The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Fakta Mengejutkan



Di dalam perjalanan pulang, Angel terus menatap suaminya yang sedang fokus menyetir. Dari raut wajah Damian, dia tahu bahwa pria itu tengah marah padanya. Angel lalu menggapai tangan suaminya yang bebas, namun tak ada reaksi apapun dari Damian.


Biasanya, Damian akan sangat senang jika dia menyentuhnya lebih dulu. Helaan nafas pun keluar dari bibir Angel.


"Aku minta maaf karena telah mengabaikanmu."


"Kau sudah sering melakukannya, jadi aku tidak akan heran lagi."


"Damian..." Angel memasang wajah cemberut. Tiba-tiba ponselnya berdering di tengah pembicaraan mereka. Angel kemudian segera mengambil benda pipih itu di dalam tasnya.


Angel melihat siapa nama pengirimnya. Sedetik kemudian dia tertawa setelah melihat isi pesan tersebut. Damian yang salah paham, jadi merasa kesal. Dia pun mencengkeram kuat stirnya.


"Apakah itu pesan dari Clayton? Sehingga membuatmu begitu senang setelah mendapat pesan darinya."


Angel menggeleng, "Bukan. Ini pesan dari Vika. Dia mengirim sebuah foto kepadaku, yang memperlihatkan perutnya yang mulai membesar."


Damian berOh singkat. Perlahan, genggaman di stirnya mengendor.


"Hazel..." Angel tersenyum. Baru saja adiknya itu mengirimkan sebuah foto tentang kebersamaannya dengan istri dan juga Ibunya saat tengah wisuda.


"Damian, lihat!" Angel menunjukkannya kepada Damian. Pria itupun ikut tersenyum.


Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Baru saja rasanya kemarin Damian menghadiri pernikahan adik iparnya tersebut. Dan sekarang pria itu telah menyambet gelar sarjana.


Angel menggeser layarnya untuk melihat semua foto yang Hazel kirim kepadanya. Tahu-tahu sebuah pesan kembali masuk, dan ternyata itu dari Vika lagi.


^^^Jenis kelamin anakku perempuan. Lalu, bagaimana denganmu? 12.37 PM✔^^^


^^^From: Vika^^^


Spontan Angel tersenyum antusias. Dengan cepat dia membalas pesan tersebut.


Kau tahu 'bukan bahwa anakku kembar. Satu lelaki, dan satunya perempuan. Bagaimana jika kita menjodohkan anak kita? 12.38 PM✔


From: Angel


^^^Ide yang sangat bagus. 12.39 PM✔^^^


^^^From: Vika^^^


Angel tidak membalas pesan itu lagi. Dirinya kini mengusap perutnya sambil tersenyum simpul. Setelah itu, dia menatap suaminya yang masih fokus menyetir.


"Damian?"


"Hmm.."


"Aku... Ingin menjodohkan anak kita dengan anak Vika."


Cittt...


Suara decitan ban mobil dengan aspal terdengar di telinga mereka. Damian mengerem secara mendadak, karena dirinya terkejut dengan penuturan istrinya.


"Sayang, anak kita belum lahir. Tapi kau sudah memiliki keinginan untuk menjodohkannya." Damian menatap istrinya tidak percaya.


"Memangnya apa yang salah? Bukankah itu baik? Dengan cara seperti itu, hubungan kita dengan James dan Vika akan semakin dekat."


Damian mengusap wajahnya kasar. Dirinya tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala istrinya. Anak mereka belum lahir, tapi istrinya sudah memiliki niatan untuk menjodohkan anak mereka dengan anak temannya.


Tidak ingin terlalu mempermasalahkannya, Damian kembali menjalankan mobilnya. Dia tidak ingin berdebat atau bertengkar dengan istrinya. Apalagi semenjak Angel hamil, kesensitifannya semakin meningkat. Dirinya takut jika Angel akan marah atau sedih dengan perkataannya nanti. Oleh sebab itu, Damian membiarkan istrinya tersebut berceloteh sesukanya.


...* * * ...


Sehabis kembali dari wisuda suaminya, Jessica langsung pamit untuk beristirahat. Tubuhnya terasa sangat letih saat ini.


Sebelum merebahkan tubuhnya ke kasur, Jessica pergi ke kamar mandi sejenak untuk sekedar membersihkan wajahnya dari riasan. Tiba-tiba dia merasakan sakit pada kepalanya, sehingga membuatnya harus berpegangan pada pintu kamar mandi agar tidak terjatuh.


