
Hazel bangun lebih dulu karena mendengar suara kicauan burung di sekitarnya. Dilihatnya bahwa sang kekasih masih tertidur pulas dengan selimut tipis yang membungkus tubuhnya. Karena mereka berada di hutan, tentu saja akan merasakan udara yang sangat dingin bila di pagi hari.
Hazel tersenyum simpul melihatnya, kemudian dia memberikan kecupan ringan di kening itu. Sebelum akhirnya dia kembali mengenakan pakaiannya yang berserakan.
Memang udara di hutan atau pedesaan, sangatlah jauh berbeda apabila di kota. Disini udaranya masih murni tanpa adanya polusi atau debu yang mengelilingi setiap langkah mereka.
Sembari menikmati udara di pagi hari, Hazel memutuskan untuk ke pasar membeli sarapan. Di setiap langkahnya, pria itu tak kunjung berhenti tersenyum bahagia, hingga tak terasa tibalah dirinya di tempat tujuan.
Langsung saja Hazel membeli yang di perlukannya, termasuk satu setel pakaian untuk Jessica. Kasihan wanita itu bila harus mengenakan pakaiannya yang tidak muat di tubuh mungilnya.
Setelah yang dia cari berada di tangannya, Hazel kembali melangkahkan kakinya untuk bergegas pulang, takut jika Jessica sudah bangun lalu mencari keberadaannya. Namun tanpa di sadari oleh Hazel, ada seseorang yang sedari tadi mengamatinya dari kejauhan. Bahkan sekarang orang tersebut sedang mengikuti.
Setibanya di gubuknya, Hazel mendapati Jessica yang sudah bangun dan mengenakan pakaiannya. Wanita itu lalu melayangkan tatapan kesal kepada dirinya, sebab Hazel meninggalkannya seorang diri. Entah mengapa ekspresi dari Jessica justru membuat Hazel tertawa kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir mungil wanita tersebut.
Dan tanpa mengatakan apapun, Hazel memberikan sarapan yang di belinya tadi, yaitu Nasi Pedas dan Ayam Betutu. Tak lupa dengan sekotak susu yang di belinya di minimarket dekat pasar.
Jessica menyantap makanannya dengan sangat lahap, karena memang dirinya sudah lapar sejak semalam. Tapi dia terlalu malu untuk mengakuinya. Hazel tersenyum melihat kekasihnya yang makan dengan cara seperti itu. Ehh, mengenai kata Kekasih, sepertinya sudah tersemat kepada kedua sejoli tersebut.
Mereka menyelesaikan sarapannya dalam waktu singkat. Setelah itu mereka bersama membersihkan gubuk tersebut, agar menjadi layak itu di tempati.
"Ayo..." Tiba-tiba Hazel mengucapkan satu kata itu, sontak saja Jessica membeo menatapnya.
Gemas dengan reaksi yang kekasihnya berikan, Hazel lalu menarik tangannya agar mengikuti langkahnya. Ternyata eh ternyata, Hazel mengajak Jessica menuju ke sebuah air terjun yang terletak tak jauh dari tempat mereka tinggal.
Jalanan yang sedikit curam dan licin, membuat Jessica ragu untuk menuruni tebing. Namun dengan sigap Hazel menolongnya untuk melewati jalanan yang agak terjal tersebut, sembari menyakinkan kekasihnya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Entah darimana Hazel mengetahui adanya lokasi air terjun yang tersembunyi di dekat gubuknya. Hanya pria itu yang mengetahui jawabannya.
Andai saja bila Jessica menolak untuk ikut dengannya, mungkin wanita itu tidak akan bisa untuk menikmati pemandangan yang begitu indah dan menyejukkan mata.
Hazel lalu mengajaknya untuk mandi bersama di bawah guyuran air terjun yang deras. Tawa bahagia seketika muncul di wajah keduanya, mereka bermain air sambil menyiram satu sama lain. Tapi mereka tidak menyadari bahwa terdapat seseorang yang mengabadikan foto mereka.
Rasanya, Jessica tidak ingin pulang dan ingin menetap saja disini bersama dengan Hazel. Karena kebahagiannya ada disana, terletak pada Hazel bukan Lutfi. Walaupun sering kali Lufti mengatakan cinta padanya, namun Jessica tidak merasakan apapun. Hanyalah kehambaran yang dia rasakan saat di dekat pria itu. Jauh berbeda bila dirinya bersama Hazel.
