
Setelah melakukan foto prewedding yang melelahkan dan seharian, kini kedua sejoli tersebut memutuskan untuk pulang. Namun sebelum itu, mereka sempatkan mampir di sebuah restaurant untuk mengisi perut mereka.
Di dalam perjalanan, Damian tak bisa untuk berhenti tersenyum. Bahkan, dia tidak ingin melepaskan tangan Angel barang sedetik saja. Sesekali pria itu mencium punggung tangan dari kekasihnya itu.
Di jari Angel saat ini sudah tersemat sebuah cincin yang menjadi kado di hari ulang tahunnya beberapa hari yang lalu. Siapa lagi yang memberikannya jika bukan Damian.
Tak terasa, akhirnya mereka tiba di kediaman Ibu Elizabeth pada malam hari. Damian berdecak, rasanya baru sebentar dirinya menghabiskan waktu bersama wanitanya. Namun sekarang mereka harus berpisah.
Angel tak kunjung turun. Wanita itu lalu menarik nafasnya dalam, kemudian menghadap Damian dan menatapnya serius.
"Bagaimana dengan dunia hitammu?"
"Bukankah kau memintaku untuk meninggalkannya?"
"Benarkah? Kau tidak berbohong padaku, bukan?"
Damian tersenyum tulus, kemudian di raihnya kedua tangan wanita itu.
"Dengarkan aku, Sayang! Aku akan melakukan apapun yang kau pinta, asalkan kau mau menerimaku. Untuk masalah dunia hitamku, itu bukanlah hal yang besar. Jangankan dunia hitamku, jika kau menginginkan jantungku, maka dengan suka rela aku memberikannya."
Angel terharu dengan ungkapan Damian. Dengan lembut dia mencium pipi pria tersebut. Setelahnya, Angel turun dari mobil itu dan tak lupa untuk mengatakan; 'Selamat malam dan hati-hati'.
Rasanya Damian ingin terbang sekarang. Untuk pertama kalinya Angel menciumnya tanpa dia minta dan paksa. Walaupun wanita itu hanya menciumnya di pipi, namun itu sudah cukup membuat Damian bahagia.
Damian lalu melihat Angel yang perlahan menghilang di balik pintu. Dengan raut wajah yang berseri-seri, Damian menjalankan kembali mobilnya untuk menuju ke apartementnya.
...* * *...
...❤Hari Bahagia❤...
Benar-benar tidak dapat di percaya. Kini keinginan Damian akan terwujud, yaitu menikahi wanita yang di cintainya.
Saat ini Damian sudah berdiri di atas altar dan menunggu kedatangan sang mempelai wanita. Sejak dirinya naik ke atas sana, tak henti-hentinya Damian meremas jarinya karena gugup.
Tak berselang lama, Angel muncul bersama Hazel dengan diiringi lagu dari Shane Filan - Beautiful In White.
♪Not sure if you know this♪
(Aku tak yakin kau tahu ini)
♪But when we first met♪
(Namun sejak pertama kita bertemu)
♪I got so nervous I couldn't speak♪
(Aku merasa begitu gugup, aku tak bisa berucap)
♪In that very moment♪
(Pada saat itu juga)
♪I found the one and♪
(Aku menemukan seseorang dan)
♪My life had found its missing piece♪
(Hidupku menjadi lengkap)
♪So as long as I live I love you♪
(Jadi selama aku hidup, aku mencintaimu)
♪Will have and hold you♪
(Aku akan memiliki dan memelukmu)
♪You look so beautiful in white♪
(Kau terlihat begitu cantik dengan gaun putih)
♪And from now 'til my very last breath♪
(Dan mulai sekarang sampai nafas terakhirku)
♪This day I'll cherish♪
(Hari ini akan selalu kuingat)
♪You look so beautiful in white♪
(Kau terlihat begitu cantik dengan gaun putih)
♪Tonight♪
(Malam ini)
♪What we have is timeless♪
(Apa yang kita miliki abadi)
(Cintaku tak ada habisnya)
♪And with this ring I♪
(Dan dengan cincin ini aku)
♪Say to the world♪
(Katakan pada dunia)
♪You're my every reason♪
(Kau adalah alasanku)
♪You're all that I believe in♪
(Hanya kau yang aku percaya)
♪With all my heart I mean every word♪
(Dengan sepenuh hati aku bersungguh-sungguh)
Melihat Angel yang sudah muncul dan hendak menuju ke altar, para hadirin pun langsung berdiri menyambutnya.
