The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Paris ~ Pertengkaran Angel Dan Damian




"Kau tahu tempat ini, bukan?" tanya Damian sambil memandangi bangunan berbentuk kerucut di depannya.


"Tentu saja. Siapa yang tidak tahu tempat ini. Museum Louvre, merupakan museum yang populer akan piramid kacanya yang sangat ikonik. Dan tempat ini juga merupakan rumah bagi ratusan ribu karya seni dunia yang legendaris," jelas Angel yang membuat Damian kagum.


"Woww, kau tahu darimana semua itu?"


Angel mengendikkan bahunya, "Dari google."


Damian berOh ria, "Dan kau tahu, karya apa yang paling terkenal yang tersimpan di museum ini?"


"Tentu saja. Lukisan MonaLisa-lah yang paling terkenal disini."


Lagi-lagi Damian berdecak kagum dibuatnya. Walaupun wanita di sampingnya ini mengetahui itu semua dari Mbah Google. Tapi setidaknya, ingatannya sangat tajam.


"Apa kau suka seni?"


Damian tersenyum sambil mengangguk. "Aku sangat menyukainya."


"Ahh, sayang sekali. Aku tidak menyukainya," sahut Angel acuh.


Seketika senyum di wajah Damian menjadi luntur.


"Lalu, apa yang kau sukai?"


"Sesuatu yang ekstrim."


"Oh ya, aku baru ingat sekarang bahwa kau merupakan wanita yang langka."


"Dan kau jangan lupa, Damian, bahwa kau mencintai wanita langka ini," kekeh Angel.


"Yaa.. kau benar."


"Aku bosan. Ayo pergi ke tempat yang lain." Tanpa permisi, Angel langsung menarik tangan Damian begitu saja.


"Apakah kau tidak mau masuk dulu? Lalu melihat-lihat isi di dalamnya."


Angel menggeleng, "Sudah kukatakan bahwa diriku tidak menyukai seni."


Akhirnya Damian mengalah, dan membiarkan wanita itu membawanya entah kemana. Tiba-tiba Angel berlari, dan sontak saja Damian ikut berlari karena tangannya masih di genggam oleh wanita tersebut.


"Damian, tempat apa itu?" tunjuk Angel.



"ItuTuileries Garden."


"Tidak bisakah jika kau menjelaskannya sedikit padaku?" gerutu Angel.


"Kau ingin aku menjelaskannya?"


"Tentu saja."


"Tapi, itu semua tidak gratis." Damian menyeringai.


"Lalu kau mau apa? Uang? Bukankah uangmu sudah banyak?"


Damian tidak menjawabnya, pria itu malah menunjuk pipinya. Dan itu membuat Angel mengernyitkan dahinya heran.


'Apa dia memintaku untuk memukulnya?'


"Cepatlah," ujar Damian tidak sabaran.


"Kau ingin aku memukulmu?"


"Kau gila? Mana mungkin aku ingin dipukul."


"Lalu??"


"Kiss me."


"Katakan, kau ingin dicium menggunakan tangan kananku atau tangan sebelah kiriku?" Angel memperlihatkan kedua kepalan tangannya di depan wajah Damian. Seolah meminta pria itu untuk memilihnya.


"Oh My Angel, mengapa kau ini galak sekali? Aku hanya meminta ciumanmu sebentar saja, tapi kau seolah-olah ingin mengajakku berkelahi." Damian merengek sembari memasang wajah sedihnya.


"Harusnya kau juga tahu tempat. Coba lihat dimana kita sekarang?"


Damian melihat ke sekelilingnya sejenak, kemudian tatapannya kembali kepada Angel.


"Memangnya kenapa? Di mansion pun kau tidak mau melakukannya."


Angel hanya diam, dan itu membuat Damian menghela nafasnya kecewa.


"Sudahlah. Ayo kita mengelilingi taman ini."


"Awas jika kau mencari kesempatan dalam kesempitan," tambah Angel berupa ancaman.


"Iya-iya, cepatlah." Damian benar-benar tidak sabar rupanya. Angel lalu mendekatkan wajahnya secara perlahan ke pipi Damian. Namun saat bibirnya hampir menyentuh pipi itu, Damian justru menahan tengkuknya kemudian ******* bibirnya. Mata Angel langsung terbelalak karena ulah pria tersebut.


Setelah mencium Angel, Damian langsung berlari untuk menghindari amukan singa betina yang sebentar lagi akan mengaum.


Angel menyentuh bibirnya pelan, dengan wajahnya yang masih terlihat shock.


"Bibirku sudah tidak suci lagi."


Wanita itu menarik nafasnya panjang, lalu..


"Damian, dasar kau pria pembohong." Angel tidak perduli jika orang-orang melihatnya atau berpikiran aneh setelah dirinya berteriak. Sekarang dia harus mendapatkan pria itu lalu menghajarnya.


Sementara Damian yang mendengarnya dari kejauhan, justru tertawa keras. Dia lalu memilih untuk duduk di bawah pohon sembari menunggu kedatangan Angel.


