangkah dan menghampiri Angelnya. Namun semuanya tidak Damian kira, bahwa Angel justru mengambil pistol di tangan James kemudian menodongkannya kepada dirinya.
"Jangan coba-coba untuk berani mendekat!! Atau aku tidak akan segan-segan untuk membocorkan kepalamu itu." Angel mungkin mengatakannya dengan kejam, namun air matanya tidak dapat untuk di bendung, apalagi tatapan yang Damian berikan membuat tangannya gemetar.
"Jika itu bisa membuatmu memaafkanku, maka lakukanlah."
"Jadi kau sudah menyadari kesalahanmu, Damian Wilson?" Damian tidak menjawabnya, dan hanya menatap Angel lekat.
"Jika kau berani melukai, Damian. Maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu."
"Ana.." bentak Damian dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa? Aku hanya tidak ingin kau terluka, Damian. Apakah aku salah jika mengkhawatirkanmu?" Ana lalu kembali menatap lawannya. Mereka pun saling mengacungkan pistol kearah lawan, dan suasana disana menjadi sangat tegang.
Melihat Ana yang mengacungkan pistolnya kearah Angel, membuat Damian menjadi geram lalu merebut senjata dari wanita itu.
"Damian, apa yang kau lakukan?" pekik Ana marah.
"Ini bukanlah urusanmu. Dan sebaiknya kau pergi dari sini!!" ujar Damian dingin.
Ana mengepalkan kedua tangannya. "Aku disini ingin menyelamatkanmu. Dan kau justru mengusirku seperti itu."
"Aku tidak memintamu untuk datang. Lagipula, aku tidak suka jika kau mencampuri urusanku!!"
"Urusanmu berarti urusanku juga, Damian."
"Pergilah, Ana. Aku benar-benar tidak menginginkan kehadiranmu disini."
Geram dengan ucapan Damian, Ana lalu mengambil pistol dari pengawal yang ada di sampingnya. Lalu dia mengacungkannya kepada Angel, dan...
Dorr!!
"Calvin..."
"Angel..." Mereka, James, Vika dan Damian berteriak secara bersamaan.
Sebelum peluru itu mengenai tubuh Angel, dengan cepat Calvin berdiri di depan wanita itu hingga peluru tersebut mengenai dirinya. Angel menutup mulutnya karena shock melihat Calvin yang melindunginya.
Perut pria itu berdarah, sedetik kemudian Calvin ambruk. Dengan panik dan cemas, James menelpon ambulance dari rumah sakit terdekat. Sementara Vika dan Angel, kedua wanita itu sudah berjongkok di samping Calvin.
"Calvin, kumohon padamu agar tetap membuka matamu!!" pinta Angel dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Iya, Calvin. Kau pasti akan baik-baik saja." Vika ikut menimpali, bahkan wanita tersebut tidak dapat untuk membendung air matanya.
Melihat Angel yang begitu mencemaskan Calvin, membuat Damian merasakan sesak pada dadanya. Bahkan dirinya hanya bisa diam dengan matanya yang tertuju pada Angel seorang.
Tak butuh waktu lama, petugas rumah sakit datang kemudian segera membawa tubuh Calvin. Mereka bertiga pun ikut untuk menemani Calvin. Namun saat Angel melewati Damian, tangannya justru di cekal oleh pria tersebut.
"Kumohon, tetaplah disini!!" pinta Damian dengan tatapan memohon.
Dengan kasar Angel melepaskan cekalan di tangannya.
"Pergilah, Damian. Aku benar-benar muak denganmu."
"Angel.." panggil James. Dengan cepat Angel menghampirinya kemudian melangkah bersama menuju ke lift.
Dan yang di tinggal, hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong. Kedua tangan Damian lalu terkepal saat mengingat bahwa ini semua terjadi akibat ulah dari wanita di sampingnya ini.
"Ikut aku!!" Damian menatapnya tajam, lalu menarik kasar tangan Ana agar mengikuti langkahnya.
"Damian, kita akan kemana?" tanya Ana dengan jalan yang terseok-seok. Namun Damian tidak menjawabnya dan terus menarik wanita itu hingga ke mobil.
Damian kemudian mendorong tubuh Ana agar masuk kedalam mobilnya. Setelah itu dia mengambil posisi di kursi kemudi. Damian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan tidak menghiraukan wanita di sampingnya itu yang berteriak karena takut menabrak.