
Esok paginya, semuanya sudah kembali seperti semula. Seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka. Namun bagi Angel, dirinya tidak akan bisa untuk melupakan kejadian kemarin. Dan biarlah itu semua menjadi kenangan yang buruk diantaranya dan juga Damian.
Kini Angel sedang menunggu Damian di meja makan untuk sarapan bersama. Saat pria itu muncul, Angel justru terlihat bingung.
"Kau tidak berangkat ke kantor?" Dahinya mengkerut saat melihat pakaian yang Damian kenakan pagi ini.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku bosan di kantor." Dengan santainya pria itu menjawab. Angel memutar bola matanya malas, dia lalu memilih untuk mengambil makanan lebih dulu.
"Apa kau tidak bosan di mansion?" tambah Damian.
"Tentu saja aku bosan."
"Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan hari ini." Mendengar ucapan Damian barusan, membuat Angel langsung menatapnya heran.
"Aku tahu aku tampan. Jadi tidak usah menatapku seperti itu," goda Damian sambil terkekeh geli.
"Kau ini percaya diri sekali," cibir Angel.
"Bukannya aku terlalu percaya diri, hanya saja aku memang tampan. Sekali wanita melihatku, mereka pasti langsung terpesona."
"Whatever you say."
Kekehan Damian berubah menjadi tawa. Pria itu sangat senang jika membuat Angel menjadi kesal.
Setelah keduanya selesai sarapan, Damian langsung mengajak Angel ke sebuah mall di pusat kota.
"Belanjalah sesuka hatimu!!" ujar Damian ketika mereka berada di salah satu toko wanita.
"Aku tahu." Angel membalasnya ketus, kemudian segera melangkah meninggalkan pria tersebut.
Melihat Angel yang seperti itu, membuat Damian menggeleng-gelengkan kepala.
"Dasar wanita."
Angel berkeliling dan melihat-lihat isi toko tersebut dengan di dampingi oleh dua pegawai disana. Namun tidak ada satupun yang menarik menurutnya. Ia hanya ingin melihat, menyentuh lalu menaruhnya kembali.
"Hufftt..." Helaan nafas bosan keluar dari bibirnya. Angel pun memutuskan untuk kembali ke Damian yang sedang duduk menunggu dirinya sambil memainkan ponselnya.
"Sudah? Mana belanjaanmu?" tanya Damian sambil melihat kearah dua pegawai di belakang Angel. Namun tak ada satupun barang yang di bawa oleh kedua pegawai tersebut. Dan itu membuat Damian menjadi heran.
"Kau tidak berbelanja?"
"Aku sedang tidak ingin berbelanja," jawab Angel dengan nada malas.
"Lalu?"
"Aku hanya ingin mencari udara segar." Tanpa menunggu sahutan dari Damian, Angel sudah lebih dulu keluar dan menuju ke mobil. Untuk sejenak Damian merasa takjub. Karena dirinya seperti tidak salah dalam memilih seorang wanita. Dan pilihannya ini benar-benar tepat.
"Wanita yang langka," gumamnya diiringi dengan tawa kecil. Sebelum akhirnya dia menyusul Angel yang sudah menunggu dirinya di samping mobil.
"Emm, Damian..." Angel terlihat ragu, dan itu jelas tercetak dari gerak-geriknya.
Damian yang saat itu sedang membukakan pintu mobil untuk Angel, segera menoleh ketika wanita itu memanggil dirinya.
"Ada apa?"
"Bolehkah aku mengendarainya?"
"Apa?" Damian benar-benar bingung dengan sikap Angel ini.
"Aku ingin mengendarainya. Apa tidak boleh?"
Damian menatap Angel dengan penuh curiga, namun pada akhirnya dia mengangguk saat melihat tatapan memohon dari wanita tersebut.
Angel terlihat senang sembari menyodorkan sebelah tangannya pada Damian. Dan pria itu lalu memberikan kunci mobilnya ke Angel. Setelah kunci berada di tangannya, Angel langsung berjalan kearah kemudi dan mendudukkan dirinya di kursi tersebut. Sedangkan Damian mengambil tempat duduk di sebelahnya sambil mengawasi wanita itu.
Angel menghidupkan mesin mobil itu, lalu dia menoleh kearah Damian dengan senyum smirknya. Dan tanpa aba-aba, Angel menginjak pedal gasnya dengan kencang yang membuat Damian kaget sekaligus melongo pada wanita di sampingnya ini. Namun Angel tidak memperdulikan itu dan segera menjalankan mobilnya untuk menjauh dari mall tersebut.
Seperti mendapatkan kebebasan, membuat Angel tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Dan Damian ikut senang saat melihat senyum lepas tanpa dibuat-buat di wajah Angel.
"Aku tidak menyangka kau segila ini!!" celetuk Damian yang berupa sindiran. Tapi Angel pura-pura tidak mendengarnya dan masih tetap fokus pada kegiatannya.
Bahkan saat mereka berada di sebuah belokkan yang sangat curam, Angel tidak mengurangi kecepatannya. Damian hanya diam, sesekali dia melihat kearah Angel yang tampak begitu fokus.
"Kau ingin lebih ekstrim lagi?" Langsung saja Angel menatapnya dengan antusias.
"Baiklah, kita ke bandara D sekarang." Angel mengangguk singkat, kemudian menambah kecepatan mobil tersebut.
