The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Sangat Mengkhawatirkanmu



Tibalah pada waktu petang. Namun Jessica belum juga di temukan. Akhirnya Ibu Elizabeth memutuskan untuk pulang, dan kembali mencarinya besok. Sebelum itu, dirinya akan menghubungi putranya, apakah dia sudah kembali atau belum.


Ibu Elizabeth mencari kontak Hazel di ponselnya sembari menyebrangi jalan. Mungkin karena terlalu fokus pada ponselnya, Ibu Elizabeth tidak menyadari sebuah mobil yang melaju kencang kearahnya.


Saat dia baru menyadari itu, sayangnya semua sudah terlambat. Karena jarak mobil tersebut tinggal beberapa meter lagi di sampingnya. Wanita itu memejamkan matanya dan menunggu apa yang terjadi. Tiba-tiba ada yang mendorong tubuhnya hingga terjatuh.


"Aww..." Terdengar pekikkan dari seorang wanita. Ibu Elizbeth pun segera membuka matanya dan melihat wanita yang telah menolongnya.


Seketika matanya membulat saat tahu bahwa itu adalah Jessica. Wanita itu sedang membersihkan telapak tangannya. Mendadak dia meringis saat tahu bahwa telapak tangannya terluka akibat goresan dari aspal.


Langsung saja Ibu Elizabeth mendekatinya kemudian menarik tangan Jessica untuk melihat luka itu. Jessica menggigit bibirnya, saat menyadari bahwa wanita yang di tolongnya adalah Ibu dari kekasihnya.


"Ayo, berdiri. Aku akan mengobati tanganmu." Perlahan Ibu Elizabeth membantunya berdiri, lalu dia mengajak Jessica ke sebuah minimarket.


Wanita tersebut memilih untuk menunggu di luar, sedangkan Ibu Elizabeth masuk ke dalam untuk membeli anti septik dan juga minuman. Tak henti-hentinya Ibu Elizabeth melirik Jessica dari kaca transparan, dirinya takut jika Jessica kembali pergi.


Tak berselang lama, dia keluar dari minimarket itu, namun tak mendapati sosok Jessica. Sontak saja dirinya mulai kembali khawatir, dia pun menatap ke sekitarnya untuk mencari keberadaan dari wanita itu.


Tatapannya lalu terhenti pada seorang wanita yang sedang duduk di kursi taman depan minimarket. Ibu Elizabeth bernafas lega, kemudian segera menghampiri wanita tersebut.


Dia langsung mengambil posisi di samping Jessica. Ibu Elizabeth lalu menarik tangannya yang tadi terluka. Dengan penuh kelembutan dan hati-hati, wanita paruh baya itu mengobati tangan Jessica dan tak lupa untuk memberinya sebuah pembalut agar terhindar dari debu dan bakteri.


Setelah selesai, Ibu Elizabeth mengambil minum yang tadi di belinya. Di bukanya tutup botol itu, setelahnya dia berikan kepada Jessica. Wanita itu menerimanya, kemudian meneguknya dikit.


"Terima kasih," gumam Jessica sambil menatap sepatunya.


Ibu Elizabeth menghembuskan nafasnya kasar, "Kenapa kau pergi? Kau membuatku dan Hazel sangat khawatir."


"Aku tidak punya pilihan. Bagiku, menjauh dari Hazel adalah jalan terbaik."


"Menurutmu seperti itu? Tidak pernahkah kau mengerti perasaan dari Hazel? Dia begitu mencemaskanmu. Dan asal kau tahu, sedari pagi dia mencarimu hingga detik ini. Kumohon, kembalilah bersamaku."


Jessica menggeleng. Dia kemudian memberanikan diri untuk menatap Ibu Elizabeth.


"Aku... Aku tidak mau menyusahkannya lagi."


"Kau salah, Jessica. Kepergianmu justru menambah kesusahannya. Dia bahkan bolos dari kuliahnya hanya untuk mencari dirimu. Apakah kau lupa bahwa sebentar lagi Hazel akan lulus? Dan di masa-masa sekarang tugasnya begitu banyak. Namun dia menyingkirkan itu semua dari pikirannya, hanya untuk mencari dirimu."


Ibu Elizabeth berkata benar. Tapi...


"Aku tahu kau pergi karena diriku. Karena sikapku yang acuh padamu. Maka mulai sekarang, aku berjanji tidak akan mengacuhkanmu apapun yang terjadi. Tapi kumohon, kembalilah bersamaku. Kasihan Hazel yang begitu mengkhawatirkanmu hingga lupa akan dirinya sendiri." Tangan Ibu Elizabeth sudah berada di atas tangan Jessica. Dirinya memohon agar wanita itu kembali, kasihan putranya yang begitu mencemaskannya.


