
Mereka tiba pada dini hari. Dan langsung saja Angel dan Damian memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat.
Di dalam kamarnya, Damian tampak duduk merenung. James telah mengetahui siapa dirinya, dan sekarang pria itu sedang berusaha memberitahu Angel.
Kali ini James akan menjadi incarannya. Bagaimanapun, James akan menjadi penghalang antara dirinya dan juga Angel.
Damian lalu mengambil ponselnya di atas nakas, kemudian menghubungi Mario yang sedang berada di lantai bawah bersama beberapa anak buahnya.
"Aku tidak mau tahu. Cepat kau cari dia!!"
"Baik, Tuan. Saat ini aku sedang melacak keberadaannya."
"Baiklah. Jika ada informasi apapun, segera kabari aku!!"
"Baik, Tuan."
Panggilan pun terputus. Damian benar-benar tidak bisa merasakan ketenangan sebelum pria yang bernama James itu berada di tangannya.
...* * * ...
Di siang harinya, Damian mendapatkan kabar yang membahagiakan. Akhirnya, dia dapat bernafas lega dan menjadi tenang kembali. Asistennya itu memang dapat di andalkan. Tak henti-hentinya Damian tersenyum di siang yang cerah ini. Dan Angel yang melihatnya, jadi terheran.
"Ada apa denganmu? Sedari tadi kuperhatikan, kau terus saja tersenyum."
Damian terkekeh, "Hanya urusan kantor, My Angel. Aku mendapatkan keuntungan yang besar dari kerja kerasku selama ini."
Angel berOh ria. Namun tak dapat di pungkiri bahwa hatinya merasakan ada yang tidak beres.
Melihat keterdiaman wanitanya, Damian lalu menyentuh tangan Angel yang berada di atas meja. Dan itu membuat wanita tersebut jadi tersentak dan lekas menatapnya.
"Ada apa? Apakah ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?"
Angel menggeleng, kemudian tersenyum tipis.
"Aku baik-baik saja."
"Kau yakin?" Alis Damian terangkat sebelah, dengan tatapannya yang mengintimidasi.
"Aku 100% baik-baik saja, Damian."
"Oh, baiklah." Damian masih menggenggam tangan itu sembari menciumnya dengan lembut.
"Bisakah kau berjanji sesuatu kepadaku?"
"Apa?"
"Jangan pernah meninggalkanku! Aku bisa gila tanpamu."
Angel terdiam sejenak. Matanya menatap Damian intens. Jujur saja jika dirinya merasa nyaman dan aman saat bersama dengan pria itu. Namun, kedatangannya kesini untuk menjalankan misi, bukan untuk mencari cinta.
"Damian.." Angel melepaskan tangannya perlahan dari genggaman pria itu.
"Aku tidak bisa berjanji kepadamu."
"Kenapa? Apakah kau berniat untuk meninggalkanku?" sungut Damian dengan nafas yang memburu.
"Tidak! Aku tidak berniat melarikan diri darimu." 'Namun kedatanganku kesini untuk menjalankan sebuah misi. Jika misiku itu selesai, maka aku harus kembali ke tempat asalku,' tambah Angel dalam hati.
"Lalu mengapa kau tidak bisa berjanji kepadaku?" Tatapan Damian meredup. Dan terdapat kesedihan di dalam matanya itu.
"Aku benar-benar tidak bisa, Damian!!" Angel pun memutuskan untuk bangkit, kemudian pergi meninggalkan Damian ke kamarnya.
Ingin sekali Damian mengejar wanitanya tersebut. Namun ada Mario yang sejak tadi menunggunya untuk pergi. Dengan langkah lunglai, Damian menghampiri orang kepercayaannya itu. Mereka berdua pun segera menuju ke mobil dan bergegas meninggalkan mansion.
Di lain tempat, Angel mendudukkan dirinya di tepi kasur. Pandangannya menatap lurus kedepan dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Apa.. apa yang harus kulakukan?" Angel akui sekarang!! Bahwa hatinya telah mencair karena Damian, pria yang tinggal bersamanya beberapa bulan ini.
Dirinya benar-benar di lingkupi kebimbangan. Pikirannya mengatakan bahwa dia harus segera pergi dari tempat ini, namun sepertinya, hatinya sudah terpaut pada mansion ini beserta sang pemiliknya.
"Kau berhasil meluluhkan hati yang telah lama beku ini, Damian. Tapi..." Sebelum Angel menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba ponselnya berdering dan membuatnya langsung menjangkau benda pipih itu.
"Kau dimana sekarang?" Dari nada bicara Calvin, terlihat jelas bahwa pria tersebut sedang marah saat ini.
"Aku.. aku sedang diluar. Memangnya ada apa?"
