
"Aku akan ke kamar mandi sebentar, sekalian membayar pesanan kita," ujar Damian, dan Angel pun hanya mengangguk singkat.
Selepas kepergian pria itu, tiba-tiba Angel di kejutkan dengan kedatangan Calvin. Bahkan tanpa permisi, Calvin mengambil tempat dimana Damian tadi duduk.
"Sepertinya kita memang berjodoh, Angel." Pria di hadapannya itu tertawa. Sedetik kemudian, wajah Calvin berubah menjadi serius.
'Aku merasa tidak nyaman sekarang.' Angel membatin sambil melirik kearah kamar mandi. Namun, Damian belum kunjung keluar.
Angel di buat tersentak, saat pria tersebut tiba-tiba menggenggam tangannya. Apalagi wajah Calvin begitu serius menatapnya.
"Bagaimana? Apakah kau ingin menjadi kekasihku?"
Mulutnya benar-benar membungkam sekarang. Bahkan, Angel meneguk salivanya gugup.
'Bagaimana sekarang? Mengapa pria ini selalu bertanya tentang hal itu?'
"Kau tahu 'bukan? Bahwa aku sudah menunggumu sangat lama. Dan bukan hanya itu, aku merelakan semuanya untukmu, walaupun diriku harus kehilangan nyawa saat tertembak di kala itu."
Angel menundukkan kepalanya dalam. Calvin benar, pria itu rela tertembak karena untuk melindungi dirinya. Tapi, hati Angel bukan terisi namanya, melainkan...
Bugh!
"Beraninya kau menyentuh tangan kekasihku, hah?" bentak Damian. Pria tersebut benar-benar emosi, saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi, matanya justru mendapati bahwa ada pria lain yang mengambil tempatnya tadi.
Angel hanya bisa diam dan terpaku. Karena jujur saja, dia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Sedangkan Calvin, dengan santainya dia mengusap sudut bibirnya yang berdarah, kemudian dia segera bangkit dari tersungkurnya.
Pria itu tersenyum sinis, lalu hendak melayangkan serangan balik. Namun sebelum tangannya menyentuh Damian, Angel sudah lebih dulu menahannya.
"Angel..." Calvin menatap Angel tidak percaya. Lalu, segera wanita tersebut melepaskan tangannya.
"Bisakah jika kalian tidak membuat keributan disini?" cecar Angel sambil menatap kedua pria itu bergantian.
"Dia yang memulainya," tunjuk Calvin pada Damian.
"Jika saja kau tidak berusaha untuk mendekati wanitaku, maka aku tidak akan memukulmu seperti tadi."
Dahi Calvin mengkerut, dia lalu menatap Angel seolah meminta penjelasan.
"Apa maksudnya, Angel? Mengapa dia tadi memanggilmu dengan sebutan wanitaku?"
Kali ini Damian menyeringai. Pria tersebut kemudian menarik pinggang Angel agar merapat dengan tubuhnya.
"Biar aku yang menjelaskan! Sebentar lagi kami akan bertunangan, dan kau jangan lupa untuk datang."
Kedua tangan Calvin mengepal.
"Apakah itu benar?"
"Tentu saja benar!"
"Aku tidak bertanya padamu," bentak Calvin. Damian pun mengendikkan bahunya acuh.
...* * * ...
Calvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan dia tidak perduli dengan klaksonan atau umpatan dari pengguna jalan atau pengemudi yang di layangkan kepada dirinya.
Saat ini, hatinya benar-benar terluka. Wanita yang dicintainya, ternyata akan bertunangan dengan seorang pria yang tak lain merupakan musuh mereka.
"Kenapa? Kenapa harus dia? Mengapa tidak aku saja?" Calvin terisak sambil memukul stir kemudinya.
Sakit tapi tak berdarah. Itulah yang pria tersebut rasakan. Selama dua tahun mengenal Angel, membuatnya menaruh hati pada wanita itu. Walaupun Angel sering bertindak kasar bahkan bersikap acuh padanya, namun hal itu tidak membuat cintanya menjadi luntur.
"Hikss... kenapa harus dia, Tuhan?" lirih Calvin dengan suara pilu. Dia lalu menyeka air matanya kasar, kemudian menambah kecepatan mobilnya.