"Tapi Ibu, aku ingin..." Dengan cepat Ibu Elizabeth meletakkan jarinya di bibir wanita itu agar berhenti bicara. Lalu tanpa persetujuan dari Jessica, Ibu Elizabeth menarik tangannya agar ikut bersamanya.


"Kau pergilah ke kamarmu dan membersihkan diri lebih dulu. Setelah itu kita makan bersama, oke?" ujar Ibu Elizabeth setelah mereka tiba di rumah.


Jessica hanya mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Namun saat kaki itu hendak menaiki anak tangga pertama, dari luar terdengar sebuah mobil yang membuat langkahnya langsung terhenti.


"Jessica..." teriak Hazel sambil memasuki rumahnya. Wajar saja jika pria itu tahu jika Jessica sudah kembali. Sebab, saat di dalam perjalanan tadi, Ibu Elizabeth mengirimnya sebuah pesan bahwa Jessica sudah bersamanya menuju pulang.


Jessica berjengkit kaget mendengar teriakkannya, begitupun dengan Ibu Elizabeth. Mereka dapat melihat kemarahan yang tidak pernah Hazel tunjukkan selama ini.


Dengan langkah lebar Hazel menghampiri wanita yang sudah membuatnya kacau setengah mati.


"Apa yang ada di pikiranmu?" bentaknya.


Jessica menelan ludahnya susah. Dirinya merasa takut dengan amarah dari Hazel. Dia pun hanya bisa diam tanpa berani untuk membalas atau menjawab ucapan dari pria tersebut.


"Jawab aku!!" Hazel kembali membentaknya. Tapi kali ini di ikuti dengan cengkeraman kasar di lengan wanita itu.


"Hikss..." Jessica terisak. Hazel membuatnya takut. Ibu Elizabeth yang menyaksikan itu sedari tadi, hanya bisa terdiam seribu bahasa. Karena untuk pertama kalinya, dia melihat Hazel semarah itu.


Hazel lalu melepaskan cengkeramannya. Pria tersebut mengusap wajahnya kasar sambil mengontrol emosinya. Melihat wanitanya yang menangis karena ulahnya, seketika membuat Hazel merasa bersalah. Kemudian di tariknya tubuh wanita itu kedalam dekapannya.


"Tahukah kau? Kau membuatku sangat khawatir. Aku sudah mencarimu kesana kemari, namun tak kunjung membuahkan hasil. Aku hampir gila, Jessica. Aku... Aku tidak bisa membayangkan jika kau benar-benar pergi dari hidupku," racau Hazel.


"Maafkan aku, Hazel." Jessica masih terisak di dalam pelukan kekasihnya.


Melihat sepasang kekasih itu yang sudah berdamai, membuat Ibu Elizabeth tersenyum. Dia kemudian menghapus air matanya, lalu menghampiri keduanya.


"Berarti kalian sudah berbaikkan, bukan?"


Hazel lalu melepaskan pelukannya untuk menatap ibunya. Dia tersenyum, kemudian memeluk wanita paruh baya tersebut.


"Terima kasih. Aku mencintaimu, Ibu."


"Ibu lebih mencintaimu, Nak." Setetes air mata Ibu Elizabeth mengalir, namun segera di hapus olehnya.


"Kalian membersihkan diri dulu. Setelah itu kita akan makan malam bersama," tambah Ibu Elizabeth setelah pelukan mereka terlepas.


Hazel dan Jessica hanya mengangguk patuh. Kedua sejoli itupun berlalu dari hadapan Ibu Elizabeth. Wanita tersebut tersenyum melihatnya. Pemandangan seperti inilah yang dirinya inginkan, tanpa adanya pertengkaran ataupun perselisihan.


Diliriknya jam yang bertengger di dinding. Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Akan tidak sempat jika dirinya harus memasak. Karena memasak pun membutuhkan waktu yang lumayan lama. Belum lagi dia harus membersihkan tubuhnya yang sejak tadi pagi belum tersiram air.


Karena sekarang semuanya sudah canggih, Ibu Elizabeth memutuskan untuk memesan makanan melalui online. Jadi, dirinya tidak perlu repot-repot untuk masak. Sembari menunggu datangnya makanannya, Ibu Elizabeth akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah itu dia akan makan malam bersama dengan anak dan juga calon menantunya.