The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Kesedihan Yang Melanda



"Jaga bicaramu, Berengsek!"


Lutfi tertawa mendengar desisan Hazel. "Bukankah kau yang berengsek? Dengan beraninya kau membawa pengantinku pergi di acara pernikahan kami."


Melihat Hazel yang tidak menimpali ucapannya, membuat Lutfi tersenyum miring lalu segera melangkahkan kakinya kearah pria itu. Dengan paksa dia menarik tangan Jessica. Hazel yang melihat itu, membuat emosinya jadi tersulut.


Bughhh!


Bogeman mentah di terima oleh Lutfi. Dirinya kemudian bangkit dengan wajahnya yang mulai kesal. Dan terjadilah perkelahian di antara kedua pria tersebut.


Hazel yang mempunyai kemampuan dasar dalam dunia persilatan, dengan cepat melumpuhkan Lutfi. Tidak terima dengan kekalahannya, Lutfi lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menghajar Hazel.


Walaupun dirinya pandai dalam bela diri, namun jika jumlah lawannya lebih banyak seperti itu, tentu dia akan tetap kalah. Bahkan kini Hazel sudah tersungkur dengan babak belur.


Jessica menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Wanita itu kemudian ingin menghampiri Hazel, namun dirinya justru terhalang oleh tubuh anak buah Lufti yang besar-besar.


"Kumohon, hentikan! hikss..." Jessica menjerit takut, dan meminta mereka untuk berhenti memukuli Hazel. Tapi sayangnya, mereka tidak ingin mendengarkannya.


Lutfi menyeringai sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan dari Hazel tadi. Tatapannya lalu beralih pada Jessica yang sedang menangis dan berusaha untuk menolong Hazel.


Rahangnya mengeras. Dia kemudian berjalan kearah Jessica dan menarik tangan wanita itu agar mengikutinya.


"Aku tidak mau, Lutfi. Lepaskan aku! Aku ingin menolong Hazel..." Sekuat apapun usahanya, tapi itu semua hanyalah sia-sia. Sebab, tenaganya tidak sebanding dengan lawannya saat ini.


"Habisi dia!!" Setelah mengatakan hal tersebut, Lutfi membawa Jessica bersamanya. Jessica sudah memohon sambil menangis pilu, tapi Lutfi tidak mau mendengar.


Melihat Hazel yang sudah terkapar dengan luka parah, membuat para anak buah Lufti mengira bahwa pria tersebut telah tewas. Mereka pun meninggalkan Hazel begitu saja, kemudian menyusul tuannya yang sudah menjauh.


Selepas kepergian para pria itu, warga sekitar yang sejak tadi memperhatikan dari dalam rumah, segera keluar untuk mengecek kondisi Hazel. Mereka bersyukur jika Hazel masih bernafas walaupun tubuhnya saat ini benar-benar terluka parah. Mereka lalu segera membawa Hazel ke rumah sakit agar cepat di tangani oleh pihak medis.


...* * * ...


Angel dan Damian kembali menikmati hari mereka sambil bergandengan tangan. Mereka menelusuri setiap jalan dengan langkah pelan. Segemilir angin meniup rambut keduanya hingga beterbangan. Angel lalu memejamkan matanya untuk menikmati hembusan angin itu.


Di saat dirinya masih memejamkan mata, tiba-tiba Damian menarik tangannya. Sontak itu membuatnya lekas membuka mata dan melihat kemana suaminya membawanya pergi.


Damian tersenyum, lalu mengambil sebuah topi pantai yang tergantung kemudian memakaikannya kepada Angel. Yupss, suaminya tersebut membawanya ke toko aksesoris.


Angel ikut tersenyum, kemudian melihat jejeran gelang di salah satu stand disana. Dia meraih salah satu benda itu, lalu memakaikannya ke pergelangan tangan sang suami.


"Kau suka?" Damian mengangguk singkat.


"Lalu, bagaimana dengan topinya? Apakah kau juga menyukainya?"


"Tentu saja. Ini cantik sekali, aku sangat menyukainya." Angel menyentuh topi tersebut. Kedua pasangan itu lalu membayar barang yang mereka ambil.


Namun ketika mereka hendak pergi, ada sesuatu yang menyita perhatian Angel. Tiba-tiba ramai orang lewat di depannya. Sepintas mereka mendengar bahwa terdapat seorang pria yang sedang terluka parah dan harus secepatnya di tangani oleh medis.


Karena suasana yang ramai dan banyak orang yang mengelilingi pria tersebut untuk membawanya ke mobil, Damian dan Angel jadi tidak dapat untuk melihat wajahnya. Entah mengapa hati Angel mendadak menjadi risau.


Angel lalu hendak pergi dari sana, namun matanya tak sengaja menangkap sesuatu. Wanita itu mengambil benda yang terjatuh dari orang-orang yang mengantar pria tersebut.


Tanpa memperdulikan Damian, Angel malah berlari untuk mengembalikan gelang yang dia temukan. Tapi mobilnya sudah melaju menjauh.


"Ada apa, Nona?" tanya seorang pria paruh baya yang tertinggal.


"Ini... Aku menemukan gelang ini. Kupikir, benda ini merupakan milik salah satu pria yang mengantarkan pria terluka tadi."


Sejenak pria paruh baya tersebut mengamati gelangnya, hingga akhirnya dia mengatakan bahwa itu sepertinya milik pria yang terluka.


Angel termenung. Tatapannya kemudian berpindah pada gelang di tangannya. Mengapa Angel merasakan bahwa gelang itu tidak asing baginya? Dia pun membolak-balikkan gelang tersebut dan...