Jessica tiba-tiba memeluk Hazel erat dan menenggelamkan wajahnya di bahu pria tersebut. Dia ingin bersama selamanya dengan pria ini, tapi sepertinya itu suatu yang mustahil.
"Ada apa, hmm?" tanya Hazel lembut, namun Jessica justru menggeleng kemudian melepaskan pelukannya.
Setelah puas, mereka putuskan untuk kembali ke gubuk. Dengan Jessica yang sudah mengenakan pakaian yang tadi di beli oleh Hazel di pasar. Cukup besar di tubuhnya, namun itu lebih baik daripada pakaian Hazel yang di kenakannya.
Langkah keduanya terhenti saat mendapati bahwa gubuk mereka terbakar, dan tidak menyisakan suatu apapun lagi. Bahkan, semua surat penting milik Hazel seperti paspor, kartu identitas dan semacamnya, berada di tas di dalam gubuk tersebut.
Namun keterkejutan mereka tidak sampai disitu, saat tiba-tiba beberapa orang muncul dari balik pohon. Jessica tahu siapa mereka, yang tak lain merupakan anak buah Lutfi.
Menyadari bahwa suatu bahaya akan menimpa mereka, Jessica dengan segera menarik tangan Hazel dan mengajaknya untuk berlari. Tapi karena dirinya tidak tahu jalan di tempat tersebut, terpaksa membuatnya menghentikan langkahnya dengan wajah panik. Hingga akhirnya Hazel membalikkan tangan mereka, kemudian menarik tangan Jessica untuk berlari menghindari para pria itu.
Ketakutan Jessica yang berada di awal tadi, telah di gantikan oleh tatapan kagum pada kegigihan Hazel yang mempertahankannya. Tanpa harus dirinya beritahu, Hazel pasti sudah dapat menebak segerombolan pria yang mengejar mereka saat ini.
Bisa saja Hazel menyerahkannya kepada para pria tersebut, bukan? Namun Hazel justru mempertahankannya. Sekarang Jessica percaya bahwa pria itu benar-benar mencintainya dengan tulus.
Mereka mulai memasuki pemukiman warga, tapi pria-pria itu masih mengejar mereka tanpa henti. Jessica yang sudah merasakan lelah dan pegal pada kakinya, menyuruh Hazel untuk lari lebih dulu. Dengan tegas Hazel menolaknya, dia tidak mungkin meninggalkan Jessica sendiri.
Jika kekasihnya ingin berhenti, berarti dirinya harus ikut berhenti. Hazel lalu melihat tumpukan kardus yang menjulang tinggi, dia pun dengan segera membawa Jessica untuk bersembunyi di balik tumpukan kardus tersebut.
Para anak buah Lutfi yang tidak menyadari keberadaan mereka, terus berlari hingga menjauh dari pandangan keduanya. Merasakan bahwa suasana sudah aman, Hazel dan Jessica perlahan keluar dari persembunyian.
Kedua pasangan itu bernafas lega, kemudian tertawa bersama sambil saling berpandangan. Tiba-tiba saja, terdengar suara tepukan tangan dari arah belakang mereka. Keduanya pun berbalik, dan ternyata itu adalah Lutfi.
Lutfi tersenyum miring melihat kegigihan kedua pasangan itu yang ingin menghindar darinya. Namun semuanya itu sia-sia. Karena saat ini, Hazel dan Jessica sudah terjebak dan tidak bisa untuk berlari kemana lagi.
Di sisi mereka terdapat bangunan bertingkat yang merupakan rumah warga. Sedangkan di belakang mereka, sudah terdapat segerombolan pria yang tadi mengejar. Sepertinya mereka benar-benar terjebak.
Hazel melindungi Jessica dengan menyembunyikannya di balik tubuhnya. Selama dirinya bernafas, dia tidak akan membiarkan tangan kotor mereka menyentuh kulit Jessica sedikitpun.
"Jessica..." Lutfi memanggil wanita itu sambil memberinya isyarat untuk mendekat. Tapi Jessica malah menggelengkan kepalanya tanda menolak.
"Kemari, Jessica! Jangan membuatku bertambah kesal," sambung Lutfi sambil menatapnya tajam. Namun sikapnya itu justru semakin membuat Jessica tidak ingin ikut bersamanya.
"Kau..." Lutfi menggeram, "Apakah kau tidak dengar dengan yang kukatakan, J****g?" hardiknya.
Kedua tangan Hazel mengepal. Mata Lutfi dan dirinya kini bertemu, dengan saling menatap benci satu sama lain.