The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Pemecatan Veronica 2



"Bagaimana rasanya?" tanya Grace sambil melipat kedua tangannya didada.


Veronica pun membalikkan tubuhnya dan menatap wanita itu.


"Apa maksudmu?"


Grace tertawa mendengarnya, "Bagaimana rasanya hemm? Dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah kau lakukan."


Dahi Veronica langsung mengkerut bingung, "Aku benar-benar tidak mengerti."


Rasanya Grace ingin melemparkan sesuatu ke kepala wanita itu.


"Coba kau ingat lagi! Apa yang telah kau lakukan pada saudarimu sendiri."


Sontak saja mata Veronica langsung membulat setelah mendengarnya.


Darimana dia tahu?


"Kau bingung darimana aku tahu?" tebak Grace seolah mengetahui apa yang ada dipikiran wanita tersebut.


Bibir Veronica merapat, seperti enggan untuk membela diri.


Grace kemudian melihat ke kanan dan ke kiri, dia sudah memastikan bahwa tidak akan ada orang yang dapat mendengar ucapannya.


"Aku yang melakukannya," akunya.


Untuk kesekian kalinya Veronica di buat terkejut.


"Kau yang mencuri uang itu?"


"Tidak, aku tidak mencurinya. Aku hanya masuk lalu menaruh kalungmu disana," sahut Grace diiringi senyum smirknya.


Mendengar itu semua, membuat Veronica menjadi emosi. Kemudian dia mendekati Grace dan mencengram lengannya,


"Jadi kau yang melakukan itu semua? Dan kau sengaja menjebakku?" teriaknya tepat didepan wajah Grace.


Dengan rasa tanpa beban, Grace menganggukan kepalanya dan masih mempertahan tawanya.


Veronica mendesis geram, wanita itu lalu hendak melayangkan tangannya ke Grace namun ditahan lebih dulu oleh seseorang, yaitu Henry.


Seketika Grace bersembunyi dibelakang Henry dan mengadu padanya,


"Veronica tidak terima jika aku jujur mengenai kalung itu."


Veronica pun menggelengkan kepalanya berulang kali, "Dia menjebakku, Hen. Tolong percaya padaku!" ujarnya sambil menunjuk Grace.


Dan Henry hanya menatapnya datar lalu memberikan sebuah amplop yang berisi surat pemecatan dirinya.


Veronica menatapnya tidak percaya, "Kau benar-benar tidak mempercayaiku?"


"Sudahlah, Veronica. Aku benar-benar lelah menghadapimu," keluh Henry.


Henry lalu pergi dari situ dan diikuti oleh Grace dibelakangnya. Tapi sebelum melangkah, Grace memberikan senyuman mengejeknya kepada Veronica.


"Aku benar-benar membencimu, Grace!" desis Veronica dengan penuh kebencian.


Dan akhirnya dia benar-benar pergi dari perusahaan yang telah menerimanya selama dua tahun ini. Veronica mengemasi barang-barangnya. Hanya tangannya yang bergerak namun tidak dengan pikirannya.


Dia masih kepikiran dengan apa yang diucapkan oleh Grace.


'Coba kau ingat lagi! Apa yang telah kau lakukan pada saudarimu sendiri?'


Darimana dia tahu itu tentang itu? Bahkan kejadiannya saja sudah lama. Itulah yang ada dipikirannya saat ini. Yang tahu kejadian itu hanya dia, Hazel dan tentunya Angel.


"Apa dia temannya Angel?" gumamnya.


"Wahh, wahh... sepertinya ada yang sedang berkemas." Tiba-tiba Grace datang dan membuyarkan lamunan Veronica. Wanita itu baru saja dari toilet untuk menghubungi seseorang jika rencananya telah berhasil.


"Apa lagi yang kau inginkan?" bisik Veronica sambil menatap wanita itu tajam.


"Tidak ada. Hanya memastikan jika kau benar-benar pergi dari sini," sahut Grace enteng.


"Siapa kau sebenarnya?" Rasa penasaran Veronica begitu besar tentang Grace.


