The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Undangan Dari Klien?



Angel terus memperhatikan Damian yang tengah sibuk dengan berkas-berkasnya di kursi kebesarannya. Sedangkan Angel sendiri sedang duduk di sofa yang lumayan jauh dari Damian.


Apa yang kurang dari seorang Damian?


Dia tampan, tegas, berwibawa bahkan memiliki segala yang dia inginkan. Hanya saja Damian tidak memiliki seorang wanita sebagai pendampingnya.


"Sudah puas menatapku?" goda Damian yang tahu jika dirinya ditatap oleh seseorang sedari tadi.


Merasa ketahuan, Angel dengan buru-buru mengalihkan pandangannya kesamping. Damian terkekeh, kemudian bangkit dari kursinya untuk menuju ke Angel. Pria itu lalu mengambil posisi di samping Angel, kemudian dia menarik tangan wanita tersebut agar duduk di pangkuannya.


Deggg


Jantung Angel berdetak di atas batas normal. Bahkan dirinya dapat merasakan nafas aroma mint dari mulut Damian. Damian pun mendekatkan wajahnya kepada Angel, namun saat sudah dekat dan Damian hendak menciumnya, Angel malah membuang wajahnya kesamping.


Damian paham dan tidak akan memaksakannya. Dia lalu mengelus pipi wanitanya sembari menatapnya dalam. Sedangkan Angel merasa tidak nyaman dengan posisinya sekarang, dia pun hendak turun dari pangkuan Damian, tapi pinggangnya justru ditahan oleh pria tersebut.


"Sampai kapan kau akan terus menghindariku?" celetuk Damian yang masih mengelus pipi Angel. Namun Angel hanya diam sambil menghindari tatapan dari Damian.


"Apa yang harus kulakukan agar kau bisa jatuh cinta padaku?" Damian meletakkan kepalanya di bahu wanita itu sembari mendesah frustasi.


"Damian, aku---" Ucapan Angel terpotong saat tiba-tiba Mario mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk." Dan Angel hendak turun lagi dari pangkuan pria itu, namun dirinya masih ditahan oleh Damian.


Mario lalu masuk dan melihat pemandangan yang eughh...sulit untuk dia jelaskan.


"Ada apa?" tanya Damian dengan suara datarnya.


Mario berdehem sejenak, kemudian menunduk hormat kepada tuannya tersebut. Setelah itu dia memberikan sebuah undangan kepada Damian tanpa mengatakan apapun.


Damian mengambilnya lalu membolak-balik undangan tersebut.


"Mr. Beyonce," gumamnya setelah melihat pengirim undangan itu.


Angel lekas menatapnya, "Siapa dia?"


"Bukan siapa-siapa. Hanya salah satu klienku." Damian kemudian melemparkan undangan tersebut keatas meja.


"Keluarlah," usirnya pada Mario.


"Apakah Anda akan datang, Tuan?" tanya Mario hati-hati.


"Mungkin. Jika aku sedang ingin," timpal Damian sambil memandang Angel di pangkuannya.


"Memang itu kapan?" sela Angel dengan melirik undangan yang tergeletak tersebut.


"Malam ini, Nona."


Angel berOh ria sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu tatapannya kembali pada Damian.


"Mengapa kau tidak ingin datang?"


"Aku bilang 'mungkin' bukan berarti 'tidak akan datang".


Angel menatapnya sebal dan memilih untuk diam. Karena berbicara dengan Damian, pasti tidak akan pernah ada menangnya.


"Mengapa kau masih disini? Cepat pergi!" usir Damian lagi. Mario pun mengangguk singkat dan segera berlalu dari ruangan itu.


"Apa kau akan datang?" tanya Angel lagi. Dan Damian hanya mengangkat bahunya acuh sembari sibuk memainkan rambut wanita dihadapannya ini.


"Aku ingin kau datang."


Ucapan dari Angel, membuat Damian langsung mengangkat kepalanya.


"Tapi kau harus ikut denganku."


"Kau yang diundang, bukan aku," ujar Angel sambil mendorong kening Damian dengan telunjuknya


"Ya, kau harus menemaniku."


"Aku tidak mau."


Damian menyeringai, "Temani aku atau..."


Angel bersidekap di dada sambil menaikkan sebelah alisnya, dan menunggu pria di hadapannya ini menyelesaikan perkataannya.


"Atau aku akan menciummu sampai kehabisan nafas," bisik Damian yang seperti sebuah ancaman.


Damian memandang Angel kesal sambil memegangi pipinya yang terasa panas.


"Mengapa kau menamparku?"


"Jangan salahkan aku. Kau yang memulainya," bela Angel, "Turunkan aku sekarang!!"


Bukannya menurunkan wanita itu, Damian justru menunjuk-nunjuk pipinya.


"Cium pipiku jika kau ingin aku menurunkanmu dari pangkuanku."


