The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Kabar Yang Mengejutkan



Untuk kesekian kalinya James menghela nafasnya, Vika yang mendengar itu menjadi geram.


"Bisakah jika kau tidak menghela nafas terus?"


James menatap aneh wanita di sampingnya itu, "Memangnya kenapa? Apakah yang kulakukan ini merugikanmu? Tidak, bukan?"


"Tapi kau menggangguku dengan helaan nafasmu yang tiada henti itu," dengus Vika. James pun terkekeh, kemudian dia merangkul bahu wanita tersebut.


Kini keduanya jadi diam sambil memandangi danau yang menjadi tempat pelarian mereka di kala sedih. Mengingat masa-masa pertama mereka datang kesini, membuat Vika mengulum senyumnya.


"Vika..."


"Ya?" Dahinya mengkerut saat melihat wajah James yang tampak serius.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!"


"Kau bisa mengatakannya tanpa perlu izin." Entah mengapa Vika merasakan kecanggungan. Padahal James sudah tahu bagaimana dengan sikap aslinya, begitupun sebaliknya.


Tangan James terulur untuk menggenggam kedua tangannya, dan perlakuan itu membuat Vika menjadi gugup. Apalagi tatapan James begitu dalam, hingga membuat dirinya tidak tahan untuk menatapnya. Vika pun segera mengalihkan pandangannya ke danau lagi.


"Apa yang kau rasakan saat bersamaku?" tanya James.


"Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?" Vika belum mengalihkan pandangannya, dan itu membuat James tersenyum. Pria tersebut kemudian menarik dagu Vika agar menatap matanya.


"Apa kau merasakan seperti yang aku rasakan?"


"Yang kau rasakan? Aku tidak tahu." Kepolosan Vika menjadi nilai plus di mata James. Dia lalu membawa tangan Vika untuk menyentuh dadanya.


"Kau merasakannya?" Spontan, Vika mengangguk.


"Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kau juga seperti itu saat di dekatku?"


Ingin mengetahui jawabannya, Vika pun meletakkan sebelah tangan kearah dadanya. Dan benar! Bahwa jantungnya berdetak lebih cepat, sama seperti James. Untuk persekian detik mereka saling bersitatap, dengan sebelah tangan Vika yang menyentuh dadanya, dan sebelah tangannya lagi masih menempel di dada James.


"Aku mencintaimu..."


Mata Vika membulat mendengarnya. Apalagi James mengatakannya tanpa keraguan. Dan bukan hanya itu, James mengatakan dua kata tersebut sambil menatap matanya dalam. Vika lalu menarik tangannya, kemudian dia memukul wajah James berulang kali.


"Hey, apa yang kau lakukan?" James menurunkan tangan Vika yang berada di pipinya. Yang tadinya dia ingin menjadi romantis, seketika berubah menjadi kesal.


"Ini mimpi, kan?" Sepertinya otak Vika sedang loading. Untuk itulah dirinya menyangka bahwa ini hanyalah mimpi.


"Jika ini mimpi, mana mungkin wajahku terasa sakit akibat pukulanmu," gerutu James.


Vika menjentikkan jarinya, "Kau benar."


James mendengus, pria itu sepertinya sedang merajuk akibat pukulan Vika di wajahnya tadi yang cukup keras. Melihat James yang sedang memasang wajah datarnya sambil menghadap ke danau, membuat Vika tidak bisa untuk menahan tawanya.


Grepp


Dia memeluk pria itu dengan senyum kebahagiaan.


"Aku juga mencintaimu, Jam."


"Jangan memanggilku seperti itu, aku bukanlah selai."


"Tapi mulai hari ini, kau adalah Selaiku."


James tidak tahan dengan kegemasan, dia pun membalas pelukan itu. Wanita yang selalu menemaninya dan berbagi rasa sakit terhadapnya, kini telah menyandang sebagai kekasih dari James Williams.


Danau di hadapan mereka ini, telah menjadi saksi atas berlabuhnya dua hati yang saling tersakiti akibat cinta yang bertepuk sebelah tangan. James berjanji, dirinya akan membuat Vikanya bahagia. Dan sebisa mungkin James akan membuat Vika selalu tersenyum dengan caranya.


...* * * ...


Sudah, cukup! Sherly tidak tahan lagi. Bukan hanya sikap Dave yang berubah, tapi pria tersebut dengan teganya membentak dirinya. Bahkan, Dave mengeluarkan kata-kata kasar dan menghinanya karena kedekatannya dengan Roby.


Kini Sherly sedang mengemasi barang-barangnya sambil menangis.


Tak berselang lama, datang seseorang ke apartementnya. Sherly pun langsung berlari dan memeluknya.


"Kumohon, bawa aku pergi dari sini. Aku tidak tahan lagi, Roby."