Ibu Elizabeth yang berada di paling depan, tak bisa menahan air matanya karena terharu. Putrinya begitu cantik dengan gaun yang di kenakannya, seperti lagu yang saat ini sedang di putar.
Sebelum melangkah, Angel menarik nafasnya dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan untuk menghilangkan kegugupannya. Lalu dengan langkah yang pelan, Hazel menemani Angel untuk ke altar.
Kedua mata Damian dan Angel bertemu. Mereka saling terpesona dengan penampilan satu sama lain. Bahkan kegugupan yang tadi melanda, seketika menghilang saat mata mereka berjumpa.
Senyum cerah langsung mengembang di bibir keduanya. Berawal dari misi, dan berakhir menjadi istri. Mungkin itulah kata-kata yang cocok untuk Angel.
Perlahan Hazel menyerahkan tangan Angel kepada Damian. Dengan senang hati Damian menerimanya lalu membantu kekasihnya untuk naik ke altar.
Keduanya kemudian berdiri secara berhadapan dan menatap satu sama lain. Bagi Damian, kecantikan Angel saat ini tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Rasanya, pandangannya ini tidak ingin terlepas dari wanita di hadapannya.
Keduanya mulai mengucapkan janji suci pernikahan. Kemudian di akhiri dengan sebuah ciuman dan tepuk tangan bahagia dari para hadirin.
"I love you..." Tatapan Angel begitu tulus untuk Damian.
"I love you more..." Sekali lagi bibir mereka bertemu. Sorak soramai kembali terdengar. Namun kali ini lebih riuh dari pada yang tadi.
Setelah itu, pengantin baru pindah ke pelaminan. Semua tamu undangan mengucapkan selamat kepada mereka. Tak ketinggalan James dan Vika yang menjadi saksi atas ikatan suci mereka.
Angel tersenyum lalu memeluk tubuh Vika, "Terima kasih karena kau sudah datang."
"Tentu saja aku datang. Mana mungkin aku akan melewatkan hal bersejarah seperti ini."
Kedua wanita itu tampak asyik mengobrol. Sehingga tidak memperhatikan kedua pria yang sedang beradu pandang di samping mereka.
James lalu menyodorkan sebelah tangannya sembari membuang wajahnya ke samping.
"Selamat atas pernikahan kalian."
Damian tersenyum miring, namun pria itu masih membalas uluran tangan tersebut.
"Terima kasih."
James kembali menarik tangannya, kemudian menghela nafasnya panjang. "Sebenarnya aku masih memiliki dendam padamu. Namun jika aku membunuhmu, lalu bagaimana dengam nasib Angel?"
Ucapan James bagaikan lelucon untuk Damian. Pria itu tertawa keras, hingga menimbulkan perhatian dari orang-orang sekitarnya. Tak terkecuali kedua wanita di sampingnya yang langsung menatapnya aneh.
Sedetik kemudian raut wajah Damian berubah menjadi datar.
"Berhenti menatapku seperti itu!"
Angel dan Vika semakin menatapnya aneh. Mereka lalu kembali mengobrol tanpa memperdulikannya.
Damian kembali menatap James. Kini wajahnya terlihat lebih serius.
"Lalu, bagaimana caranya untuk menghilangkan dendammu padaku?"
"Cukup mudah. Seperti ini saja."
Bughh!
Semua yang ada disana terkejut. Begitupun dengan Angel dan Vika yang menutup mulut mereka tidak percaya.
"James, apa yang kau lakukan?" pekik Angel. Bisa-bisanya pria itu memukul Damian di acara pernikahan mereka.
Dengan santainya James tersenyum kemudian merangkul bahu Damian.
"Kami hanya bercanda, Angel. Tidak usah panik seperti itu."
Damian ikut tersenyum, walaupun dia harus menahan sakit di bagian perutnya akibat pukulan dari pria yang merangkulnya saat ini.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Tidak usah khawatir, kami hanya bercanda."
Meskipun Angel tidak percaya. Tapi akhirnya dia mencoba untuk percaya kepada kedua pria itu. Dirinya tidak ingin kekacauan terjadi di hari spesial mereka ini.