The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Paris ~ Menara Eifel



Dan tibalah kini mereka di Perancis. Mereka tiba pada malam hari sehingga dapat melihat indahnya kota Paris beserta Menara Eifelnya.



Angel menatap kagum bangunan yang bersinar di hadapannya. Tiba-tiba Damian datang dan berdiri di sampingnya.


"Apa kau akan terus memandanginya?"


Wanita itu menoleh dengan tatapan sebalnya, "Mengapa kau sekarang menjadi sangat cerewet?"


Karena sudah terlanjur kesal, Angel pun pergi meninggalkan Damian untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu.


"Lelaki selalu saja salah," gumam Damian, dia lalu segera menyusul wanita sensitive itu.


Di dalam mobil, keduanya terdiam. Yang satu menyenderkan kepala dan punggungnya pada kursi, dan yang satunya lagi sibuk menatap keindahan di sekelilingnya.


Melihat binar di wajah Angel, membuat Damian tersenyum tipis.


"Kau senang, hmm?"


"Sangat. Sedari dulu aku ingin datang kesini, namun tidak sempat." Angel tersenyum sendu, tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.


"Kenapa?"


"Aku sibuk."


"Memangnya apa pekerjaanmu?"


Angel beralih menatap Damian, "Kau ingin tahu pekerjaanku?"


"Jika kau tidak keberatan."


"Sayangnya, aku keberatan untuk memberitahumu." Angel terkekeh, kemudian dia kembali menatap jalanan kota.


"Kenapa kau tidak ingin memberitahuku? Apakah pekerjaanmu itu bersifat rahasia?" pancing Damian.


"Maybe. Tapi setidaknya, pekerjaanku ini bertujuan baik."


Damian tersenyum tipis. Pekerjaanmu memanglah bertujuan baik, tapi itu sangatlah buruk untuk pekerjaanku.


...* * *...


"Istirahatlah. Karena besok kita harus banyak tenaga untuk mengelilingi Kota Paris ini," ujar Damian sambil merenggangkan tubuhnya.


Angel mengangguk, lalu tiba-tiba dia berjalan kearah Damian kemudian memeluk pria itu. Damian yang ketika itu sedang merenggangkan kedua tangannya di atas kepala, jadi bergeming.


"Terima kasih. Karena kau sudah membawaku kemari. Ke tempat yang sedari dulu kuimpikan," bisik Angel. Setelah itu dia melepaskan pelukannya, kemudian melangkah masuk ke sebuah kamar yang telah disiapkan untuknya selama berada disini.


"Terima kasih kembali." Damian tersenyum simpul. Pria itu lalu masuk juga ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Angel.


...* * * ...


Matahari belum menampakkan dirinya, namun Angel sudah bangun lebih awal karena terlalu antusias untuk mengelilingi kota ini. Dilihatnya bahwa diluar kamarnya masih sepi, dia pun memutuskan untuk mengelilingi apartement ini.


Apartement tersebut sangat luas, sehingga membuat Angel agak kesulitan untuk mengingat beberapa tempat atau ruangan disana. Bahkan dirinya membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mengenali ruangan-ruangan di apartement yang luas ini.


Dari arah jendela, terpancar sinar dari cahaya matahari. Yang mempertandakan bahwa matahari akan segera terbit. Angel pun tidak menyianyiakan kesempatan ini. Dia segera melangkah menuju jendela dan melihat matahari yang mulai perlahan naik.


Dirinya begitu takjub sampai-sampai mulutnya menganga lebar. Bukan karena matahari itu, melainkan apartement yang dia tinggali ini sangatlah dekat dengan Menara Eifel.


"Sangat indah..." Angel tak henti-hentinya berdecak kagum. Dan tiba-tiba saja datang seseorang yang memeluknya dari belakang. Refleks, langsung saja Angel melihat si pelaku. Dan ternyata itu adalah Damian.


"Mengapa kau tidak membangunkanku?" tanya Damian dengan suara paraunya. Sesekali pria itu menguap karena masih merasakan efek mengantuk.


"Kenapa aku harus membangunkanmu?" tanya Angel balik. Dan itu membuat Damian kesal. Pria itu lalu menggigit gemas bahu Angel yang terbuka.


"Apa yang kau lakukan?" Angel memekik kaget. Dia pun melihat bekas merah akibat ulah Damian barusan.


"Aku hanya menggigitmu." Tanpa rasa bersalahnya, Damian justru terkekeh geli.


"Kau benar-benar menyebalkan," teriak Angel tepat di telinga Damian.


Damian mengusap telinganya itu, kemudian sedikit menjauh dari Angel.


"Tidak bisakah jika kau tidak berteriak?"


"Kau yang membuatku melakukannya."


Damian menggerutu tidak jelas. Yang pasti, hanya dialah yang dapat mendengarnya.


"Apa kau ingin berlama-lama disini?"


"Apa kau tidak ingin berkeliling Kota Paris?" sambung Damian memperjelas perkataannya.


"Tentu saja aku ingin." Angel kembali berteriak. Dan itu membuat Damian terkejut hingga memegangi dadanya.


