The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Angel Vs Veronica



Setelah berbicara dengan James, Vika merasa sedikit lebih tenang. Lalu dia memilih untuk kembali ke apartementnya saja.


Namun matanya tak sengaja menangkap Calvin yang sedang berdiri di depan pintu apartementnya. Seperti tengah menunggu dirinya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Vika setelah berdiri di belakangnya.


Sontak saja Calvin langsung berbalik dan menatap malas wanita itu. Dan tanpa mengatakan apapun, Calvin menyodorkan sebuah tas yang merupakan milik Vika.


Vika menatap Calvin sejenak, kemudian segera mengambil tasnya tersebut.


"Terima kasih."


Calvin hanya berdehem. Pria itu lalu berjalan melewati Vika untuk menuju lift di belakang wanita itu. Sebenarnya Calvin malas untuk kemari, jika saja Dave tidak memaksanya untuk mengembalikan tas milik Vika yang tertinggal di markas.


Vika menatap tasnya sambil tersenyum sendu. Pria itu bahkan tidak mau hanya untuk sekedar menatapnya.


...* * * ...


Angel terus berlari mengejar Veronica, bahkan sudah hampir dua jam lamanya dia mengejar wanita tersebut.


Dan dilihatnya Veronica memasuki sebuah gudang yang sudah tidak terpakai lagi. Dan Angel pun mengikutinya kemudian masuk kesana.


Setibanya di dalam, Angel dapat melihat begitu banyak barang, namun berantakan. Dan di tempat tersebut hanya ada satu lampu yang temaram menerangi sekitarnya.


Angel lalu melangkah pelan untuk mencari keberadaan Veronica disana. Namun tiba-tiba, sebuah pisau melayang kearahnya. Tapi untung saja Angel segera menghindar.


"Veronica, jangan bermain-main denganku!" teriak Angel sambil melihat sekelilingnya.


Dan tak lama, Angel dapat merasakan bahwa ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Segera Angel berbalik. Dan dilihatnya jika itu adalah Veronica yang sedang menyeringai sambil memegang sebuah pisau di tangannya.


"Aku sudah lama menantikan ini, Angel."


Angel membalas tatapan wanita itu dengan datar. Kemudian matanya beralih pada sebuah pisau yang di pegang oleh wanita di hadapannya ini.


"Sudah siapkah kau untuk menjemput teman baikmu itu?" tambah Veronica sambil tertawa jahat.


Veronica mengacungkan pisaunya pada Angel, lalu berjalan mendekati wanita tersebut. Angel hanya diam di tempatnya, karena dia ingin melihat apa yang akan Veronica lakukan.


Tiba-tiba Veronica hendak menghunuskan pisaunya pada Angel, tapi Angel segera menghindar kemudian mendorong wanita itu hingga terjatuh. Setelah itu Angel berlari kearah barang-barang yang terdapat di belakangnya untuk bersembunyi.


Bukan Angel takut, tapi Angel ingin permainan ini agak lama. Sebelum dia benar-benar akan menghabisi Veronica malam ini.


"Kenapa kau lari? Kau takut?" Veronica tertawa dengan kencangnya. Dan sekarang Angel percaya bahwa saudarinya tersebut benar-benar gila.


Veronica segera mencari keberadaan Angel di balik barang-barang itu. Namun karena Angel yang cerdik, dia sudah lebih dulu pergi diam-diam.


Angel memperkirakan jika tempat ini sangat jauh dari pemukiman warga. Bahkan di sisi gudang itu, semuanya hanyalah hutan. Sambil mengawasi pergerakan Veronica, Angel lalu menghubungi polisi untuk memberitahukan keberadaan Veronica saat ini.


Namun Angel menelpon polisi menggunakan nomor yang selama ini jarang dia pakai di ponselnya. Setelah menelpon, Angel segera muncul di belakang Veronica dengan hati-hati kemudian memukul punggungnya yang membuat si empu itu terjatuh lagi.


Veronica sempat mengumpat. Lalu wanita itu segera bangun dan kembali menyerang Angel menggunakan pisaunya. Tapi lagi-lagi Angel dapat menghindarinya.


Angel yang sudah muak dengan Veronica, segera memelintir tangannya dan mengambil alih pisau tersebut. Angel bisa saja membunuh Veronica dengan pisau ditangannya saat ini. Namun Angel memilih menghabisinya dengan cara yang sedikit sadis.


Veronica menjerit kesakitan lalu Angel mendorong tubuhnya hingga tersungkur jatuh.


"Masih ingin melawanku heh?" tanya Angel dingin.


Veronica tidak membalas ucapannya. Wanita itu justru menatap Angel benci.


"Kau benar-benar membuatku muak, Veronica," sambung Angel dengan tatapan tajamnya.


Tanpa memperdulikan kata-kata dari Angel, Veronica segera bangkit kembali lalu hendak menggapai pisau di tangan Angel. Namun belum sampai dia menyentuhnya, Angel sudah lebih dulu menendang perutnya hingga tersungkur kembali.


Angel kemudian berjongkok dihadapan Veronica lalu menampar wajahnya dengan sangat kuat yang menyebabkan bibir wanita itu terluka. Veronica merintih kesakitan, namun Angel tidak memperdulikan itu.


"Ini belum seberapa atas apa yang kau lakukan padaku."


Plakk~


Kembali Angel menampar Veronica di pipi yang sebelahnya.


