
Keadaan kembali membaik setelah kedua pria itu mengatakan bahwa mereka hanya bercanda. Sekarang posisi mereka jadi bertukar, James berhadapan dengan Angel dan Vika yang berada di depan Damian.
Sama seperti james tadi, Vika mengulurkan tangannya dan mengucapkan selamat kepada Damian. Tak lupa wanita itu memberikan sebuah ancaman jika Damian berani menyakiti Angel.
Mendengar itu, membuat Angel mengulas senyumnya. Dia lalu beralih pada James di hadapannya, dimana pria itu tengah menatapnya intens.
"Bolehkah aku memelukmu?" bisikan dari pria tersebut bagaikan sebuah permintaan. Dengan mata yang berkaca-kaca, Angel menganggukkan kepalanya.
James langsung memeluk Angel setelah wanita itu mengizinkannya. Mereka hanya berpelukan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Vika yang melihatnya, tersenyum simpul dan berusaha untuk menyakinkan hatinya bahwa kini James hanya mencintainya.
Sedangkan Damian, jangan di tanya! Pria itu mengepalkan tangannya karena kesal. Bagaimana bisa istrinya memeluk pria lain di hadapannya? Andai saja ini bukan acara penting mereka, mungkin Damian sudah menariknya lalu mengurungnya di dalam kamar.
Angel menyeka air matanya, lalu melepaskan pelukan mereka. Terlihat James memalingkan wajahnya sembari mengusap buliran air yang ada di pelupuk matanya.
Angel tersenyum, "Kapan kalian akan menyusul?"
"Bulan depan." Dengan santainya James menjawab sambil merangkul kekasihnya tersebut. Dan Vika hanya bisa membeo mendengarnya.
"Benarkah?" Damian seolah tidak percaya. Karena baginya, kata-kata yang keluar dari mulut pria itu hanyalah bualan.
James menyeringai, "Tunggu saja bulan depan."
Damian berdecih, namun dia tak menimpali ucapan James kembali. Akhirnya kedua sejoli itu pamit untuk mengundurkan diri. Angel yang tidak rela berpisah dengan mereka, tetap harus membiarkan mereka pergi.
Tak terasa matahari telah tenggelam. Namun para tamu undangan semakin banyak bila di malam hari. Dan itu kebanyakkan merupakan klien Damian dari berbagai negara.
Di dalam suasana yang semakin ramai, tak di sangka bahwa akan terjadi malapetaka. Tak ada yang tahu bila lampu hias berukuran besar, yang di bawahnya terdapat Damian dan Angel, mendadak jatuh. Tapi untung saja ada seseorang yang menyadari itu, dia adalah Hazel. Secepat kilat pria itu berlari lalu menarik tangan kedua pengantin tersebut. Alhasil, lengannya harus terluka akibat goresan lampu hias yang tajam.
Sebenarnya Hazel sudah berteriak dari kejauhan, namun tak ada yang mendengarnya. Sebab suasana begitu riuh, belum lagi lagu yang di putar dengan volume tinggi.
"Hazel..." Angel panik kemudian segera menghampiri adiknya itu. Lengannya berdarah akibat goresan dari lampu hias yang terjatuh.
Ibu Elizabeth yang melihatnya, segera ikut mendekat. Kedua wanita itu lalu membawa Hazel ke kamar untuk mengobati lukanya. Sedangkan Damian memerintahkan Mario untuk mengecek apa yang terjadi, sekaligus meminta beberapa orang untuk membersihkan lampu hias yang sudah berserakan ini.
Dan untuk Damian sendiri, dia sedang menenangkan suasana yang saat ini jadi mencekam. Padahal dirinya sudah mengantipasi bahwa tidak akan ada yang terjadi di hari terbaiknya, namun tidak ada yang bisa menduganya, bukan?
Tapi siapa yang dapat menyangka? Bahwa kejadian itu ada dalangnya. Melihat ada seseorang yang mencurigakan, Mario beserta anak buahnya berlari mengejar pria bertopi hitam.
Mario sudah memintanya untuk berhenti, tapi pria tersebut tidak mau mendengarnya. Terpaksa Mario harus menembak salah satu kakinya agar pria itu segera menghentikan langkahnya.
