
Angel baru saja selesai sarapan, dan langsung saja dia pergi dari kedai tersebut. Sekarang yang akan dia lakukan adalah menjalankan misinya, yaitu mencari tahu pemimpin mafia itu sekaligus tempat, yang dimana menjadi simpanan barang ilegal.
Jalanan cukup ramai, mungkin karena ini masih pagi. Dan sebagian besar yang memenuhi jalanan adalah orang-orang yang ingin berangkat bekerja.
Angel memilih untuk berjalan kaki sekaligus berolahraga. Jika dirinya menaiki taksi, tentulah dia tidak akan tahu kapan untuk sampai. Mengingat jalan raya tengah ramai saat ini.
Kakinya membawanya untuk berbelok di gang sepi. Entah kenapa dirinya ingin sekali menuju kesana. Di dalam perjalanannya, Angel merasakan ada yang mengikutinya, lantas dia membalikkan badannya namun tidak menemukan siapapun.
Senyum miring muncul di bibirnya tatkala dia melihat sesuatu. Kemudian Angel berbalik dan mempercepat langkahnya. Sedangkan pria yang baru saja mengikutinya secara diam-diam, mendadak muncul dari balik pilar.
"Ehh? Dimana dia?" Pria itu mengedarkan pandangannya, namun tidak menemukan Angel dimanapun.
"Kau mencariku?"
Sontak pria itu langsung berbalik ketika mendengar suara wanita di belakangnya. Matanya membulat saat melihat wanita yang sedang dia cari, tepat di hadapannya sekarang.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Angel dengan tatapan dinginnya.
Pria itu berdehem sejenak, kemudian membalas tatapan dari wanita tetsebut.
"Aku tidak mengikutimu. Lagipula, rumahku ada di depan sana."
Mendengar itu, seketika membuat Angel tertawa. Lebih tepatnya tertawa sarkastik. Wanita itu kemudian mengakhiri tawanya dan kembali menatap pria di hadapannya ini dengan tajam nan dingin.
"Kau pikir aku percaya dengan kata-katamu?" Angel tersenyum sinis,
"Tidak."
Bughh!!!
Tanpa memberi kode atau isyarat, Angel dengan santainya memukul pria tersebut hingga jatuh ke lantai.
"Jawab aku! Apa yang kau inginkan dariku?" teriak Angel sambil mencengkeram kerah baju pria itu.
"Aku hanya melakukan perintah."
"Benarkah? Siapa tuanmu?"
Pria itu tidak menjawab, dia justru menampilkan senyum smirknya. Tak lama...
Bugghh!!!
Tubuh Angel perlahan luruh dan jatuh ke lantai. Dirinya lengah hingga tidak menyadari ada seseorang di belakangnya dan memukul belakang tubuhnya dengan cukup keras.
Dengan pandangannya yang kabur, Angel dapat melihat seorang pria yang sedang berdiri dan menatapnya datar. Tak lama, perlahan matanya tertutup dan dirinya pun kehilangan kesadaran.
...* * *...
Kelopak mata yang indah itu perlahan terbuka. Untuk sejenak dia menyesuaikan cahaya, kemudian hendak bangun dari berbaringnya. Namun, pusing langsung mendera kepalanya tatkala dia ingin mengganti posisinya menjadi duduk.
Serasa membaik, dengan perlahan Angel membenarkan posisi duduknya sembari memegangi kepalanya yang masih berdenyut.
Saat pusingnya sudah mulai berkurang, Angel mengalihkan pandangannya ke segala penjuru ruang. Kamar mewah yang memiliki fasilitas lengkap dan modern, bisa dia tebak bahwa pemilik tempat ini bukanlah orang sembarangan.
Angel kemudian kembali mengingat apa yang terjadi padanya. Namun semakin dipaksakan, kepalanya justru kembali menjadi pusing. Wanita itupun menghentikannya dan membiarkan pikirannya menjadi netral dan tidak memikirkan apapun untuk saat ini.
"Dimana sebenarnya ini?" gumam Angel sambil berdiri perlahan.
Wanita itu lalu melangkah menuju pintu yang dia yakini adalah pintu keluar. Dan benar saja, itu adalah pintu untuk keluar dari kamar ini.
Angel lalu keluar dari kamar tersebut yang memang tidak di kunci. Karena tidak tahu harus kemana, Angel terus melangkah tanpa arah.
