The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Insiden Pernikahan



Jessica duduk di tepi kasur sambil melipat kedua lututnya dengan pandangan yang kosong ke depan. Dia lelah menangis. Walaupun air matanya mengering, semuanya tidak akan kembali membaik.


Baru saja dirinya merasakan kebahagiaan, namun semuanya langsung hilang dalam sekejap. Tadi pagi menjelang siang, dia masih menghabiskan waktu bersama Hazel. Tapi sekarang, itu semua hanya akan menjadi sebuah kenangan. Bahkan, dia masih mengenakan dress yang di berikan oleh Hazel tadi pagi. Apalagi yang terjadi di gubuk semalam, Jessica tidak akan pernah melupakannya.


Hazel... Jessica tidak tahu bagaimana dengan kondisi pria itu. Apakah dia baik-baik saja? Atau...


Jessica lalu menyembunyikan wajahnya di lipatan lutut, dia kembali menangis tatkala mengingat kenangannya bersama Hazel.


Tiba-tiba pintu terbuka, dengan perlahan Jessica mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang masuk. Dan ternyata itu Lutfi, dengan di belakangnya yang terdapat beberapa pelayan yang membawa paper bag berukuran besar.


"Letakkan saja disana," ujar pria itu sambil melirik kearah kasur.


"Kalian pergilah!"


Sekarang hanya ada mereka berdua di kamar tersebut. Seperti biasa, Lutfi terlihat tenang seolah tidak ada masalah di antara mereka. Pria itu lalu mengeluarkan semua gaun yang ada di paper bag tadi.


"Aku sengaja membeli beberapa gaun untuk kau kenakan di acara pesta kita besok malam. Kau bisa memilihnya sendiri." Lutfi memperlihatkan semua gaun itu kepada Jessica. Namun sayangnya, Jessica tidak tertarik.


Wanita itu kemudian bangkit dan melangkah kearah Lutfi, lalu...


Plakkk!!


"Kenapa harus aku yang kau pilih, hah? Mengapa tidak wanita lain saja untuk kau nikahi? Aku benar-benar benci pria sepertimu. Kau berengsek, Lutfi!! Tidak punya perasaan! Kau kejam!" Jessica membentak, bahkan menunjuk-nunjuk pria tersebut.


Lutfi yang geram, segera mengangkat tangannya untuk membalas Jessica. Namun saat tangannya sudah di udara, dia langsung menghentikannya, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredakan emosi.


"Kenapa kau berhenti? Ayo cepat tampar aku!" tantang Jessica sambil menunjuk ke arah pipinya.


Lutfi tersenyum miring, dia lalu menurunkan kembali tangannya. Tiba-tiba pria itu mengcengkeram bahu Jessica dengan sangat kuat. Sehingga membuat si empunya meringis sakit.


"Aku tidak akan menyakitimu untuk saat ini. Tapi, tunggulah saat kita telah menikah. Akan kubuat kau menderita di sisa hidupmu." Setelah itu, Lutfi mendorong Jessica hingga terjatuh ke kasur. Dia kemudian keluar, dan tak lupa untuk mengunci pintunya.


Jessica menangis sejadinya. Kehidupannya yang sudah tidak bahagia, akan bertambah hancur setelah dirinya bersama pria itu.


...* * * ...


Malam telah berlalu, dan sekarang tibalah saatnya pagi. Angel dengan setia menemani adiknya yang belum juga sadarkan diri. Dokter mengatakan padanya, bahwa dalam 24 jam pria itu belum juga membuka matanya, maka Hazel akan di nyatakan koma.


Damian?? Suaminya itu sedang kembali ke penginapan untuk membawa barang-barang mereka ke rumah sakit. Sepertinya Hazel membutuhkan waktu yang lama untuk masa pemulihannya.


Tangan Angel terulur untuk menyentuh setiap luka dan lebam pada tubuh adiknya. Air matanya sudah mengenang di pelupuk mata, tapi dengan cepat dia menghapusnya.


Dia tidak bisa berdiam diri terus disini. Angel lalu meminta seorang suster untuk menjaga Hazel, sampai suaminya datang. Sedangkan dirinya akan pergi untuk mencari tahu keberadaan pria yang membuat adiknya seperti sekarang ini.


...* * * ...


Sudah beberapa kali Perias pengantin merias wajah Jessica, namun selalu pudar. Sebab, wanita itu terus menangis tanpa henti walaupun dia sudah meminta Jessica untuk tidak menangis lagi.


Harusnya Jessica bersyukur akan menikah dengan pria yang tampan, kaya dan baik seperti Lutfi, pikir Perias itu.


Tapi siapa yang menyangka, bahwa setiap kebaikan yang Lutfi lakukan, ada niatan yang terselubung di dalamnya.