Pusing itu selalu datang kepadanya, namun tak lama menghilang. Jessica yang tidak mau terlalu memikirkannya, segera melanjutkan langkahnya saat pusingnya telah berkurang.


Jessica mencuci wajahnya seperti biasa. Kemudian dia mengambil handuk kecilnya untuk menyeka wajahnya. Awalnya tidak terjadi apa-apa, namun saat dia melihat noda merah di handuk putihnya, membuat Jessica langsung terkejut.


Dia pun menatap wajahnya di kaca. Ternyata, noda merah itu berasal dari hidungnya.


"Darah..." gumam Jessica sambil menyentuh cairan merah tersebut.


...* * * ...


Jessica berjalan dengan pandangan kosong. Baru saja dirinya dari rumah sakit untuk memeriksakan pusing yang selalu menderanya. Setelah hasil lab keluar, Jessica sadar bahwa pusing yang selalu di sepelekan olehnya, ternyata cukup serius.


Selama ini, dirinya menganggap hal tersebut adalah suatu yang wajar pada wanita hamil, tapi nyatanya itu salah. Dia selalu mengabaikan rasa sakitnya, sehingga mendapatkan suatu hal buruk menimpanya.


Air matanya mengalir dengan derasnya, "Apa yang harus kukatakan kepada Hazel dan juga Ibu?"


Tidak ada satu orangpun yang ingin memiliki sebuah penyakit seperti dirinya. Jessica lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan, kemudian terisak dalam diam.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampirinya.


"Kau darimana saja? Aku mencarimu sejak tadi."


Jessica mengenali suara itu, yaitu suara suaminya. Secepat kilat wanita tersebut menghapus jejak air matanya. Tatapannya kemudian di edarkan ke sekelilingnya, ternyata dia sudah berada di halaman rumah. Tanpa dia sadari, kakinya membawanya berjalan pulang.


Melihat sang istri yang baru menangis, membuat Hazel menjadi bingung.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kau menangis? Apakah terjadi sesuatu?"


Jessica menggeleng pelan, "Aku.. Aku hanya letih, Hazel."


"Tapi mengapa sampai menangis seperti itu?" tanya Hazel sambil mengusap sisa air mata Jessica di pipinya.


"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku menangis. Mungkin karena dia." Jessica menunduk dan mengusap perutnya.


'Maafkan Mama, Sayang. Karena telah membawamu kedalam kebohongan yang Mama buat,' tambahnya dalam batin.


Wanita itu lalu mengulas senyumnya, kemudian melingkarkan tangannya ke lengan sang suami.


"Hazel, kita belum menyiapkan nama yang bagus untuk anak kita."


"Kau benar." Hazel lalu menaruh telunjuknya di dagu, sembari berpikir keras.


Jessica tersenyum kecut. Dirinya sengaja mengubah topik pembicaraan agar suaminya tidak curiga. Sepertinya, Jessica memilih untuk menutup rapat-rapat tentang penyakitnya. Dia tidak ingin Hazel bersedih, dan berujung dengan memikirkannya terus-menerus.


"Bagaimana dengan Michell?" usul Hazel.


"Nama yang bagus."


"Emm, tidak. Bagaimana dengan Jason, atau Ethan atau..." Kembali Hazel berpikir.


Jessica tersenyum, namun tak bisa untuk mencegah air matanya yang turun begitu saja. Hazel yang menyadarinya, langsung menangkup wajah istrinya.


"Ada apa? Apakah ada yang sakit?" tanya Hazel khawatir.


Jessica menggeleng, "Sudah kubilang, bukan. Bahwa aku tidak tahu mengapa air mataku mengalir begitu saja."


Seketika Hazel menghela nafasnya. Dia lalu menunduk untuk berhadapan dengan perut istrinya.


"Nak, berhentilah membuat ibumu bersedih. Buatlah ibumu ini selalu di liputi dengan kebahagian, oke?"


Jessica menggigit kuat bibirnya. Isakannya hampir saja lolos dari mulutnya. Hazel lalu menegakkan tubuhnya kembali, kemudian menyeka air matanya.


"Sebaiknya kita masuk kedalam. Udara di luar sudah mulai dingin," ajak Hazel, Jessica hanya mengangguk lalu mengikuti langkah suaminya.