
"Damian.."
Refleks, Damian dan Angel segera menoleh dan mendapati seorang wanita tengah berdiri di samping mereka. Wanita itu mengenakan gaun merah menyala, sehingga lebih mencolok di bandingkan yang lain.
"Comment vas-tu chéri? (Apa kabar, Sayang?)" ujar wanita tersebut dengan senyumannya.
Namun Damian tidak menjawabnya, justru dia menarik tangan Angel agar menjauh dari wanita itu. Karena Damian tahu, Ana sangatlah berbahaya.
"Damian, qui est-il? (Damian, siapa dia?)" tanya Ana yang menghalangi jalannya.
Damian menggeram tidak suka, "Tu ferais mieux d'y aller maintenant!! (Lebih baik kau pergi sekarang!!)"
Ana tertawa. Lebih tepatnya tertawa sarkastik.
"Pourquoi devrais-je y aller? Oh ouais, est-elle l'une des femmes de votre collection? (Kenapa aku harus pergi? Oh iya, apakah dia salah satu wanita koleksimu?)"
Ingin sekali rasanya Damian menyingkirkan wanita di hadapannya ini. Tapi mengingat bahwa Mr. Franciosa begitu berjasa padanya, membuat Damian harus berpikir ulang.
"Va, Ana. (Pergilah, Ana.)" Damian memintanya dengan baik, tapi wanita itu malah mengabaikannya. Kini dia mendekatkan dirinya kepada Angel.
"Qui es-tu? (Siapa kau?)" tanya Ana pada Angel. Namun Angel tidak mengerti apa yang wanita di hadapannya ini katakan.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan!"
Ana tertawa paksa, namun sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi dingin.
"Siapa kau?"
"Kenapa kau ingin tahu tentangku?" tanya Angel balik.
Sebuah senyum miring muncul di bibir Ana, dengan tatapannya yang seolah merendahkan Angel.
"Tahukah kau siapa aku sebenarnya? Dan juga, siapa pria yang sedang bersamamu ini?"
Entah mengapa Damian merasa cemas. Takut-takut jika nantinya wanita tersebut memberitahukan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Angel. Damian lalu menarik tangan Angel kembali, namun sebelah tangan Angel justru di tahan oleh Ana.
"Aku belum menyelesaikan kata-kataku, Damian."
"Diamlah, Ana," desis Damian dengan tatapan tajamnya.
"Lepaskan tangannya sekarang!!"
"Tidak. Kenapa aku harus mendengarkanmu?" tantang Ana.
"Sebaiknya kau diam saja, Damian. Dan biarkan aku menyelesaikan ucapanku dengannya!"
"Siapa kau sebenarnya?" Kini Angel yang bertanya dengan raut wajah heran.
"Lihat!! Dia bahkan ingin tahu siapa aku." Ana menyeringai, "Aku Ana Franciosa, calon tunangan dari pria yang bersamamu ini."
Seketika Angel menatap Damian, seolah meminta penjelasan.
"Benarkah itu, Damian?"
"Dan kau percaya dengan apa yang dia katakan?" Ada sedikit kekecewaan dari nada bicara Damian.
"Woww, sepertinya kalian memiliki hubungan yang spesial!!" Ana bertepuk tangan kagum.
"Tapi kuingatkan lagi padamu, agar segera menjauhi tunanganku ini."
Angel tertawa, "Kau memintaku untuk menjauhinya, namun Damian sendiri tidak mengakuimu. Lalu, kenapa aku harus menuruti ucapanmu?"
Damian tersenyum, akhirnya Angel lebih percaya padanya daripada kata-kata wanita itu.
"Apa yang akan kau lakukan? Melenyapkanku?" Angel tersenyum sinis.
"Aku sudah sering mendengar ancaman yang seperti itu."
"Kau benar-benar.." Ana lalu mengangkat tangannya untuk menampar Angel. Namun sebelum tangan itu menyentuh wajah Angel, sudah ada sebuah tangan yang menahannya.
"Jangan coba-coba kau berani menyentuhnya, apalagi berusaha untuk menyakitinya!!" Damian kemudian menyingkirkan tangan Ana dari genggamannya. Dia pun memutuskan untuk pergi darisana bersama dengan Angel.
...* * * ...
Tak henti-hentinya Angel menatap Damian. Dan kini dirinya percaya dengan cinta Damian kepadanya, karena Angel dapat melihat dan merasakannya dengan tulus.
