The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Jalan-Jalan Versi Damgel (2)



Setelah hampir memakan waktu dua jam menaiki jet, kini kedua lawan jenis itu sudah berada di dalam mobil. Namun sekarang Damianlah yang mengendarainya.


"Kau puas?" tanya pria itu. Tapi Angel menggelengkan kepalanya dengan wajah cemberut. Damian pun tertawa melihatnya.


"Mau kemana lagi, hmm?"


Angel tampak berpikir keras sambil menaruh telunjuknya di dagu. Dan itu membuat Damian gemas, hingga dengan cepat mencium pipi wanita tersebut. Mata Angel pun langsung melotot kearah pria yang dengan beraninya mencium pipinya.


"Apa?" tanya Damian tanpa rasa bersalah.


Ingin sekali Angel mengobrak-abrik wajah tak bersalah itu, namun di tahan olehnya. Angel lalu mendengus kesal, kemudian membuang wajahnya ke samping. Damian terkekeh kecil lalu ikut diam bersama wanita itu.


Beberapa saat kemudian...


Mereka tiba di sebuah gedung yang entah apa namanya, Angel tidak mengetahuinya.


"Damian, ini dim..." Ucapan Angel terjeda saat Damian menaruh jari telunjuknya di bibir wanita itu.


"Tidak usah banyak bertanya dan ikuti aku saja." Damian kemudian keluar lebih dulu setelah itu membukakan pintu untuk Angel keluar. Dan tanpa permisi, pria tersebut menarik tangan Angel agar mengikutinya.


Ketika sudah berada di dalam, Angel menganga lebar. Ternyata ini tempat memanah, menembak, dan sebagainya yang berkaitan dengan suatu kegiatan yang ekstrim.


"Mr. Damian, senang melihat kedatanganmu kemari." Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri mereka, yang sepertinya merupakan pemilik tempat itu. Damian hanya membalasnya dengan deheman singkat.


"Apa Anda membutuhkan sesuatu, Tuan?" tambahnya.


"Aku ingin menyewa tempat ini."


Pemilik itu langsung tersenyum senang. Karena jika Damian yang menyewa tempatnya ini, pasti Damian akan memberi harga yang fantastis.


"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkannya segera." Pria itu kemudian berlalu dari hadapan Damian dan Angel. Dan bisa dilihat dari tempat mereka berada, bahwa pria tadi sedang berbicara pada pegawai-pegawainya agar segera menyiapkan tempat untuk tamu istimewa.


"Apa perlu kau menyewa tempat ini?"


"Tentu saja. Aku ingin privasi, tanpa adanya pengganggu."


Angel menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Tak berselang lama, pria itu kembali dan mengatakan pada Damian jika tempat tersebut sudah dia kosongkan. Damian mengangguk singkat lalu menelpon Mario untuk mentransfer uang pada pria didepannya ini.


Setelah selesai dengan urusannya, Damian lalu kembali menarik tangan Angel ke salah satu tempat memanah.


"Kau bisa memanah, bukan?"


"Tentu saja." Untuk kali ini biarlah Angel menyombongkan dirinya di hadapan Damian. Dia lalu mengambil alat panah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sedangkan Damian melipat kedua lengannya di dada sambil memperhatikan cara wanita itu memanah.


Satu...


Dua...


Tiga...


SREETT


Busur itu tepat sasaran. Damian pun bertepuk tangan kagum untuk Angel, kemudian dia mengambil alih alat panah di tangan wanita tersebut. Dan sekarang gantian Damian yang akan memanah. Damian menarik busurnya dengan sangat panjang, lalu...


SREETT


Sama seperti Angel tadi, dirinya pun tepat sasaran. Bahkan busur Angel yang tertancap di bundaran kayu, kini telah tergantikan oleh busur milik Damian.


"Woww, aku tidak menyangka kau bisa memanah juga." Angel bertepuk tangan kagum.


"Aku bisa segalanya. Dan terima kasih Nona untuk pujiannya." Seperti biasa, Damian akan berbicara angkuh pada siapapun, termasuk dengan Angel.


"Benarkah kau bisa melakukan segalanya?"


"Tentu saja," sahut Damian sambil hendak memanah lagi.


"Bagaimana kalau mencuci pakaian?"


"Oh, maaf Nona, itu pekerjaan wanita." Angel berdecih dan memilih untuk meninggalkan pria sombong itu.


"Aku sudah lama tidak menembak." Angel kemudian mengambil sebuah pistol yang terletak di tempat khusus. Setelah itu dia berjalan menuju kearah apel-apel yang menggantung. Wanita itu benar-benar lihai dalam hal menembak, bahkan tak ada satupun yang tersisa dari apel tersebut. Sangat memuaskan!


Damian yang melihatnya dari kejauhan, hanya bisa tersenyum kecut. Dan Angel yang merasa sedang di perhatikan, langsung menoleh. Untuk sejenak mata mereka saling beradu, sebelum akhirnya Angel memutuskan kontak mata mereka.


