The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Rencana James



Di dalam pesawat, Damian tampak terdiam sembari menikmati pemandangan awan yang menyelimuti pesawatnya tersebut.


Dirinya tak habis pikir dengan Angel. Bukankah harusnya Angel memberitahunya sebelum pergi? Namun itu tidak.


Damian menghembuskan nafasnya kasar. Tiba-tiba ponselnya berdering, dan dengan cepat Damian melihat siapa yang menelpon. Dia kira itu Angel, tapi ternyata bukan.


Ana, wanita asal Prancis yang selalu mengganggu dirinya. Jika saja wanita tersebut bukan merupakan anak dari rekan bisnis terdekat Damian, mungkin saat ini Damian sudah menyuruh anak buahnya untuk menghabisi wanita itu.


Panggilan pertama Damian masih mengabaikannya. Hingga panggilan ketiga, Damian tidak tahan lagi lalu segera menscroll tombol hijau.


"Apa mau-mu hah? Tidak bisakah jika kau tidak menggangguku?" bentak Damian yang sudau terlanjur kesal.


"Damian, mengapa kau berbicara seperti itu? Aku menelponmu karena sangat merindukan dirimu," sahut Ana dengan suara yang di buat-buat.


Damian berdecih, "Jangan pernah menggangguku lagi, Ana. Lebih baik kau fokus pada dirimu sendiri."


Selepas mengatakan itu, Damian langsung memutuskan panggilannya secara sepihak. Karena terlalu lama berbicara dengan Ana, bisa membuat dirinya menjadi emosi.


Namun wanita asal Prancis itu tidak mau menyerah juga. Dia masih saja berusaha menelpon hingga mengirim pesan pada Damian.


Akhirnya Damian memutuskan untuk mematikan ponselnya. Lagipula, wanita yang dia harapkan, tidak menghubunginya sama sekali.


Damian menatap sejenak ke arah ponselnya, kemudian kembali memasukkannya ke balik jasnya. Tak berselang lama, datanglah Mario dengan membawa berkas-berkas yang dia minta.


Damian menerima berkas-berkas itu, lalu meminta Mario untuk meninggalkannya sendiri. Sepeninggal Mario, datanglah pramugari yang mendekat ke arahnya. Namun baru saja pramugari itu ingin berbicara, Damian sudah lebih dulu menatapnya tajam. Dan itu membuat pramugari tadi langsung menciut lalu tidak jadi menghampiri Damian.


Mendengarkan pramugari itu bicara, sama saja membuang-buang waktunya saja. Karena Damian yakin, pramugari itu akan berbicara sesuatu yang tidak penting. Dan Damian membenci itu.


Dengan perlahan, Damian membuka berkas-berkas itu dan mulai membacanya. Hingga, tibalah dia di akhir berkas. Matanya langsung terfokus pada sebuah foto yang terselip disana. Dimana foto tersebut merupakan foto seorang pria yang bersama dengan Angel semalam.


Mengetahui itu, membuat Damian tersenyum miring. Rupanya, pria yang bersama dengan Angel adalah rekan sesama profesinya, James William.


"Sangat menarik. Dan kalian pikir bisa mengelabuhiku?" Damian tertawa sarkastik.


"Tidak semua itu untuk mengalahkan seorang Damian. Apalagi saat ini, salah satu dari kalian berada di dalam genggamanku."


Damian membuang nafasnya kasar, lalu dia melemparkan berkas-berkas itu secara asal ke meja depannya.


"Sepertinya aku memiliki saingan. Kita lihat saja nanti. Siapa yang bisa mendapatkan Angel? Kau...atau aku?"


Kedua tangan Damian terkepal, saat mengingat kejadian semalam. Dimana Angel menemui James tanpa izin lebih dulu darinya.


...* * * ...


Damian telah tiba di Singapura untuk bisnisnya. Dirinya akan berada seminggu disini, dan selama itu juga dia akan menahan diri untuk tidak menghubungi Angel.


Damian langsung menuju ke kantornya yang berada disana untuk memantau apa yang terjadi. Sedangkan Mario di perintahkan oleh Damian menuju ke apartement miliknya untuk membereskan barang-barangnya.


Karena kemarin Damian mendapatkan kabar jika salah satu perusahaannya yang berada disana mengalami kerugian karena adanya seorang pengkhianat. Dan Damian benci itu.


Tapi si pengkhianat itu sudah ditangani dan kini tinggal Damian memberinya hukuman.


Damian melangkah masuk ke kantornya, lalu segera menuju ke ruangan ceo yang bekerja padanya. Ketika Damian sudah tiba dan masuk keruangan itu, seketika ruangan tersebut menjadi sunyi. Apalagi aura yang Damian keluarkan cukup menyeramkan.


Kedatangan Damian membuat orang-orang yang berada di ruangan itu menjadi mati kutu. Termasuk pria yang telah berkhianat padanya.


Tatapan Damian begitu dingin dan menusuk. Jika saja tatapan itu bisa membunuh manusia, mungkin saat itu juga orang-orang yang berada di dalam ruangan itu mati seketika.


Kemudian tatapan Damian berpindah pada seorang pria yang terduduk dengan wajah babak belur karena habis dipukuli oleh orang yang bekerja dengannya. Pria itu lalu melangkah, namun bukan kepada pria yang sudah babak belur itu, melainkan kepada ceo di perusahaannya. Dan...


BUGHHH


Damian memukulnya hingga terjatuh. Setelah itu menarik kerah baju pria tersebut.