Setelah berhasil di lumpuhkan, Mario lekas membawanya kehadapan tuannya yang sudah menunggu di sebuah ruangan.
Dan benar saja! Tak berselang lama Mario datang dengan membawa seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam.
"Maaf, Tuan. Aku terpaksa menembak salah satu kakinya karena dia tidak mau berhenti," ujar Mario saat melihat tuannya yang menatap salah satu kaki pria tersebut yang berdarah.
Damian mengibaskan tangannya tidak perduli. Dia kemudian melepaskan topi dan masker yang di kenakan pria itu. Mereka terkejut saat tahu bahwa pria tersebut adalah Tyler Robinson, paman dari Ana. Bahkan beberapa waktu yang lalu, Damian sempat menghadiri pestanya bersama dengan Angel.
Tapi sekarang, Mr. Robinson ini juga menghadiri acara pernikahannya. Namun dengan maksud yang berbeda.
Tyler melontarkan tatapan penuh kebencian kepada Damian. Bahkan dia memberikan aura permusuhan untuk pria di hadapannya ini. Karena Damian, Martin Franciosa, selaku kakak iparnya mengalami gangguan kejiwaan semenjak di tinggalkan oleh putrinya.
"Kau pria yang tidak tahu malu. Martin dengan suka rela membantumu dari ambang kehancuran, tapi kau justru membalas kebaikannya dengan cara melenyapkan putrinya. Kau benar-benar berengsek, Damian. Ingat kata-kataku ini, suatu hari nanti, putraku akan membalaskan setiap tetes darah dan air matanya yang kau buat."
Damian membuang nafasnya acuh. Dengan tenangnya pria itu mengibaskan tangannya seolah tidak perduli dengan omong kosong yang di lontarkan oleh Tyler.
Tyler yang tersulut emosi, segera mencekik leher Damian. Mario beserta anak buahnya yang cemas dan ingin melangkahkan kakinya, langsung di hentikan oleh Damian menggunakan tangannya.
Damian lalu menyeringai, sedetik kemudian dia menghempaskan tangan pria itu hingga tersungkur ke lantai.
"Kau mencari masalah dengan orang yang salah, Tyler Robinson. Aku akan memberimu sebuah pelajaran, hingga kau tidak akan berani lagi mendongakkan kepalamu untuk menatapku."
Damian merapihkan tuxedonya yang sedikit berantakan. Tatapannya lalu beralih kepada orang kepercayaannya.
"Kau urus dia. Pastikan dia menyesali perbuatannya. Bila perlu, kau habisi saja dia agar spesies sepertinya berkurang."
Ingin rasanya bagi Damian untuk mengurus masalahnya sendiri dengan Tyler, namun saat ini keadaan sedang tidak memungkinkan. Dirinya harus keluar dan meredakan kekacauan yang terjadi akibat ulah dari Tyler tadi.
Saat Damian hendak meninggalkan ruangan itu, Tyler kembali mencaci makinya dan mengatakan bahwa putranya akan membalas perbuatannya. Damian hanya menampilkan senyum miringnya, lalu dia kembali melanjutkan langkahnya.
Baru beberapa langkah kepergian Damian, sudah terdengar teriakkan dari Tyler. Entah apa yang Mario beserta anak buahnya lakukan pada pria tersebut. Namun jika mendengar dari jeritannya, sepertinya itu benar-benar menyakitkan.
Damian menemui para tamunya dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bukan hanya itu, Damian juga mengatakan jika kejadian ini terjadi karena hanya masalah teknis.
Semuanya dapat bernafas lega. Mengingat Damian merupakan mantan seorang mafia, membuat mereka berpikir bahwa kejadian tersebut terjadi karena salah satu perbuatan musuhnya.
Damian meminta mereka untuk melanjutkan pestanya, dan jangan memikirkan atau membicarakan masalah yang baru saja terjadi. Suasananya yang tadinya mencekam, sekarang berubah menjadi seperti awal. Melihat itu semua, membuat Damian dapat bernafas lega.
Mata Damian lalu melihat ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan anggota keluarganya, namun nihil. Sepertinya, Angel beserta yang lain masih berada di kamar untuk mengobati lengan Hazel yang terluka.