The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Jalan-Jalan Di Pulau Bali



Andai saja ada pilihan lain, mungkin Hazel tidak akan mengambil jalan ini. Dirinya terpaksa harus membawa Jessica kabur sebelum janji suci pernikahan di ucapkan. Itu semua dilakukan karena Hazel tidak rela jika Jessica sampai menikah dengan pria lain. Maka dari itu, jika kalian menikah, jangan sekali-kali punya keinginan untuk mengundang mantan. Apalagi kalau masih ada perasaan😅.


Awalnya wanita itu menolak untuk ikut dengannya, namun setelah Hazel mengancamnya dan akan memberitahu semua orang bahwa mereka pernah tidur bersama, akhirnya Jessica menyerah.


Untuk sementara waktu, Hazel dan Jessica akan bersembunyi di Desa Timuhun, desa terpencil di Bali. Hazel bahkan telah menyiapkan semua barangnya disana. Sepertinya pria itu memang sudah memikirkan ini dari jauh-jauh hari.


Jessica keluar dari sebuah gubuk dengan wajah masam. Hazel yang menyadari itu, segera menolehkan kepalanya. Matanya lalu melihat wanita tersebut dari atas ke bawah, Jessica tampak lucu dengan pakaiannya yang terlalu besar di tubuh mungilnya.


Karena terlalu sibuk membawa Jessica cepat-cepat pergi, Hazel jadi lupa untuk membelikan wanita itu pakaian. Alhasil, Jessica harus mengenakan pakaiannya yang kebesaran.


"Lumayan..." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Hazel. Pria tersebut kemudian kembali fokus pada pekerjaannya semula, yaitu menyalakan api.


Jessica menggerutu sebal. Hazel mengajaknya untuk pergi, tapi pria itu justru tidak menyiapkan satu barangpun untuk dirinya. Dia lalu menghela nafasnya. Karena tak ingin membuang tenaganya dengan berdebat, Jessica lebih memilih untuk menghampiri pria itu.


Hazel memilih tempat tinggal di sebuah gubuk yang jauh dari pemukiman warga. Bahkan, di hutan tersebut hanya terdapat gubuk miliknya. Tidak ada cahaya dari lampu, begitupun dengan listrik disana.


Oleh sebab itu, Hazel sudah membeli banyak lilin beserta koreknya. Dan untuk masalah ponselnya, dia tidak memperdulikan itu. Karena baginya percuma, disini tidak terdapat sinyal sama sekali.


Dan jika dirinya ingin membeli makanan atau minuman, cukup berjalan dengan waktu tempuh kurang lebih 15-20 menit lamanya untuk ke pasar. Entah kapan dirinya akan bersembunyi disini. Yang pasti, tunggu suasana mereda.


"Kenapa kau datang kesini lalu membawaku pergi dari pernikahanku?" tanya Jessica. Namun sayangnya, Hazel tidak menghiraukannya dan terlalu sibuk dengan api yang sudah mulai menyala.


"Harusnya kau tidak membawaku pergi, Hazel. Pasti saat ini keluargaku beserta keluarga Lufti sedang mencari keberadaanku. Dan kau bisa terkena masalah gara-gara ini."


Hazel bergeming. Matahari mulai tenggelam dan menyisakan kegelapan. Raut wajahnya yang di rundung kesedihan, jadi tidak terlihat.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut pria itu, membuat Jessica menyentuh tangannya pelan.


"Kembalikan saja aku. Biarkan aku menikah dengan Lutfi, kumohon."


Perlahan air mata Jessica luruh membasahi pipinya. Jujur saja jika dirinya masih mencintai Hazel dan tidak siap jika harus menikah dengan pria lain. Tapi dia takut jika Hazel akan terkena masalah nantinya.


"Apakah kau mencintainya?" bisik Hazel dengan suara parau.


Jessica menatap wajah tampan itu. Wajah yang selalu di rindukan dan dia impikan setiap malam. Namun... Hazel bukanlah jodohnya.


"Jawab aku, Jessica!" Hazel mendesak wanita di sampingnya untuk menjawab pertanyaannya. Tapi mulut Jessica terlalu kaku untuk mengeluarkan suara.


"Apa kau menginginkan pernikahan ini, hmm? Bahkan saat tadi aku menemuimu, kau tampak tidak bahagia. Apakah kau terpaksa menikah dengannya?"


Seketika tangis Jessica pecah. Dia lalu memeluk Hazel, kemudian mengangguk di pelukan pria tersebut. Dirinya terpaksa menikah dengan pria yang tidak di cintainya demi perjodohan yang ayahnya buat.


"A-aku memang tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi bagaimana dengan nasib keluargaku? Apa yang akan di lakukan keluarga Lutfi nantinya?"


"Kita akan segera mencari jalan keluarnya."


Jessica menggeleng, lalu melepaskan pelukan mereka.


"Tidak, Hazel. Satu-satunya jalan keluarnya adalah, aku harus kembali dan melanjutkan pernikahan ini."


"Kau tetap ingin menikah dengannya, di saat hatimu berkata tidak?" Perkataan Hazel langsung membuat mulutnya menjadi bungkam.


