
Angel mengaduk-aduk minumannya dengan pandangan yang kosong. Vika yang melihatnya, langsung menyadarkan wanita tersebut.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah kau sedang mengalami masalah?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Angel lekas menampilkan senyum tipisnya sembari menggeleng pelan.
"Sebenarnya... Tujuanku ingin bertemu dengan kalian adalah untuk mendapatkan sebuah saran."
"Saran? Untuk apa?"
Angel belum menjawabnya, justru wanita itu mengalihkan pandangannya kepada James.
"Kau tahu, bukan? Bahwa aku... Menyukainya."
Tanpa di beritahu, James mengerti siapa yang Angel maksud.
"Lalu?"
"Dia melamarku. Haruskah aku menerimanya atau tidak?"
James tersenyum sinis, "Kenapa kau jadi bertanya kepadaku? Itu pilihanmu!"
"Kau benar jika itu memang pilihanmu. Tapi, kau lebih tahu tentang cinta di bandingkan diriku. Haruskah aku menerimanya atas apa yang terjadi? Ataukah aku harus menolaknya?"
"Tanyakan pada hatimu! Jika hatimu menginginkan dia, maka kau sudah tahu jawabannya." James lalu memalingkan wajahnya sambil berdehem pelan, "Ingat! Kesempatan tidak datang dua kali. Dan penyesalan selalu ada di akhir."
Vika yang belum tahu siapa yang mereka maksud, jadi bertanya-tanya. Namun sayangnya, dia justru di abaikan oleh kekasih maupun temannya tersebut.
"Hatiku mengatakan iya," lirih Angel dengan kepala tertunduk.
James tersenyum simpul, "Baguslah. Jika aku setuju-setuju saja jika kau bersama pria itu, asalkan dia tidak menyakitimu."
"Memangnya kenapa jika pria itu menyakiti Angel?" Vika bertanya dengan nada sedih. Dirinya mengira bahwa James masih menaruh hati kepada Angel. Buktinya, James tidak terima jika ada pria lain yang menyakiti Angel.
Melihat kekasihnya tersebut yang sepertinya salah paham, membuat James jadi menghela nafasnya panjang.
"Vika, jangan salah mengartikan ucapanku. Angel sudah datang jauh-jauh kesini karena ingin mendapatkan saran dari kita, dan mana mungkin aku hanya diam saja."
"James benar. Kumohon, jangan salah paham!" Angel menyentuh tangan Vika yang berada di atas meja.
"Sekarang di hati James hanya ada namamu. Jadi... Kau tidak boleh berpikir buruk tentangnya. Kau tidak mau 'bukan jika James di ambil oleh wanita lain?"
"Tentu saja tidak!"
Angel tersenyum, "Oleh sebab itu, kalian harus saling menghargai dan menyayangi satu sama lain, oke?"
Dengan wajah cemberutnya, Vika mengangguk.
"Kau benar."
Rasanya begitu menyenangkan saat melihat mereka masih bersama, walaupun ketiganya sudah tidak bekerja di satu tempat lagi. Cukup lama bagi mereka mengobrol, dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Dengan tergesa-gesa Angel berdiri dari duduknya. Kemudian wanita itu berpamitan kepada kedua sejoli di depannya. Setelahnya dia bergegas pergi untuk menemui Damian.
Entah mengapa Angel merasakan bahwa perjalanannya ini sangat jauh. Dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu Damian dan mengungkapkan isi hatinya.
'Oh God!' Angel terus melirik jam di pergelangan tangannya. Batinnya bertanya-tanya, kapan kemacetan ini akan berakhir?
Tak berselang lama, doanya terkabulkan. Perlahan satu-persatu mobil di depan mereka bergerak. Akhirnya Angel dapat bernafas lega. Dirinya telah tiba di apartement Damian, langsung saja Angel mengetuk pintu dan memanggil nama pria itu. Tapi... tidak ada jawabannya. Sepertinya Damian telah berangkat menuju bandara.
Namun Angel masih ingat dengan perkataan dari Damian, bahwa pria tersebut akan berangkat pada pukul 11. Dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10, dirinya masih memiliki waktu sekitar satu jam lagi. Lagipula, jarak bandara darisini tidaklah memakan waktu yang lama.
Tapi siapa yang menduga? Ketika dirinya sudah berada di dalam taksi, kemacetan pun kembali terjadi. Angel di buat panik sekarang, apalagi waktu terus berjalan. Tidak ada pilihan lain! Wanita itu memutuskan untuk turun dari taksi, dan memilih untuk berlari menuju ke bandara.