"Apa kau marah padaku?" tanya Angel, Damian pun segera menatap kearahnya.
"Karena apa? Aku tidak punya alasan untuk marah padamu." Damian tersenyum sambil mengusap pelan rambut Angel. Angel pun membalas senyuman itu.
"Oh iya, malam ini kita akan kembali ke Sisilia," tambah Damian.
"Haruskah malam ini?"
Damian mengangguk, "Jika kau merasa lelah, kau bisa beristirahat saat di pesawat nanti. Dan mengenai pakaian dan barang-barangmu, semuanya sudah berada di dalam pesawat."
"Maksudmu, saat ini kita akan langsung menuju ke bandara?" Damian kembali mengangguk iyakan ucapan dari wanita itu.
"Oh, baiklah." Angel mendesah lesu. Dirinya termenung sembari menatap jalanan kota yang padat di penuhi oleh kendaraan. Angel tidak habis pikir, mengapa setiap dia datang ke sebuah pesta, pasti pulangnya selalu membawa sebuah masalah.
'Kuharap kau mengerti kenapa aku membawamu pulang saat ini, My Angel. Karena kau tidak tahu seberapa berbahayanya wanita yang kau temui di pesta tadi. Mungkin dia tidak akan berani untuk menyakitiku, namun dia tidak akan segan-segan untuk menyakitimu.' Damian menghela nafasnya lelah. Dia lalu menyandarkan punggung pada kursi sambil memejamkan matanya.
...* * * ...
Seperti yang Damian katakan tadi, Angel bisa beristirahat saat tiba di pesawat. Namun sebelum itu, Angel pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian sekaligus membersihkan diri.
Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas nakas berdering, tapi Angel tidak mendengarnya dari kamar mandi. Namun, ada seseorang yang memasuki kamar itu kemudian mengambil ponselnya.
Dilihatnya tertera nama James disana. Orang itupun segera menscroll tombol hijau.
"Angel, darimana saja kau?" Terdengar nafas James yang tidak beraturan.
"Dengarkan aku!! Kau harus segera pergi dari tempat itu. Karena tempat yang kau tinggali, bukanlah tempat yang aman bagimu. Dan aku baru saja mendapatkan sebuah informasi, bahwa pria yang tinggal bersamamu itu, merupakan seorang mafia yang kita cari selama ini. Oleh sebab itu, kau-----"
Tutt...
Pria itu memutuskan panggilannya sebelum James menyelesaikan ucapannya. Dan lagi-lagi James menelpon ke ponsel Angel, namun panggilan itu langsung di tolak olehnya. Dia lalu menghapus dan memblokir nomor James, setelah itu dia meletakkan kembali ponsel Angel pada tempatnya tadi.
"Sepertinya aku harus menyingkirkan pria itu. Sebelum dia memberitahu semuanya kepada Angel." Damian memasang wajah dinginnya. Kemudian, dia segera keluar dari kamar tersebut untuk menyiapkan sebuah rencana bersama Mario.
Sementara di kamar mandi, Angel sedang menyeka wajahnya dengan handuk di depan kaca wastafel. Tiba-tiba dirinya bergeming karena mengingat sesuatu.
"Mr. Wilson... mengapa tidak asing bagiku?" gumamnya saat mengingat Mr. Robinson yang memanggil Damian seperti itu.
Namun semakin dia mencari nama itu di pikirannya, semakin membuatnya tidak dapat untuk mengingat.
"Mungkin aku pernah melihat atau mendengarnya sesekali."
Angel lalu memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Angel ingin menelpon ibunya. Dirinya terlihat bingung ketika melihat ponselnya mati.
"Setahuku, batrei di ponselku penuh." Angel pun berusaha menghidupkannya. Dan setelah menyala, Angel semakin di buat bingung saat melihat jika batreinya memang masih penuh.
"Lalu kenapa ponselku mati? Apakah ada seseorang yang memasuki kamarku ketika aku sedang berada di dalam kamar mandi?" Wanita itu kemudian mengecek beberapa data yang ada di ponselnya. Namun tak ada satupun yang hilang atau terhapus.
"Mungkin aku yang mematikannya tadi, tapi aku justru lupa." Berpikir positif adalah cara terbaik bagi Angel. Lagipula tidak ada satupun data-data yang berada di ponselnya hilang. Begitupun dengan barang-barangnya di kamar ini.