The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Poor Hazel



"Kenapa ponselmu tidak dapat di hubungi saat aku menelponmu?" tanya Angel untuk menghilangkan kecanggungannya.


"Ponselku menghilang akibat kecelakaan tadi. Tapi aku sudah menyuruh Mario untuk membeli yang baru, namun sampai saat ini dia tidak datang juga."


'Tentu saja dia tidak akan datang. Karena saat dia berani menunjukkan batang hidungnya di hadapanku, maka aku tidak akan segan-segan untuk memberinya sebuah pelajaran karena telah membohongiku.' Angel berdehem singkat,


"Jika keningmu tidak mengalami luka parah dan hanya mendapatkan dua jahitan, lalu mengapa di perban? Mengapa tidak menggunakan yang kapas saja?"


Damian tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya, "Aku sengaja memakai perban, agar Ibu prihatin kepadaku."


"Hanya itu?"


"Tentu saja. Aku ingin Ibu perhatian padaku, sama seperti dia yang perhatian padamu dan Hazel."


'Aku tahu jika saat ini kau sedang merindukan orangtuamu dan juga kasih sayang dari mereka,' Angel menatap Damian iba. Pria ini terlihat kejam dan dingin di luar, namun jauh di dalam lubuk hatinya, pria tersebut sangat kesepian dan membutuhkan perhatian.


"Kau sudah memberitahu Ibu?" tanya Damian, Angel pun menggeleng.


"Nanti saja. Pada pukul seperti ini, butik Ibu sedang ramai. Aku tidak mau membuatnya khawatir dan langsung kesini. Padahal pria yang dia khawatirkan baik-baik saja."


Damian tertawa, "Sindiranmu benar-benar menusuk hatiku, My Angel."


"Berhentilah mendrama." Bukannya merasa sakit hati akibat perkataan dari Angel, Damian justru tidak bisa berhenti tertawa dan menggoda wanita itu.


...* * * ...


Matahari sudah tepat berada di atas, kini saatnya bagi Damian untuk makan siang. Seorang suster telah mengantarkan makanannya, lalu meletakkannya di atas meja berukuran kecil di ranjang Damian, agar pria tersebut bisa makan sendiri.


Angel masih berada disana dan sibuk memainkan ponselnya. Sejenak Damian menatap wanita itu, sebelum akhirnya dia kembali menatap makanannya.


Tiba-tiba sebuah senyum misterius muncul di bibir pria tersebut. Damian lalu memegang sendoknya, kemudian menjatuhkannya ke lantai. Angel yang mendengarnya, langsung mengalihkan pandangannya kearah Damian. Setelah itu dia mengambil sendok yang terjatuh tadi.


"Mengapa kau menjatuhkan sendokmu?"


"Aku tidak sengaja menjatuhkannya. Tanganku bergemetar, jadi sendok itu terlepas dari tanganku," jawab Damian sambil menunjukkan tangannya yang di buat seperti benar-benar gemetar.


Angel menghela nafasnya, kemudian segera bangkit dari duduknya.


"Aku akan meminta sendok yang baru."


Wanita itu melangkah keluar dan menghilang di balik pintu. Selepas kepergian Angel, Damian tertawa senang. Tak lama, wanita tersebut kembali dan duduk di tempatnya tadi.


Angel mulai menyuapi Damian dengan telaten dan hati-hati. Damian yang mendapatkan perlakuan seperti itu, pastilah sangat senang. Namun kesenangannya itu dia tahan, jangan sampai Angel tahu bahwa dirinya berbohong mengenai tangannya.


Selesai makan, Angel tak lupa menyeka bibir Damian dengan serbet. Setelahnya dia mengambil alih peralatan makan Damian dan meletakkannya di atas nakas.


"Terima kasih," bisik Damian sambil tersenyum tulus. Angel hanya mengangguk dan menunjukkan senyum tipisnya.


Kini keduanya terdiam dan saling memandang satu sama lain. Tiba-tiba Damian menggenggam tangan Angel. Perlahan demi perlahan, Damian mendekatkan wajahnya kepada wanita tersebut. Sepertinya Angel terpesona dengan tatapan Damian, sehingga membuat dirinya tidak bisa bergerak dan melepaskan pandangannya dari mata pria itu.


Damian memiringkan kepalanya dan hendak mendaratkan bibirnya, namun pintu ruangannya tiba-tiba di buka. Refleks, Angel mendorong tubuh Damian hingga terlentang di ranjang.


Damian meringis karena merasakan pinggangnya yang sedikit nyeri akibat sentakan besi di ranjangnya.


"Damian, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Ibu Elizabeth sambil melangkah masuk.


Damian menampilkan senyum paksanya, "Aku baik-baik saja, Bu." 'Hanya pinggangku yang sedikit nyeri,' tambah Damian dalam batinnya.


