The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Kau Pilih Dia atau Aku



"Apa yang dia lakukan?" tanya Damian sambil melihat video yang dikirimkan oleh pengawalnya yang bertugas menjaga Angel.


Mario yang setia disamping tuannya hanya bisa diam sambil menonton video itu.


'Bagaimana bisa tuan tertarik pada wanita yang begitu mengerikan seperti itu?''


Damian memijat pelipisnya dan mengatakan pada pengawalnya untuk membawa Angel kemari.


Didalam mobil, Angel tak henti-hentinya tersenyum. Entah itu tersenyum bangga, puas atau lega. Rasa sesak dihatinya kini sedikit berkurang setelah memberi balasan pada orang yang mengacaukan hidupnya ini.


"Nona, tuan menyuruh anda untuk datang ke kantornya," ujar salah satu pengawal yang duduk disamping kemudi.


Angel menaikkan sebelah alisnya lalu mengendikan bahunya acuh.


"Jika tuanmu sudah berbicara seperti itu, aku bisa apa."


Pengawal di depannya hanya diam. Mereka juga sedikit takut pada Angel. Pasalnya Angel bukan wanita sembarangan.


Setelah sampai dikantor Damian, Angel mengikuti kedua pengawal itu untuk mengantarnya ke ruangan Damian.


Sesekali Angel berdecak kagum pada kantor milik Damian ini.


'Aku rasa ini gedung terbesar sekaligus tertinggi dikota ini.'


Setibanya di depan pintu ruangan Damian, Angel melihat sekretaris Damian yang menatapnya sinis.


Melihat itu, membuat Angel memutar bola matanya jengah. Namun sedetik kemudian, senyum misterius muncul di wajahnya sambil menatap sekretaris Damian yang sangat menor dengan pakaian mini itu.


"Kalian boleh pergi," ujar Angel pada kedua pengawal yang bersamanya.


Pengawal itu mengangguk singkat kemudian berlalu dari hadapan Angel. Angel lalu mendekati sekretaris itu dengan gaya santainya.


"Kau mempunyai masalah denganku?"


"Tidak, cepatlah masuk. Tuan Damian sudah menunggumu," ketus wanita itu.


Angel tersenyum miring dan dengan sengaja menyenggol cangkir kopi yang berada diatas meja tersebut. Yang membuatnya tumpah dan mengenai paha sekretaris itu.


"Aku minta maaf. Aku tidak sengaja," polosnya.


"Apa yang kau lakukan?" teriak wanita itu marah sembari berdiri karena terkejut dengan apa yang terjadi.


Damian yang mendengar keributan, segera keluar untuk mengeceknya.


"Ada apa ini?"


Melihat keberadaan Damian, Angel segera mendekatinya dan mengadu pada pria tersebut.


"Dia membentakku dan aku tidak suka itu."


"Kau benar melakukan itu, Elda?" tanya Damian pada sekretarisnya.


Seketika Elda menggelengkan kepalanya,


"Tidak tuan. dia yang pertama menumpahkan cangkir kopi saya--"


"Aku tidak sengaja," potong Angel cepat.


"Kau itu berlebihan. Lagi pula aku sudah minta maaf tadi," tambahnya.


Elda melototkan matanya pada Angel.


"Lihat!! Dia tidak menyukaiku, bukan?" ujar Angel sambil menunjuk Elda yang memelototinya.


"Tuan, saya benar-benar tidak bersa--"


"Kau pilih dia atau aku?" Lagi-lagi Angel memotong ucapan dari wanita itu.


Kini Damian terlihat bingung.


"Apa maksudmu?"


"Jika kau pilih aku, maka pecat dia sekarang. Tapi jika kau pilih dia, Aku akan pergi hari ini dari rumahmu." Entahlah, itu seperti sebuah ancaman dari Angel.


Untuk kesekian kalinya Damian memijat pelipisnya, lalu memanggil Mario yang berdiri dibelakangnya.


"Iya tuan?"


"Beri Elda uang gajinya bulan ini dan jangan lupa tambahkan bonus untuknya."


Mario benar-benar tidak percaya. Tuannya benar mengikuti ucapan dari Angel.


'Sepertinya aku harus berhati-hati dengan wanita ini. Bisa saja aku yang akan kehilangan pekerjaanku nantinya karena ulah dia.'


Elda menatap atasannya dengan memelas. Dia sudah tiga tahun bekerja disini. Lalu tiba-tiba ada wanita yang datang dan menyuruh atasannya ini untuk memecatnya.


"Tuan, saya mohon jangan pecat saya."


Elda tidak berani menyentuh Damian karena itu merupakan sebuah pantangan disana.


Menyentuh Damian tanpa seizin darinya, sama saja menggali lubang kuburnya sendiri.


Angel tersenyum puas, "Kau dengar itu, Mario. Siapkan uang untuknya. Jika bisa, berikan dia uang 3 kali lipat dari gajinya agar dia mampu membeli pakaian yang bahannya tidak kurang."


Damian menatap Angel dengan penuh arti. Dan yang di tatap, justru merasa risih dan membalas tatapan itu dengan tajam.


"Berhenti menatapku seperti itu. Apa kau ingin aku menyiram wajahmu dengan secangkir kopi juga?" ketus Angel.


Damian tertawa lalu merangku bahul Angel.


"Mario, urus semuanya. Dan jangan lupa carikan aku sekretaris yang baru. Dan aku ingin dia seorang lelaki. Aku tidak ingin membuat seseorang cemburu lagi."