"Kau datang kesini atau aku akan menjemputmu??"
"Apa maksudmu, Calv? Dan kemana aku harus datang?"
"Tentu saja ke apartement yang kalian tinggali, memangnya kemana lagi?"
'Calvin ada disini? Tapi untuk apa? Dan dengan siapa dia kesini? Apakah dengan Dave?' Sejuta pertanyaan muncul di otaknya, namun akan dia tahan sampai dirinya bertemu dengan pria di balik ponsel ini.
"Baiklah. Aku akan segera datang."
Tutt...
Panggilan mereka pun terputus, dan itu membuat Angel menghela nafasnya. Dirinya begitu bingung, apa yang Calvin lakukan disini? Dan mengapa James tidak mengabarinya sama sekali.
Tak ingin membuang waktunya, Angel lalu mengambil tasnya kemudian segera pergi dari sana. Namun untuk meninggalkan mansion tersebut, dirinya harus melakukan sebuah perdebatan dan drama dengan para pengawal Damian.
Hingga akhirnya dia melarikan diri karena beberapa pengawal Damian ingin ikut serta dengannya. Dan Angel tahu bahwa setelah ini, para pengawal itu akan mengadu pada tuannya. Oleh sebab itu, Angel lebih dulu mengirimkan sebuah pesan pada pria tersebut dan mengatakan akan keluar sebentar.
Setibanya di lokasi, Angel langsung berlari masuk ke lobby dan menuju lift. Di dalam lift itu, Angel terdiam dan memikirkan apa yang akan dikatakan. Dan firasatnya mengatakan, bahwa James telah memberitahukan yang sebenarnya kepada semua rekannya, bahwa dirinya tidak tinggal bersama pria itu dan justru tinggal bersama pria lain yang tidak di kenal.
"Apa yang harus kukatakan? Dan bagaimana jika Dave juga ada disini?"
Mungkin untuk membohongi rekannya yang lain memanglah mudah, namun sangat sulit untuk membohongi Dave. Pasalnya, Dave sangat piawai dan jeli menilai gerak-gerik dari mata dan tubuh seseorang.
"Tidak, Angel. Kau harus tetap rileks dan jangan terlihat tegang seperti ini." Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian membuangnya secara perlahan.
Ting!!
Pintu liftnya terbuka, Angel pun bergegas menuju apartement yang dulu pernah dia tinggali.
"Okey. Rileks, Angel." Dengan perlahan, Angel membuka pintu apartement itu.
Disana terdapat dua orang yang sedang duduk di sofa dan saling berdiam diri. Matanya menjelajahi seisi apartement itu, siapa tahu ada rekannya yang lain.
"Apakah hanya kalian berdua yang datang kesini?"
"Kau memang mengharapkan siapa?" tukas Vika sambil bangun dari posisi duduknya.
Angel pun akhirnya dapat bernafas dengan lega. Dia lalu mengubah ekpresinya agar tidak terlihat seperti sedang tegang.
"Kenapa kalian tidak mengabariku?"
"Aku pikir kau akan tahu dengan kedatangan kami." Calvin menimpali.
"Dimana James?" tanya Angel yang baru menyadari bahwa pria itu tidak ada disana.
"Kau menanyakan James kepada kami, lalu kami akan bertanya kepada siapa? Bukankah kalian tinggal bersama? Bagaimana bisa kau tidak tahu dimana dan apa yang terjadi padanya?" sungut Calvin. Wajah pria itu kini di lingkupi dengan kecemasan.
"Angel, apakah kau tidak tahu bahwa James mengirimkan sebuah pesan dengan simbol berbahaya kepada kami? Maka untuk itulah kami datang kesini," terang Vika.
Angel terkejut, bahkan dirinya tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Dia terlalu sibuk dengan Damian, hingga melupakan misinya dan juga rekannya yang ada disini.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Dan bagaimana cara kita menemukan James?" Vika tampak begitu mengkhawirkan James. Setelah dirinya mendengar kabar hilangnya James, Vika buru-buru menyiapkan diri untuk pergi ke Sisilia. Walaupun awalnya dia tidak diizinkan oleh Dave, namun dirinya tetap kekeuh dan tetap ingin pergi juga.
"Aku akan mencarinya!!" Angel kemudian hendak pergi, namun sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Kau akan mencarinya kemana? Apa kau pikir kedatangan kami kesini hanya untuk berdiam diri saja?"
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" bentak Angel dengan air matanya yang mengalir begitu deras.
Calvin dan Vika yang tidak pernah melihatnya menangis, jadi terdiam.
'Apa dia begitu mengkhawatirkan James?' ~Vika~
'Apakah dia memiliki perasaan kepada James? Tidak biasanya dia terlihat begitu cemas seperti ini.' ~Calvin~