"Aku? Tentu saja Grace!" Wanita yang berdiri di hadapan Veronica itupun terkekeh, seolah tengah bercanda.


Veronica yang kesal, memilih untuk diam. Daripada nanti dirinya lepas kendali lalu memukul Grace. Apalagi sekarang sedang waktunya bekerja, semua orang ada dimejanya masing-masing.


Veronica lalu membawa barang-barangnya menuju keluar. Setibanya diluar, dia menatap sejenak ke gedung tersebut kemudian dia membuang nafasnya panjang.


"Aku akan memberimu pelajaran nanti!" desisnya. Lalu secara perlahan, Veronica melangkahkan kakinya menuju ke mobil untuk pulang.


Dan kegiatannya itu disaksikan oleh semua karyawan yang sedang bekerja dengan penuh tanda tanya, tak terkecuali Grace yang melihat kepergiannya sambil bersender pada dinding di sebelahnya.


"Bahkan upahku 10 kali lipat dari gaji dikantor ini," gumam Grace, wanita itu lalu kembali ke mejanya untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor tersebut. Karena setelah ini, dia akan berhenti bekerja di perusahaan yang di pijakinya itu.


Begitu piciknya Grace dalam menjalankan aksinya. Beberapa hari yang lalu, Grace tidak sengaja menemukan kalung Veronica di lantai, mungkin terlepas dari leher wanita tersebut.


Melihat ada peluang, Grace pun memanfaatkan benda tersebut untuk menjalankan tugasnya.


Lalu ketika malam tiba, Grace masuk ke brankas kantor setelah merusak pintu dengan alat yang dia bawa. Kemudian Grace meletakkan kalung tersebut di lantai seolah-olah kalung tersebut jatuh dengan sendirinya.


Dan dia tidak sebodoh itu sehingga tidak menyadari jika ada CCTV dimana-mana. Oleh sebab itu, Grace menutupi seluruh tubuhnya hingga tidak tersisa. Yang terlihat hanya telapak tangannya saja.


...* * *...


"Bagaimana?" tanya seorang wanita yang duduk berhadapan dengan Grace di salah satu cafe elite.


"Tentu saja berhasil!" jawab Grace dengan sombong.


"Bagus. Aku akan mentransfer uangmu lalu kau pergilah dari negara ini."


Mereka berdua menyantap makanannya dengan santai sesekali diiringi obrolan ringan. Seusainya, Grace berpamitan karena harus kembali kekantornya untuk membicarakan urusan resignnya.


"Satu telah selesai," ujar wanita itu dengan seringaiannya.


Dua hari kemudian...


Grace benar-benar menghilang seperti ditelan bumi. Setelah menemui wanita yang tak lain adalah Angel dicafe kemarin lusa, dia kemudian resign dari tempatnya bekerja.


Veronica frustasi dibuatnya. Dia ingin membalas Grace tapi tidak tahu harus mencarinya dimana. Apalagi sekarang dia benar-benar pengangguran. Ibunya menawarkan dirinya untuk bekerja dibutiknya, yang tentu saja ditolak olehnya. Karena Veronica tidak ada bakat sama sekali dalam dunia ibunya itu.


"Kau sudah menemukan wanita itu?" tanya Hazel saat melihat kakaknya yang baru memasuki rumah.


"Diamlah. Jangan menggangguku!" hardik Veronica, wanita itu lalu bergegas memasuki kamarnya.


"Sepertinya, karena kehilangan pekerjaan membuat Veronica menjadi stress." Hazel bergumam sambil memandangi punggung wanita tersebut.


Dan benar saja, didalam kamarnya Veronica mengamuk dan mengacak-acak barang-barangnya sambil mengatakan bahwa dia membenci Grace. Kadang sesekali dia tertawa.


Hazel yang mendengarnya menjadi panik. Dengan cepat dia segera berlari menuju kamar Veronica yang terkunci dari dalam.


"Veronica, cepat buka pintunya!" teriak Hazel sambil menggedor-gedor pintu. Namun tidak ada sahutan atau bunyi lagi dari dalam kamar itu.


"Tak ada pilihan." Hazel lalu memasang ancang-ancang untuk menendang pintu tersebut. Dan...


