
Satu minggu telah berlalu. Dan selama itu juga Henry telah tiada akibat kecelakaan yang menimpanya bersama dengan Susan waktu itu.
Dan sejak kepergian dari Henry, Susan cenderung menjadi pendiam dan kadang melamun. Entahlah, apakah wanita itu merasa kehilangan atas kepergian dari Henry atau hanya merasa bersalah. Karena, jika saja Henry tidak menyelamatkannya, mungkin pria itu tidak akan pergi.
Selama seminggu ini juga, Susan beserta keluarga dari Henry menunggu konfirmasi dari polisi mengenai orang yang menabrak Henry. Namun hingga detik ini, tak ada kabar sama sekali.
'Jika Angel yang menyelidikinya, aku pasti tidak perlu menunggu selama ini.' Susan menghela nafasnya kasar. Kemudian wanita itu menatap sekitarnya, dimana tidak ada lagi orang-orang kecuali dirinya di ruangan itu.
Waktu sudah menunjukkan untuk istirahat. Dengan langkah letih, Susan berjalan menuju kantin sendirian.
Suasana kantin begitu ramai. Lagi-lagi wanita itu menghela nafasnya, karena tidak kebagian tempat duduk lagi. Susan pun memutuskan untuk mencari makan di luar daerah tempatnya bekerja.
Dan pilihan wanita itu jatuh pada kedai makan yang berada di sebrang jalan. Susan melihat ke kanan dan ke kiri dulu, setelah itu barulah dia menyebrang. Susan tidak mau kejadian yang sama kembali terulang seperti dirinya bersama dengan Henry.
Susan sudah memesan makanannya, dan tinggal menunggu pesanan itu datang. Saat matanya melihat-lihat sekelilingnya, tak sengaja matanya menangkap sosok seseorang yang dia kenal.
Sosok itu sedang makan di kedai yang sama dengannya. Hanya saja, jarak tempat duduk mereka lumayan jauh.
Tak sampai satu menit, sosok itu mengangkat kepalanya, hingga tatapannya bertemu dengan mata milik Susan. Awalnya dia terkejut, sedetik kemudian dia mengubah ekspresinya seperti biasa. Bahkan wanita di ujung sana menatap Susan dengan sinisnya.
Kelihatannya wanita itu sudah menyelesaikan acara makannya. Karena saat ini, wanita tersebut sudah bangkit berdiri dan memanggil pelayan untuk membayar semua pesanannya.
Setelah itu, wanita tadi menuju keluar. Namun sebelum keluar, dia sempatkan untuk menatap Susan dengan tajam. Melihat kepergian dari wanita tersebut, buru-buru Susan mengambil uangnya di dalam dompet kemudian meletakkan uang itu di atas meja yang ia tempati.
Dan tanpa mengatakan apapun pada pelayan disana, Susan segera keluar untuk mengejar wanita tadi. Dan di lihatnya, wanita itu berjalan memasuki sebuah gang. Dengan sedikit berlari, Susan mengejarnya dan memasuki gang tersebut.
Sepertinya, wanita itu sengaja membuat Susan agar mengikutinya. Dan bodohnya Susan tidak menyadari itu.
Hingga tibalah mereka di tempat sepi. Dan wanita yang Susan ikuti, menghentikan langkahnya kemudian berbalik untuk menatap Susan.
"Kenapa kau mengikutiku? Apa kau ingin bernasib sama seperti kekasihmu itu, heh?"
Dahi Susan mengkerut bingung, "Siapa maksudmu?"
"Siapalagi jika bukan Henry?" Wanita itu melipat kedua tangannya di dada sembari menatap Susan jengah.
"Kau tahu darimana kalau dia..."
"Tentu saja aku tahu. Karena aku yang melakukan itu, sehingga membuat pria tersebut kehilangan nyawanya." Veronica tertawa jahat.
"Dan bodohnya, Henry justru mengorbankan nyawanya hanya untuk wanita sepertimu."
Susan terkejut hingga tidak dapat lagi untuk mengatakan satu katapun.
"Dan kau tahu? Kenapa polisi-polisi itu tidak mencari atau berusaha untuk mengejarku?"
Dengan pelan, Susan menggelengkan kepalanya.
"Karena aku menyuap mereka.." Veronica kembali tertawa. Bahkan tawanya saat ini jauh lebih besar daripada tadi.
Air mata Susan sudah membanjiri pipinya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Apalagi saat ini, Veronica sudah mengeluarkan pisau di balik jaketnya.
"Dan sekarang, giliranmu.." Tatapan Veronica begitu tajam, hingga membuat Susan bergidik dan takut.
"Ve-Veronica, kumohon sadarlah.." Susan menoleh ke samping kanan dan kiri, siapa tahu ada seseorang yang bisa membantunya untuk menjauh dari iblis di depannya ini.
