
"Ckk, mengapa mereka lama sekali?" gerutu Damian yang sudah cukup lama duduk di meja makan.
"Mungkin mereka sedang dalam perjalanan," sahut Lucas tanpa menatap putranya itu. Damian pun berengut kesal, kemudian dia memilih untuk memainkan ponselnya saja.
"Ingat! Jaga sikapmu nanti." Lucas memperingati Damian agar kejadian tadi sore tidak kembali terulang.
Dan akhirnya yang di tunggu-tunggu tiba juga. Chales dengan menggandeng tangan Angel, melangkah masuk ke ruang makan itu.
"Maaf, kami telat."
"Tidak masalah, ayo duduklah." Lucas membalasnya dengan ramah. Dan setelah memastikan bahwa Charles dan Angel duduk, dia pun segera mengambil posisinya.
Mereka pun duduk di meja makan yang panjang, sehingga Charles dan Lucas saling berhadapan. Sedangkan untuk Damian dan Angel, kedua manusia itu tak henti-hentinya saling bersitatap tajam.
"Ayo makanlah. Tidak usah canggung dengan kami," ujar Lucas mempersilahkan mereka untuk makan. Mereka makan dalam diam, kadang sesekali Lucas dan Charles berbicara tentang bisnis mereka.
Dan Angel yang tidak mengerti bahwa ayahnya membicarakan apa, lebih memilih untuk fokus makan saja. Gadis itu lalu mengambil ayam goreng didepannya, kemudian dimakannya dengan ganas seolah-olah itu adalah daging Damian😂.
Melihat tingkah dari Angel, membuat Damian tertawa kecil.
"Dasar gadis labil," gumamnya sambil meneruskan makanannya. Namun kata-katanya itu masih dapat di dengar oleh Angel.
"Apa kau bilang?" tanya Angel setengah berteriak.
"Angel, jaga sikapmu." Charles menegur putrinya itu dengan tatapan memperingati.
"Dia duluan, Ayah. Dia mengataiku gadis labil," adunya sambil menunjuk Damian.
"Memang kau gadis labil, kan? Bahkan sepertinya kau masih Elementary School," timpal Damian dengan senyum miringnya.
"Ayah, kau dengar? Dia mengataiku lagi."
"Damian, bukankah sudah Daddy katakan tadi?" sela Lucas di tengah perdebatan Angel dan Damian.
"Okey, fine." Wajah Damian mendadak kesal. Pria itu lalu memilih untuk fokus pada makanannya kembali.
Lucas beralih menatap Angel yang kini tengah cemberut.
"Memangnya Angel sekarang sekolah dimana?"
"New York high school, Paman," jawab Angel namun masih dengan wajah cemberutnya.
Lucas mengangguk-anggukan kepalanya.
"Umurmu berapa jika Paman boleh tahu?"
"13 tahun, Paman."
Damian menatap Angel dengan terkejut,
'Aku pikir umurnya 10 tahun. Tubuhnya saja begitu kecil.'
"Jangan menatapku seperti itu." Angel memelototkan matanya pada Damian yang tengah menatapnya.
Damian pun segera mengalihkan pandangannya dengan dibarengi decakan. Sedangkan Lucas dan Charles hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anak mereka yang tidak bisa akur ini.
Setelah selesai dengan makan malamnya, Charles dan Angel berpamitan untuk kembali ke villa yang mereka tempati. Karena besok mereka akan kembali ke New York.
"Jaga dirimu baik-baik. Mungkin besok aku tidak sempat untuk berpamitan denganmu. Jadi lebih baik aku berpamitan sekarang," ujar Charles pada Lucas.
"Tidak masalah. Kau juga, jaga dirimu dan keluargamu. Apalagi gadis kecil yang manis ini." Lucas mengacak-acak rambut Angel dengan gemas. Sementara Damian berdecih saat mendengar ayahnya yang mengatakan bahwa Angel manis.
"Damian, apa kau tidak mau berpamitan padanya?" tambah Lucas sambil melirik Angel.
"Untuk apa aku berpamitan dengannya, Dad?" Damian menatap daddy-nya malas.
"Aku juga tidak mau berpamitan denganmu," ketus Angel sembari membuang wajahnya ke samping. Mendengar jawaban dari gadis itu, membuat Damian menjadi jengkel.
"Baiklah, sepertinya kami harus pergi sekarang," lerai Charles. Karena Angel dan Damian harus dipisahkan menurutnya.
Lucas mengangguk singkat lalu memeluk Charles. Angel hanya berdiri dengan wajah bingungnya, karena dirinya tidak tahu harus berbuat apa. Namun sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dengan santainya dia berjalan mendekati Damian. Dan Damian yang tidak tahu apa yang akan gadis di depannya ini ingin lakukan, memilih untuk bersikap acuh sembari memasang wajahnya datar.