"Syukurlah kalau begitu." Ibu Elizabeth meletakkan parcel buah ke atas nakas samping Damian yang kosong.


"Dengan siapa Ibu kemari?"


"Dengan Hazel. Tapi dia sedang di luar karena tadi ada yang menelponnya."


"Bagaimana bisa ini terjadi? Mengapa kau tidak berhati-hati?"


Damian terkekeh, "Ini hanya luka ringan, Bu. Bahkan hari ini aku sudah di perbolehkan untuk pulang."


"Benarkah? Kenapa secepat itu?"


Angel memutar bola matanya malas. Damian pasti akan mendrama di depan ibunya. Tidak ingin melihat itu, Angel lalu berpamitan untuk keluar sejenak.


Setelah berada di luar, Angel mencari keberadaan adiknya, namun tidak ada.


"Dimana dia? Bukankah kata Ibu tadi dia di luar?"


Sembari melangkah, Angel tak henti-hentinya melihat kesana-kemari, siapa tahu matanya melihat keberadaan Hazel. Namun bukannya Hazel yang dia temukan, tapi matanya justru mendapati Mario yang sedang berada di kasir. Sepertinya pria tersebut sedang mengurus administrasi Damian.


Sejak tadi pagi, Mario tidak memunculkan wajahnya di hadapannya maupun Damian. Padahal Damian sedang menunggu ponsel barunya di tangan pria itu.


Angel lalu berjalan santai kearahnya sambil tersenyum miring.


"Disini kau rupanya. Aku sedari tadi mencarimu."


Seperti mengenal suara itu, Mario pun memutar perlahan kepalanya. Dilihatlah bahwa terdapat seorang wanita yang sedang menatapnya tajam. Mario meneguk salivanya susah, dia tahu bahwa wanita itu sedang marah karena merasa di bohongi olehnya.


"Nona, aku tidak bermaksud..."


"Lupakan soal itu. Aku menemuimu karena ingin mengambil ponsel baru Damian. Sedari tadi tuanmu itu bertanya mengenai ponselnya yang tidak datang-datang."


Mario membungkukkan badannya karena merasa bersalah.


"Maafkan aku, Nona. Aku sudah membeli ponselnya sedari tadi, tapi... aku tidak berani mengantarkannya."


Alis Angel menaik sebelah, "Kenapa?"


"Karena aku takut bertemu denganmu," cicit Mario.


Sontak saja Angel tertawa, lalu melipat kedua lengannya di dada. "Kau pikir aku sebegitu menakutkan, heh? Sebenarnya tadi pagi aku memiliki keinginan untuk memberimu pelajaran, namun mengingat bahwa niatmu tidaklah buruk, aku pun melupakannya dan tidak ingin mempersalahkan itu lagi."


"Terima kasih, Nona. Dan sekali lagi maafkan aku." Mario kembali membungkukkan badannya.


Angel mengibaskan tangannya seolah tidak perduli lagi tentang tadi pagi. Wanita itu lalu menyodorkan sebelah tangannya kepada Mario.


"Dimana ponsel Damian? Berikan kepadaku, biar aku saja yang memberikannya kepada tuanmu."


Tanpa membantah, Mario segera memberikan paper bag yang sedari tadi di bawanya kepada Angel.


"Damian bilang, dia bisa pulang hari ini. Benarkah itu?" tanya Angel yang belum kunjung pergi.


"Iya, Nona. Tuan bisa pulang setelah aku mengurus admistrasinya."


Angel mengangguk-anggukan kepalanya. Matanya lalu tak sengaja melihat adiknya yang sedang duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk. Melihat keberadaan adiknya itu, Angel pun segera pamit kepada Mario lalu menghampiri Hazel.


"Apa yang kau lakukan disini? Mengapa tidak ikut masuk bersama Ibu untuk menemui Damian?" Angel bertanya sambil mendaratkan bokongnya di samping adiknya tersebut.


Bukannya menjawab, Hazel justru semakin menundukkan kepalanya.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu masalah?" Angel menyentuh bahu pria itu dengan wajahnya yang terlihat cemas.


Hazel menggeleng, "Aku baru saja mendapatkan telpon, dan itu dari Jessica. Ternyata dia menelponku untuk mengundangku ke acara pernikahannya."


Angel jadi terkejut dan tak bisa berkata-kata. Dirinya bisa merasakan sakit yang adiknya alami. Di tinggal seseorang yang kita cintai, lalu mendapatkan kabar tentang pernikahannya, bagaimanakah rasanya?


Karena tidak bisa untuk memberikan petuah kepada Hazel, Angel pun menarik adiknya dan memeluknya. Tak berselang lama, Angel dapat merasakan bahwa bajunya basah. Dia tahu bahwa adiknya menangis, namun Hazel berusaha untuk menahan dan menyembunyikan suaranya.