The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Good Bye, Susan



Siang hari yang cerah, Angel habiskan untuk berkeliling di mansion yang sekarang dia tempati. Angel duduk di salah satu kursi taman yang terdapat disana. Dan matanya tidak lepas pada kolam ikan yang tepat berada di depannya.


Tiba-tiba suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya, sontak saja Angel melihat layar benda pipih tersebut yang berada dalam genggamannya.


Keningnya langsung mengkerut heran. Tumben sekali Susan menelponnya. Biasanya, dirinyalah yang akan menelpon lebih dulu. Karena penasaran, Angel pun segera menscroll tombol hijau.


Baru saja Angel hendak membuka suaranya, tapi seseorang disebrang sana sudah lebih dulu menyela dan itu membuat Angel langsung terdiam. Yang membuat Angel terdiam, bukan karena orang di balik layarnya sedang berbicara. Melainkan, bukan Susanlah yang saat ini berada di sebrang sana.


"Syukurlah. Akhirnya ada yang menjawab panggilan ini..."


Angel lalu menjauhkan ponselnya dari telinganya. Kemudian melihat nama dari layar pipih itu. Dan benar saja, jika ini merupakan nomor milik Susan.


'Tapi mengapa suaranya berbeda?' tambah Angel dalam hati.


"Kau siapa?" tanya Angel datar, yang kini telah kembali menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Saya Lusi, Nona. Saya dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan keadaan nona Susan. Tapi ketika saya menghubungi nomor ibu dan ayahnya, mereka tidak mengangkatnya. Jadi saya menelpon Anda," jelas wanita itu yang diketahui sebagai suster.


"Rumah sakit? Apa yang sebenarnya terjadi?" Mendadak Angel menjadi khawatir. Bahkan dirinya langsung berdiri dari tempatnya duduk saat mendengar bahwa Susan berada di rumah sakit.


Disana, suster tersebut menghela nafasnya pelan.


"Saya harap Anda dapat bersabar, Nona. Karena nona Susan sudah tiada akibat kehabisan darah."


Seketika Angel terdiam. Wanita itu merasa bahwa bumi seolah-oleh mendadak berputar. Dengan sekuat tenaga Angel menahan air matanya yang sedikit lagi akan menetes.


"Jangan bermain-main denganku!"


"Saya tidak bercanda, Nona. Jika Anda tidak percaya, silahkan datang ke City Hospital, New York."


"Jika kau berbohong, aku tidak akan segan-segan membunuhmu," ancam Angel, lalu dia segera menutup telponnya.


Angel menghapus air matanya yang entah sejak kapan menetes. Lalu dengan segera dia menghubungi pihak bandara untuk membeli tiket secara mendadak.


Setelah itu Angel berlari memasuki kamarnya dan mengambil sling bagnya yang terdapat kartu-kartu dan juga surat berharganya. Dia hanya membawa itu, masalah baju-bajunya perkara mudah baginya. Dia bisa membeli lagi nanti.


Kemudian Angel berlari lagi keluar. Namun ketika sampai di depan, dia dicegah oleh para pengawal Damian untuk keluar. Karena pikirannya saat ini sedang kalut, tanpa pikir panjang, Angel langsung saja memberantas mereka.


Setelah membuat mereka semua terkapar, Angel mengambil kunci mobil di saku celana milik salah satu pengawal tersebut.


Kini Angel benar-benar keluar dengan menggunakan salah satu mobil milik Damian. Tak henti-hentinya air matanya menetes, walaupun sudah dihapus olehnya.


"Kau hanya bercanda denganku 'kan, Susan? Aku tahu itu. Bahkan ketika aku ulang tahun, kau selalu mengerjaiku sampai membuatku panik." Angel bergumam sembari fokus mengendarai.


"Dan ini bukan hari ulang tahunku. Tapi mengapa kau malah mengerjaiku? Bahkan sampai membuatku sepanik ini," tambahnya dengan suara lirih.


Sesekali Angel membunyikan klakson mobil itu saat ada saja kendaraan yang menghalangi jalannya.


Setibanya di bandara, Angel segera memarkirkan mobilnya ke sembarang tempat dan bergegas masuk ke dalam untuk mengambil tiket. Setelah tiket berada ditangannya, sebuah suara petugas mengatakan pesawat yang akan berangkat ke New York akan segera jalan 15 menit lagi.


Dengan terburu-buru Angel mencari pesawat yang akan segera take-off. Jangan sampai dia salah masuk ke dalam pesawat. Setelah butuh waktu 10 menit mencari pesawatnya, akhirnya Angel menemukannya. Dan kini Angel tengah duduk sambil melihat awan di sampingnya.


Angel termenung dan menyakinkan pada dirinya bahwa Susan baik-baik saja.


"Yaa, semuanya akan baik-baik saja."


Di dalam perjalanan, Angel yang merasa pusing mencoba untuk tidur. Namun sayangnya, bayangan Susan selalu masuk dalam pikirannya. Akhirnya Angel tidak jadi untuk menidurkan dirinya, dan memilih untuk tetap terjaga.


Beberapa jam kemudian, Angel tiba di bandara New York dan segera mencari taksi yang berada disana. Dan syukurlah ternyata di bandara tersebut terdapat banyak taksi yang memang mangkal disana.