Brakk!!


Pintu tersebut langsung terbuka dan memperlihatkan pemandangan yang begitu mengerikan.


"Veronica, apa yang kau lakukan?" teriak Hazel sambil berlari ke arah Veronica, kemudian pria itu mengambil paksa pecahan kaca yang akan Veronica gunakan untuk melukai pergelangan tangan kirinya.


"Lepaskan aku, Hazel!" Veronica memberontak, Hazel lalu menarik kakaknya itu kedalam pelukannya.


Hazel semakin memperkuat pelukannya saat Veronica tidak kunjung berhenti memberontak. Tak lama, akhirnya Veronica berhenti, mungkin karena kelelahan.


Setelah di rasa tenang, Hazel melemparkan pecahan kaca yang sedari tadi masih berada di tangannya. Kemudian dia menatap Veronica dengan tajam.


"Apa kau sudah gila?" hardiknya.


"Yaa, aku sudah gila. Aku benar-benar gila karena tidak bisa menemukan wanita yang sudah menghancurkan hidupku ini." Veronica membalasnya dengan berteriak dan diikuti oleh isakan yang meluncur di bibirnya.


"Aku membencinya, Hazel. Sangat, sangat membencinya!" tambah Veronica dengan suara lirih.


"Aku akan membantumu untuk menemukannya," ujar Hazel sedikit menghibur kakaknya.


Veronica mendongakkan kepalanya untuk memandang Hazel, tiba-tiba saja dia tertawa.


"Bagaimana bisa kau menemukannya? Kau bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya."


Hazel menghembuskan nafasnya lelah,


"Setidaknya aku akan berusaha."


Dilihatnya Veronica sudah tenang, Hazel lalu menuntunnya untuk duduk diatas kasurnya. Kemudian Hazel mencari obat P3K di dalam kamar tersebut. Dan akhirnya ketemu juga.


Dengan perlahan, Hazel mengobati tangan Veronica yang berdarah akibat menggenggam serpihan kaca tadi.


"Apa ini semua karena Angel?" lirih Veronica dengan pandangan kosong.


Hazel yang tadinya fokus mengobati tangannya, jadi terhenti dan menatap Veronica dengan alis mengkerut.


"Aku rasa tidak ada hubungannya dengan Angel."


Pria itu kemudian kembali pada pekerjaannya yang belum usai.


"Tapi aku merasa yakin jika ini adalah ulahnya. Dia sepertinya ingin membalas dendam pada kita," tukas Veronica cepat.


"Kita tidak tahu ada dimana dia sekarang. Bahkan dia sudah tidak ada kabarnya lagi."


Veronica lalu menatap adiknya saat menemukan sebuah ide, "Aku tahu harus bertanya pada siapa mengenai keberadaan Angel."


Melihat itu, membuat Hazel menatap kasihan pada Veronica.


Aku rasa kewarasannya benar-benar terganggu.


"Kau mau menolongku bukan?" pinta Veronica penuh harap.


"Apa?"


"Coba kau temui Susan dan tanyakan padanya keberadaan Angel. Setahuku, hanya dia yang dekat dengan Angel."


"Cihh, aku tidak ingin berurusan dengannya."


"Ayolah, Haz. Tolong bantu kakakmu ini." Veronica memelas sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Kau tahu, bukan? Jika Jessica begitu possesive padaku. Aku duduk disamping wanita saja dia sudah marah-marah." Kesal Hazel saat mengingat tingkah pacarnya itu.


"Ya sudah, kalau begitu kau putuskan saja."


"Tidak bisa, Veronica. Aku membutuhkannya."


Veronica menatap adiknya sebal, "Apa yang kau inginkan dari wanita seperti itu?"


Hazel menyeringai, "Tentu saja uangnya dan juga... tubuhnya."


Veronica yang mendengarnya, jadi memutar bola matanya malas.


"Pintar sekali kau heh."


"Tentu saja. Jika aku tidak pintar, mana mungkin aku bisa membodohi Jessica." Hazel lalu tertawa, Veronica pun ikut tertawa juga. Sepertinya, tawa Hazel menular padanya.