
Damian menatap Angel yang begitu senang sekarang, karena keinginannya sudah terpenuhi. Namun sebelum menaiki kapal ini, ada kejadian yang membuat Damian merasa jengkel.
Flashback...
"Angel, apa yang kau lakukan disini?" tanya Damian yang sudah berada di samping wanita itu.
"Sudah kubilang 'bukan, aku ingin menaiki itu." Angel menjawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari kapal yang ditunjuknya tadi.
"Tapi ini sudah malam. Dan aku tidak ingin jika terjadi sesuatu."
"Kenapa kau tidak bisa menuruti kemauanku? Kau bilang kau mencintaiku? Tapi mana? Kau benar-benar----" Sebelum Angel menyelesaikan kata-katanya, Damian sudah lebih dulu membekap mulutnya. Pasalnya, saat ini jembatan tersebut tengah ramai oleh wisatawan dan mereka sedari tadi menatap kearahnya dan juga Angel.
"Hushh, jangan teriak. Semua orang melihat kita!!" bisik Damian.
'Persetan dengan mereka!! Aku hanya peduli pada keinginanku. Dan sebelum menaiki kapal itu, aku tidak akan pulang.' Angel lalu melepaskan tangan Damian di mulutnya.
"Damian, ayolah kita naik itu. Sebentarrr..saja." Kali ini Angel benar-benar melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, yaitu memohon kepada seseorang.
"Tidak, Angel." Damian kemudian menarik tangan wanita itu untuk kembali melangkah bersamanya.
'Tidak. Aku tidak ingin pulang.' Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepala Angel. Dia lalu menarik tangannya dari genggaman Damian, dan sontak saja itu membuat pria tersebut langsung menatapnya.
"Kau jahat, Damian, hiksss..." Berpura-pura menangis adalah ide yang dia miliki sekarang. Angel tidak perduli dengan tatapan atau tanggapan orang-orang di sekitarnya.
Damian dibuat panik olehnya. Apa lagi banyak pasang mata yang menatapnya horor. Karena mereka mengira bahwa dirinya telah menyakiti Angel.
"My Angel, dengarkan aku..." Damian berusaha menjangkau wajah Angel, namun tangannya segera di tepis oleh wanita itu.
Damian benar-benar bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Dan pada akhirnya, dia menghembuskan nafasnya pasrah.
"Oke, fine. Kita naik itu."
Angel langsung menyeka air matanya, kemudian menatap Damian dengan penuh harap.
"Benarkah? Kau tidak menipuku, kan?"
"Untuk apa aku menipumu?" balas Damian sebal.
Seketika senyum cerah terbit di bibirnya. Damian yang melihat itu, menjadi mendengus kesal. Angel lalu menyatukan jemarinya dengan milik Damian, namun lagi-lagi sebuah ide jahat muncul di otaknya.
"Damian..." panggil Angel dengan suara manja.
"Apalagi?" sahut pria itu malas.
"Aku lelah."
Dahi Damian langsung mengkerut, "Lalu?"
"Gendong aku."
Damian menarik nafasnya dalam, kemudian menampilkan senyum paksanya.
"Jalan saja, ya?"
Angel menggeleng, "Apakah kau ingin melihat aku menangis lagi?"
Ancaman dari wanita tersebut membuat Damian tak berkutik. Dan dengan berat hati, Damian menuruti permintaannya itu.
"Naiklah!!"
"Damian, kau memang baik!!" puji Angel dengan antusias. Dia lalu segera menaiki punggung Damian.
"Berpegangan!!" Damian mengingatkannya.
"Siap, Kapten." Angel kemudian mengeratkan lengannya yang berada di leher Damian. Dan tanpa mengatakan sesuatu apapun lagi, Damian mulai melangkah dengan menggendong Angel hingga mereka berada di tempat yang saat ini dia pijaki.
Flashback End.
Entah sudah ke berapa kalinya Damian menghembuskan nafasnya kasar. Dirinya benar-benar lelah menghadapi sikap Angel yang tidak menentu ini. Terkadang marah, terkadang senang, lalu merengek tidak jelas.
"Damian.." Tiba-tiba Angel memanggilnya dari ujung kapal. Damian pun lekas menghampirinya dengan memasang wajah datarnya.
"Terima kasih," ujar Angel sambil tersenyum tulus.
Damian tersenyum sinis, "Rupanya kau masih ingat untuk berterima kasih kepadaku."
"Tentu saja. Jika tanpa dirimu, mungkin aku tidak akan pernah datang kesini."
Damian bergeming, dengan tatapan bak sedalam samudra terhadap Angel. Sebuah senyum tipis pun muncul di bibirnya, Damian lalu melangkahkan kembali kakinya untuk mempersempit jarak antara Angel dengan dirinya.
Grepp!!
Angel terlonjak kaget saat tiba-tiba Damian memeluknya dengan sangat erat. Ingin sekali dirinya menolak, namun mengingat bahwa Damian sudah menuruti semua keinginannya, membuat Angel mengurungkan niatnya tersebut.