Hingga tibalah Angel di ruangan yang begitu luas, yang merupakan ruang santai. Disana terdapat sebuah tempat untuk membakar kayu, agar ruangan menjadi hangat di kala musim dingin dan salju.
Wanita itu terus melangkah hingga mencapai di ujung ruangan. Dirinya terkejut saat melihat sebuah foto yang di pajang dengan ukuran besar. Yang dimana di dalam foto tersebut adalah gambar dari dirinya.
Disaat Angel sedang fokus menatap foto dirinya, seorang pria tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Kau sudah sadar rupanya."
Refleks, Angel membalikkan badannya tatkala mendengar suara itu. Untuk sejenak mereka berdua terdiam dan saling berpandangan. Hingga Angel menyudahi keheningan di antara mereka, dan wanita itu mengembalikan raut wajahnya menjadi datar.
"Siapa kau? Dan apa yang kau inginkan dariku?"
Pria itu terkekeh, kemudian melangkahkan kakinya untuk mengitari Angel.
"Kau benar-benar tidak mengenalku?"
"Jika aku mengenalmu, tidak mungkin aku bertanya." Angel menghela nafasnya jengah.
"Benar juga." Pria itu kembali terkekeh, lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga wanita tersebut.
"Akulah yang kau cari, Damian Wilson."
Seketika Angel menoleh ke samping. Dan hampir saja bibirnya menyatu dengan bibir pria itu, jika saja dirinya tidak langsung memundurkan kepalanya.
"Kau... Damian Wilson?"
"Tentu saja," jawab Damian sambil melangkah menuju sofa.
"Benarkah? Ucapanmu meragukan." Angel menyipitkan matanya seperti tengah menilai pria tersebut.
Damian tertawa, "Terserah kau ingin percaya atau tidak. Namun itulah pernyataannya."
Angel mencebikkan bibirnya dan menatap malas pria tersebut. Lalu tatapannya beralih pada sebuah pintu yang cukup lebar, yang di yakininya merupakan pintu keluar dari ruangan yang dia pijaki sekarang.
Angel menghitung dalam hatinya, tak lama dia berlari menuju pintu. Tapi belum juga memegang handle pintu, tangannya sudah di tarik dari belakang hingga membentur sesuatu yang amat keras.
"Aku tidak akan melepaskanmu." Damian memasang wajah dinginnya tanpa memperdulikan wanita tersebut yang meringis kesakitan karena terbentur dengan dada bidangnya.
Angel mendongakkan kepalanya dan membalas tatapan pria tersebut dengan tajam.
"Kau pikir aku ingin tinggal disini hah?"
Pria itu terkekeh lalu melepaskan tangan Angel, dan tak lupa untuk mengunci pintu yang terdapat di belakang wanita tersebut. Setelah itu, Damian mendekati Angel secara perlahan hingga wanita itu tersudut di buatnya.
"Jangan macam-macam!" tunjuk Angel yang memperingati pria tersebut.
"Jangan membuatku harus menggunakan cara kasar padamu!" Untuk kesekian kalinya Angel memperingati pria itu. Tapi pria itu malah tertawa seolah ucapannya adalah lelucon.
"Kau ini kasar sekali, tidak berubah sedikitpun dari dulu!"
Dahi Angel mengkerut bingung.
Dia mengenalku? Tapi mengapa aku tidak mengenalnya sama sekali?
Angel tidak menjawabnya. Wanita itu justru mendorong tubuh Damian hingga pria tersebut memundurkan beberapa langkahnya.
"Aku tidak mengenalmu sama sekali. Jadi, biarkan aku pergi." Angel hendak kembali melangkah, namun sayangnya, lagi-lagi Damian menahannya.
"Bukankah aku yang kau cari? Tapi mengapa kau justru ingin pergi?" Damian menaikkan alisnya heran.
Karena ini bukanlah bagian dari rencanaku. timpal Angel dari dalam hati.
"Sepertinya tidak lagi." Angel menghempas kasar tangan Damian. Dan hendak berlalu dari ruangan itu, namun baru dirinya memegang kunci yang terpasang di pintu, Damian justru mengatakan sesuatu yang membuat Angel menghentikan niatnya tersebut.
"Sebaiknya kau jangan meninggalkan tempat ini. Itupun jika kau tidak ingin kehilangan satu-satunya temanmu." Damian berujar santai sambil melangkah kembali ke sofa dan mendudukkan dirinya disana.
Angel membalikkan tubuhnya dan menatap tajam pria itu.