Dan tak butuh waktu lama, mereka tiba di sebuah bandara D yang dapat Angel pastikan bahwa ini milik Damian. Karena dari awal memasuki bandara itu, Angel sudah dapat melihat pesawat pribadi milik Damian yang terparkir disana. Bahkan orang-orang yang berada disana merupakan orang-orang yang sering Angel lihat di mansion, lebih tepatnya para pengawal Damian.
Melihat Damian yang turun dari mobil, beberapa pria berjas hitam langsung mendekat kearahnya sambil menunduk hormat. Angel tidak tahu mereka membicarakan apa, karena dirinya berada cukup jauh dari posisi Damian saat ini. Namun yang menyita perhatiannya adalah, sebuah jet yang berukuran mini di samping pesawat Damian.
Disaat dirinya sedang fokus melihat benda tersebut, tiba-tiba Damian menarik sebelah tangannya.
"Kau akan membawaku kemana?"
"Sudah, ikut saja. Dan pakai ini." Angel menatap bingung pada sebuah pelindung yang Damian berikan.
"Jangan dilihat, tapi di pakai," tambah Damian yang telah menggunakan pakaian pelindung yang sama dengan yang diberikannya kepada Angel. Wanita itu menghela nafasnya pelan, sebelum akhirnya memakai hal yang sama dengan Damian.
Kembali, Damian menarik Angel ke jet mini tadi.
"Kau bisa menerbangkannya?"
Tentu saja Angel langsung menggelengkan kepalanya. Jangankan menerbangkannya, menaikinya saja tidak pernah, pikir Angel.
Damian mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian dia meminta Angel untuk masuk lebih dulu ke jet itu dan duduk di samping penerbang. Setelah itu barulah dirinya yang masuk dan mengambil posisi di samping Angel.
Tiba-tiba Angel merasa ada yang tidak beres setelah melihat pria itu duduk di sampingnya. Lalu matanya dia edarkan keluar, namun tak ada di antara orang-orang diluar yang mengenakan pakaian yang sama seperti dirinya dan Damian.
"Damian, apakah kau yang akan menerbangkannya?" tanya Angel ragu.
"Tentu saja!!" jawab pria itu sombong.
"Apa kau pernah menerbangkan jet ini?"
"Hmm...saat umurku 27 tahun. Itupun hanya sekali." Damian terkekeh ketika mengingat masa-masa dimana dirinya yang dengan begitu beraninya menerbangkan jet ini walaupun daddy-nya tidak memperbolehkannya.
Angel menatap Damian tidak percaya.
'Oh god. Aku tidak ingin mati sekarang apalagi jika harus dengannya.'
"Emm, Damian...sepertinya kau saja yang terbang bersama jet ini, aku tidak ikut." Angel lalu mengambil ancang-ancang ingin keluar, namun tentu saja segera di tahan oleh Damian.
"Kau takut?" ejek Damian sambil menaik-turunkan alisnya.
"Tidak."
"Lalu mengapa kau ingin keluar?"
"A-aku ada urusan."
Damian tertawa, "Benarkah? Baru kali ini aku melihat wajahmu yang tampak takut seperti itu. Biasanya kau selalu bersikap menjadi pemberani, namun kini?"
"Aku bukan penakut," tegas Angel.
"Oh ya? Kalau begitu tunjukan padaku."
"Baiklah." Angel kemudian memilih diam di kursinya, dan itu membuat Damian bersorak dalam hati.
"Pakai sabuk pengamanmu. Jika kau terjatuh, aku tidak bertanggung jawab," ujar Damian yang mulai fokus pada tombol-tombol di depannya. Angel mendengus, namun tak urung menurutinya.
"Oke. Ready?" tanya Damian sambil tersenyum. Angel mengangguk walaupun dirinya merasa ragu, dan itu semakin ingin membuat Damian bersemangat untuk mengerjainya.
Damian mulai menerbangkan jet itu. Dan Angel dengan jantungnya yang berdetak kencang hanya bisa berpegangan pada sabuknya.
"Rileks, My Angel. Kau pasti akan menyukainya." Kekehan Damian dibalas dengan tatapan tajam dari Angel.
Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja, jet yang mereka naiki sudah meninggi. Angel yang semula takut, kini jadi menikmatinya. Damian lalu membuka kaca berbentuk cembung diatas kepalanya, agar mereka berdua bisa langsung memandang bahkan bersentuhan langsung dengan kabut awan.
Angel berteriak senang, apalagi saat Damian membuat jet tersebut berputar-putar. Inilah yang membuat Damian menyukai Angel. Angel merupakan wanita yang pemberani dan tidak takut akan hal apapun.
"Kau senang?" tanya Damian dengan setengah berteriak. Karena suaranya tertutupi oleh angin dan juga deru mesin jet itu.
"Sangattt..." Dengan girangnya Angel membalas teriakkan tersebut.
Damian tersenyum melihat kebahagian yang terpancar dari raut wajah Angel. Dia kemudian menambahkan kecepatan jetnya sambil membawanya turun ke bawah.
Ketika sudah berada di atas permukaan laut, Angel dengan usilnya mencipratkan air asin tersebut ke wajah Damian. Dan Damian pun segera menaikkan kembali jetnya karena Angel tidak menghentikan aksinya itu.