"City Hospital," ujar Angel cepat sebelum supir taksi tersebut bertanya.


Tak butuh waktu lama, Angel telah berada di City Hospital. Angel segera turun dari taksi itu setelah membayarnya. Angel berdiri sejenak dan terdiam sambil menatap rumah sakit di depannya ini.


Dengan langkah pelan, Angel memasuki rumah sakit itu. Lalu bertanya pada resepsionis. Adakah pasien yang bernama Susan Victoria. Dan resepsionis tersebut mengatakan ada dan saat ini berada diruangan FF.


Disana terdapat satu brankar yang sudah ditutupi dengan kain putih. Untuk sejenak Angel menatapnya, kemudian melangkah pelan mendekati brankar tersebut.


Dengan gerakan perlahan, Angel membuka penutup tersebut. Dan...Jduarr...


Bagaikan petir di sore hari. Angel langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Ti-tidak. Ini tidak mungkin Susan." Untuk sesaat Angel menatap wanita yang terbaring tersebut, hingga akhirnya pertahanannya runtuh juga.


"Susan, bangun dan buka matamu!! Katakan padaku kalau kau sedang bercanda. Cepat buka matamu!!" Angel berteriak histeris sambil menggoyangkan tubuh Susan, berharap wanita itu hanya bercanda dan terbangun setelah mendengar kedatangannya.


Dokter dan dua polisi yang diluar tadi segera masuk ketika mendengar suara teriakkan Angel.


Dokter tersebut mendekati Angel lalu menyentuh bahunya. Dan Angel yang merasakan ada seseorang yang menyentuhnya, segera berbalik kemudian mencengkram kerah kemeja dokter tersebut.


"Kau dokter, bukan? Cepat sembuhkan temanku," perintah Angel.


"Maaf, Nona. Saya hanya seorang dokter bukan Tuhan yang bisa menghidupkan seseorang kembali."


"Dokter macam apa kau, hah? Bukankah tugas seorang dokter menyelamatkan pasiennya?" teriak Angel pada sang dokter.


Dokter tersebut hanya menatap Angel iba, tanpa membalas perkataan dari wanita itu. Karena sang dokter tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang begitu dekat dengan kita.


Angel melepaskan cengkramannya pada dokter tadi dan kini beralih pada Susan.


"Kau menang. Kau berhasil membuatku panik dan menangis. Kumohon bangunlah sekarang, hanya kau yang aku punya."


Angel masih menganggap Susan mengerjainya dan tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya dari dokter disampingnya bahwa Susan telah tiada.


"Jika kau tiada, lalu siapa yang akan menompangku dikala aku rapuh. Dan siapa juga yang akan marah padaku, jika aku salah. Siapa yang akan menasehatiku saat aku berbuat salah. Siapa, Susan? Siapa?" lirih Angel dengan di barengi isakannya.


"Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi padamu hingga membuatmu menjadi seperti ini..hikss..." Angel memeluk tubuh Susan dan menjatuhkan kepalanya ke dada wanita itu.


Polisi yang sedari tadi diam dan memperhatikan Angel, segera mendekat kemudian menjelaskan kronologisnya.


"Nona Susan merupakan korban pembunuhan, Nona. Dia di bunuh oleh seorang wanita menggunakan pisau di gang yang tak jauh dari tempatnya bekerja. Saat nona Susan baru tiba di rumah sakit ini, jantungnya sudah tidak berdetak lagi. Dan dokter mengatakan bahwa nona Susan sudah tiada akibat kehabisan darah dan juga akibat terkena serangan jantung."


Seketika Angel termenung sembari mengangkat kepalanya sedikit untuk menatap wajah Susan.


"Siapa yang membunuhnya?" gumam Angel, namun masih dapat di dengar oleh polisi yang berdiri tak jauh darinya.


"Kami sudah menanganinya, Nona. Setelah mencari tahu informasi dari saksi yang melihat kejadian ini."


Angel langsung menegakkan tubuhnya sembari menghapus kasar air matanya. Kini wanita itu memasang wajah datarnya.


"Aku ingin bertemu wanita itu."


Kedua polisi tadi saling memandang satu sama lain, kemudian mengangguk secara bersama. Sebelum Angel keluar bersama kedua polisi itu, dia menatap Susan sejenak. Dan berangkatlah dia menemui pelaku yang sudah membunuh teman sekaligus keluarga yang dia punya.


Di dalam mobil polisi, Angel hanya diam dan memikirkan bagaimana kehidupannya tanpa Susan. Sosok yang paling berarti dihidupnya selama ini.


Tanpa Susan, mungkin dia tidak akan menjadi seperti sekarang ini.


Tanpa Susan, mungkin dahulu dia sudah mengakhiri hidupnya.


Tanpa Susan, dia akan menjadi Angel yang selalu berbuat salah.


Tanpa Susan........


Entahlah, Angel sulit untuk menjelaskannya.


'Siapa pun dirimu. Aku tidak perduli. Aku akan membalas apa yang telah kau lakukan pada temanku, keluarga yang kupunya dan seseorang yang paling berarti di hidupku,' batin Angel berjanji.