"Jangan kau coba-coba untuk menyentuhnya!" teriak Angel penuh emosi dan menatap benci pada Damian.
Damian menyeringai, "Maka turuti perkataanku jika kau tidak ingin melihat temanmu itu terluka."
"Kau benar-benar...." Angel tidak bisa berkata-kata lagi. Apalagi ini menyangkut kehidupan Susan.
Wanita itu lalu memejamkan matanya untuk mengontrol emosi, kemudian kembali menatap Damian.
"Lalu apa yang harus kulakukan agar kau tidak menyakiti orang terdekatku?"
"Cukup mudah. Tinggallah disini bersamaku."
"Aku tidak bisa tinggal disini selamanya denganmu."
"Aku tidak mengatakan selamanya." Damian menjeda ucapannya lalu mendekati Angel dengan langkah pelan. Pria tersebut dengan beraninya menyentuh ujung rambut Angel dan memainkannya.
"Aku memberimu waktu 365 hari untuk mencintaiku. Jika kau sudah mencintaiku, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku. Tapi jika dalam waktu tersebut kau belum mencintaiku, kau boleh pergi dan bebas!" jelas Damian.
"Kenapa aku harus mencintaimu? Mengenalmu saja tidak." Angel merasa pria ini agak aneh. Baru bertemu, namun sudah memintanya untuk tinggal disini. Dan apa pula katanya tadi, Damian memberinya waktu agar bisa mencintai pria tersebut. Are you kidding me??
"Kau bukan tidak mengenalku, lebih tepatnya kau tidak mengingatku."
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Maka aku akan melenyapkan temanmu itu bersama dengan kedua orangtuanya!" bisik Damian yang terdengar seperti ancaman.
Angel meneguk ludahnya dengan susah payah. Dia tidak boleh membuat Susan terlibat dalam misi yang dilakukannya.
"Baiklah, aku menerima ucapanmu tadi. Tapi aku mempunyai persyaratan."
"Apa?" timpal Damian sambil mengendus aroma rambut Angel.
Angel menatapnya risih, namun karena tidak ingin membuang waktunya lebih lama, Angel segera mengatakan persyaratannya.
"1. Kembalikan tasku beserta barang-barang di dalamnya."
Damian hanya berdehem, pertanda bahwa dia menyetujuinya.
"2. Aku ingin bebas dan bisa pergi kemana pun yang aku suka."
"Baiklah, tapi pengawalku akan selalu mengikuti dan mengawasimu."
Mendengarnya, membuat Angel langsung memutar bola matanya malas.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Benarkah?" sahut Damian dengan senyum mengejek.
"Jika kau bisa menjaga dirimu, tidak mungkin kau bisa berada disini, Sayang."
Tatapan Angel berubah menjadi datar, wanita itu lalu mengatakan persyaratannya yang terakhir.
"Yang ke-3. Jangan pernah menyentuhku tanpa seizin dariku."
"Asal aku tidak khilaf."
Angel membulatkan matanya,
"Jika kau berani menyentuhku, aku tidak akan segan-segan untuk memotong benda pusaka mu itu!" ancamnya.
Damian tertawa terbahak, baru kali ini ada wanita yang berani mengancamnya. Dan apa yang dia katakan tadi, dia akan memotong benda pusakaku jika aku berani menyentuhnya? pikir Damian.
Damian berdehem pelan dan meredakan tawanya
"Baiklah-baiklah. Hanya itu persyaratannya?"
Angel hanya mengangguk singkat.
"Okey, aku setuju."
Setelah mengatakan itu, Damian meminta Angel untuk kembali ke kamarnya yang tadi. Dan saat Angel baru masuk ke kamarnya, ternyata tasnya sudah berada diatas kasur bersama dengan kartu Credit Unlimited.
Angel tidak tahu siapa yang meletakkannya. Mungkinkah anak buah Damian? Angel memilih untuk tidak memperdulikannya. Wanita itu kemudian mengambil tasnya dan mengecek isinya.
Hembusan nafas lega keluar dari bibirnya saat menyadari bahwa tidak ada satupun barangnya yang menghilang di dalam tas. Lalu tangan Angel terulur untuk mengambil kartu yang masih berada di atas kasurnya.
Awalnya Angel terlihat bingung, namun sedetik kemudian, senyum jahat muncul di bibirnya.
"Sepertinya aku bisa membeli pulau dengan kartu ini," gumamnya sambil membolak-balikan kartu tersebut.
__________________________
Jangan lupa Vote dan Comentnya😉