"Emm, sebaiknya aku mandi sekarang." Perlahan, Angel melangkah menjauhi Damian. Serasa sudah menjauh, dia pun langsung berlari menuju ke kamarnya.


Damian menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari wanitanya itu.


"Untung aku mencintaimu."


...* * *...


"Kau ingin kemana terlebih dahulu?" tanya Damian setelah mereka berada di dalam mobil, dan Mario yang sebagai supir mereka.


"Aku ingin ke tempat yang sangat terkenal disini."


Damian mengangguk, "Apa perlu aku menyewa tempat itu?"


"Tidak perlu. Aku hanya ingin berkunjung kesana, bukan untuk menginap," jawab Angel cepat namun dengan nada malas.


"Baiklah."


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka tiba di Menara yang sangat terkenal di dunia. Apalagi jika bukan Menara Eifel.


Sangking antusiasnya, Angel keluar terlebih dahulu dan langsung berlari menuju ke Menara tersebut. Dan Damian hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengikuti wanita itu dari belakang.


Angel masih tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya tepat di depan matanya ini. Sebuah Menara tinggi menjulang di hadapannya, tempat yang menjadi favorit bagi kalangan anak muda maupun yang tua.



'Aku dulu berpikir tidak akan pernah kesini. Harapan yang kupunya seolah pupus setelah kejadian itu. Tapi...Dia membawaku kesini. Dia mengembalikan senyumku, tawaku dan semangat yang kumiliki dulu. Namun....Apakah aku sudah mencintainya? Entahlah, aku sendiri masih bingung dengan perasaanku.'


Damian yang melihat Angel tampak melamun sambil memandangi menara di hadapannya, membuat dirinya menjadi kesal.


"Kau ini kenapa?"


"Apanya yang kenapa?" Angel menatap Damian heran. Bukannya menjawab, Damian justru menarik tangan Angel menuju ke Menara tersebut.


"Sepertinya kita kurang pagi datang kemari. Lihatlah! Begitu banyak orang yang mengantri di depan lift."


"Kalau begitu kita naik tangga saja. Lagipula, orang-orang yang menaiki tangga tidak terlalu ramai, jadi kita tidak perlu berhimpitan dengan yang lain. Dan Anggap saja ini sebagai olahraga pagi," usul Angel. Damian pun mengangguk pasrah.


Mereka mulai berjalan menaiki anak tangga yang kira-kira berjumlah 360 sampai 400 untuk dapat mencapai level pertama di ketinggian yang berada di level 57 M. Lalu dilanjutkan dengan 350 anak tangga lagi untuk mencapai level ketinggian kedua yang berada di ketinggian 115 M.


"Harusnya kusewa saja tempat ini. Jadi kita tidak perlu menaiki anak tangga yang berjumlah ribuan ini." Damian menggerutu dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Lalu diliriknya sang kekasih, ternyata Angel sama seperti dirinya. Wanita itu bahkan membungkuk sambil memegangi kedua lututnya.


"Kau lelah, hmm?" tanya Damian lembut sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Angel. Namun Angel menunjukkan senyum antusiasnya sembari menggelengkan kepalanya.


Damian tahu jika wanitanya lelah. Hanya saja dia tidak ingin mengatakannya. Pria itupun mengambil posisi di depan Angel kemudian berjongkok.


"Kau mau apa?" tanya Angel bingung.


"Sudah, naik saja."


"Tapi disini ramai Damian, Aku malu." Angel berbisik sambil melihat ke sekelilingnya.


"Persetan dengan mereka!! Cepat naik, aku lelah berjongkok." Angel menghela nafasnya, lalu dengan perlahan menaiki punggung pria tersebut.


Damian kemudian berdiri sambil mengaitkan kedua tangannya pada lutut wanitanya.


"Kau lumayan juga."


"Lumayan apa?"


"Lumayan berat," kekeh Damian yang langsung mendapatkan pukulan di bahunya.


Damian mulai kembali menaiki anak tangga dengan langkah pelan. Dan itu membuat Angel bergidik ngeri.


"Damian, bagaimana jika kita terjatuh?"


"Tidak apa-apa. Kita akan jatuh bersama. Lagi pula, jika kita mati, maka kita akan mati bersama juga," jawab Damian dengan santainya.


"Kau pikir aku mau mati bersamamu?" pekik Angel.


"Kenapa kau ini suka sekali berteriak di telingaku?" sewot Damian sambil memandang Angel kesal.


Angel hanya mengendikkan bahunya, lalu dia mengeratkan tangannya di leher Damian sembari menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.


Damian yang melihatnya jadi tersenyum kecil, kemudian dirinya memilih untuk fokus pada langkah kakinya. Jangan sampai dia salah langkah lalu terjatuh bersama Angel. Walaupun dia mengatakan tidak masalah jika jatuh bahkan mati bersama dengan Angel, namun itu hanyalah ucapannya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Angel, karena dia tidak bisa jika melihat Angel terluka apalagi karena dirinya.