"Kau tenanglah! Akan kupastikan bahwa Dave tidak akan bisa untuk menemukanmu maupun diriku." Sherly hanya mengangguk dan masih terisak dalam pelukan Roby.


'Kau akan kehilangan dua orang yang paling penting, Dave. Pertama kau akan kehilangan kekasihmu, dan kedua kau akan kehilangan anakmu.' Roby membatin sambil menatap Sherly iba.


Tak ingin membuang waktu lagi, Roby segera membawa Sherly untuk pergi. Akan dia pastikan bahwa Dave tidak akan menemukan mereka. Namun sebelum pergi, Sherly meminta Roby untuk menemaninya menemui seseorang.


...* * * ...


Sudah lewat dua hari dari pertengkarannya dengan Sherly. Dave pun ingin datang menemuinya sekaligus memperbaiki hubungan mereka. Bukan hanya itu! Dave akan mengikuti keinginan Sherly, yaitu segera menikah.


Dengan membawa sebuket bunga di genggamannya, Dave melangkah menuju ke apartement sang kekasih. Namun ketika dirinya sudah mengetuk pintu, yang keluar bukanlah yang dia harapkan, melainkan orang asing.


"Siapa kau?" tanya Dave dingin.


"Hey, Tuan. Harusnya aku yang bertanya, kau siapa? Mengapa datang dan mengetuk pintu apartementku?"


"Apartementmu?" Pria di hadapan Dave mengangguk.


"Jaga bicaramu! Ini apartement kekasihku!"


"Kekasihmu?" Pria itu tertawa. "Apa kau mengigau? Sepertinya, kau salah apartement, Tuan."


Dave mengepalkan tangannya, sedetik kemudian dia mencengkeram kerah baju pria tersebut.


"Jangan buat aku marah! Karena jika diriku marah, aku bisa menjatuhkanmu dari lantai ini? Kau tentu belum ingin mati sekarang, bukan?"


Dengan cepat pria itu menggelengkan kepalanya. Dave lalu melepaskan cengkeramannya dan kembali bertanya. Pria itu menjelaskan semuanya, mulai dari dirinya yang baru pindah ke apartement ini satu hari yang lalu. Memang benar! Sebelum dia yang menempati apartement ini, ada seorang wanita yang menempatinya.


"Kemana dia pindah?"


"Aku tidak tahu, Tuan. Sebaiknya kau tanya pada resepsionis di bawah."


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Dave segera masuk kedalam lift untuk menuju ke lobby. Tak sampai lima menit, dirinya sudah berada di lantai bawah dan langsung menghampiri wanita yang menjadi resepsionis.


"Kemana wanita yang menempati apartement dengan nomor ×××?"


"Apa yang Anda maksud nona Sherly, Tuan?" Dengan cepat Dave mengangguk.


"Nona Sherly sudah pindah sejak dua hari yang lalu. Dan saat itu, aku melihatnya pergi bersama seorang pria dengan membawa barang-barangnya."


"Kemana dia pindah?"


"Aku tidak tahu, Tuan. Nona Sherly juga tidak mengatakan apapun."


"Sial!!" umpat Dave sambil menggebrak meja yang menjadi pembatas antara dirinya dengan resepsionis itu. Resepsionis tersebut berjengkit kaget, tapi Dave tidak perduli.


Dave kemudian melangkah menuju mobilnya terparkir. Namun sebelum itu, dia membuang buket bunga yang sedari tadi dia bawa. Kemarahannya kini mencapai ubun-ubun, jangan sampai ada yang berani menyentuh atau menyenggolnya.


Di dalam mobil, tak henti-hentinya Dave menelpon Sherly, tapi sayangnya nomor wanita itu sepertinya sudah di ganti. Dave pun memutuskan untuk kembali ke markas dan meminta rekannya yang lain untuk datang juga.


Setibanya di markas, ternyata yang lain telah sampai lebih dulu. Dave langsung bertanya pada satu-persatu rekan-rekannya, namun mereka mengatakan tidak tahu dan baru ini mendengar kabar kepergian Sherly. Mereka kemudian terlihat bingung saat Roby tidak ada disana, biasanya pria tersebut sudah stand by disini tanpa di minta.


"Apa jangan-jangan mereka pergi bersama?" James langsung membungkam mulut kekasihnya yang berbicara asal. Tidak tahukah Vika bahwa saat ini Dave begitu marah.


"James," panggil Dave. James pun segera mendekat kearah pria tersebut.


"Kau sangat ahli dalam menemukan seseorang. Kali ini, bantu aku menemukannya."


"Aku akan berusaha, namun aku tidak berjanji jika bisa menemukan mereka."


Suasana benar-benar kacau disana. Angel bahkan tidak menyangka jika Roby bisa berbuat senekad ini.