
Angel menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang Damian lakukan. Dia benar-benar tidak berpikir kesitu. Bahkan Damian menembak Beyonce tidak cukup sekali, melainkan berkali-kali. Dan Beyonce pun tewas di tempatnya.
Damian memerintahkan Mario untuk membereskan masalah ini. Sementara dirinya memilih untuk membawa Angel pergi dari sana. Damian mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan penuh. Namun itu tidak membuat Angel takut, karena dia juga sering membawa mobilnya sendiri dengan kecepatan penuh.
Angel menatap Damian lekat. Sedangkan yang ditatap justru fokus mengendarai mobilnya sambil mencengkram kuat setirnya.
Damian tidak membawa Angel ke mansion, melainkan ke sebuah kapal miliknya yang ada di labuhan. Damian segera turun dan Angel pun mengikutinya. Pria itu lalu berhenti dan berdiri di ujung kapal sambil mencengkram besi sebagai pembatasnya.
Angel dapat melihat nafas Damian yang naik turun, yang mempertandakan bahwa pria tersebut dalam keadaan marah. Dirinya ingin menghampiri Damian, namun dia takut jika kehadirannya saat ini justru membuat pria itu semakin marah. Angel pun akhirnya memutuskan untuk mencari kamar dan beristirahat, sembari menunggu besok pagi datang. Mungkin jika besok, Damian tidak akan marah lagi seperti malam ini.
Ketika Angel sudah pergi, Damian lalu menoleh kebelakang.
'Kau tahu jika aku bisa melakukan apapun ketika aku sedang marah. Bahkan menghabisi manusia pun, bukan hal yang jarang kulakukan.'
...* * *...
Pagi harinya Angel terbangun dan mendapati bahwa dirinya berada di ruangan yang asing. Dia lalu mengingat-ingat kembali apa yang terjadi. Setelah Angel mengingatnya, dia justru menghembuskan nafasnya lelah.
Angel kemudian memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut dan mencari keberadaan Damian. Ketika sudah keluar, Angel mendengar suara Damian yang sedang marah. Dia pun menghampirinya, dan terlihat Mario tengah menundukkan kepalanya di hadapan tuannya.
Damian mendongakkan kepalanya sembari memejamkan matanya. Dirinya merasa sesak sehingga membutuhkan oksigen yang banyak untuk memenuhi ruang di dadanya.
"Nona..." Mario tidak sengaja melihat Angel di sudut ruangan itu. Damian pun langsung membuka matanya dan melihat kearah wanita tersebut.
"Kau puas? Karenamu keluarga dari Beyonce menjadi sainganku dan menarik sahamnya pada perusahaanku?" hardik Damian sembari berjalan mendekati Angel.
Angel tidak terima jika di salahkan. Andai saja jika Damian menolak dan mengusir wanita-wanita itu, mungkin Angel tidak akan marah.
"Kenapa kau malah menyalahkanku? Kau yang menembaknya, namun kau justru melimpahkan kesalahanmu itu kepada orang lain."
"Jika saja kau tidak berulah, mungkin semua ini tidak akan terjadi," desis Damian.
Angel tertawa sumbang, "Terus saja kau menyalahkanku. Karena tidak ada yang benar di dunia ini, selain dirimu."
Damian mencengkeram lengan Angel, namun langsung di tepis oleh wanita itu.
"Jangan berani-berani menyentuhku! Kau pikir aku ingin tinggal denganmu? Jawabannya adalah tidak. Kau yang memaksaku untuk tinggal bersamamu."
Damian dan Angel pun saling bersitatap tajam. Dan dapat di rasakan bahwa terjadi perdebatan yang cukup sengit di antara mereka berdua.
"Apa kurang semua yang kuberikan padamu, hah?" Suara Damian meninggi dengan diiringi nafasnya yang memburu.
"Kau pikir aku wanita yang membutuhkan uangmu? Sama sekali tidak. Bahkan aku juga bisa membeli barang yang kuinginkan dengan uangku sendiri," timpal Angel sambil menatap Damian sinis.
"Kau sudah berani kurang ajar padaku," ujar Damian dingin.
"Kau yang membuatku melakukan semua ini. Aku muak denganmu, Damian." Angel lalu memilih untuk meninggalkan Damian. Wanita itu terus melangkah agar segera enyah dari kapal tersebut. Air matanya kian menetes, namun segera di seka olehnya. Karena Angel tidak ingin terlihat lemah di saat-saat seperti ini.
Setelah dirinya turun dari kapal, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang dari arah belakang. Sontak saja Angel jadi berbalik dan jatuh ke dalam pelukan pria itu.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu dengan kata-kataku." Ternyata itu Damian yang mengejarnya.
"Kau tahu? Ucapanmu itu lebih menyakitkan dari pada sebuah pukulan."