Degg!!


Gelang ini... Gelang milik Hazel. Angel baru ingat, bahwa dialah yang memberikannya ketika adiknya itu berulang tahun ke 15. Namun karena saat itu Hazel tidak menyukainya, jadi Angel meminta bantuan kepada sang ayah untuk memberikan gelang tersebut kepada Hazel.


Damian akhirnya datang kearahnya, saat pria itu tak kunjung mendapati istrinya yang kembali.


"Ada apa?"


"Hazel.. hiksss.." Air mata yang di tahannya sejak tadi, akhirnya luruh sudah dengan derasnya.


"Apa maksudmu, Sayang? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Tiba-tiba Angel berteriak histeris. "Pria yang terluka tadi adalah adikku."


"Darimana kau mengetahuinya?"


Angel memperlihatkan sebuah gelang di tangannya. Seketika Damian menjadi khawatir. Dia kemudian bertanya kepada salah satu pria yang tadi mengantarkan Hazel sampai mobil. Pria itu mengatakan, bahwa pria yang terluka tadi akan di bawa ke rumah sakit terdekat.


Tanpa menunggu lagi, Damian dan Angel segera menyusulnya menggunakan taksi. Tak henti-hentinya Angel menangis sambil menatap gelang itu.


'Apa yang harus kukatakan pada ibu nanti?'


"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang." Damian menggenggam tangan istrinya untuk menguatkannya. Sayangnya, Angel tak membalas ucapan dari suaminya itu. Saat ini, pikirannya sedang kacau. Bahkan untuk mengatakan sepatah katapun, sulit baginya.


Setibanya di rumah sakit, Angel langsung berlari dan bertanya kepada resepsionis, dimana pria yang baru saja tiba dengan di temani oleh beberapa orang pria atau warga. Resepsionis itu menjawab, bahwa Hazel saat ini sedang berada dalam ruangan UGD.


Kembali Angel berlari dan di susul oleh Damian di belakangnya. Di luar ruangan tersebut, Angel dapat melihat para warga yang sedang duduk menunggu. Tapi Angel tidak menghiraukan mereka, dirinya justru terfokus pada pria yang sedang di tangani oleh dokter di dalam.


Dari balik pintu yang transparan, Angel dapat melihat bahwa itu adalah adiknya. Air mata kesedihan kembali mengalir. Namun dengan cepat dia menghapusnya, sekuat tenaga untuk terlihat kuat dan tegar.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa dia sampai terluka dengan begitu parahnya?" tanya Angel pada warga tersebut.


Mereka saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya salah satu dari mereka membuka suaranya mewakili yang lain.


"Sebenarnya, Nona... Pemuda itu terluka akibat pukulan dari para anak buah Lutfi. Kami sebenarnya ingin menolongnya, namun mengingat bahwa Keluarga Lutfi memiliki kekuasaan disini, membuat kami harus berpikir 2 kali untuk membantu pemuda di dalam itu."


'Lutfi??? Akan kuingat nama itu. Tapi mengapa Hazel mencari masalah dengan penguasa di pulau ini?'


Tidak! Angel menggelengkan kepalanya tidak perduli. Walaupun adiknya yang salah, Angel akan tetap membelanya. Apalagi saat ini Hazel sedang berjuang untuk hidup dengan bantuan dokter.


...* * * ...


Plakkk...


Tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Jessica, hingga membuatnya tersungkur ke lantai. Dan yang melakukan kekerasan itu, tak lain adalah ayahnya sendiri.


"Apa kau tidak punya malu, hah? Bagaimana bisa kau melarikan diri di acara pernikahanmu sendiri? Apa kau sengaja ingin membuat Ayahmu ini malu?" David membentak putrinya tanpa perasaan. Lutfi yang melihat Jessica tersungkur di lantai, tak berniat sedikitpun untuk membantunya. Bahkan pria itu dengan santainya melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Jessica jengah.


"Aku tidak pernah mendidikmu seperti ini. Tapi mengapa kau justru bertindak keterlaluan. Apa kau tidak malu pada Lutfi dan keluarganya?" David kembali menambahkan. Pria paruh baya tersebut kemudian beralih kepada Lutfi yang sedang menatap putrinya tanpa ekpresi.


"Aku benar-benar minta maaf atas apa yang putriku lakukan."


Lutfi mengulas senyumnya, "Tidak perlu minta maaf, Ayah Mertua. Lagipula ini bukanlah kesalahan dari Jessica, melainkan pria yang membawanya pergi. Tapi syukurlah aku berhasil menyingkirkannya."


David menghela nafas lega. Dirinya merasa bahwa Lutfi adalah menantu idaman bagi setiap orang.


"Ayah mertua, bisakah jika pernikahan kami di percepat?" pinta Lutfi.


"Tentu saja. Aku akan menyiapkannya dalam sepekan."


"Bukan dalam sepekan, Ayah. Tapi aku menginginkan besok."


Mata Jessica yang di genangi oleh air mata, seketika membulat mendengar ucapan pria tersebut. Lekas saja dia menggelengkan kepalanya kepada ayahnya. Namun, karena David sudah sangat merasa bersalah kepada Lutfi, dia pun mengangguk setuju.


"Ayah..." Jessica menatap tidak percaya pada ayahnya itu. Tapi David tidak memperdulikannya.


Selama menunggu besok, Jessica akan di kurung di dalam kamarnya dan tidak di izinkan untuk bertemu dengan siapapun kecuali atas perintah dari David.