"Aku tahu pertemuan kita sangat singkat dan bisa dikatakan tidak pernah akur. Jadi...Aku ingin membuatmu selalu mengingatku," ujar Angel sambil mendongak menatap Damian. Karena tubuhnya begitu mungil dan hanya sebatas dada Damian.
Angel memainkan kakinya, kemudian gadis itu menampilkan senyum manisnya.
"Aku akan melakukan...ini."
BUGHH
Setelah meninju perut Damian cukup keras, Angel langsung berlari sambil tertawa penuh kemenangan.
"Dasar gadis labil," teriak Damian sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
Charles mendekati Damian dengan wajah tidak enak.
"Maafkan Angel. Apa kau terluka?"
Sedangkan Lucas tertawa. Damian pun menatap ayahnya kesal. Bisa-bisanya dia tertawa disaat ada yang berani memukul anaknya tepat didepannya sendiri.
"Sudahlah, Charles. Lebih baik kau kejar Angel," ujar Lucas masih diiringi tawanya.
Charles mengangguk dan mengucapkan kata maaf sekali lagi pada Damian untuk kelakuan Angel tadi. Lalu dia segera berlari mengejar Angel yang sudah menjauh.
"Dia gadis yang hebat, bukan?" goda Lucas pada putranya.
"Ciihh, bukannya hebat. Tapi labil dan menyebalkan." Damian memutuskan untuk berlalu masuk kedalam villa sambil memegangi perutnya.
"Kuat juga pukulannya. Makanan apa yang Mr. Charles berikan pada putrinya itu?" tambah Damian sambil menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.
...* * *...
"Lain kali jangan seperti itu lagi." Charles menegur putrinya setelah mereka tiba di Villa.
"Dia duluan yang menyebalkan." Angel memasang wajah cemberutnya. Lalu dia memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya.
Charles hanya bisa melihat kepergian putrinya itu dengan gelengan kepalanya. Lalu ingatannya kembali pada masa dimana dirinya bertemu dan kenal dengan Lucas.
Sebulan yang lalu, saat Charles hendak kembali pulang dari luar negeri untuk bertemu dengan keluarga tercintanya, tiba-tiba mobil yang ditumpanginya ditabrak oleh mobil lain dari arah kanan. Lalu mobil yang dia tumpangi hilang arah dan menabrak pembatas jalan.
Sepasang mata dari dalam mobil yang lain, melihat kejadian itu dan segera turun untuk mengecek keadaan. Dia mengecek sopir terdahulu, dan sopir tersebut sudah tewas ditempat. Lalu dia mengecek pria yang menjadi penumpangnya, dia masih hidup hanya saja kepalanya berdarah karena terbentur.
Dia segera menolongnya dan membawanya kerumah sakit. Namun sebelum Charles memasuki ruang UGD, dia yang masih setengah sadar berpesan agar jangan menghubungi keluarganya. Charles tidak mau keluarganya mengkhawatirkannya.
Selang beberapa jam, dokter keluar dan mengatakan jika luka Charles tidak terlalu dalam, dan bisa pulang besok. Pria yang menolong Charles mengatakan apa yang dikatakan oleh dokter padanya.
"Terima kasih kau sudah menolongku," ujar Charles tulus.
"Tidak masalah. Apa kau ingin kuantar pulang?" tanya pria itu.
Charles tampak berpikir sejenak, sedetik kemudian dia menggeleng pelan.
"Bolehkah jika aku meminta bantuanmu sekali lagi?"
"Tentu saja, Kawan." Pria itu tersenyum ramah.
"Aku ingin mencari tempat tinggal sampai luka di kepalaku sembuh."
Pria itu menatap Charles dengan alis mengkerut.
"Mengapa kau tidak pulang saja?"
Charles mengulas senyumnya, "Aku tidak ingin membuat keluargaku khawatir. Apalagi putri kecilku akan bersedih jika melihatku terluka."
Pria itu memandang Charles kagum.
"Baiklah. Kau bisa tinggal disalah satu apartement milikku."
"Terima kasih Mr..." Charles menggantung ucapannya.
"Panggil Lucas saja."
"Oh baiklah. Namaku Charles. Terima kasih banyak sekali lagi."
Pria yang bernama Lucas hanya tersenyum. Dan pada saat itulah hubungan Charles dan Lucas menjadi dekat. Bahkan Charles mengenalkan Lucas pada keluarganya. Dan Charles juga terbuka terhadap Lucas begitupun sebaliknya. Bahkan Charles tahu jika Lucas adalah seorang Mafia.