
1 jam kemudian...
Angel telah tiba dirumahnya. Dan ternyata sudah terdapat Mario yang menunggunya.
"Apa kau sudah menunggu lama?" tanya Angel sembari mendekati Mario.
Mario membungkukkan badannya sejenak, "Belum, Nona."
"Emm, Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan mengambil beberapa barangku di dalam." Angel lalu bergegas masuk kedalam. Dan hanya berselang sepuluh menit, wanita itu sudah kembali keluar.
Melihat kekasih dari tuannya sudah keluar, Mario dengan cepat membukakan pintu mobil untuk wanita tersebut. Sebelum memasuki mobil itu, Angel menyempatkan waktu untuk menatap sejenak pekarangan rumah yang telah membesarkannya dan memberinya jutaan kasih sayang.
Angel tersenyum simpul, hingga akhirnya wanita itu masuk ke dalam mobil tersebut.
"Bisakah kita mampir sebentar ke butik?" ujar Angel setelah mobil itu melesat di jalan.
"Untuk apa, Nona? Apakah Nona ingin membeli pakaian?" tanya Mario sambil melirik wanita itu dari balik kaca spion.
"Tidak, aku ingin berpamitan pada ibuku."
"Baiklah, Nona." Mario lalu sedikit menekan pedal gasnya agar cepat sampai di butik yang Angel maksud.
Dan hanya membutuhkan waktu 15 menit, mereka telah tiba di butik. Dan langsung saja Angel keluar dari mobil, kemudian masuk ke butik tersebut untuk mencari keberadaan ibunya.
"Ibu," panggilnya ketika melihat ibunya sedang berbicara dengan salah satu pelanggannya.
Sang ibu pun menoleh, kemudian tersenyum saat melihat kedatangan putrinya itu. Ibu Elizabeth lalu berpamitan pada pelanggannya, kemudian dia segera mendekati Angel.
"Ibu kira kau tidak akan mampir, Nak."
"Mana mungkin aku tidak akan mampir." Wanita itu lalu memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Aku pasti akan merindukanmu, Ibu."
"Begitupun dengan Ibumu ini. Apa kau akan berangkat sekarang?"
Angel mengangguk singkat, "Ibu jaga diri baik-baik ya disini. Jika terjadi sesuatu, tolong langsung kabari aku."
Ibu Elizabeth mengulas senyumnya sambil mengangguk pelan. Diantara ketiga anaknya, hanya Angellah yang paling menyayangi dan mengkhawatirkannya.
"Kau juga, Sayang."
Angel lalu melepaskan pelukan mereka. Wanita itu kemudian merogoh sesuatu dari dalam tasnya.
"Oh ya bu, tolong berikan kunci mobil ini kepada Hazel. Anggap saja ini sebagai ganti mobilnya yang hilang dulu karena Veronica," ujarnya sambil memberikan kunci mobilnya pada ibu.
"Baiklah."
"Aku harus pergi sekarang. Sampaikan salamku pada Hazel."
Ibunya mengangguk. Dan Angel pun tersenyum, kemudian mencium kedua pipi ibunya itu.
"Aku menyayangimu," lirih Angel.
"Aku lebih menyayangimu, Nak," balas Ibu Elizabeth sambil mengelus sayang kepala Angel.
Angel masih tersenyum, sebelum akhirnya dia berlalu dari sana. Dan ibunya hanya bisa melihat kepergiannya dengan tatapan sendu dari balik kaca yang transparan.
...* * *...
"Mengapa lama sekali?" dengus Damian sambil menatap Mario tajam.
'Kenapa jadi aku yang disalahkan?' Mario meringis.
"Sudahlah, yang penting aku disini sekarang," sahut Angel lalu masuk kedalam pesawat mendahului Damian.
Damian melirik sebentar pada Mario, lalu segera pergi menyusul Angel. Mario hanya bisa mengelus dadanya, kemudian segera menyusul tuannya itu.
Damian duduk dihadapan Angel. Tak lama, seorang pramugari datang dan memasangkan seatbelt padanya. Namun mata Damian hanya terfokus pada Angel. Sedangkan wanita yang di tatapnya, malah melirik pramugari yang berada di samping Damian. Sepertinya pramugari tersebut ingin menarik perhatian dari Damian.
Setelah selesai dengan Damian, pramugari tadi berpindah pada Angel. Sama halnya dengan Damian tadi, pramugari itu membantu Angel memasang seatbeltnya. Namun kali ini, pramugari itu memasang ekspresi yang tidak suka terhadap Angel. Beda sekali saat dia melakukannya kepada Damian.
Angel tersenyum miring, lalu di dekatkannya bibirnya ke telinga pramugari tersebut.
"Jika ada orang yang jatuh dari pesawat ini, apakah dia akan mati?"
Pramugari itu mendelikkan matanya kepada Angel. "Mana aku tahu."
"Bagaimana kalau kita coba?"
"Terserah Anda, Nona," timpal pramugari itu malas.
"Okey. Dan aku ingin kau menjadi percobaannya." Pramugari tadi terkejut dan langsung menjauh dari Angel.