"Kau pikir, hanya kau yang bisa menyakiti orang? Aku juga bisa, bahkan membunuh pun, itu sudah menjadi hobiku." Angel menarik rambut Veronica hingga membuat wanita tersebut menjerit.


"Arrghh...Sialan kau, Angel."


Angel tersenyum miring, kemudian matanya menjelahi tempat tersebut untuk mencari sesuatu. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Angel langsung berdiri untuk mengambil benda yang tak jauh dari jangkauannya.


Bukan Angel namanya jika melepaskan tawanannya begitu saja. Wanita itu lalu melemparkan pisau yang di pegangnya. Dan lemparannya tepat mengenai sasaran, yaitu kaki Veronica.


"Aargghhh..." Veronica terduduk kembali sambil memegangi kakinya yang berdarah.


Kemudian dengan santainya Angel berjalan mendekati Veronica dengan tali tambang di tangannya.


"Kau pikir, kau bisa kabur heh?" Angel terkekeh sinis.


Dan tanpa memperdulikan luka di kaki Veronica, Angel lalu menarik tangan wanita itu dengan kasar. Kemudian dibawanya ke tengah-tengah gudang.


Setelahnya, Angel mengikat wanita gila tersebut dengan tali yang di ambilnya tadi. Veronica berteriak meminta tolong namun percuma karena gudang ini berada jauh dari pemukiman warga.


Angel mengambil sapu tangan di sakunya dan menyumpalkannya ke mulut Veronica agar diam.


"Kau ini berisik sekali."


"Sghwysjkwskklsjhjs." Veronica hanya bisa menyumpah serapahi Angel karena tangan dan kakinya sudah di ikat oleh wanita dihadapannya ini.


Angel kemudian mencengkram kasar dagu wanita tersebut.


"Tidak pernah ada korbanku yang kabur. Jadi bermimpilah jika kau bisa lari dariku."


Setelah mengatakan itu, Angel segera pergi dari sana. Dan Veronica, hanya bisa pasrah saat ini. Apalagi dia benar-benar lemah karena darahnya yang terus keluar.


'Dia memang bukan tandinganku. Dan dia benar-benar mengerikan.'


Selang setengah jam kemudian, Angel kembali lagi dengan membawa bahan bakar minyak ditangannya. Lalu Angel menyeringai pada Veronica layaknya psikopat. (Adek sama kakaknya sama aja😅)


'Apa yang ingin dia lakukan?' batin Veronica bertanya.


"Ada yang ingin kau sampaikan padaku sebelum hari terakhirmu?"


Mata Veronica langsung terbelalak. Kemudian dia memberontak sembari mengatakan sesuatu.


"shsyhsjsujwjskjwekkejsks."


"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti!" ujar Angel pura-pura polos. Kemudian wanita itu terkekeh lalu melepaskan sapu tangannya di mulut Veronica.


"Kau gila? Kau ingin membunuhku?" teriak Veronica emosi.


"Memang," jawab Angel santai.


"Aku membencimu Angel."


Mendengar itu, membuat Angel mencengkram dagu Veronica dengan kasar seperti tadi.


"Aku lebih membencimu. Kau tahu itu? Jika saja kau tidak menyakiti bahkan membunuh Susanku, mungkin kau tidak akan berurusan denganku."


Angel yang sudah terbawa emosi, segera menutup mulut Veronica kembali.


"Kau membuang-buang waktuku."


Wanita itu lalu menumpahkan minyak tadi mengelilingi tempat Veronica terduduk sekarang, hingga mencapai pintu gudang.


Setelah itu Angel mengeluarkan lilin dan korek api yang baru saja dibelinya. Lalu dinyalakannya lilin tersebut dan diletakkan dibalik pintu.


Kemudian dia mendekati Veronica yang mencoba melepaskan diri dan berteriak dengan suara tertahan.


Angel berjongkok didepannya sambil mengelus rambutnya lembut.


"Semoga kau tenang disana. Dan semoga kau bisa bertemu dengan ayah. Dan kuharap juga ayah tidak membencimu saat bertemu dengannya nanti."


Setelahnya, Angel segera berdiri ketika mendengar suara mobil polisi yang mendekat. Kemudian dia langsung berlari menuju jendela yang lumayan tinggi di gudang tersebut.


Namun sebelum pergi, Angel melihat Veronica untuk terakhir kalinya. Dia tersenyum nanar, lalu dengan gerakan cepat Angel melompat dan pergi dari tempat itu.


Sementara ditempat polisi berada sekarang, mereka segera mengelilingi gudang yang terdapat Veronica di dalamnya. Mereka tidak mau jika Veronica sampai lolos lagi.


Veronica yang berada di dalam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha untuk teriak. Namun suaranya tertahan. Belum lagi luka di kakinya semakin membesar.


'Ibu....' Entah mengapa Veronica justru teringat pada ibunya saat di detik-detik terakhirnya.


Polisi yang tidak mengetahui apapun yang ada di dalam segera membuka pintu tersebut. Dan lilin yang menyala di balik pintu, langsung terjatuh lalu menyambar minyak yang ditumpahkan oleh Angel tadi. Dan kini api itu sudah mengelilingi Veronica.


Dan tidak membutuhkan waktu lama, Veronica sudah tewas terbakar. Polisi yang melihat kejadian ini sungguh merasa menyesal dan tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang di tempat tersebut tidak terdapat air atau benda yang bisa di gunakan untuk memadamkam api.