"Sialan!" umpat Angel saat kakinya tak sengaja membentur benda-benda yang keras seperti batu, trotoar dan semacamnya. Namun dirinya tidak boleh menyerah, secepat mungkin dia harus menemui Damian sebelum semuanya terlambat.
Karena wanita itu berlari, waktu yang terbuang pun cukup banyak. Setibanya di bandara, Angel tidak menemukan siapapun. Bahkan pesawat Damian yang katanya terparkir disini, justru tidak ada. Hanya terpampang lahan yang sepi dan tak berpenghuni.
Angel masih mengedarkan pandangannya, siapa tahu keberadaan Damian masih ada disana. Tapi dirinya justru di hempas oleh kenyataan bahwa pria itu sudah tidak ada lagi di tempat tersebut. Angel lalu melihat jamnya, yang sekarang menunjukkan pukul 10.42 AM.
Belum pukul 11, tapi Damian sudah tidak ada lagi bersama pesawatnya. Wanita itupun terduduk lesu saat menyadari keterlambatannya. Bahkan butuh perjuangan baginya untuk sampai disini, namun dia tidak mendapati seperti harapannya.
Setetes demi setetes airnya turun membasahi pipinya, yang di susul dengan isakan kesedihann. Sekarang Angel tidak tahu harus melakukan apa.
"Damian.. hikss..."
Namun siapa di sangka, dari arah kanannya terdapat seseorang yang berlari untuk mendekatinya. Melihat ada sebuah bayangan, sontak Angel mendongakkan kepalanya untuk menatap si pemilik bayangan tersebut.
Pria itu tersenyum manis, "My Angel.."
Seketika Angel berdiri kemudian memeluk Damian. Ternyata pria tersebut masih berada disini dan belum kembali.
"Aku pikir kau sudah meninggalkanku."
"Mana mungkin aku melakukan itu?" Damian membalas pelukan dari wanita itu tak kalah erat. Namun saat dia menyadari bahwa hari sudah mulai panas, Damian lalu mengajak Angel untuk masuk ke dalam mobilnya.
Damian menyeka air mata Angelnya tak kunjung berhenti menetes. Dan tanpa di minta, dirinya menceritakan tentang keberangkatannya yang tertunda. Sebenarnya Damian sudah berada di dalam pesawatnya pada pukul 9. Bahkan setelah waktu berganti menjadi pukul 10, dirinya putuskan untuk berangkat karena tak mendapatkan kabar apapun dari Angel.
Tapi tanpa di duga, Damian mendapatkan telpon dari anak buahnya yang ia perintahkan untuk menjaga apartementnya. Anak buahnya tersebut mengatakan bahwa Angel baru saja datang ke apartementnya dan memanggil namanya. Bahkan, wanita itu sepertinya sedang menuju ke bandara saat menyadari bahwa sang pemilik apartement sudah tidak ada disana.
Pesawatnya yang akan segera landing, langsung saja Damian minta agar menghentikannya dulu. Pria itu lalu keluar dari pesawatnya dan akan menunggu kedatangan Angel dari dalam mobil yang terparkir lumayan jauh dari tempat bandara tersebut. Namun sebelum itu, Damian memerintahkan Mario bersama antek-anteknya untuk pulang lebih dulu dan mengurus pekerjaannya di Sisilia.
Dan benar saja! Setelah kepergian Mario dengan pesawatnya, Damian dapat melihat Angelnya yang sedang berlari untuk masuk ke bandara. Melihat kedatangan wanita yang di cintainya tersebut, membuat senyum Damian langsung mengembang. Dengan segera Damian turun dari mobilnya untuk menemui kekasihnya itu.
Angel memukul pelan lengan Damian, "Kenapa tidak memberitahuku jika kau masih berada disini?"
Damian tertawa kecil, "Itu tidak penting. Karena yang terpenting sekarang adalah jawabanmu! Jangan katakan jika kau kembali menolakku."
Angel tertawa, kemudian dia menganggukkan kepalanya. Merasa tidak puas dengan jawabannya, Damian meminta wanita itu untuk mengucapkannya dengan kata-kata agar dirinya bisa memahami.
"Aku menerima lamaranmu," ujar Angel dengan suara sangat pelan. Sampai-sampai Damian harus mengorek kupingnya, siapa tahu ada yang mengganjal di dalam telinganya.
"Bisa kau ulangi, Nona?"
Karena malu, Angel menundukkan kepalanya.
"Aku menerima lamaranmu, Damian."
Untuk sejenak Damian terdiam dan mencerna ucapan dari kekasihnya. Sedetik kemudian pria itu bersorak senang, karena akhirnya lamarannya di terima juga.