"Aku tidak cemburu."


"Memangnya aku mengatakan jika yang cemburu itu adalah kau?"


Seketika Angel menjadi salah tingkah dan membuat Damian gemas. Dengan berani Damian mencium pipi Angel. Yang membuat semua orang disana terkejut tak terkecuali pemilik pipi itu sendiri. Lalu dengan segera Damian menarik Angel untuk masuk keruangannya.


Dan diluar Elda masih dalam keterkejutannya sebelum disadarkan oleh Mario.


"Bereskan barang-barangmu." Setelah mengatakan itu, Mario pergi meninggalkannya karena harus mengurus sekretaris baru untuk tuannya.


Elda hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah dan mengumpati Angel tidak jelas. Tapi Elda tidak berani membalas. Apa lagi setelah melihat atasannya itu menyukai Angel, seketika nyalinya menciut.


Elda baru pertama kalinya melihat Damian tertawa lepas seperti itu. Biasanya Damian selalu menunjukan wajah datar, dingin, cuek dan kadang bringasnya. Tidak pernah sekali pun Elda melihat Damian tersenyum.


Dan Elda tadi melihatnya, bukan tersenyum tapi lebih daripada itu yaitu tertawa.


"Andai aku yang berada di posisinya," gumam Elda sambil memasukkan barang-barang miliknya ke dalam sebuah kardus.


...* * *...


Angel segera menarik tangannya yang di genggam oleh Damian. Lalu duduk di sofa yang terdapat diruangan itu. Damian tersenyum kecil kemudian ikut duduk disamping Angel.


"Tidak bisakah jika kau tidak duduk disampingku?" sindir Angel sambil menatapnya tajam.


"Ini sofaku. Jadi terserah aku ingin duduk dimana," balas Damian enteng.


Angel lalu memilih untuk pindah dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Damian.


Damian pun akhirnya membiarkannya. Pria itu lalu mulai berbicara serius.


"Siapa pria yang kau temui tadi direstaurant?"


Angel yang awalnya melihat-lihat isi ruangan Damian, jadi terhenti. Kini tatapannya tertuju pada Damian yang baru saja bertanya.


"Pasti dua gorila itu yang mengadu padamu, bukan?"


Alis Damian mengkerut bingung, pertanda tidak mengerti.


Angel pun memutar bola matanya malas.


"Dasar tidak peka. Siapa lagi jika bukan kedua pengawalmu yang bersamaku itu."


Seketika tawa Damian meledak sampai-sampai dia menyeka air matanya yang keluar akibat tertawa.


"Apanya yang lucu?" tanya Angel bingung.


Pasalnya dia sedang tidak melawak disini.


"Tentu saja kau," sahut Damian setelah mengendalikan tawanya.


Bagaimana Angel tidak memanggil pengawal Damian dengan sebutan gorila, jika badan mereka saja melebihi tubuh tuannya sendiri. Bahkan menurut Angel, tubuh Damian sudah besar dan tinggi. Lalu bagaimana dengan pengawalnya itu?


Maka dari itu Angel memanggilnya dengan sebutan GORILA.


"Baiklah-baiklah. Kita mulai bicara serius sekarang." Damian berdehem pelan, dan mengubah ekpresinya menjadi serius setelah Angel menatapnya datar.


"Siapa pria yang kau temui tadi di resturant?" tanya-nya lagi.


"Entahlah. Aku tidak tahu," balas Angel cuek sambil mengendikan bahunya acuh.


Kini Damian yang menatapnya datar,


"Jangan membuatku marah, My Angel."


Angel langsung menatap Damian intens.


'Apa aku tidak salah dengar tadi?'


"Angelina Richie," panggil Damian.


Sepertinya Damian mulai terpancing emosi jika sudah menyebutnya dengan nama panjang.


Angel mendengus, "Aku benar-benar tidak tahu. Jika dikatakan teman, bukan. Jika dikatakan musuh, juga bukan."


Damian menghela nafasnya lalu berjalan menghampiri Angel dan duduk disampingnya. Damian lalu menarik Angel kedalam pelukannya.


"Jika kau ada masalah atau ada orang yang menyakitimu, katakan padaku. Biarkan aku yang menyelesaikannya."


Angel menarik kepalanya sambil menatap Damian sebal.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri."


Damian menghembuskan nafasnya, kemudian menarik lagi kepala Angel kedalam pelukannya.


"Aku tahu. Kau wanita luar biasa. Sampai-sampai aku ngeri jika melihatmu marah apa lagi sampai mengamuk."


Lagi, Angel menarik kepalanya dan menatap tajam Damian.


"Apa?" tanya Damian bingung yang merasa tidak bersalah sama sekali. Kemudian pria itu dengan cepat menarik kepala Angel kembali sampai-sampai menabrak dada bidangnya.


"Kau gila," pekik Angel kesal sambil mengelus keningnya yang terasa sakit.


Damian pun memberi mereka jarak tapi tidak sampai melepaskan pelukannya. Tangannya yang kiri mengelus kening Angel sedangkan yang satunya menahan pinggang Angel agar tidak menghindar darinya.


Tak ada penolakan dari Angel dan itu membuatnya tersenyum tipis. Lalu Damian mencium lembut kening wanita yang sudah merebut isi hatinya ini.


Dan Angel memejamkan matanya sambil menikmati sapuan lembut dikeningnya.


Angel memang sudah lama tidak merasakan kasih sayang. Yang terakhir dari ibunya. Namun sekarang ibunya itu sudah tidak perduli lagi padanya.