Ketika dirinya berada di jalan empat arah, bukannya berhenti karena lampu merah, Calvin justru semakin melaju. Dan dari arah kanannya, terdapat sebuah mobil box besar yang sedang menuju kepadanya. Mobil tersebut sudah mengerem mendadak, namun mobilnya masih berjalan, karena pengemudi di dalamnya melajukannya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Alhasil, terjadilah tabrakan yang tak dapat terelakkan.
Mobil milik Calvin terseret beberapa meter, sebelum akhirnya mobil itu membentur trotar dengan cukup keras. Calvin yang masih berada di dalam mobilnya, hanya bisa pasrah. Namun dalam detik-detik sebelum dirinya menutup mata, Calvin tak henti-hentinya menyebut nama Angel.
...* * * ...
Angel meremas jarinya cemas. Bahkan sejak kepergian mereka dari restarurant tadi, wanita itu terus memikirkan Calvin. Apa yang pria tersebut lakukan sekarang?
Melihat wanitanya yang di landa kecemasan, Damian lalu mengulurkan tangannya kemudian menggenggan tangan wanita itu. Namun, dengan cepat Angel menepisnya dengan kasar.
Damian pun menghembuskan nafasnya pasrah. Sepertinya Angel sedang tidak mood untuk di ajak bicara. Oleh sebab itu, dirinya akan menunggu sampai wanita tersebut membuka suaranya lebih dulu.
Angel benar-benar merasa bersalah terhadap Calvin. Apalagi tatapan yang pria itu berikan kepadanya sebelum pergi, menambah rasa bersalahnya. Bukan hanya itu, Angel merutuki mulutnya yang mengatakan iya dengan mudahnya. Bukan! Itu bukan keinginannya, namun mulutnya tidak bisa dia kendalikan.
Tiba-tiba Angel terisak, sontak saja membuat Damian terkejut kemudian segera menepikan mobilnya.
"My Angel, ada apa?" tanya Damian cemas.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Apa kau sengaja ingin membuatku menjauh dari rekan-rekanku?"
"Dulu memang aku ingin membuatmu menjauh dari rekan-rekanmu karena aku takut kau mengetahui siapa diriku. Namun setelah semuanya terbongkar, untuk apa lagi aku memiliki niatan seperti itu?"
"Lalu mengapa kau tiba-tiba datang kesini dan langsung melamarku begitu saja? Apa alasanmu? Apakah kau ingin membuatku menderita? Jika iya, maka lakukanlah sekarang. Setelah itu, kumohon menjauh dari---" Sebelum Angel menyelesaikan ucapannya, Damian sudah lebih dulu membungkamnya dengan bibirnya. Namun hanya beberapa detik, setelah itu Damian melepaskannya, namun posisi wajah mereka masih terbilang sangat dekat.
"Bagaimana lagi caraku agar bisa membuatmu percaya dengan cinta tulusku ini? Haruskah aku memberikan jantungku agar kau percaya?" Ucapan Damian tersebut, semakin membuat Angel jadi terisak.
Damian lalu menyatukan kening mereka, "Kau ingat, saat untuk pertama kalinya kau datang ke mansionku? Waktu itu aku mengatakan kepadamu, bahwa aku akan memberimu waktu selama 365 hari agar kau mencintaiku. Dan jika selama itu kau belum mencintaiku, maka aku akan melepaskanmu. Namun, jika dalam kurun waktu yang kutentukan tersebut kau sudah mencintaiku, maka aku tidak akan melepaskanmu."
"Lalu, mengapa sekarang kau masih menjeratku?" bisik Angel.
"Karena kau sudah mencintaiku. Walaupun kau tidak mengatakannya, namun aku mengetahui itu dari mata dan sikapmu. Dan aku tahu, bahwa cinta itu masih ada. Meskipun, saat ini kau sedang kecewa dan marah padaku, tapi cintamu itu tidak sedikitpun luntur untuk diriku. Kau mungkin bisa menyangkalnya, namun aku tidak perduli. Yang aku tahu, kau mencintaiku, sama seperti diriku yang mencintaimu."
Menyerah sudah. Angel kemudian memeluk leher Damian dengan isakannya yang belum reda. Damian tersenyum, dia lalu menyeka air matanya yang turun begitu saja karena terharu. Dirinya benar-benar bahagia sekarang, bahwa kini cintanya sudah terbalaskan dan tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
"Aku mencintaimu, My Angel."
"Aku juga mencintaimu, Damian."