"Aww," Damian terlonjak kaget saat tiba-tiba ada sebuah lengan yang melingkar di lehernya.


"Harus kuapakan pria sepertimu, hah?"


"Nikahi saja aku, Angel." Damian masih sempat-sempatnya menggoda wanita itu. Angel pun semakin menguatkan lingkaran lengannya di leher pria tersebut.


"Uhuuk, uhuuk. Angel, kumohon lepaskan."


Angel tertawa sarkastik, "Melepaskanmu? Tentu tidak semudah itu."


"Lalu kau mau apa?" tanya Damian dengan wajah sengsara.


"I will kill you," bisik Angel.


"Jika kau ingin membunuhku, maka cepatlah. Aku sudah tidak tahan lagi dengan penderitaan ini." Damian berujar dramatis, dan entah mengapa itu membuat Angel bergidik. Dia pun melepaskan pria tersebut.


"Ehh? Kau tidak jadi ingin membunuhku?" Damian memasang wajah bingung nan polos. Dan lama-lama itu membuat Angel jengkel, kemudian...


PLAKK


"Aku rasa ini impas." Angel menamparnya dengan cukup keras. Setelah mengatakan itu, dia melangkahkan kakinya untuk pergi.


Sedangkan Damian, jangan ditanya! Pria itu hanya bisa melongo memandangi kepergian Angel sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Dan dapat dipastikan bahwa pipinya itu akan memerah akibat ulah dari wanita bar-bar tersebut.


"Lumayan juga tamparannya. Tidak bisa kubayangkan jika mendapatkan tamparan seperti ini setiap hari. Mungkin semua orang akan mengira jika aku memakai pemerah pipi," gumam Damian, pria itu lalu segera berlari saat menyadari bahwa Angel sudah tidak terlihat lagi dari jangkauannya.


"Kemana dia?" Damian celingak-celinguk mencari keberadaan Angel, namun tidak kunjung ketemu. Dan tak terasa hampir setengah jam lamanya dia berkeliling untuk mencari wanitanya.


"Kemana dia sebenarnya?" gerutu Damian diiringi dengan decakkannya.


Sementara di tempat lain....


"Mengapa tuanmu itu lama sekali?" tanya Angel sambil sesekali meminum es-nya.


"Saya tidak tahu, Nona, " jawab Mario sambil melirik wanita yang duduk di kursi belakang penumpang. Tiba-tiba ponselnya berdering, dan kebetulan sekali bahwa itu telpon dari tuannya.


"Hallo, Tuan."


"Kau dimana?" tanya Damian di sebrang sana dengan nafas yang tidak beraturan.


"Saya di mobil, Tuan. Apa Tuan baik-baik saja?"


"Cepat kemari!! Angel menghilang." Terdengar suara Damian yang panik. Mario pun melirik kembali wanita yang berada di belakangnya.


"Emm, Tuan. Nona Angel sudah berada di mobil sejak setengah jam yang lalu."


Tidak ada balasan dari Damian. Tapi terdengar suara nafasnya yang memburu dibalik telpon.


"Kenapa kau tidak memberitahuku sedari tadi?" teriak Damian setelah mengatur nafasnya yang memburu karena emosi.


Mario menjauhkan ponselnya dari telinga. Dan saat dirinya hendak mendekatkan kembali benda pipih itu ke telinganya, ternyata tuannya sudah memutuskan panggilan mereka. Mario hanya bisa menghela nafasnya, dan menunggu pertengkaran yang terjadi diantara tuannya dan wanita di belakangnya ini.


Tak sampai sepuluh menit, Damian sudah datang dan langsung masuk ke mobil. Tatapannya begitu tajam, sampai-sampai Mario tidak berani meliriknya dari balik kaca spion. Sementara Angel dengan santainya menyodorkan minumannya kepada Damian.


Pria itu lalu mengambilnya dengan kasar, kemudian meminumnya sampai tandas. Setelah tak bersisa, gelasnya dia kembalikan kepada Angel.


Angel menatap nanar gelas kosong yang berada di tangannya. Lalu tatapannya beralih pada pria di sampingnya ini.


"Dasar tidak tahu diri. Aku memberimu minum karena kasihan, dan kau justru menghabiskannya tanpa sisa."


"Terima kasih," ujar Damian acuh. Dirinya begitu malas untuk bertengkar saat ini. Bahkan tenaganya sudah terkuras akibat kelelahan mencari keberadaan wanita yang jelas-jelas sedang duduk santai di dalam mobilnya.


"Dasar kau..." Angel tidak melanjutkan ucapannya. Dia lalu memilih untuk mengabaikan Damian dan melihat keluar jendela.


"Mario, kembali ke apartement."


"Baik, Tuan." Mario segera menjalankan mobilnya. Sedangkan Damian memilih untuk menyandarkan punggungnya ke kursi dengan matanya yang melirik Angel.