"Luar biasa, Nona," puji Damian sembari tersenyum. Entah kapan pria itu melangkah hingga sudah berdiri di sampingnya.


"Sepertinya kau sangat ahli dengan hal seperti ini."


Angel terdiam dan memandang Damian tanpa ekspresi. 'Kau benar. Aku memang ahli dalam hal semacam ini.'


Tanpa menimpali ucapan pria itu, Angel lalu memilih untuk pergi saja. Dirinya tidak tahu akan kemana dan hanya mengikuti langkah kakinya yang entah akan membawanya kemana. Hingga tibalah dia di sebuah arena pancuan kuda.


Matanya benar-benar takjub. Dirinya merasa bahwa menemukan tempat yang sesuai dengan karakternya yang menyukai kegiatan ekstrim.


Angel melihat seekor kuda yang sedang di bersihkan di dalam arena. Dia pun merasa tertarik lalu mendekati kuda tersebut.


"Kau sangat indah..." gumam Angel sambil mengelus surai panjang kuda berwarna coklat itu.


"Nona, apakah kau ingin menaikinya?" Pria yang membersihkan kuda itu segera menyadari jika ada Angel disana.


"Apakah boleh?"


Pria itu tersenyum, "Tentu saja, Nona."


Angel sangat senang. Dia lalu di bantu pria tadi untuk menunggangi kuda tersebut. Setelah itu, kudanya mulai berjalan secara perlahan. Damian yang melihat Angel dari kejauhan, segera menghampirinya.


Dan sama seperti Angel tadi, pria itu kembali menawarkan kepada Damian untuk menunggangi kuda. Dan Damian pun langsung mengangguk. Tak berselang lama, kuda berwarna hitam sudah siap untuk di tunggangi.


Damian tidak perlu di bantu, karena dirinya bisa melakukannya sendiri. Setelah berada di atas kudanya, Damian lekas menyusul Angel.


"Damian, kau..." Angel kaget saat Damian sudah berada di sampingnya dengan menunggangi kuda.


"Kenapa?" tanya Damian dengan diiringi senyumannnya. Angel menggeleng pelan, kemudian fokus pada kudanya.


"Hati-hati, My Angel." Damian memperingatinya, dan Angel hanya mengangguk kecil.


Setelah cukup lama mengelilingi arena tersebut dengan menunggangi kuda masing-masing, akhirnya mereka memilih untuk berhenti. Damian kemudian memutuskan untuk pulang saat melihat hari sudah senja.


Di dalam perjalanan pulang, Angel tak henti-hentinya tersenyum. Dan Damian menyadari itu.


"Apa yang membuatmu sangat bahagia seperti itu, heh?"


Angel menoleh padanya, "Entahlah, aku tidak tahu. Yang kurasakan saat ini hanyalah ingin tersenyum dan tersenyum."


"Aku senang saat melihatmu tersenyum seperti itu. Setidaknya untuk saat ini kau melupakan wajah datarmu." Damian membelokkan mobilnya, sehingga tidak menyadari jika wajah Angel sudah berubah ke yang aslinya.


"Heyy, mengapa kau diam?" tanya Damian heran bercampur bingung. Baru saja wanita itu tersenyum, dan sekarang wajahnya sudah kembali menjadi datar.


'Baiklah. Sepertinya, wajah datarnya itu sudah melekat pada dirinya.' Damian lalu fokus mengendarai mobilnya, begitupun dengan Angel yang memandangi jalanan kota dengan wajah tanpa ekpresi andalannya.


Disaat mereka sibuk dengan urusan masing-masing, tiba-tiba...


Kruukk...Kruuk...


Sontak saja Damian langsung menatap Angel yang sedang memegangi perutnya. Sedetik kemudian tawanya pecah, apalagi melihat wajah Angel yang memerah karena malu.


"Ke-kenapa kau tidak bilang jika lapar?" Damian mengusap air matanya yang keluar karena dirinya terlalu keras dalam tertawa. Namun Angel tidak menjawabnya, dan justru menekuk wajahnya.


"Baiklah-baiklah. Kau ingin makan apa?" Seberusaha mungkin Damian menggigit bibirnya agar tawanya jangan sampai kembali pecah.


"Terserah," jawab Angel ketus.


Damian mengangguk, "Makan batu, mau?"


"Damian..." Angel memekik kesal, dan Damian jadi tertawa dibuatnya. Namun tawanya tidak sampai sekeras tadi.


"Lasagna, bagaimana?" Karena masih merasa kesal, Angel pun menjawabnya dengan deheman singkat. Damian tersenyum dan memaklumi itu. Pria tersebut lalu menambah kecepatan mobilnya, sebelum cacing-cacing di perut wanitanya semakin memberontak.