The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Pertemuan Dua Pria



Hari demi hari berlalu. Dan selama itu juga, Angel lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan James untuk menjalankan misi mereka.


Dan Damian? Pria itu tidak mengabari Angel sama sekali. Begitupun Angel, dia tidak menghubungi Damian sebelum pria itu yang menghubunginya lebih dulu.


Namun Angel sedikit kesulitan jika harus keluar dari rumah mewah milik Damian. Karena beberapa pengawal pria tersebut terus mengikutinya tanpa henti. Dan Angel yakin, selama itu juga pengawal-pengawal tersebut memberitahukan segala aktivitasnya kepada tuan mereka.


"Bagaimana, James?" tanya Angel pada pria yang sibuk dengan laptopnya.


James menghembuskan nafasnya kasar. "Sulit sekali menemukannya. Dan entah kapan penyelundupan itu akan dilakukan."


Angel terdiam sembari mendaratkan bokongnya ke sofa tepat di samping pria tersebut.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Kita tunggu saja," sahut James sambil mengendikkan bahunya acuh.


...* * * ...


Dengan langkah lunglai, Angel memasuki mansion milik Damian. Semenjak kepergian Damian, dirinya merasa ada sesuatu yang hilang. Tidak ada lagi pria yang membuatnya marah dan kesal.


"Kapan Si Bastard itu akan kembali?" Angel menghela nafasnya, tumben sekali mansion ini sepi. Hanya ada beberapa pengawal dan pelayan yang berkeliaran.


Lalu Angel melirik jam besar yang berada di dalam lemari. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Lagi-lagi Angel menghela nafasnya. Wanita itu lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Clekk~


Angel masih dengan langkah lunglainya, berjalan memasuki kamarnya. Saat dia hendak membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba sebuah suara mengintrupsinya.


"Baru pulang, heh?"


Wanita itu tampak membeku di tempatnya. Namun sedetik kemudian dia kembali tersadar. Angel kira jika itu adalah halusinasinya. Dia pun memutuskan untuk mengabaikan suara tersebut.


Dan saat Angel kembali hendak membuka pintu di depannya, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya. Nafasnya tercekat, lalu dengan gerakan pelan, Angel melihat tangan tersebut.


"Damian," lirihnya.


"Kau benar-benar membuatku marah, Sayang. Aku pikir, dengan kepergianku bisa membuatmu sadar. Namun nyatanya tidak. Kau justru bermain gila dengan pria lain di belakangku." Damian berbisik tepat di telinga wanita itu.


Sontak saja Angel berbalik dan membuat tangan Damian terlepas dari perutnya.


"Apa maksudmu dengan bermain gila di belakangmu?"


"Tentu saja, apalagi jika bukan pria yang tinggal di apartementmu itu." Damian melangkah menuju sofa dan mendudukan dirinya disana.


"Dia hanya temanku, Damian."


"Benarkah? Aku tidak percaya itu."


"Terserah. Jika kau datang ke kamarku hanya ingin mencari ribut denganku, lebih baik kau keluar." Angel menunjuk pintu keluar sembari menatap Damian datar.


Damian terkekeh, kemudian berdiri dari duduknya dengan merapihkan jasnya. Setelah itu dia melangkah mendekati wanitanya.


"Kau berkata, bahwa dia adalah temanmu?"


Angel mengangguk singkat dengan wajahnya yang masih datar.


"Baiklah." Damian mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, pertemukan aku dengannya. Kau atur saja kapan dan dimana, aku akan siap untuk datang."


Setelah berbicara seperti itu, Damian langsung keluar dari kamar Angel. Sedangkan Angel, dia tampak memandangi punggung Damian dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.


...* * *...


Veronica keluar dari rumahnya untuk mencari udara segar sekalian mencari lowongan pekerjaan untuknya. Dia mengendarai mobil milik Hazel, dan menyuruh adiknya tersebut untuk pergi ke kampus menggunakan taksi saja.


Mobil yang Veronica kendarai, berhenti tatkala lampu lalu lintas berwarna merah. Sembari menunggu, Veronica melihat kesana-kemari, siapa tahu ada lowongan pekerjaan.


Namun bukannya mendapatkan lowongan pekerjaan, Veronica justru mendapatkan pemandangannya yang membuatnya merasa bahwa dunia ini tidak adil baginya.


Disana, seorang pria dan wanita tampak akrab sembari bercanda tawa. Terlihat kedua sejoli itu hendak menyebrang jalan dengan saling berpegangan tangan.


Veronica tertawa, namun air matanya tak bisa di cegah untuk tidak keluar.


"Kau..."


Rasanya sulit untuk menerima ini semua. Dimana sekarang dirinya begitu menderita, sedangkan mereka tampak bahagia.