"Apa maksudmu?" teriak pramugari itu dengan nafas yang memburu.
Damian yang tadinya sedang fokus pada Angel, segera mengalihkan pandangannya pada pramugari tersebut.
"Tuan, dia berniat ingin menjadikanku bahan percobaan untuk mengetes apakah jika ada orang yang jatuh dari pesawat ini akan mati?" adunya pada Damian sambil menunjuk Angel.
Damian menatap Angel yang mengendikkan bahunya.
"Bagaimana bisa kau mempekerjakan orang seperti dia?" ujar Angel sambil melirik pramugari tadi yang kini sudah berdiri di samping Damian. Pramugari itupun langsung menatap Angel tajam.
"Lihat!! Bahkan dia menatapku dengan tatapan membunuh."
Damian lekas melihat pramugari itu, namun sang pramugari segera mengalihkan wajahnya kesamping.
"Mario," panggil Damian setengah berteriak.
"Ya, Tuan?" Mario melihat wajah-wajah orang disana. Apalagi Angel yang sepertinya sedang badmood. Dan perhatiannya beralih pada pramugari yang berada disampingnya kini.
Mario menghela nafasnya, 'Pasti nona Angel mencari perkara dengan pramugari ini.'
"Beri dia gajinya bulan ini," perintah Damian tanpa melepaskan pandangannya dari Angel.
"A-apa? Maksud Anda apa, Tuan?" Nafas pramugari itu tampak tercekat.
"Kau pasti tahu apa maksudku."
"Baik, Tuan. Dan kau, ikut denganku!!" seru Mario sambil menatap pramugari tersebut.
Pramugari itu menatap tajam Angel sejenak, sebelum akhirnya dia pergi menyusul Mario. Sebelum pesawat itu take-off, pramugari tadi akan diturunkan terlebih dahulu, karena dia sudah diberhentikan oleh Damian saat itu juga.
"Kau puas?" tanya Damian sambil menaikkan alisnya.
Angel hanya menatapnya sebentar, kemudian tatapannya beralih keluar. Dan tidak butuh waktu lama, pesawat pun take-off dan segera menjauh dari Kota New York.
Damian melepas seatbeltnya, lalu melangkah pelan untuk mendekati Angel. Pria itu kemudian mengambil posisi duduk di samping kekasihnya itu.
"Jika kau ingin tidur, tidurlah. Perjalanan kita masih lumayan lama."
Angel tersentak kaget dengan kehadiran Damian yang tiba-tiba sudah duduk disampingnya. Apalagi elusan yang Damian berikan di kepalanya, membuatnya tambah tersentak.
Untuk sesaat Angel menatap Damian dengan cukup lama, hingga akhirnya dia menyandarkan kepalanya di bahu pria tersebut.
Dan Damian tentu saja senang dengan perlakuan Angel kepadanya saat ini. Sesekali dia mengelus dan mencium kepala wanita yang dicintainya itu.
"Kau membutuhkan sesuatu?"
Angel menggeleng. Wanita itu tampak termenung dan masih memikirkan kata-kata yang Calvin ucapkan sebelum kepergiannya ini. Dia lalu berdehem pelan, kemudian mendongakkan kepalanya untuk menatap Damian.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," balas Damian sambil memainkan ujung rambut Angel.
"Mengapa kau memilihku? Diluar sana masih banyak wanita yang lebih cantik dan menarik dariku?"
Damian menghembuskan nafasnya kasar,
"Jika hati ini memilihmu, aku bisa apa?"
"Apakah...kau mencintaku?" tanya Angel ragu. Damian pun langsung mengangguk mantap.
"Kenapa kau bisa mencintaiku?"
Pria itu tersenyum, lalu menarik dagu Angel agar bisa menatap matanya dalam.
"Cinta itu tidak butuh alasan. Dia bisa datang tanpa di undang."
"Bagaimana jika cinta itu pergi?"
"Cukup mudah. Aku akan mengikatnya agar tidak pergi."
"Benarkah? Bagaimana jika aku yang pergi?"
Damian tertawa dan dengan gemasnya mengacak rambut Angel. Angel pun segera menegakkan tubuhnya kembali kemudian merapihkan rambutnya sambil menggerutu tidak jelas.
"Sama sepertimu. Aku akan mengikatmu agar kau tidak pergi dariku. Karena kau adalah cintaku," bisik Damian tepat ditelinga wanita itu. Dan entah mengapa Angel dapat merasakan bahwa ada yang berdesir di dadanya ini.
Wanita itu terdiam sembari menatap Damian lamat-lamat.
'Mengapa bisa dihari yang sama, Damian dan Calvin mengatakan cinta kepadaku?'
Damian lalu dengan jahilnya meniup wajah Angel.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku bisa lepas kendali nanti."
Seketika Angel tersadar dan segera mengalihkan pandangannya kesamping.
"Apa kau tahu? Aku mencintaimu sudah sangat lama. Namun aku berusaha mencarimu, tapi tidak ketemu," sambung Damian dengan kekehannya.
Sontak saja Angel langsung menatap Damian kembali dengan ekspresi bingung dan tanda tanya.