"Aku sangatlah sadar saat ini. Jadi kau tidak perlu repot-repot untuk mengingatkanku. Dan satu lagi, percuma kau berteriak, karena disini sangatlah jarang di lalui oleh manusia. Dan bersiaplah untuk menyusul kekasihmu itu."
"Tidak, Veronica. Kumohon jangan..." Susan sudah menangis sejadi-jadinya. Bahkan wanita itu sudah berteriak, namun sayangnya tak ada yang mendengar teriakkannya ini.
Susan pun memilih untuk berlari menjauhi Veronica. Namun Susan lupa jalan yang dia lewati tadi, sehingga dirinya justru semakin jauh dari pemukiman warga.
Susan melihat sebuah rumah di tengah hutan. Tanpa pikir panjang, dia segera memasuki rumah tersebut. Rumah itu sangatlah sepi, kotor dan berdebu, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Tidak masalah. Yang penting aku bisa sembunyi dari Veronica untuk saat ini, pikir Susan.
Wanita itu memilih untuk bersembunyi di ruang bawah tanah. Dimana tempat tersebut begitu banyak barang yang berserakan. Susan pun segera bersembunyi di balik sofa di ujung ruangan.
Tak henti-hentinya Susan berdoa agar terlepas dari jeratan Veronica. Apalagi mendengar suara sepatu Veronica, membuat Susan ingin menjerit rasanya.
Susan membekap mulutnya rapat-rapat agar isakannya jangan sampai keluar. Suara langkah kaki Veronica yang mendekat, semakin membuat jantung Susan berdegup dengan sangat kencang.
"Oh Susan, dimana kau? Ayolah keluar, jangan bermain-main denganku!" Veronica mencari keberadaan Susan dengan tangannya yang memegang pisau.
'Aku menyesal mengikutinya..' Susan membatin sembari mengumpati kebodohannya ini.
Susan dapat melihat Veronica berada di depannya dengan posisi membelakanginya. Jantungnya seolah berhenti detik itu juga. Susan lalu meneguk salivanya susah, kemudian memberanikan diri untuk kembali berlari keluar.
'Kau bisa Susan..' Wanita itu menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan.
Dengan sangat pelan dan hati-hati, Susan kembali berdiri. Kemudian dia mendekati Veronica lalu mendorong wanita tersebut dengan sangat kuat sehingga membuat Veronica jatuh tersungkur.
Susan tidak menyianyiakan kesempatan ini. Dengan tenaga yang tersisa, Susan berlari ke tempat awalnya tadi.
"Shit," umpat Veronica kesal. Dia lalu segera bangun kemudian mengejar Susan.
Perjuangan Susan tidak sia-sia. Wanita itu akhirnya kembali ingat jalan pertamanya. Bahkan kini Susan sudah dekat dengan awal gang yang dia gunakan untuk mengikuti Veronica tadi.
"Susan, kemari kau.." teriak Veronica, dan itu membuat Susan semakin mempercepat larinya. Bahkan high hellnya, sudah dia buang entah kemana.
Hingga tibalah Susan di penghujung gang, namun...
Srettt~
Susan dapat merasakan sebuah benda tajam yang menghunus punggungnya. Dan dari kejauhan, Veronica tersenyum iblis. Karena lemparannya mengenai sasaran.
Dan Susan, mulai ambruk ke tanah. Melihat itu, Veronica lalu menghampirinya. Pandangan Susan mulai kabur, hingga tidak dapat melihat apapun lagi selain bayangan Veronica yang sudah berada di depannya.
Veronica tersenyum sinis, "Sudah kukatakan, bukan? Bahwa sekarang adalah giliranmu. Dan seharusnya kau berterima kasih padaku. Karena apa? Karena aku telah membantumu untuk bertemu dengan pujaan hatimu itu."
Wanita itu benar-benar seperti iblis. Bahkan tanpa rasa bersalahnya, Veronica mengambil pisau yang masih tertempel di punggung Susan. Dan saat dia melakukan itu, tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.
"Apa kau lakukan?" teriak seorang pria yang terkejut saat mendapati bahwa ada seorang wanita yang tergeletak di tanah dengan penuh darah.
Veronica panik, lalu dengan cepat dia mengambil pisaunya kemudian segera berlari meninggalkan tempat tersebut. Sementara pria tadi, bingung di buatnya. Antara mengejar Veronica atau membantu Susan?
"Ahh, sudahlah. Biar polisi yang akan menangani wanita jahat tadi.." Buru-buru pria itu menggendong Susan sembari berteriak meminta tolong.
Tak butuh waktu lama, orang-orang berbondong membantunya. Kini tujuan mereka adalah membawa Susan ke rumah sakit.