
Byurr...
Seember air di siramkan kewajah James. Seketika pria itu langsung tersadar dan lekas membuka matanya. Di hadapannya kini sudah berdiri seorang pria yang pernah bertemu dengannya sebelumnya.
"Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?" Pria di hadapannya itu menyeringai.
James menggeram, "Jika saja Angel tahu apa yang telah kau lakukan saat ini, mungkin dia tidak akan ingin lagi untuk menatap wajahmu!!"
Kedua tangan Damian terkepal. Dia lalu mencengkeram kerah baju James sambil menatapnya tajam.
"Dan kupastikan, bahwa Angel tidak akan tahu tentang ini."
"Benarkah? Apakah kau pikir bahwa dia akan diam saja setelah mendengar kabar hilangnya diriku?" James tersenyum sinis. Damian pun tidak dapat menahan kekesalannya lagi.
Bughh!!
Sebuah pukulan mendarat di wajah James. Jika saja dirinya tidak diikat di kursi, mungkin dia sudah membalas pukulan itu.
"Kau pecundang!!" cibir James sambil meludahkan darahnya yang masuk ke mulut akibat sudut bibirnya yang terluka.
"Sebelum kau mengataiku, akan lebih baik kau berkaca!!" tukas Damian dengan raut wajahnya yang datar.
"Sebaiknya aku pergi dari sini. Daripada aku hilang kendali lalu melenyapkanmu di tempat ini." Pria itu menepuk-nepuk bahu James pelan, kemudian dia melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut.
James hanya bisa memandangi punggung Damian dengan penuh kebencian. Dirinya bertekad untuk kabur dari sini, lalu mengungkapkan siapa penjahat di balik penculikan dirinya ini.
...* * * ...
Helaan nafas panjang, kembali keluar dari mulut Angel. Wanita itu kini berdiri termenung di balkon kamarnya. Dirinya ingin sekali mencari keberadaan James, namun dia sudah mengatakan hanya keluar sebentar kepada Damian. Sekarang, dirinya hanya bisa menunggu informasi dari Calvin dan Vika.
Tiba-tiba dari arah belakangnya, ada seseorang yang menyodorkan sebuah cokelat. Sontak saja Angel langsung menolehkan kepalanya, dan dilihatnya bahwa Damianlah pelakunya. Pria itu tersenyum simpul, kemudian mengkode Angel dengan matanya agar segera mengambil coklat yang di berinya.
"Terima kasih," gumam Angel, Damian mengangguk singkat.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya pria itu yang kini sudah mengambil posisi di samping Angel.
"Tidak ada."
"Benarkah?" Tatapan Damian begitu mengintimidasi. Dan itu membuat Angel menjadi jengah.
"Aku sedang tidak memikirkan apapun, Damian. Oh ya, mengapa kau pulang secepat ini? Biasanya kau akan pulang setidaknya sore." Angel mengubah topik pembicaraan mereka, batin Damian pun tersenyum miring.
"Aku hanya merindukanmu!!"
"Hanya itu?" Damian mengangguk. Kedua lawan jenis itu lalu terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka.
'Haruskah aku mengatakan perasaanku sekarang kepada Damian?' batin Angel bimbang. Wanita itu kemudian melirik Damian yang sepertinya tengah melamun. Jika bukan sekarang, maka kapan lagi?
"Emm, Damian??" Angel tidak ingin menundanya lagi. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya jika dirinya tidak mengatakannya sekarang.
"Ada apa?" jawab Damian dengan nada lembut.
"Aku ingin mengatakan sesuatu!!"
Angel menarik nafasnya pelan, "Aku... aku sepertinya sudah men---"
Suara dering ponsel mengalihkan perhatian mereka. Dan ternyata dering itu berasal dari ponsel milik Damian.
"Tunggu sebentar." Damian lalu berjalan menjauh dari Angel, kemudian menjawab panggilan tersebut.
Tubuh Damian membeku setelah mendengar suara orang di balik ponselnya itu. Dia lalu berpamitan kepada Angel untuk pergi. Bahkan, sebelum Angel sempat mengatakan sesuatu, Damian sudah berlari keluar dari kamarnya.
"Siapa yang menelponnya? Mengapa Damian tampak risau seperti itu?" Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Dan akhir-akhir ini, entah itu cuman perasaannya atau bukan, Angel dapat merasakan perubahan dari pria tersebut.
Sementara di lain tempat, James sedang berusaha mencari pertolongan. Namun tak ada satupun yang ingin menolongnya, mungkin karena dirinya merupakan orang asing disana.