"Aku tidak mau," tukas Angel cepat.


Damian menghembuskan nafasnya, "Daripada aku menyuruhmu mencium bibirku, lebih baik aku menyuruhmu mencium pipiku bukan?"


"Dasar mencari kesempatan dalam kesempitan."


"Sudahlah. Cepat lakukan jika kau ingin segera turun."


Dengan sangat terpaksa Angel harus menuruti kemauan pria menyebalkan itu. Angel lalu mendekatkan bibirnya kearah Damian. Namun saat beberapa centi lagi, Damian dengan gerakan cepat menoleh lalu...


Chupp~


Bukan pipi yang dicium oleh Angel, melainkan bibir Damian. Angel bergeming tidak percaya sambil menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya. Sedangkan Damian justru tersenyum senang bak baru saja memenangkan sebuah undian.


Angel yang tersadar jika dirinya masih berada di pangkuan Damian, segera turun. Wanita itu lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut. Dan tentu saja Damian tidak membiarkannya pergi sendiri begitu saja.


Damian masih mengikuti Angel hingga keduanya masuk kedalam lift. Di dalam ruangan kecil itu, keduanya saling diam dan hanya Damian yang memperhatikan. Tak lama, pintu lift kembali terbuka dan Angel segera keluar dari sana.


"Berikan kunci mobilnya?" pinta Angel sambil menyodorkan sebelah tangannya pada pengawal Damian yang berjaga di depan. Namun pengawal tersebut hanya diam dan justru menatap tuannya yang berada di belakang Angel.


Dan ketika Damian yang meminta kuncinya, pengawal tadi langsung memberikannya. Dan Angel mendengus kesal melihat itu. Diapun hendak pergi untuk mencari taksi, namun tangannya malah ditarik lebih dulu oleh Damian untuk masuk ke dalam mobilnya.


Setelah memastikan Angel tidak akan kabur, barulah Damian memasuki mobilnya dan segera menjalankannya untuk pergi dari situ.


"Kau marah?" tanya Damian sambil tersenyum geli. Dan seperti biasa, Angel hanya diam dan melihat kearah luar jendela.


Damian pun menghembuskan nafasnya kasar. Dia lalu menyentuh tangan Angel, namun sang pemiliknya menolak dan ingin melepaskannya. Namun Damian semakin mempererat genggamannya hingga membuat Angel akhirnya menyerah dan pasrah.


Sambil menyetir, Damian membawa tangan itu kebibirnya lalu menciumnya dengan lembut. Angel yang melihatnya, jadi termenung dan menatap Damian dengan tatapan yang sulit diartikan.


Hingga dirinya tersadar saat melihat jalan yang asing baginya.


"Damian, kita akan..."


"Sudah, ikuti saja." Damian memotong ucapannya sebelum Angel menyelesaikan kata-katanya.


Akhirnya Angel memilih untuk diam. Dan Damian fokus menyetir, namun sesekali dirinya menciumi punggung tangan Angel yang berada di genggamannya.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba disebuah pemakaman. Damian keluar lebih dulu, setelah itu dia membukakan pintu untuk Angel. Seolah takut jika Angel akan kabur, Damian pun menggenggam tangannya dengan sangat erat.


Damian menuntun Angel untuk mengikuti langkahnya. Dan tibalah mereka berdua disebuah tumpukan tanah. Tapi yang membuat Angel heran, disana hanya ada dua makam.Tidak seperti yang di awal tadi.


"Paman Lucas," lirih Angel setelah melihat nama yang tertera di nisan.


"Iya, itu makam ayahku. Dan sebelahnya ibuku." Tatapan Damian meredup, dan itu diketahui oleh Angel.


'Dad, kau masih ingat dia, bukan? Wanita yang dulu sering bertengkar denganku. Kini aku membawanya kemari, tapi bukan sebagai lawanku tapi sebagai kekasih sekaligus calon menantu untukmu. Maafkan aku jika aku sudah jatuh cinta pada gadis kecil labil ini. Tolong restui kami, Dad.' Damian membatin dengan tatapan dalam pada makam ayahnya.


"Damian, kau baik-baik saja?" tanya Angel pelan.


Damian mengangguk singkat. Sedetik kemudian dia menatap wanita di sampingnya dengan diiringi senyum simpulnya.


"Ayo pulang."


"Tunggu sebentar." Angel mendekati kedua makam itu, kemudian dia berjongkok dan menaburkan bunga yang terdapat di sisi makam.


Melihat yang Angel lakukan saat ini, membuat senyum Damian semakin mengembang.


'Aku tidak salah memilih dan jatuh cinta padamu.'


"Selesai."


"Ayo..." Damian menyodorkan tangannya pada Angel, yang langsung di sambut oleh wanita itu. Mereka berdua pun kembali menuju ke mobil.