Karena waktunya sudah tidak sempat, Perias itu tidak jadi untuk merias wajah Jessica kembali. Tibalah saatnya bagi Jessica untuk menuju ke altar dengan di dampingi oleh ayahnya.


Dirinya hanya bisa menunduk untuk menyembuyikan wajah sedihnya dan juga matanya yang sembab. Hingga tiba di altar, ayahnya memberikan tangannya kepada Lutfi.


"Kau tenang saja, Ayah Mertua." David kemudian segera menjauh dari altar.


Jessica lalu menaikkan sedikit kepalanya. Dan dilihatlah bahwa saat ini Lufti sedang menyeringai jahat kepadanya. Namun hanya dia yang dapat melihat itu.


Dengan perlahan dan hati-hati, Lutfi membantu Jessica menaiki altar. Kedua lawan jenis itu lalu di minta untuk saling berhadapan. Melihat senyuman Lutfi, membuat Jessica sadar bahwa sebentar lagi kebahagiaannya akan menghilang.


Pendeta memulai acaranya dengan membacakan janji suci yang harus di ikuti oleh kedua mempelai. Giliran Lutfi lebih dulu, pria itu dengan lancarnya mengikuti ucapan Pendeta tersebut.


Kini, tibalah bagi Jessica untuk mengucapkan janji suci. Tapi wanita itu begitu sulit untuk mengucapkannya, sehingga membuat Lutfi geram lalu menatapnya tajam.


"Nona, apakah kau sedang sakit?" tanya Pendeta itu.


Jessica menggelengkan kepalanya, "Aku baik-baik saja."


David yang sama kesalnya dengan sikap Jessica, segera menaiki altar dan mendekat kearah putrinya.


"Jangan membuatku malu! Jika kau sampai membuat kesalahan lagi, aku tidak akan segan-segan membuatmu menjadi gelandangan di jalan." Bisikan David benar-benar menyayat hati Jessica.


Apakah ayahnya akan tega untuk melakukan itu? Jawabannya adalah iya. Ayahnya saja berani memukulnya dan membentaknya, apalagi jika membuangnya, pasti itu sangatlah mudah bagi ayahnya untuk melakukan hal tersebut.


Setelah membisikkan sesuatu kepada Jessica, David kembali turun dari altar dengan senyumannya.


Kembali Pendeta membacakan janji suci yang harus segera di ikuti oleh Jessica. Saat dirinya hendak membuka mulutnya, sebuah suara tiba-tiba mengejutkan semua orang disana.


"Dimana yang namanya Lutfi?"


Seorang wanita memasuki gedung tersebut. Semua orang menatapnya heran dan bertanya-tanya, siapakah dia?


Tapi wanita itu tidak menghiraukan tatapan orang-orang padanya. Dia justru terfokus pada seorang wanita yang mengenakan gaun pengantin di altar.


Sama halnya dengan wanita itu, tatapan Jessica juga terfokus padanya. Entah mengapa wanita yang baru masuk tersebut, seperti tidak asing bagi Jessica. Dirinya merasakan, sepertinya dia pernah bertemu dengan wanita itu. Tapi kapan dan dimana?


"Akulah Lutfi. Siapa kau? Dan ada urusan apa kau mencariku?"


Angel menatap datar pria itu. Baiklah! Sepertinya dia sudah mengerti, mengapa Hazel mencari masalah dengan Lutfi. Tidak lain karena Hazel ingin menghentikan pernikahan pria tersebut bersama wanita yang di cintainya.


Lutfi turun dari altar dan menghampiri Angel. Matanya menyipit heran, sebab.. dirinya tidak mengenali Angel. Bahkan, pernah bertemu pun tidak.


Mata Angel menatap Lutfi dari bawah ke atas. Senyuman miring kemudian muncul dibibirnya. Bagi Angel, Lutfi hanyalah sebutir debu yang dapat dengan mudah dia singkirkan.


"Apakah kemarin kau memukuli seorang pria hingga babak belur?"


"Jika iya, memangnya kenapa? Lagipula itu bukanlah kesalahanku. Andai saja dia tidak membawa pengantinku pergi, mungkin aku tidak akan memberinya pelajaran."


Keluarga Lutfi cukup terkenal. Sehingga membuat Angel tidak susah untuk mencari keberadaannya.


Angel tertawa lantang. Sedetik kemudian dia mengubah ekspresinya menjadi dingin.


"Pengantin? Apakah wanita yang tidak bahagia itu kau sebut pengantinmu?"


Serentak semua orang menatap kearah Jessica. Benar saja! Tidak ada kebahagaian yang terpancar di wajah wanita itu. Mereka pun mulai berbisik-bisik mengenai keluarga Lutfi.