Tak mampu untuk menimpali ucapan Hazel, Jessica lantas segera bangkit kemudian berlalu masuk ke gubuk tanpa mengatakan apapun. Hazel hanya bisa terdiam dengan pandangannya yang tertuju pada wanita tersebut.


Haruskah dirinya merasa senang saat mengetahui bahwa Jessica tidak mencintai pria lain dan tidak menginginkan pernikahannya ini?


Sekarang, dia harus mencari jalan keluar dari masalah yang dia buat. Dan tak selamanya dirinya dan Jessica harus bersembunyi di tempat ini. Karena cepat atau lambat, pasti akan ada seseorang yang menyadari keberadaan mereka.


Oh iya, Hazel lupa menyalakan lilin di dalam gubuk itu. Belum lagi nyamuk yang bertebaran dan mengerubungi sekitarnya. Tapi saat dirinya hendak masuk, pintu justru terkunci dari dalam.


"Jessica... Buka dulu pintunya. Aku harus menyalakan lilin sekaligus ingin mengambil lotion anti nyamuk."


"Sudah kunyalakan," jawab Jessica tanpa berniat untuk membuka pintu.


"Oh, baiklah. Lalu bagaimana dengan lotion anti nyamuknya?"


Tidak ada jawaban. Hazel pun mengetuk pintu tersebut sambil memanggil nama Jessica. Tapi sepertinya wanita itu sengaja mengabaikannya.


Mungkin karena ucapannya yang keterlaluan tadi, membuat Jessica jadi marah padanya. Tidak ada pilihan lain, dirinya harus tidur di luar dengan di temani oleh segerombolan nyamuk.


Karena tidak ada lotion ataupun selimut yang bisa di pakai olehnya, Hazel lalu memilih untuk tidur di dekat api yang masih menyala. Selain melindunginya dari nyamuk dan suasana malam yang dingin, kehadiran api juga bisa mencegah datangnya hewan liar atau buas dari dalam hutan tersebut.


...* * * ...


Seperti yang Damian janjikan tadi, kini dirinya mengajak istrinya keluar untuk sekedar jalan-jalan. Apalagi malam ini bulan bersinar dengan sangat terang, seolah sedang berpihak pada mereka.


Pada jam-jam seperti ini, para wisatawan memadati tempat- tempat wisata. Bukan hanya itu, tempat kuliner pun mulai ramai dan di datangi oleh para wisatawan yang penasaran dengan makanan khas Indonesia.


Contohnya Angel. Istrinya itu begitu semangat dan antusias melihat berbagai macam makanan yang di jual di kedai-kedai. Bahkan, dia membeli semuanya dan mencicipinya satu persatu. Mulai dari bakpia, kue pie susu, bagiak, kacang roro hingga dodol buleleng. Semua makanan itu masuk ke dalam mulutnya.


Namun ada salah satu toko yang mencuri perhatiannya, yaitu toko yang menjual aneka macam kue. Dan kue yang terkenal disitu ialah Heavenly Chocolate Bali. Dari namanya saja sudah membuat Angel penasaran dan ingin langsung mencobanya. Tidak tanggung-tanggung, Angel bahkan membeli 3 box dengan rasa yang berbeda, yaitu Dark Chocolate, Matcha dan Taro.


"Emm, Sayang.. Kenapa kau membeli semuanya? Apakah kau yakin bisa menghabiskannya?"


"Jika aku tidak bisa menghabiskannya, 'kan ada dirimu, Damian."


Damian berdecak, "Aku tidak suka makanan yang manis."


Angel tidak menggubris ucapan suaminya. Setelah mendapatkan kuenya, wanita itu lantas melangkahkan kakinya lalu mengambil posisi duduk di kursi panjang yang tersedia di bahwa pohon. Baru suapan pertama, Angel langsung merasakan jatuh cinta kepada kue ini.


Sepertinya wanita tersebut memiliki niatan untuk kembali ke toko tadi lain kali. Angel akan mengingat tempat ini, agar saat dirinya hendak kembali ke New York, kue itu akan dia jadikan sebagai buah tangan untuk ibunya.


"Sepertinya orang-orang Indonesia sangat menyukai makanan manis," ujar Angel dengan mulut penuh. Dirinya dapat merasakan bahwa hampir makanan di Indonesia memanglah manis-manis dan sedikit gurih.


Angel lalu menyodorkan sepotong kue itu ke mulut Damian, tapi suaminya tersebut menolak dan berdalih bahwa tidak menyukai makanan manis, dengan alasan tidak bagus untuk kesehatan.


"Aku pemakan semuanya, tapi aku sehat-sehat saja."


Damian yang gemas, langsung mencubit pipinya.


"Tidak sadarkah kau bahwa pipimu ini semakin chubby akibat terlalu sering makan? Bukan hanya itu, badanmu juga tampak berisi karena makan sembarangan dan jarang berolahraga."


Dengan kesal Angel menepis tangan suaminya.


"Bilang saja, bahwa aku gendut."


Karena sudah terlanjur marah dan tersindir oleh ucapan suaminya, Angel kemudian meninggalkan pria itu dan tak lupa membawa kuenya. Damian yang di tinggalkan, langsung menepuk jidadnya pelan sangat menyadari bahwa seharusnya mulutnya ini tidak mengatakan hal seperti itu. Apalagi wanita memang sensitive bila membahas tentang bentuk tubuhnya.