"Aku tahu. Kumohon maafkan aku," pinta Damian. Dia lalu memberi jarak di antara mereka, kemudian menghapus air mata Angel yang menetes karena ulahnya.
"Ayo kita pulang!!" serunya, dan Angel hanya mengangguk lemah.
Saat melihat kedatangan Damian bersama Angel, Mario akhirnya bernafas lega. Dia pikir bahwa Angel akan berbuat nekat seperti dengan film-film yang dia tonton. Tapi syukurlah itu tidak terjadi.
Karena mereka belum sarapan, Damian pun memerintahkan kepada Mario agar menyiapkannya segera. Sembari menunggu dirinya yang akan mandi terlebih dahulu. Dan untuk urusan Beyonce, biarlah itu menjadi urusan belakang. Lagipula, ini bukanlah pertama kalinya Damian memiliki musuh. Di luar sana masih banyak musuhnya yang harus dia waspadai, dan sekarang bertambah dari keluarga Beyonce.
Setelah Angel dan Damian mandi, kini mereka sarapan bersama. Namun kali ini terlihat berbeda. Angel jadi lebih pendiam dan menjawab semua pertanyaan dari Damian dengan anggukan atau gelengan kepala.
Melihat itu, membuat Damian membuang nafasnya kasar. Harusnya dia tidak berbicara seperti tadi, hingga sekarang Angel memberi jarak di antara mereka.
Damian pun menyentuh tangan Angel yang berada di atas meja, dan itu membuat wanita tersebut tersentak. Sekarang Damian dapat melihat keraguan yang ada di dalam mata milik Angel tentang dirinya.
"Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi, oke? Aku tidak mau kau terus memikirkannya hingga menciptakan jarak di antara kita," gumam Damian dengan mengiba.
'Mengatakan memang mudah, namun melakukannya begitu sulit.' Angel hanya berani berbicara di dalam hati. Karena lidahnya terasa kelu untuk saat ini, apalagi tatapan yang Damian berikan membuatnya jadi membisu.
Wanita itu hanya mengangguk pelan, kemudian kembali melanjutkan kegiatan makannya. Begitupun dengan Damian, dia mengelus lembut rambut Angel sejenak, setelah itu dia kembali menyantap sarapannya.
Seusai sarapan, Angel mengajak Damian untuk pulang ke mansion. Karena semakin lama disini, membuat Angel tidak bisa melupakan kata-kata yang Damian lontarkan padanya tadi. Dan Damian tentu saja menurutinya, sekaligus menebus kesalahan yang dia lakukan.
"Apa kau ingin mampir dulu ke suatu tempat?" tanya Damian kikuk.
"Kita pulang saja."
"Baiklah." Damian mendesah kecewa, karena Angelnya masih terlihat marah.
Kali ini Mario yang mengendarai mobil. Karena sekarang pikiran Damian sedang tidak dapat untuk fokus. Damian terus menatap Angel yang enggan melihat kearahnya, dan itu membuatnya tersenyum sendu.
"Kau masih marah padaku?" tanya Damian dengan suara lirih. Walaupun dia sudah tahu jawabannya, namun Damian putuskan untuk tetap bertanya.
"Tidak."
"Kata-kata yang keluar dari mulutmu mungkin bisa berbohong, namun tidak dengan sikap dan juga tatapan dari matamu."
"Damian, aku...." Angel tidak meneruskan ucapannya, saat manik matanya bertemu dengan milik Damian. Disana Angel dapat melihat sedih, emosi yang tertahan, dan juga kefrustasian.
Damian benar-benar terlihat buruk dan menyedihkan. Angel pun memberanikan diri untuk menyentuh wajah itu, wajah pria yang secara perlahan mulai mencairkan hati bekunya.
"Aku tidak marah, Damian. Aku hanya lelah dan ingin istirahat. Maka dari itu aku mengajakmu untuk kembali ke mansion."
"Jika hanya ingin istirahat, di kapal tadi juga bisa, Angel."
Bibir Angel menampilkan senyum tipisnya. Tidak biasanya Damian menyebutkan namanya seperti itu.
"Apa kau ingin memulai perdebatan lagi?"
Damian mendengus, "Aku tidak ingin kejadian tadi terulang kembali."
"Begitupun denganku. Jika itu sampai terjadi lagi, mungkin aku benar-benar akan pergi darimu."
Sontak saja Damian langsung menatapnya lekat. Tidak!! Damian tidak rela jika kehilangan Angel. Wanita yang dicintainya dari sejak lama.
Grepp!!
Damian memeluknya dengan sangat erat. "Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi. Aku mencintaimu, dan tidak akan pernah rela jika kehilanganmu."
Angel tersenyum di balik punggung Damian. 'Jika kita di takdirkan bersama, mungkin masalah apapun yang menimpa, pasti akan bisa terselesaikan.'