"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia. Jika aku menderita, kalian juga harus ikut menderita."


Mata Veronica melirik lampu lalu lintas, yang dimana masih sekitar 30 detik lagi untuk menuju ke lampu hijau. Veronica tersenyum, lalu menginjak pedal gasnya dengan sangat kuat.


Henry dan Susan yang saat itu sedang berada di tengah jalan untuk menyebrang, tidak bisa mengelak lagi. Dan...


BRAKKK


"Henryy..." teriak Susan yang terlempar akibat di dorong oleh Henry.


Semua yang disana menjadi terkejut, dan segera membantu Susan dan Henry untuk ke rumah sakit. Sedangkan Veronica, terlihat tersenyum miring dari kejauhan. Kemudian wanita itu kembali menjalankan mobilnya untuk menjauh dari tempat tersebut.


Setibanya di rumah sakit, Henry langsung di dorong menggunakan brankar menuju UGD. Tak henti-hentinya Susan menangis dan berdoa untuk keselamatan Henry.


"Tuhan, kumohon selamatkan dia hikss..." Susan menangkup kedua tangannya sembari mendongakkan kepalanya.


Susan tidak memperdulikan dirinya yang juga terluka akibat di dorong oleh Henry tadi. Bahkan rasa takutnya kini, menggantikan rasa sakitnya yang berada di tubuhnya.


"Henry, kumohon bertahanlah.." Susan menatap sedih pintu berwarna putih di depannya.


Dengan sejuta harapan, Susan memohon agar Henry baik-baik saja. Susan berjanji, jika Henry kembali membaik, Susan akan menuruti apa yang pria itu inginkan. Termasuk untuk menjadi kekasih dari Henry.


...* * * ...


Hari ini, Angel benar-benar mempertemukan dua pria tersebut sesuai dengan keinginan Damian. Angel memilih cafe di pusat kota untuk pertemuan ini.


Tampak James sedari tadi menatap Damian datar, yang di balas dengan tatapan santai oleh Damian. Karena Damian sendiri sudah tahu siapa pria di hadapannya ini.


"Angel..."


"Angel.."


James dan Damian saling bersitatap, tatkala mereka bersamaan memanggil Angel.


"Ada apa dengan kalian ini?" Angel menatap aneh kedua pria yang sedang bersamanya ini.


James tidak menjawabnya, justru pria tersebut memalingkan wajahnya. Terlihat James sedang kesal, dan Angel tidak tahu apa alasannya.


Sementara Damian sedang menyembunyikan senyumnya, dengan cara mulai menyantap makanan di depannya.


"James, kau ingin mengatakan apa?" Angel memilih untuk berbicara dengan James dulu, baru setelah itu Damian.


"Tidak ada. Aku... hanya ingin pulang," jawab James pelan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Apa kau begitu sibuk, heh?" Akhirnya, Damian mengeluarkan suaranya juga.


Seketika James menatap Damian datar.


"Setidaknya aku sibuk bekerja, bukan sibuk mempermainkan wanita."


"Woahh.." Damian bertepuk tangan kagum.


"Kau sangat pandai dalam berbicara. Kusarankan, kau menjadi pengacara saja."


"Ciih..." James lalu berdiri dari duduknya. Kini tatapannya tertuju pada Angel.


"Aku pamit, lain kali kita bertemu lagi, tanpa...dia."


Tanpa mendengarkan jawaban dari Angel, James bergegas meninggalkan mereka berdua. Awalnya James pikir, Angel mengajaknya makan siang hanya berdua. Namun saat datang kesana, James justru melihat Angel membawa pria lain.


Bahkan James tidak menyentuh makanan atau minumannya sama sekali. Ketika melihat Angel bersama Damian, seketika selera makannya menjadi hilang. Oleh sebab itulah, James memutuskan untuk pergi saja dari sana.


Sementara di tempat Angel berada, tak henti-hentinya Damian mengumpati James.


"Apa maksudnya tadi? Dia hanya ingin bertemu denganmu, tanpa mengajak diriku. Dia pikir, dia itu siapa? Dasar pria sialan."


Angel yang lelah mendengar ocehan dari Damian, segera mengambil salad sayur yang di pesannya. Kemudian memasukkan sayur tersebut ke dalam mulut Damian.


Dan tanpa memperdulikan pria itu, Angel langsung saja meninggalkannya.


"Angel, apa yang kau lakukan?" ujar Damian dengan mulut penuh sayur.


Pria itu lalu memuntahkan sayur tersebut, karena memang Damian tidak menyukai sayur-sayuran. Karena bagi Damian, sayuran sangat tidak enak, walaupun begitu banyak manfaat yang terkandung di dalamnya.