Biarlah pria itu memeluk tubuhnya seerat mungkin, karena mereka tidak tahu bagaimana dengan masa yang akan datang. Mungkin, setelah misinya selesai, Angel harus kembali ke negaranya.
...* * *...
Mereka sudah kembali ke apartement setelah menghabiskan waktu yang cukup lama disana. Bahkan mereka pulang saat larut malam menjelang.
"Tidurlah," ujar Damian lembut sambil mengelus rambut wanita kesayangan itu. Saat ini dirinya sedang mengantarkan Angel menuju ke kamarnya.
Angel hanya menganggukkan kepalanya pelan. Damian pun lalu berbalik untuk pergi ke kamarnya. Namun sebelum dirinya melangkah, lengannya lebih dulu di tahan oleh Angel.
Sebelah alis Damian menaik, pertanda bahwa pria itu bingung. Angel pun tersenyum, kemudian dia mendekatkan wajahnya pada Damian lalu mencium pipi itu lembut.
"Terima kasih untuk hari ini," bisik Angel dengan bibirnya yang masih menempel pada pipi Damian. Setelah itu Angel melepaskan lengan pria tersebut, kemudian dia berbalik untuk masuk ke kamarnya.
Damian masih mematung di tempatnya, sebelum akhirnya dia tersadar karena Mario memanggilnya.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" Wajah Mario terlihat heran bercampur bingung, sebab tuannya itu hanya diam sambil menatap pintu kamar wanitanya.
Melihat tuannya yang seperti sedang kasmaran, membuat Mario hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dirinya tidak akan ikut campur jika mengenai urusan percintaan tuannya itu, kecuali jika Damian sendirilah yang memintanya untuk mencampuri urusannya.
Damian menyentuh pipinya yang dicium oleh Angel tadi. Dirinya masih dapat merasakan bibir Angel yang menempel di pipinya. Dia pun memutuskan untuk tidak mencuci wajahnya malam ini, agar ciuman Angel bisa terbawa sampai ke mimpi.
Saat dirinya hendak memasuki kamar mandi untuk bersih-bersih, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan segera Damian mengambil benda pipih itu disakunya lalu melihat notifikasi.
Dahinya mengernyit saat melihat Angel yang mengirimnya pesan. Damian lalu duduk di tepi kasurnya sambil melihat isi pesan dari wanita tersebut.
Besok kita masih akan mengunjungi tempat wisata, bukan?
from : My Angel💗
Damian terkekeh geli membacanya.
"Mengapa tidak berbicara langsung kepadaku?"
W**aktu kita tinggal besok**.
from : Pria Menyebalkan😈
Angel yang berada di kamarnya, jadi cemberut.
"Aku masih ingin berada disini cukup lama."
Apa waktunya tidak bisa di perpanjang?
from : My Angel💗
Tidak bisa. Aku harus kembali ke kantor.
from : Pria Menyebalkan😈
Tapi aku masih ingin disini.
from : My Angel💗
Kita akan kesini lagi setelah menikah, untuk bulan madu😉.
from : Pria Menyebalkan😈
Angel mendengus membaca pesan itu dari Damian.
In your dream🙄.
from : My Angel💗
Hahaha, mengapa kau tidak tanya langsung kepadaku?
from : Pria Menyebalkan😈
Aku malas untuk berjalan.
from : My Angel💗
Apa kau ingin aku menggendongmu lagi?
from : Pria Menyebalkan😈
Ahh tidak, terima kasih, Tuan. Aku tidak ingin pinggangmu jadi sakit karena sering menggendongku.
from : My Angel💗
Tidak sama sekali, Sayang. Justru aku senang jika bisa menggendongmu😉😙
from : Pria Menyebalkan😈
Angel bergidik geli melihat emoticon dari Damian. Namun tak urung juga dirinya jadi tersenyum bahkan sampai tertawa sendiri.
Sudahlah, aku ingin tidur.
from : My Angel💗
Apa kau tidak mau mengajakku untuk tidur?
from : Pria Menyebalkan😈
Ajak saja Mario untuk menemanimu.
from : My Angel💗
Aku masih normal, Sayang.
from : Pria Menyebalkan😈
Ya.. ya..ya.., terserah kau saja. Aku ingin tidur. Selamat malam pria menyebalkan😜.
from : My Angel💗
Damian tertawa keras melihat Angel yang mengatainya pria menyebalkan.
Okey My Angel. Good night and sweet dream😍😘😗😙.
from : Pria Menyebalkan😈
Angel yang melihatnya jadi geleng-geleng kepala.
"Mengapa tidak sekalian saja kau pakai semua emoticonnya?"
Sementara di tempat Damian, dia tertawa saat melihat emoticon yang dia berikan kepada Angel. Dia masih tidak menyangka jika dirinya bisa menjadi sebucin ini.