Setelah tidak melihat anak buah Damian lagi yang mengejar dan mencarinya, akhirnya James dapat bernafas lega. Lalu, dengan jalan yang sedikit pincang, pria itu menelusuri jalan sambil melihat-lihat di sekitarnya. Mungkin saja ada seseorang yang dia kenal.
Tak terasa sudah 1 km dirinya berjalan, namun tak kunjung menemukan titik temu. James pun menyandarkan punggungnya pada dinding di sebuah supermarket, tiba-tiba lututnya melemah lalu merosot ke bawah, karena tak mampu lagi untuk menahan rasa sakit yang ada pada sekujur tubuhnya.
Dirinya menekuk lututnya, kemudian menenggelamkan wajahnya disana. James merasakan kelaparan dan juga kehausan, namun apalah dayanya yang tidak memiliki uang sama sekali. Ponsel dan dompetnya bahkan tidak ada lagi padanya, semuanya telah di ambil oleh anak buah dari Damian.
Banyak yang menatap dengan pandangan aneh dan juga heran. Bagaimana tidak? Kini wajahnya di penuhi dengan lebam, bahkan pakaiannya tampak kusut dan kotor. Mungkin orang-orang mengira bahwa dirinya adalah seorang gelandangan, namun James tidak memperdulikan itu.
Saat dirinya masih menenggelamkan wajahnya pada lipatan lutut, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menghampirinya.
"Paman," panggilnya dengan suara yang menggemaskan. James pun perlahan mengangkat wajahnya dan menatap anak itu.
"Ambillah!!" Anak kecil tersebut menyodorkan sebuah roti. James melirik roti itu sejenak, kemudian beralih menatap anak kecil itu lagi.
Dengan gerakan pelan James mengambil roti tersebut. "Terima kasih."
Anak kecil itu tersenyum. Kemudian dia mengambil sesuatu dari saku celananya, setelah itu dia kembali memberikannya kepada James.
"Untukku?" tanya James memastikan, dan anak kecil itu mengangguk polos. Mata James jadi berkaca-kaca, dia lalu mengambil uang yang di berikan oleh anak tersebut, walaupun uangnya tidak seberapa.
Setelah memastikan bahwa pria di hadapannya ini telah mengambil barang yang diberikannya, anak kecil itupun langsung pergi kearah wanita paruh baya yang memanggilnya.
James melihat kepergiannya, hingga anak kecil tersebut tidak nampak lagi. Dia lalu menyeka air matanya kasar, kemudian buru-buru memakan roti yang berada dalam genggamannya. James mengucapkan ribuan terima kasih untuk anak itu, dan semoga saja dirinya dapat bertemu kembali dengan bocah menggemaskan tersebut agar James dapat membalas kebaikkannya.
Karena memakannya dengan lahap, James pun tersedak hingga terbatuk-batuk. Dia pun segera berdiri lalu masuk ke dalam supermarket itu untuk sekedar membeli minuman.
Setelah merasakan lega pada tenggorokannya, James kemudian berjalan menuju ke kasir. Dia menyodorkan uang yang diberikan oleh anak kecil tadi. James mengira bahwa uangnya pas, namun saat dia hendak melangkah keluar, sang kasir itupun memanggilnya kemudian memberikan sebuah koin padanya.
James menatap koin itu heran. Apa yang akan dia dapatkan dengan koin yang ada di tangannya ini? Tiba-tiba saja matanya tak sengaja menangkap sebuah ponsel umum, seketika James langsung tersenyum senang. Dirinya lalu kembali menatap satu buah koin di tangannya.
'Sekarang aku menyadari bahwa nilai mata uang terkecil sekalipun, akan ada masanya sangatlah berharga dan di butuhkan."
Tak ingin membuang waktunya, James segera menuju ke ponsel umum itu. Setelah itu dirinya langsung menghubungi seseorang. Namun sedetik kemudian dia menjadi bingung, siapa yang akan dia hubungi?
Tiba-tiba nama Vika terlintas di kepalanya. Langsung saja James menghubungi wanita itu. Mungkin karena sering memberi kabar dan saling chatingan, James pun hafal akan nomor dari Vika.
Setelah panggilannya tersambung, James lekas mengatakan siapa dirinya dan meminta Vika untuk menjemputnya. Awalnya dia bingung dimana tempat yang dia pijaki sekarang, namun saat dirinya di landa kebingungan, pasti ada saja jalan keluarnya. Contohnya saat ini, matanya tak sengaja melihat sebuah papan yang berisikan nama tempat dan daerah disana.
Akhirnya, James dapat bernafas dengan lega. Dia lalu memilih untuk kembali ke supermarket dan menunggu disana. Karena saat ini supermarket itu sedang ramai, mungkin James bisa berlindung di tempat tersebut, jika saja anak buah Damian datang dan hendak menculiknya kembali.