"Apa pekerjaanmu hah? Bagaimana bisa ada orang yang berkhianat pada perusahaanku?" teriaknya penuh emosi.


Semuanya diam dan tidak ada yang berani berbicara, apalagi sampai menatap Damian. Bahkan untuk bernafas pun, mereka takut jika menimbulkan suara.


Lalu Damian beralih pada pria yang berkhianat padanya. Damian mencengkram dagunya kuat dengan tatapan tajam bak elang.


"Hukuman apa yang pantas untukmu? Apa kau ingin memilihnya sendiri?"


Pria itu menggelengkan kepalanya sambil menangis ketakutan.


"Saya mohon, Tuan, ampuni saya."


"Brian, berapa tinggi gedung ini?"


Brian yang habis dipukul oleh Damian menjawab dengan takut.


"55 lantai, Tuan."


"Jika ada orang yang jatuh dari sini, apakah dia akan mati?"


Brian sudah berkeringat dingin dan berpikir jika Damian hendak menjatuhkannya dari lantai yang paling tinggi ini.


"Te-tentu saja, Tuan," cicit Brian dengan gemetar.


Damian menganguk-anggukan kepalanya, kemudian berbalik dan menghadap orang-orang bawahannya ini. Saat dia kembali menghadap mereka, Damian mengernyitkan dahinya bingung ketika melihat mereka semua berkeringat dan gemetar.


"Ada apa dengan kalian? Apakah AC diruangan ini kurang dingin?" tanya Damian dengan wajah bingungnya.


"Ti-tidak tuan," balas mereka takut.


Damian menghela nafasnya lalu menatap pria yang berkhianat padanya.


"Brian, kau urus dia. Aku sedang tidak ingin membunuh siapapun."


Semua yang disana menatap Damian terkejut. Biasanya Damian yang akan turun tangan langsung.


"Aku tidak ingin ini terulang kembali. Dan kau Brian, aku memberikanmu kesempatan kedua. Jangan sampai membuatku kecewa!" seru Damian, pria itu lalu berjalan keluar dari situ.


Kini tujuannya adalah apartementnya. Damian merasa bahwa dirinya lelah dan butuh istirahat untuk saat ini. Karena bukan hanya fisik yang lelah, hatinya pun saat ini juga ikut lelah.


Sementara beberapa pria yang berada dalam ruangan itu, dapat bernafas dengan lega. Kemudian mereka memikirkan apa yang akan mereka lakukan pada pria yang membuat mereka semua terkena masalah ini.


...* * * ...


Di sisi lain, Angel tampak begitu kesepian. Tidak ada lagi pria yang membuatnya marah dan juga kesal.


Angel benar-benar merasa kehilangan, karena dia memang tidak ada teman yang bisa diajaknya bicara disini. Semua orang menjaga batasan padanya termasuk Mia, sang kepala pelayan.


"Kau benar-benar kejam, Damian. Kau meninggalkanku sendirian disini," ujar Angel untuk kesekian kalinya.


Angel memutuskan untuk menghubungi Susan saja. Namun tidak diangkat karena ini masih waktunya Susan bekerja. Lalu Angel teringat akan James dan segera menghubungi pria itu.


"James..."


"Akhirnya kau ingat padaku.." James terkekeh, namun Angel tahu bahwa pria tersebut sedang kecewa padanya.


"Dimana kau sekarang?" tanya Angel tanpa memperdulikan tanggapan pria itu.


"Dimana lagi jika bukan di apartementmu?"


"Baiklah, aku akan segera kesana." Angel memutuskan panggilannya, kemudian langsung bersiap-siap untuk pergi.


Tak butuh waktu lama, Angel kini sudah di dalam perjalanan untuk menemui James. Dan sebelum pergi, sempat terjadi perdebatan dan keributan antara dirinya dengan para pengawal Damian.


Namun Angel dengan mudah mengatasi itu walaupun harus mengeluarkan sedikit tenaganya. Bahkan tanpa tahu dirinya, dia membawa salah satu mobil milik Damian bersamanya.


Tapi Angel tidak memperdulikan itu. Yang penting saat ini, Angel dapat keluar dari mansion yang membuatnya terkekang.


Angel membelokkan mobil itu ke arah apartementnya. Lalu dengan cepat dia turun dari mobil tersebut dan segera menuju ke ruangan yang terdapat James disana.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Angel yang tiba-tiba saja sudah masuk.


James yang saat itu hendak memasukkan cake ke mulutnya, jadi terhenti ketika mendengar suara tersebut.


"Cepat sekali. Aku pikir butuh waktu 5 jam lamanya hingga kau tiba disini."


Angel yang merasa sedang di sindir, langsung memasang wajah datarnya. Dan tanpa memperdulikan dari ucapan pria itu, Angel lebih terfokus pada sebuah laptop yang terbuka di depan James.


"Apa yang sedang kau cari?"


"Apalagi jika bukan tentang mafia itu," sahut James malas. Pria itu lalu kembali berkutat dengan laptopnya.


"Aku mendapat kabar, bahwa akan ada penyelundupan narkota secara besar-besaran ke Swiss dalam waktu dekat ini. Dan saat ini, aku sedang mencari tahu tentang keberadaan narkotika itu berasal. Dan aku yakin, bahwa mafia itu ada kaitannya dengan penyelundupan ini. "


Angel langsung menatap James kagum. Dia tidak menyangka bahwa James secerdik ini.